Pesugihan

Pesugihan
Sulit dijangkau


__ADS_3

Disa dan Tia mencoba berkeliling untuk mencari warung makan yang dirasa akan sulit di jumpai, karena di desa Wiwit masih sangat sepi penduduk, dimana terlihat dari jarak antara satu rumah ke rumah lainnya agak berjauhan.


Setelah beberapa jauh berjalan dan bertanya, akhirnya mereka menemukan sebuah warung makan, Disa dan Tia pun memilih makan siang di sana. Minumanlah yang mereka pesan duluan untuk sekedar menghilangkan dahaga, dan setelahnya mereka segera memesan makanan.


Pemilik warung menyajikan pesanan yang mereka inginkan, dengan tatapan menyelidik karena merasa asing dengan wajah mereka, dengan rasa penasaran lantas ia bertanya.


"Mbak-mba ini orang baru di sini ya?" ujar ibu pemilik warung, yang berusia paruh baya itu.


"Kami cuma mau main ke rumah teman Bu, sayang orangnya sudah pindah," jawab Disa, berharap mendapatkan sedikit informasi keberadaan Wiwit.


"Siapa temannya Mbak?"


"Wiwit Bu." Sama seperti petani tadi, sang ibu pemilik warung pun tertawa dan mengatakan jika Wiwit adalah perempuan tak waras.


"Kenapa memangnya Wiwit Bu?" tanya Tia kesal.


"Lah gimana ngga di bilang gendeng Mbak, saat dia datang penampilannya sangat semrawut, trus sering teriak-teriak kalo ada iblis ngincar dia," jelas ibu pemilik warung.


Disa dan Tia saling berpandang-pandangan mendengar penjelasan sang pemilik warung, Disa tau kenapa Wiwit seperti itu, hanya Disa tak yakin jika Wiwit itu benar-benar tak waras.


"Padahal sudah pernah di panggilkan orang pintar loh Mbak, tapi ya memang ngga ada apa-apa, memang dasarnya dia tak waras saja."


Saat sang pemilik warung sedang berbicara, Disa melihat jika perempuan yang tadi mereka kejar sedang mengintip di balik pohon besar yang berada di seberang warung makan itu.


Disa lantas mengejarnya, beruntung kali ini perempuan itu tersandung dan terjatuh, hingga Disa bisa menangkapnya, Tia yang terkejut karena tiba-tiba saja Disa meninggalkannya segera menyusul setelah membayar makan mereka.


Disa dan Tia membantu perempuan itu bangkit dan memapahnya, lutut perempuan itu terluka akibat terjatuh tadi.


"Mbak kenapa lari, kami ngga punya niat jahat, kami cuma mau tanya tentang Wiwit saja." Wanita itu mendelik ke arah Disa saat dia mengatakan hal itu.


"Jangan sebut nama itu di sini." Dia sedikit menoleh perlahan ke arah warung yang berada di seberang tadi. "Ayo ... kita ke rumahnya, nanti aku jelaskan di sana," ucap sang perempuan ketus.


Setelah sampai dirumah Wiwit, perempuan itu mengambil kunci di kantungnya lalu membuka pintu rumah dan mempersilahkan Disa dan Tia masuk.


Sesudahnya dia mengunci kembali pintu itu, setelah meminta Disa dan Tia memasukan juga alas kaki mereka kedalam rumah.


Disa dan Tia, mendudukan perempuan itu di kursi. "Mbak punya obat luka? biar saya obati," tawar Disa.


"Ngga usah, kalian duduk saja," perintahnya. "Saya Yani ... temannya Wiwit," ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan pada kedua tamunya itu.


Disa lantas menjabat uluran tangannya dan berkata, "saya Disa dan ini Tia." Sambil menoleh ke arah Tia, lantas Tia pun menjabat tangan Yani setelah Disa memperkenalkannya.


"Kalian ada perlu apa mencari Wiwit?" tanya Yani tanpa basa basi.


"Mmm ... begini Mbak Yani, kami juga sebenarnya ngga kenal Wiwit, kami di suruh untuk mencari beliau oleh—" belum sempat Disa menyelesaikan kalimatnya, Yani sudah menodongkan sebilah belati di depan wajah mereka secara bergantian.


Yani bangkit dari duduk, Disa dan Tia pun ikut bangkit dengan wajah mereka yang nampak gusar, Disa mengarahkan kedua telapak tangannya menghadap Yani bermaksud meredam suasana sambil berjalan mundur.

__ADS_1


"Pergi kalian!!" usir Yani tanpa memberi kesempatan.


Tia yang takut lantas memeluk lengan Disa yang mencoba meminta pengertian Yani.


"Tenang Mbak ... biar saya jelaskan dulu, setelah itu baru kami pergi." Disa memohon sembari menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Ngomong!" bentak Yani, yang belum juga menurunkan belatinya itu.


Dengan napas tercekat dan panik menghadapi situasi yang tidak terduga, Disa akhirnya menjelaskan tujuannya.


"Kami ngga tau siapa Wiwit, tapi majikan kami—" Lagi-lagi Yani memotong perkataan Disa.


"Apa kalian pesuruh iblis itu?" Sembari mendekat ke arah Disa juga Tia, dengan langkah kaki yang terpincang karena luka.


Mereka berdua bergerak mundur dengan rasa takut yang kini semakin menjadi, Yani benar-benar tampak menyeramkan dengan mata melototnya dengan belati di tangan.


"Bukan Mbak, justru kami mau minta bantuan agar bisa terlepas dari iblis di rumah majikan kami, kami mendapatkan alamat ini dari majikan kami yang dulu di rawat oleh Wiwit," ucap Disa cepat.


"Mariska?" ujar Yani berbisik, lantas dia menurunkan belatinya dan meletakannya di meja.


"Iya Mbak, kami ini di mintai tolong nyonya Mariska." Disa bernapas lega setelah Yani menurunkan senjatanya itu.


Yani kembali ke tempat duduknya, namun tetap dengan pandangan curiga terhadap Disa.


"Duduk!" perintahnya, yang segera di lakukan oleh Disa dan Tia.


"Kami ngga tau siapa Wiwit Mbak, tapi majikan kami meminta tolong supaya kami bisa mencari keberadaan Wiwit ini, kami juga ngga tau apa tujuannya." Disa memang tak tau apa maksud dari pesan majikannya itu.


"Apa Mariska akan menyerahkan Wiwit pada iblis laknat itu?" Tatap Yani sengit, dia segera menggenggam kembali belatinya yang berada di meja.


Disa menelan salivanya, dia berpikir salah bicara sedikit bisa habis mereka berdua di tangan Yani.


"Maksud Mbak Yani ... bu Sumarni kah?" tanya Disa memastikan.


"Siapa lagi, manusia itu yang ingin melenyapkan Wiwit, hingga dia harus menghilang sampai sekarang."


"Sama Mbak, kami juga akan di singkirkan oleh bu Sum, mungkin nyonya Mariska bermaksud meminta bantuan Wiwit yang udah berhasil selamat dari bu Sum," jelas Tia, yang di balas tertawaan sumbang Yani.


"Bantuan gimana, sekarang pun dia masih menghindari iblis yang mengincar nyawanya."


"Tapi, gimana Wiwit bisa selamat ya Mbak Yani? para pekerja di rumah kanjeng ibu memiliki tanda merah yang di buat bu Sum, hanya saya aja yang ngga punya, sebab saya punya mahluk ghaib yang mengikuti saya."


Yani terkejut dengan perkataan Disa, dia ingat dengan pesan Wiwit sebelum pergi dari Desa ini, jika nanti rumahnya akan di kunjungi oleh seseorang yang sama seperti dirinya, yakni orang yang memiliki mahluk penjaga yang mengikuti.


Yani menyandarkan punggungnya di kursi, dia menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Ini sebenarnya rumah kakek dan neneknya Wiwit, dia bukan asli sini, cuma pernah lama tinggal di sini, makanya para warga mengenalnya." Yani memulai cerita tentang Wiwit.

__ADS_1


"Dua tahun lalu Wiwit tiba-tiba kembali dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, dia nampak kumal, dan tatapan matanya kosong, dia selalu berteriak jika dia di incar oleh iblis," ucap Yani mengingat kejadian dulu.


"Singkatnya, sesepuh kami sudah mencoba mengobati namun tak berhasil, dan menganggap jika Wiwit memang sudah tak waras, namun malam itu, dia mendatangi rumah saya dengan wajah yang sangat ketakutan, awalnya saya tak memperdulikannya, sebab berpikir jika mungkin berita itu benar," ucap Yani sedih.


"Dia memegang bahu saya, berkata dia akan pergi meninggalkan desa ini, sebab iblis itu pasti akan menemukannya di sini, lalu dia berpesan jika nanti dia pergi, selama empat puluh hari aku tak boleh sekalipun mendekati rumah ini, bahkan untuk berhenti di depan saja tidak boleh apa lagi sampai menatap rumah ini."


"Di setiap omongannya dia selalu menyebut Mariska, dia selalu menangis jika menyebutkan nama itu."


Disa dan Tia pun ikut sedih mendengar ucapan Yani, pastilah yang Wiwit lalui sangat berat.


"Lalu dia juga berpesan setelah memejamkan mata beberapa saat, bahwa akan ada seseorang yang mencarinya suatu saat nanti, dia seseorang yang sama dengannya memiliki pengikut ghaib ... jadi itu benar kamu?"


Disa mengangguk tak mengerti ternyata dia dan Wiwit memiliki kesamaan, bahwa mereka memiliki pelindung.


"Aku tau jika dia itu juga ngilmu, di samping itu turunan dari keluarganya, dan dia juga benar-benar mendalami ilmu kebatinan itu," sambung Yani, lantas dia bangkit ke dalam rumah Wiwit.


Disa dan Tia masih menunggu, mungkin ada sesuatu yang akan di tunjukan oleh Yani.


"Ini." Yani memberikan sebuah kertas kusam yang sudah berwarna kuning itu, Disa membukanya, terlihat sebuah coretan-coretan disana.


Disa menengadah menatap Yani meminta penjelasan, Yani yang tau tatapan Disa lantas duduk dan kembali menjelaskan coretan itu.


"Itu adalah tempat tinggal Wiwit sekarang, di sebuah lereng gunung daerah itu." Tunjuk Yani pada rute-rute yang harus di lalui Disa jika ingin menemui Wiwit.


Disa menghembuskan nafasnya kasar, tak mungkin dirinya mencari Wiwit saat ini, sebab di samping tempat Wiwit berada jauh dari kota mereka, dan membutuhkan waktu yang agak lama.


Wajar memang Wiwit bersembunyi sejauh mungkin dari bu Sumarni, Disa hanya heran mengapa dirinya tak segera di singkirkan oleh Bu Sumarni, apa mereka punya perbedaan?


"Kita ngga mungkin ketempat Wiwit Ya, tapi seenggaknya kita tau keberadaan Wiwit sekarang, dan yang pasti dia tau kalo kita mencarinya," jelas Disa pada Tia.


"Benar, dia menunggu kalian, tepatnya mungkin hanya Disa, hanya ... kalian yang harus menemuinya," saran Yani.


"Terima kasih Mbak Yani, sebaiknya kami segera pamit, takut tak kebagian bis," ucap Disa dan Tia.


Yani mengangguk, dia lega sudah menyerahkan amanat dari teman baiknya itu, dia jadi semakin yakin jika Wiwit tidak gila, mereka memang sedang menghadapi iblis yang tak tau seberapa mengerikannya.


Yani menutup perbincangan dengan permintaan maaf atas kecurigaannya tadi, yang membuat mereka ketakutan. Dan dia berdo'a dalam hati, agar Wiwit dan orang-orang yang baru dia temui ini bisa menyelamatkan diri mereka dari jeratan iblis majikan mereka.


Disa lebih banyak melamun di dalam bis, Tia juga tau kegundahan Disa, mereka sedang memikirkan kapan lagi mereka bisa mencari keberadaan Wiwit, semoga nasib baik berpihak pada mereka, dan di beri kesempatan untuk menemui Wiwit, dan berharap juga Wiwit masih berada disana.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2