Pesugihan

Pesugihan
Pencarian Kedua Part 1


__ADS_3

Disa sampai desa itu pagi-pagi buta, namun terlihat sudah ramai pengunjung sepertinya mereka juga para pendaki, jika di lihat dari cara berpakaian dan perlengkapan yang mereka bawa, tentu saja membuat Disa dan Tia merasa minder.


Namun yang membuat mereka percaya diri dari perbedaan itu adalah, para pendaki biasanya melakukan pendakian untuk kesenangan dan hoby, sedangkan Disa dan Tia melakukan pendakian untuk usaha pencarian dan mengungkap kebenaran.


"Dis ... kita gak salah kostum, kan?" tanya Tia yang merasa heran dengan pandangan para pendaki yang melihat gerak-gerik mereka seperti jadi pusat perhatian.


"Udah gak papa Ya, wajar aja ... mungkin karena kita baru pertama kali aja jadi keliatan kaku."


Disa dan Tia memilih mencari warung makan untuk mengisi perut mereka sebelum melakukan perjalanan.


Di sebuah warung makan, disana banyak para pemuda-pemudi yang sepertinya juga akan mendaki.


Saat sedang memakan makanan mereka, salah satu pemuda itu berbicara kepada Disa.


"Maaf Mbak, mau naik?" tanya sang pemuda kepada Disa yang sedang makan di sebelahnya.


Pemuda itu memperhatikan penampilan Disa dan Tia, dan perbekalan yang mereka bawa, pemuda itu langsung menebak jika ini pasti pengalaman pertama mereka.


"Eh ... iya," jawab Disa bingung dengan tatapan menilai pemuda itu.


"Baru pertama kali ya?" tanya pemuda itu lagi.


"Iya." Disa masih menjawab singkat pertanyaan pemuda itu.


"Gini Mbak, eh belum kenalan kita, saya Sanusi dan ini rekan-rekan saya," ucapnya memperkenalkan diri, dan sekaligus memperkenalkan rekan-rekannya tanpa menyebutkan nama.


"Saya Disa," balas Disa tak memperkenalkan Tia, sebab dia masih bingung dengan perkataan pemuda itu yang tiba-tiba mengajaknya berbicara.


"Maaf Saya mau tanya, Mbak naik berapa orang?"


"Hanya kami berdua," jawab Disa sembari memalingkan wajah memperkenalkan Tia lewat tatapannya.


"Oh, itu sebelahnya lagi bukan kelompok Mbak nya?" ujar Sanusi menunjuk seorang perempuan di sebelah Tia, yang sedang makan dan sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Bukan, hanya kami berdua."


"Ya sudah masuk saja ke kelompok kami, medan pegunungan sangat berbahaya, apalagi Mbaknya baru pertama kali kan?"


Disa ingin menolak, tapi belum sempat berkata, Tia sudah menyelanya dan langsung bertanya kepada Sanusi.


"Mas-nya biasa naik gunung, ya?" tanya Tia.


"Ya lumayan lah Mbak, cuma ... ke gunung ini baru dua kali, peraturan di gunung ini juga ngga boleh ganjil, sedang kelompok saya berlima, kalo Mbak-Mbaknya mau gabung boleh lah, nanti kita cari kelompok yang ganjil lainnya," jelas Sanusi.


Disa dan Tia saling memandang, seolah saling meminta persetujuan, hingga Disa akhirnya berpikir dan memutuskan bertanya kepada Sanusi tentang rute yang akan di laluinya.


"Hemm Mas Sanusi, maaf, saya mau tanya ... apa rute yang nanti kita lewati, melewati jalur-jalur ini?" tanya Disa sembari menunjukan kertas peta menuju tempat tinggal Wiwit.


Sanusi mengambil kertas yang ada di tangan Disa, dia memperhatikan coretan-coretan di kertas itu, dia tau itu adalah wilayah gunung ini, namun bukan rute pendakian yang di izinkan, dia lantas mengembalikan kertas itu ke Disa, dan menatap Disa serius.


"Itu bukan rute yang akan di lalui oleh para pendaki, walaupun aku tau itu masih di wilayah gunung ini. Apa kamu punya maksud tertentu menaiki gunung ini?" tukasnya tajam.


"Kau tau, setiap gunung memiliki misterinya sendiri, aku kasih saran jangan sampai kamu memiliki niat lain, kalo ngga mau di sasarin sama mahluk penghuni sini." Dengan tatapan menelisik, Sanusi berusaha menasehatinya.


"Saya kan baru Mas ... ngga usah curiga begitu, ya sudah kami mau ke warung dulu beli minuman, makasih nasehatnya," jawab Disa lalu menambahkan dengan sedikit berbisik. "Kami berdua saja gak papa mas, kan genap." Meski kecewa tidak bisa gabung bersama mereka Disa harus mengatakan itu, dan langsung pergi dari hadapan Sanusi dan kelompoknya.


"Kenapa Dis?" tanya Tia heran.


"Huh! ngga mungkin kita naik lewat jalur pendaki Ya, peta ini bukan jalan yang di lewati para pendaki," jawab Disa sembari memukul-mukul kepalanya, dia sedang berpikir bagaimana mencari tau jalan di peta yang di berikan Wiwit.


Disa tau dia tak bisa sembarangan bertanya, sebab sudah pasti orang akan curiga padanya.


Tia yang melihat kegelisahan Disa lantas mengambil kertas yang masih di genggam Disa, dan memperhatikannya kembali untuk lebih di pahami.


"Dis ... lihat deh, di sini kan di tulis sungai, berarti Wiwit kasih rute kita lewat sungai," jelas Tia, sambil menunjuk peta itu.


Disa melihat kembali dengan seksama, dia tidak sadar dengan rute awalnya, fokusnya hanya pada nama Desa itu, padahal sudah di jelaskan rutenya.

__ADS_1


Disa memperhatikan papan sekitar apa sekiranya ada petunjuk yang memberi tahu disana ada sungai.


Disa lantas masuk kesebuah warung kelontong yang nampak sepi, dia membeli air minum dan berniat bertanya dengan sang pemilik warung.


"Maaf pak, sungai dimana ya?" tanya Disa, dia berharap jika sungai di sana juga bukan tempat yang di larang.


"Oh sungai di sana De, lurus saja terus ... lagian cuma sungai buat keperluan warga De, mau apa disana, kalo di atas baru bagus sungainya," jawab sang pemilik warung.


Disa bernapas lega, untunglah si bapak tidak curiga. "Iya pak ngga papa, cuma mau lihat-lihat aja, sambil nunggu temen kumpul."


Disa langsung menggandeng Tia, berjalan menuju sungai yang di tunjuk si bapak pemilik warung.


Sungai itu memang tempat warga melakukan aktifitasnya, banyak warga terutama kaum hawa yang sedang mencuci disana, baik muda maupun tua yang hanya berkainkan kemben yang menampilkan kulit coklat exotis-nya serta wajah ayu polos, khas guratan wajah cantik wanita desa.


Disa dan Tia berjalan sembari menyapa dengan senyuman. Mereka membalas dengan senyuman yang sama tanpa beban, masih dengan kegiatannya, baik mencuci atau mandi untuk sekedar membersihkan diri.


Berlalu dari situ Disa melihat lagi rute yang harus dia lalui, jadi dia terus berjalan di sepanjang sungai sebelum menemukan sebuah pohon randu kembar, sesuai petunjuk peta.


Setelah menemukan pohon randu itu Disa melihat sekeliling dan ternyata dia sudah berjalan cukup jauh dari pemukiman.


Disa melompati batu-batu disana untuk menyebrang ke tempat pohon randu itu. Dengan gemericik air yang membuih dan kicau burung menemani serta terpaan sinar pagi masih mereka dapati.


Setelah sampai Disa tak melihat ada sebuah jalan disana, hanya hamparan ilalang, hingga Disa melihat kembali petanya untuk memastikan bahwa jalan yang dia lalui masih sesuai.


Di peta, Disa di arahkan kesebelah kanan, benar, setelah berjalan ke arah kanan dari pohon randu itu, Disa menemukan jalan setapak dari bebatuan berlumut seperti sudah lama tak di lalui.


.


.


.


Bersambung ke Bab 73. Pencarian Kedua Part 2 ....

__ADS_1


__ADS_2