
Disa dan Tia pulang, tempat tinggal mereka berada di seberang toko, di belakang sebuah bangunan ruko.
Kontrakan Tia berada di lantai 2, karena di bawah untuk orang-orang yang memiliki kendaran roda dua.
Saat menuju lantai dua samar-samar Disa mendengar suara tangisan, ini memang sudah petang, dimana langit berwarna jingga sebelum matahari terbenam dan menjadi gelap.
Kontrakan yang mereka tempati terdiri dari tiga kamar berjejer, kamar mereka berada tepat di sebelah tangga.
Saat akan berbelok ke kamar, di ujung kamar nomor tiga, ada seseorang yang sedang berjongkok dan menangis, Disa ingin bertanya tapi Tia langsung membuka pintu kamar seolah-olah tak perduli.
"Ya—" panggil Disa dengan menepuk pundak Tia. "Itu perempuan nangis kenapa?" ucapnya sambil menunjuk pojok kamar kontrakan.
Namun perempuan itu menghilang, tak ada. 'Apa dia sudah masuk ke kamarnya sendiri, ya?' pikir Disa.
Tia melongokan kepalanya keluar pintu, melihat arah yang Disa tunjuk. "Siapa?" Namun tak ada apapun disana.
"Ishhh ... kamu ini, jangan nakut-nakutin, sendakala ini!" omelnya lantas menarik tangan Disa masuk, dan segera mengunci pintu.
Kontrakan Tia hanya berupa ruangan tidur, sedang kamar mandi bersebelahan dengan dapur yang sangat sempit.
Mereka tidur menggunakan kasur lipat, jadi jika bangun tidur mereka akan melipat kasur itu. Agar bisa leluasa untuk duduk dan makan.
"Mandi gih, aku mau telponan dulu sama ayang," pintanya, dan Disa pun segera mengeluarkan pakaiannya dan meninggalkan Tia.
Disa sekarang takut jika harus memejamkan matanya terlalu lama saat mandi, akibat delusi yang pernah dia alami.
Setelah segar ia pun kembali ke kamar dan melihat jika Tia sedang tidur meringkuk.
"Perasaan tadi katanya mau telpon, sekarang udah tidur aja," gumam Disa pelan, dia memilih membereskan pakaiannya ke lemari.
Setelah selesai, dia pun mencoba membangunkan Tia, karena Tia belum membersihkan dirinya, lagi pula tak baik tidur di kala sorop ( waktu maghrib ) seperti ini.
"Ya ...," panggilnya dengan mengguncang tubuh Tia, semilir Disa mencium aroma pandan yang menyengat.
"Ya ...." Masih mengguncang tubuh, temannya itu.
Namun suara pintu di buka membuat Disa berbalik dan menatap pintu, terlihat Tia masuk sambil memegang gawai di telinganya, dia sedang berbicara di telpon sambil membawa bungkusan plastik.
Tia pun menyerahkan bungkusan yang ia bawa kepada Disa, tak memperhatikan mimik wajah takut yang ada pada Disa.
Disa pun menoleh, melihat siapa gerangan wanita yang tadi berusaha dia bangunkan.
Sambil menelan kasar salivanya, Disa melirik dan dia hanya memegang guling yang ada di kasur.
'Apa aku berhalusinasi lagi?' gumamnya.
"Dis," panggil Tia dan duduk bersandar pada tembok di sebelah Disa.
"Hey! Malah ngelamun," gurau Tia.
__ADS_1
Disa lantas membuka kantung plastik yang tadi Tia berikan. "Kamu dari mana, Ya?"
"Beli cemilan di bawah, mayanlah buat ganjel perut," ucapnya lantas bangkit menuju kamar mandi.
"Dis malem ini makan mie aja ya, ada di lemari dapur," teriak Tia dari dalam kamar mandi.
Disa pun bangkit segera memasak makanan untuk mereka berdua, tak apa makan mie instan, toh memang dia harus berhemat saat hidup merantau di kota.
Tia keluar dengan handuk yang di lilitkan di kepala, dia pun duduk dan mengambil meja lipat di samping lemari.
"Makasih ya? Udah di masakin," ucapnya. Disa hanya tersenyum membalasnya.
Mereka makan dengan tenang, sedangkan Tia— dia makan dengan tetap sibuk berbalas chat dengan kekasihnya.
Setelah selesai makan, Tia yang gantian membersihkan bekas makan mereka.
Mereka pun duduk dan memakan camilan yang tadi Tia bawa, karena Disa yang memasak makan malam mereka, itulah cara Tia mengajarkan kerjasama pada Disa.
"Ya, jadi sebelum aku, kamu kerja sama siapa?" ucap Disa memulai obrolannya.
"Erna, kan tadi udah aku kasih tau."
"Eh iya kah, lupa aku," ucap Disa menggaruk pelipisnya.
Disa penasaran tentang sosok yang ia gantikan itu. "Emang Erna kenapa Ya?"
Disa terkejut mendengar jika mereka ternyata memiliki kontrak kerja, karena Disa merasa tak pernah di beritahu tentang itu. "Oh ... emang ada kontrak kerjanya, Ya?"
"Ada lah Dis, nih kaya gini," ucap Tia lantas mengambil kertas di bawah tumpukan bajunya.
"Kamu ngga ada emang?"
Disa hanya menggeleng menjawab pertanyaan Tia.
Disa membaca kertas tersebut, di sana tertulis kapan awal Tia bekerja dan masa kontraknya, di sebutkan juga nominal gaji serta fasilitas yang dia dapatkan, semua tersusun rapih.
Tia baru bekerja selama 6 bulan, dan dia menandatangani kontrak kerja selama 1 tahun.
"Belum mungkin, kali aja besok Dis," ucap Tia.
Disa pun mengembalikan kertas kontrak kerja itu kepadanya.
"Padahal aku udah empat hari kerja di rumah Kanjeng Ibu," keluhnya.
Tia terkejut dengan fakta yang Disa ucapkan. "Hah! kamu udah empat hari ada di kota ini Dis?" ucapnya heran.
Disa pun menjelaskan kenapa Dia tak langsung di tempatkan kerja di Toko. "Aku di suruh rawat Nyonya Mariska dulu, beliau udah mendingan sekarang, makanya aku baru di pindah ke toko, emang kamu selama empat hari kerja sendirian?"
"Engga sih, Erna baru pulang juga kemaren, pantes kepulangan dia di pending, kamu bantu ngurus Nyonya Mariska toh."
__ADS_1
"Apa Nyonya Mariska sering ke toko, Ya?" ucap Disa yang berharap bisa bertemu majikannya itu di toko suatu saat nanti.
"Ngga pernah pas aku yang jaga toko mah, cuma pas dua bulan kemarin emang toko sering libur katanya Nyonya Mariska sakit, aku tau Nyonya Mariska ternyata istri Tuan Irwan juga dari Erna."
Ada hal yang sangat membuat Tia penasaran lantas dia pun menanyakannya kepada Disa. "Terus kenapa tadi kamu ngga mau aku ajak ke warung tadi?" ucapnya sambil merebahkan diri dan saling berhadap-hadapan.
Disa tak yakin jika Tia akan mempercayai ucapannya. "Aku mau cerita, tapi pasti kamu ngga percaya!"
"Ya coba aja dulu, ada apa sih? Kali aja aku percaya!"
"Pas masuk aku liat di etalase warung ada mahluk yang merangkak menjilati seluruh lauk Ya, trus orang-orang yang makan di sana, pada makan liur mahluk itu." ucap Disa.
"APA!!!" Tia pun kaget dan bangun dari tidurnya.
"Serius kamu Dis," ucapnya, wajahnya pias, ini bukan pertama kali dia mendengar hal ganjil tentang warung makan itu, namun tak ada yang mendeskripsikan secara detail seperti yang Disa katakan, jadi saat itu dia berfikir bahwa itu hanya omongan orang-orang yang iri akan kesuksesan warung makan itu.
Tak mungkin Disa berbohong, dia baru tiba di sini hari ini, lagi pula dia langsung memuntahkan isi perutnya saat melihat mahluk ghaib tersebut.
Tia sedikit mual teringat jika warung makan itu adalah tempat Favoritnya.
"Trus kalo warung satunya, kenapa?" Ingatannya kembali saat Disa seperti melihat sesuatu dan menarik paksa tangannya agar menjauh dari warung kedua.
"Di sana ada mahluk hitam besar duduk menghalangi pintu, ya takutlah aku, kasian yang punya warung itu di jahatin orang."
"Emang dia tau kalo kamu bisa liat dia?" ucap Tia heran.
"Kayaknya sih bisa, abis matanya ngikutin aku terus."
"Pantes aku pernah mau coba masuk ke sana, kenapa kaya kecium bau bangkai mulu, kan orang enek mau makan, ya?"
"Kamu tau siapa yang jahatin Dis?" Tia pun heran pada orang yang tega menjahili warung makan itu.
"Kayaknya orang yang sama, pemilik warung yang rame itu."
"Ih, jahat banget sih ya? Udah aja dia pake pesugihan ngapain juga jahatin usaha orang," Tia geram.
"Ya begitulah, orang hidup kalo udah berurusan sama yang begituan ngga akan tenang hati, udah punya penglaris, tapi ngga suka jika usaha orang lain maju juga, sifat iri dengki itu penyakit berbahaya."
"Ho oh, padahal syaratnya juga ngga gampang kan, ya?"
Mereka pun merebahkan diri dan memejamkan mata, berharap bisa segera menjelajah dunia mimpi.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1