Pesugihan

Pesugihan
Pencarian Kedua Part 2


__ADS_3

Disa berjalan dengan Tia yang membututi di belakangnya. Setelahnya, mereka memasuki hutan, suasana kini menjadi redup mendekati gelap, sebab sinar matahari yang dari tadi mereka dapati kini tertutupi oleh dedaunan dan pohon-pohon besar.


Disa dan Tia menatap arah pandang kedepan, dimana Disa melihat jika pohon di sana berjejer rapih mengerucut sejauh mata memandang seperti sebuah jalan, hanya jalannya tak ada.


Disa menelan kasar salivanya, bagaimana pun hutan adalah tempat wingit, sebelum melangkah Disa mengajak Tia membaca Do'a, semoga perjalanan mereka di mudahkan.


Lalu mereka menyusuri hutan itu, Disa menggenggam erat tangan Tia di belakangnya, karena medan dan jalur mereka tak memungkinkan untuk berjalan berdampingan.


Setelah melewati pohon berjejer itu Disa kembali melihat peta, medan kali ini dia harus menaiki bukit. Disa melepas genggamannya pada tangan Tia karna dia harus fokus meraih sesuatu baik akar, bebatuan atau apapun yang bisa membantunya melewati bukit yang kemiringannya hampir mendekati 45 derajat.


"Ya, pokoknya kamu harus sering ngomongnya, jangan sampe diem, biar aku tau kamu di bawah, kan ngga mungkin aku nengok ke bawah terus," pinta Disa dengan suara napas yang semakin terdengar jelas.


Mereka bukan pendaki, dan tak tau perlengkapan mendaki, untungnya bukit yang mereka naiki tak begitu memerlukan peralatan, hanya menaiki batu-batu besar serta akar yang menyembul keluar dan merambat, namun tetap saja membuat mereka cemas karena takut terjatuh.


"Dis, kata Indah pak Tua kan ikut ... kenapa engga kamu tanya dia aja?"


"Kamu inget ucapan pak Tua lewat Indah waktu itu Ya?" Disa perbalik menatap Tia.


"Yang mana?" tanya Tia membalas tatapan Disa heran. "Tentang pak Tua yang galak?"


"Bukan ... ketika Indah berkata, mahluk seperti mereka memiliki keterbatasan, mereka bukan Tuhan yang tau segalanya," ucap Disa kembali melanjutkan langkahnya yang mulai melambat. "Manusia di tuntut untuk berusaha dan berdo'a ... aku benar-benar pegang itu."


Tia berucap, "Kita berusaha dan berdo'a biar Tuhan yang menentukan lewat mana bantuan itu datang—"


"Pinter!" Disa menanggapi ucapan Tia dengan menatap sekeliling mencoba menerka kehadiran pak Tua. "Karena itulah aku gak terlalu ngandelin dia hingga membebaninya, biar dia membantuku sesuai kemampuannya."


Tia mengernyitkan dahinya dan mengangguk-angguk, Tia merasa beruntung memiliki teman seperti Disa. Satu kontrakan dan sepekerjaan dengannya tentu saja membuat Tia mengetahui keseharian Disa yang selalu rajin ibadah tanpa banyak bicara. Justru sekali berbicara walau sederhana seperti mengena pada lubuk hatinya.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan letih dan lelah serta peluh yang mulai membasahi sekujur tubuh dan wajah, namun mereka menjalaninya dengan perasaan senang, karena pengalaman baru ini membuatnya lebih peduli pada mahluk hidup sekitar seperti halnya alam indah yang sedang mereka jelajahi ini.


Setelah sampai di atas, mereka saling tertawa dengan nafas terengah-engah dan merebahkan tubuh di tanah sekedar menghilangkan sedikit lelah. Disa dan Tia melihat ponsel mereka, dimana tak ada sinyal sama sekali di sana, dan waktu sudah menunjukan siang hari.

__ADS_1


Ponsel yang mereka miliki sangat sederhana jika di bandingkan dengan gadget pada jaman sekarang, karena jaman itu memang ponsel jenis itu yang ada dan sudah termasuk alat canggih di jamannya.


Sesaat setelah melanjutkan perjalanan, mereka mendengar suara air terjun. Disa dan Tia lantas menyusurinya, semakin mengikis jarak dengan suaranya, kini mulai terasa dingin dari hempasan kabut, hasil buih air yang menghujam deras ke dasar sebgai pendingin alami dari alam.


Merekapun menemukan curahan air yang menjulang indah dengan mudah tanpa halangan yang berarti. Sesuai rencana mereka beristirahat di sana dan segera membasuh muka membersihkannya dari peluh dan tanah yang mengotori, serta memakan perbekalan yang ada.


Walau hanya sepotong roti dan beberapa teguk air, cukup membuat tenaga mereka bertambah dengan tidak membuang bungkusnya di sana, bagaimana pun mereka tau cara lain menghormati dan memperlakukan alam sekitar, Disa dan Tia mengikat plastik roti itu dan mengantunginya kembali.


Mereka memulai perjalanan kembali, jalur menunjukan keberadaan mereka yang mulai merangsek masuk lebih dalam ke lembah pegunungan, dimana hawanya semakin mencekam dan horor. Kelelawar pun asik berterbangan seolah ini malam hari.


Disa mengamati jalur coretan Wiwit di peta yang seperti mirip gambar tengkorak, kini sebentar lagi mereka lewati.


"Dis ...."


"Apa, Ya?"


"Udah mulai banyak penampakan belum?" Tia mencekal tangan Disa dengan mengedarkan mata ke sekitar.


"Tenang Ya, masih aman." jawab Disa yang selama perjalanan sebenarnya dia sering melihat sekelebatan penampakan namun tidak menghiraukannya juga suara-suara aneh. Dia hanya berusaha terus berdo'a, namun dia yakin Tuhan mengabulkannya lewat bantuan pak Tua yang sering dia rasakan keberadaannya saat perasaan-perasaan aneh dan was-was menghampirinya.


"Aman apanya Dis?" Tia mencengkram tangan Disa kuat-kuat karena rasa takut yang teramat sangat.


Disa hanya diam tanpa berucap, hanya berdo'a dan melanjutkan langkahnya perlahan dan meletakan telunjuk di bibirnya menghadap Tia, berharap kehadirannya tidak mengganggu penghuni tempat menyeramkan itu. Tetap saja suara dedaunan yang berserakan dan mengering membuat langkah mereka bersuara.


Srak ... srak


Melangkah perlahan.


Srak ... srak ... srak (Srak! Srak! Srak!)


Langkah mereka sedikit bertambah kecepatannya, namun seperti bertambah juga suara seretan langkah kaki di belakang seperti mengikuti.

__ADS_1


Korosak! Korosak! ... merekapun berlari pontang panting tanpa henti tak sanggup menahan rasa takut dan langkah yang tak kunjung mendapat kepastian.


Disa berlari menuju titik terang itu, di ikuti Tia namun tersungkur jatuh membuat Disa kembali menghampirinya, namun suara langkah kaki itu semakin mendekat.


"Dis! Jangan tinggalin aku!"


Disa mencekal tangan Tia dan menariknya kuat untuk membantunya terbangun dan lantas berlari. Disa melihat penampakan mahluk satu kaki itu yang sedang menyeret peti mati berkayu usang berukuran kecil dan membawa tongkat, di mana ujungnya terdapat benda tajam seperti sebilah arit.


Peti kecil itu perlahan terbuka dan anak kecil berwajah tua menyeramkan muncul di baliknya, sekarang mematap tajam pada Disa dan berlari mendekatinya.


Gerrrk! ... gerrk! suara geraman anak menyeramkan itu terdengar mengerikan.


Disa dan Tia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari dan berlari.


"Dis, jangan tinggalin aku!" suara Tia kembali terdengar.


Akhirnya mereka berhasil menerobos titik terang yang terhalang ilalang dengan melompat. Seketika itu juga suara geraman itu menghilang.


Mereka tergeletak di hamparan rumput hijau yang sepertinya tak pernah terjamah hewan dan manusia, dengan nafas terengah-engah Disa kembali membuka peta dengan tangan perih, tergores duri ilalang tadi saat melompat. Tia masih berbaring dengan wajah pucat.


"Dis ... kita pulang lagi aja, yuk?" ucap Tia dengan tatapan kosongnya.


"Sebentar lagi kita sampai ke tempat Wiwit, Ya." mencoba melupakan kejadian barusan.


"Kayanya percuma Dis, yang akan kita hadapi akan semakin berat ... menyerah saja lah."


Perjalanan mereka melewati padang rumput di lalui dengan gerutuan Tia yang selalu mengeluh dan mengeluh, seperti hendak meruntuhkan semangat Disa.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2