Pesugihan

Pesugihan
Misi pencarian Wiwit


__ADS_3

Pagi ini di rumah kanjeng ibu para pembantu sedang sarapan bersama dengan senyum cerah melupakan sejenak masalah mereka.


Yanti senang dengan kehadiran Disa hari itu sebab berkat dia semalam dia bisa merasakan kembali tidur nyenyak setelah sebulan ini tak pernah lagi ia rasakan sebab gangguan perewangan bu Sumarni.


Selepas sarapan Fatmah memutuskan untuk memandikan Putra, dan meninggalkan mereka bertiga di dapur untuk membersihkan sisa sarapan mereka.


Saat Fatmah pergi, Disa dan yang lainnya masih duduk santai di meja makan. "Yan, kamu ngga pernah sekalipun nanya Wiwit sama mbak Fatmah?" ucap Disa dengan suara pelan.


Yanti menggeleng. "Ngga Dis, aku takut, kamu tau sendiri, mbak Fatmah selalu ngingetin kita buat ngga ikut campur masalah keluarga kanjeng, yang ada aku takut malah di laporin nanti Dis," jelas Yanti.


Disa manggut-manggut setuju, memang betul setiap orang tidak mudah untuk di tebak, belum tentu juga Fatmah akan percaya dengan cerita mereka, sebab dia yang paling lama bekerja di sini, kemungkinan dia tak pernah mengalami hal-hal aneh di rumah majikan mereka.


Tiba-tiba Disa memiliki ide, dia akan mencari keberadaan Wiwit, dari alamat yang di berikan nyonya Mariska padanya, Disa memperkirakan alamat tersebut tak terlalu jauh dari kota ini, berkisar dua sampai tiga jam saja perjalanan. Jadi Disa berpikir bisa kembali sore nanti, sebelum keluarga majikan mereka pulang esok hari.


"Ya udah, mumpung libur aku akan cari Wiwit ini, gimana?" ucap Disa mengutarakan idenya itu.


Tia dan Yanti saling berpandang-pandangan. "Serius?" ujar Yanti.


"Serius lah, alamat ini kan ngga begitu jauh dari kota mungkin dua sampe tiga jam, aku usahain balik malem kalo ngga besok pagi lah," jelas Disa.


"Ya udah aku ikut," sergah Tia langsung, dia tak mau jauh-jauh dari Disa, apalagi harus berada di rumah majikannya.


"Ishh ... mo ngapain? Udah kamu di sini aja!" tolak Disa, yang menurutnya mampu mencari alamat itu sendirian.


"Iya Dis, mending kamu di temani sama Tia, dari pada sendirian, kalo boleh aku juga ingin ikut, tapi ngga mungkin kan aku ninggalin mbak Fatmah sendirian."


"Tapi Dis ... usahain pulang ya malam ini? Biar aku bisa tidur nyenyak lagi," pinta Yanti melanjutkan ucapannya tadi.


"Astaga lupa aku, ayo!" ajak Disa lantas menarik lengannya ke kamar mereka. Tia pun mengekor di belakangnya.


Disana Disa memberikan penangkal yang dia buat kemarin. "Ini simpen, jangan sampe ketauan siapa-siapa ya? Kalo malam ini aku ngga pulang, taro di fentilasi pintu, jangan lupa paginya langsung di ambil," ujar Disa.


Yanti senang berharap dia bisa kembali tidur nyenyak malam ini, dia pun memeluk Disa. "Makasih ya Dis, aku doakan semoga perjalanan kamu lancar, biar bisa cepet ketemu Wiwit, ya?"


Disa pun mengangguk, mereka bertiga tertawa dan saling berpelukan, mereka terkejut dengan kedatangan mbak Fatmah yang menggendong Ndoro Putra, dia berada di depan pintu, beruntungnya dia baru saja tiba jadi tak mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ada apa sih? kayanya seneng banget kalian," sungut mbak Fatmah.


"Sini Mbak, kita berpelukan, kaya teletabies," kelakar Disa mencairkan suasana. Mereka berempat pun berpelukan.


Setelah membantu membersihkan rumah, Disa berpamitan pada Fatmah untuk pergi, dia beralasan ingin berkeliling kota, karena semenjak kedatangannya ke kota ini, sekalipun dia belum pernah berpergian, Fatmah pun mengizinkan.


Disa lantas kembali ke kontrakan mereka untuk mengganti pakaian, dan membawa bekal uang, sembari bertanya kepada para tetangga di sana bus jurusan mana yang harus Disa tumpangi menuju alamat Wiwit ini.


Setelah mengetahui bus yang akan ia tumpangi, Disa segera menuju keterminal, perasaannya sangat antusias, dia berharap misteri keluarga majikannya segera terpecahkan, batinnya.


Perjalanan yang di tempuh sekitar dua jam setengah, saat ini Disa berada di terminal kota Wiwit, dia harus menaiki angkutan lagi untuk sampai di desa tujuan.


Setelah menunjukan kertas beralamatkan Desa Wiwit, mereka di antar persis di depan gapura Desa Wiwit.


Desa yang sangat asri dan memanjakan mata. Terbentang pesawahan yang di kelilingi pepohonan nampak dari kejauhan, sejauh mata memandang di dominasi warna hijau serta langit biru, di hiasi titik-titik burung yang terbang bergerombol.


Namun pemukimannya masih jauh dan mereka harus melewati sawah-sawah itu terlebih dahulu. Cuaca sangat terik hari ini meski di sejukan semilir angin yang menerpa, tetapi rasa lelah memaksa mereka untuk berhenti dan berteduh. Disa dan Tia duduk di sebuah pos ronda, saat ada para petani melewati mereka, Disa segera mendekat.


"Maaf Pak, numpang tanya tau alamatnya Wiwit?"


"Wiwit mana ya? Di sini ada dua orang yang namanya Wiwit, satu perempuan, yang satu laki-laki," jelas salah seorang petani, yang bersedia menjawab pertanyaan Disa sedang yang lainnya memilih meninggalkan sang petani bersama Disa dan Tia.


"Ini Pak alamatnya." Disa lantas mengeluarkan kertas alamat Wiwit yang dia maksud.


"Oh cah gendeng," jawab sang Petani tertawa, lantas mengembalikan kertas itu kepada Disa.


Disa heran mengapa petani itu mengatakan jika Wiwit itu orang tak waras.


"Maaf Pak ... ," ucap Disa mengernyitkan alisnya.


"Dia itu emang rada-rada Mbak, lagi pula sudah lama dia pergi dari Desa ini, tapi kalo Mbaknya penasaran, ya saya antar ke rumahnya," ajak sang petani.


Meski Disa mendadak lemas mendengar jawaban sang petani yang mengatakan jika Wiwit yang dia maksud sudah tak berada di desa itu, namun Disa tetap mendatangi rumah Wiwit, berharap bisa menemukan seseorang yang bisa memberitahunya keberadaan Wiwit.


"Apa rumah Wiwit ini kosong Pak?" tanya Disa, dia sedang berpikir jika memang tak ada orang untuk apa juga dia kesana.

__ADS_1


"Ada temannya yang selalu membersihkan rumahnya semenjak dia pergi, coba saja kamu tanya, mungkin dia tau."


Semangat Disa muncul setelah mendengar jawaban sang petani.


"Kalau boleh tau, Mbak-Mbak ini nyari Wiwit ada apa?"


"Kami teman sepekerjaan Pak, rindu saja ingin bertemu," alasan Disa, memilih untuk tak memberi tau tujuannya mencari Wiwit dan memang dia juga belum tau.


"Oh, nah itu rumahnya, itu yang ada perempuan sedang menyapu halaman, saya pamit ya," ucap sang Petani, sambil menujuk rumah yang berada di bawah, karena tanah di sana masih berudak-undak, dan rumah Wiwit berada di bawah jalan raya.


Disa dan Tia pun mengucapkan terima kasih, mereka lantas turun menuju perempuan yang sedang menyapu sembari bersenandung di halaman itu.


Disana hanya ada dua rumah, namun rumah yang satunya full terbuat dari papan kayu, hanya rumah yang sedang di sapu oleh perempuan itu yang di bangun setengah tembok.


"Maaf mbak," sapa Disa, yang membuat perempuan itu terkejut, dan gemetar, dia berbalik menuju arah suara Disa yang berada di belakanya dengan menundukan wajah.


Disa heran ada apa dengan wanita itu, sebab Disa melihat jika tangan yang sedang memegang gagang sapu itu terlihat sekali bergetar.


Belum juga Disa mengatakan tujuannya, wanita itu langsung berlari meninggalkan Disa dan Tia, mereka terkejut sebab di tinggalkan begitu saja.


"Mbak ... Mbak ... tunggu!" Disa dan Tia mengejar wanita itu yang melarikan diri ke kebun tebu yang berada di belakang rumah Wiwit.


Disa dan Tia tak berhasil mengejar wanita itu, mereka lantas memilih untuk kembali ke rumah Wiwit, beristirahat.


"Ya ampun larinya kenceng banget, kenapa ya Dis sama Mbak tadi?" ucap Tia dengan nafas terengah-engah.


"Ngga tau, tapi aku curiga, dia pasti tau sesuatu," terka Disa.


Mereka duduk di depan teras berharap wanita tadi kembali, namun di tunggu lama wanita itu tak kunjung kembali, Disa dan Tia yang belum makan siang, dan hari juga sudah menjelang sore, mereka memutuskan untuk mencari warung makanan di desa itu.


Disa dan Tia tak akan menyerah mencari keberadaan Wiwit, apalagi jika tingkah wanita yang katanya teman Wiwit itu sungguh mencurigakan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2