
Disa masih melihat memar di pergelangan tangannya, dia masih mencerna kejadian tadi, apa ia mulai berhalusinasi, atau memang itu kejadian nyata.
"Napa sih ngelamun aja?" tanya Mbak Fatmah.
Mbak Fatmah dan Yanti merasa aneh dengan Disa karena gadis itu sejak kembali dari ruangan baca, malah melamun.
"Ngga papa mbak, sedih aja mo pisah sama kalian," jawabnya, dia tak berbohong memang dia sedih karena berpisah dengan teman-temannya di sini.
Bu Sum datang dan segera memasak untuk majikan mereka, susana menjadi hening karena tak ada yang berani membahas apapun jika ada Bu Sum di tengah mereka.
"Dis, nanti kamu ke kamar Nyonya Mariska, sekalian bawa makanan untuk beliau, dia tak enak badan, minta makan siang di kamarnya," perintah Bu Sum.
Disa mengangguk antusias. "Baik bu," jawabnya cepat.
Saat mereka semua sudah duduk di meja makan, Disa langsung melesat ke kamar Nyonya Mariska membawa nampan berisi makan siang beliau.
Dia bersyukur bisa berpamitan dengan teman lamanya, tadinya dia akan meminta pada Bu Sum agar mengizinkannya merawat Nyonya Mariska sebelum dia pergi meninggalkan rumah ini.
Setelah mengetuk pintu, Disa langsung masuk ke kamar, Nyonya Mariska pun berseri saat melihat Disa yang masuk ke kamarnya.
"Dis," sapanya.
Disa langsung duduk di bangku biasa di samping tempat tidur Nyonya Mariska.
Dia melihat wajah Nyonya Mariska nampak pucat, tak sesegar pagi tadi, apa beliau sakit lagi? gumamnya.
"Nyonya, yuk makan?"
"Tunggu Dis aku ingin ngobrol banyak sama kamu," bujuk Nyonya Mariska, yang merasa sebentar lagi dia akan di tinggalkan oleh perawat sekaligus temannya itu.
"Nyonya makan, kalo ngga saya bisa di usir dari kamar ini," kelakarnya.
Dan benar saja Nyonya Mariska tertawa mendengar lelucon temannya itu.
"Akhirnya kamu bisa kerja di toko, ya Dis? Ngga harus ngasuh bayi besar kaya aku lagi," ucapnya tapi terselip nada tak rela di sana.
"Kan Nyonya masih bisa ke toko buat ketemu saya," jawab Disa memberi ide.
Nyonya Mariska hanya tersenyum mendengar ide temannya itu, Disa tak tahu, jika mereka memang sengaja di jauhkan.
"Pergelangan tangan kamu kenapa, Dis?" tanya Nyonya Mariska yang terkejut melihat ruam di pergelangan tangan perawatnya itu.
"Ini ... anu Nyonya ... ," jawab Disa bingung.
"Apa bu Sum yang melakukan ini?" tebak Nyonya Mariska asal, yang malah membuat Disa bingung kenapa bisa Nyonya Mariska malah menuduh Bu Sum.
__ADS_1
"Dis!" panggilnya lagi karena Disa nampak bingung. Dia menunggu jawaban Disa.
"Ngga Nyonya, saya itu emang gampang memar, pas udah ada ya saya ngga tau itu kenapa," jawab Disa menenangkan Nyonya Mariska.
Pintu Nyonya Mariska di ketuk, Bu sum masuk dan meminta Disa untuk segera meninggalkan Nyonya Mariska, agar Nyonya mereka dapat beristirahat.
Nyonya Mariska nampak kesal karena ,lagi-lagi Bu Sum berusaha menjauhkan Disa dari dirinya.
.
.
Disa berjalan di belakang Bu Sum, tiba-tiba bulu di tengkuknya merinding, dan tercium bau bunga melati, dan tak lama tercium bau anyir, Disa menggosok hidungnya.
Kenapa tiba-tiba ada bau yang tak sedap seperti ini, perut Disa mual, tapi ia tahan, saat dia dan Bu Sum berpisah, karena Bu Sum berbelok ke arah kamarnya, Disa terburu-buru ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Huwekkk ... huwekkkk ....
Yanti yang mengikuti Disa yang berjalan cepat menuju ke kamar mandi, seketika panik mendengar temannya itu muntah-muntah di dalam sana.
"Dis ... kamu ngga papa?" teriaknya, Yanti mengetuk dan menempelkan telinganya ke pintu.
Yanti melihat Disa keluar dengan wajah pucat. "Kamu kenapa?" tanyanya lagi.
"Ngga tau, aku tadi nyium bau anyir ke campur bunga melati gitu, enek banget," jawab Disa.
"Dis kata orang-orang tua, kalo ada bau-bauan begitu tandanya ada si mbak kun," bisiknya.
"Ishh ... jangan gitu Yan, takut ini aku," Disa pun memegang lengan Yanti.
"Ihh, kamu yang bikin aku takut, gimana sih!"
"Kalian ini ngapain sih? Malah bisik-bisik di sana, ngga laper emang?" tanya Mbak Fatmah menyela mereka.
Mereka pun langsung kembali menuju dapur, Disa langsung mengisi piringnya dengan makanan, saat akan menyendok nasi masuk ke mulutnya, bau itu tercium lagi, Disa reflek langsung menutup hidungnya, Yanti yang melihat itu, langsung memukul pelan lengan Disa.
Disa menoleh dan benar saja Bu Sum sedang menatapnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Sum, dengan pandangan menusuk.
"Ng ... ngga papa Bu, mau bersin aja tadi," ucap Disa berbohong.
Bu Sum tau, Disa bisa mencium ilmu dirinya, itu adalah ajian yang biasa di rapalkan dan membuat dia memiliki kekutan tertentu dari Tuannya.
Apa kepergiannya ke dunia astral, membangkitkan ilmu alami yang ia miliki dari nenek moyangnya? pikir Bu Sumarni.
__ADS_1
Disa masih berusaha bertahan selama mungkin di sana, Bu Sum lantas meninggalkan mereka, Disa langsung lari ke kamar mandi dan muntah-muntah lagi.
Dia duduk lemas, karena perutnya yang belum terisi, sudah harus mengeluarkan sisa sarapannya.
"Kamu kenapa, Dis? Pas ada Bu-Sum, lagi!" ucap Mbak Fatmah.
Dia ingin bercerita tapi sudah tak ada tenaga, Yanti langsung membuatkan Disa teh hangat.
"Mau makan, apa mau cemilan aja?" tanya Yanti.
"Aku makan roti aja lah, ***** makanku ilang," jawab Disa.
"Kamu masuk angin kali Dis," tebak Mbak Fatmah.
Disa hanya mengedikan bahunya, dia tak ingin menakut-nakuti temannya.
.
.
Bu Sum, berada di kamar Kanjeng Ibu. "Sepertinya Disa bisa mencium ilmuku, sama seperti anda Kanjeng," ucapnya.
"Wajar ... dia sudah memiliki ilmu itu yang mengalir dalam darahnya, pantas penjaganya juga kuat," jawab Kanjeng ibu tenang.
"Bagaimana cara memisahkan mereka?" tanya Bu Sumarni.
"Untuk apa menyingkirkan mereka, toh mereka tak mengusik kita." Kanjeng Ibu nampak enggan berurusan dengan Amung.
Dia bisa melihat bahwa mahluk itu cukup kuat untuk bisa melawan mereka, dari dia bisa melukai Bu Sum, dengan sangat mudah, dan menyelamatkan Disa dari penjara gaib di sana.
Kanjeng Ibu memilih tak berurusan dengan mahluk seperti itu, berurusan dengan Tuan-nya saja sudah membuatnya repot.
Jadi untuk apa merepotkan diri, berurusan dengan mahluk yang lainnya. Tapi pasti ia tak akan bisa di lepas begitu saja, karena Bu Sumarni sepertinya tertantang untuk menyingkirkan Disa dan Amung. Dan pasti Tuan akan setuju dengan idenya.
"Tuan sudah menunggu Nona Wulan, kapan dia akan segera kembali?" tanya Bu Sumarni.
Jantung Kanjeng Ibu berdetak kencang, seseorang yang tak ingin dia serahkan sekarang Tuan mereka sudah menunggunya.
Sungguh hatinya tak terima menyerahkan anak gadisnya itu, tapi ini sudah syarat mutlak dari perjanjiannya.
"Nanti kalo sudah lulus juga pasti pulang," jawab Kanjeng Ibu berusaha santai, dia tau itu adalah teguran dari Bu Sum, karena Bu Sum tau bahwa dirinya seperti enggan sependapat dengannya tentang masalah Amung.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....