
Di perjalanan Disa melamun, dia menatap keluar jendela mobil mengingat pesan yang Mariska bisikan di telinganya tadi.
"Aku tau yang kau alami, aku minta tolong jaga putra ya Dis, suatu saat kamu pasti tau kebenarannya," ucap Mariska kala itu.
Disa merenungkan apa maksud dari perkataan majikannya itu, kenapa Nyonya Mariska seperti menyimpan sebuah misteri.
Perjalanan dari rumah ke toko tak memakan waktu lama kurang lebih sekitar 15 menit, Disa pun sampai di sebuah bangunan 2 lantai, suasana kota sangat ramai, toko majikannya memang pas berada di pusat keramaian kota.
Ada seorang gadis dan dua orang pria yang duduk di depan toko, mereka bangkit saat melihat kedatangan mobil Majikan mereka.
Lagi dan lagi Disa melihat mereka pun memiliki tanda titik merah di dahinya, ada apa dengan mereka yang bekerja di keluarga ini, hanya majikan mereka saja yang tak memilikinya, dan sepertinya juga dirinya.
Irwan lantas membuka rantai yang mengikat pintu rolling tersebut.
Sreeeeeng! ... suara pintu terbuka.
Irwan hanya membuka gemboknya saja, pintu-pintu itu di buka oleh dua orang lelaki yang tadi duduk di depan toko.
Pak Hanubi masuk, di susul Tuan Irwan beserta gadis dan dua orang lelaki tadi, yang Disa perkirakan mereka adalah karyawan toko ini.
Pak Hanubi langsung menaiki tangga ke lantai dua, sedang tuan Irwan langsung duduk di meja kasir, dan menaruh tasnya.
Disa pun berdiri di hadapanya bersama gadis tadi yang selalu mencuri-curi pandang ke arahnya.
"Ya, ini Disa temen baru kamu, ajarin Disa pelan-pelan ya apa kerjaannya," ucap Irwan kepada gadis di samping Disa.
Tia mengangguk dan meninggalkan teman barunya itu, segera merapihkan meja depan.
"Disa, kalo kamu ngga paham bisa nanya saya," ucap Irwan menatap Disa.
Ini kali ke dua disa mendengar Tuannya itu berbicara panjang. "Baik Tuan."
Lantas Disa bingung di mana dia akan meletakan tas yang ia bawa. Karena Tuan Irwan belum memberi tahu dimana dia tinggal.
Saat dia melihat ada rak di depannya dia berniat meletakan di sana dahulu, namun pandangannya teralihkan pada patung yang berada di atas rak itu.
Itu sebuah patung ukiran kayu, berbentuk manusia seperti sedang menekuk lututnya, posisi berjongkok, dengan trisula yang ia pegang, ukiran dengan warna kayu, hanya bagian matanya saja yang di beri titik hitam.
Di sebelah patung itu ada cawan yang mengeluarkan kepulan asap tipis beraroma harum, namun Disa tak tahu apa itu karena posisinya yang tinggi, wangi yang tidak menyengat, lembut di penciuman Disa.
Patung itu membuat Disa sedikit risih karena, dia merasa jika mata patung itu hidup dan melihat ke arahnya.
Tuan Irwan pun tau kebingungan yang Disa alami. "Kamu taro aja di atas, nanti kalo tutup toko kamu tinggal sama Tia," ucapnya.
Irwan lantas melanjutkan perkataannya. "Kamu udah saya kontrakin rumah, itu tanggungan saya, dan akan di beri uang makan setiap hari, gaji setiap minggu ya?"
Disa pun mengangguk, bersyukur dia bisa segera mengirimi keluarganya uang.
Irwan pun mengambil uang dari tasnya dan memberikannya kepada Disa. "Nah ini ... upah kamu kerja kemarin di rumah, gaji kerja di sini minggu depan, ya?"
Disa kaget jika ia akan menerima uang itu langsung, padahal baru saja dia bersyukur akan menerima gajinya minggu depan, Disa pun menerima uang itu.
Disa akan mengabari keluarganya, dan segera mengirimi uang itu untuk keperluan keluarganya di kampung.
__ADS_1
"Ya, anter Disa ke atas kasih tau dia naro tasnya dulu," panggil Irwan kepada Tia yang sudah berdiri di meja depan, lalu beliau mulai membuka buku yang tadi dia ambil dari dalam lacinya, mencatat pembukuan.
Di perjalanan Disa pun berkenalan dengan teman barunya.
"Kenalin Mbak, saya Tia," ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya Disa, panggil Disa aja, emang kamu umur berapa?" Disa enggan di panggil Mbak, karena dia merasa umur mereka tak jauh berbeda.
"Aku 22, Disa sendiri?"
"Aku 23, Ya— emmm ... disini cuma kita berdua karyawannya? nanti tolong kasih tau ya tugas aku, jangan sungkan negur aku kalo salah, ya?" pinta Disa.
"Tenang, gampang kok kerja di sini, kita cuma catet-catet aja barang yang di beli pelanggan, nanti Tuan Irwan yang ngitung totalnya."
"Disini kita berdua bagian pelayan, mas Joko sama mas Ari, dua cowok yang tadi di depan itu, mereka bagian pengangkut barang, sama yang nyari barang," jelasnya.
"Terus kita tinggal berdua di rumah kontrakan, aku seneng ngga harus tinggal sendirian abis di tinggal Erna."
"Oh aku pengganti Erna ya?" ucap Disa setelah sampai di lantai atas.
Di lantai dua hanya berisi barang-barang yang di susun secara rapih, mungkin ini stok barang dagangan, dan hanya ada satu ruangan di atas sini, dan itu adalah ruangan majikan mereka.
Kamar mandi terletak di bawah, dan saat baru datang dan akan pulang mereka harus membersihkan kamar mandi.
Sedang ruangan atas sudah tersedia kamar mandi khusus milik majikan mereka.
Disa pun menaruh tasnya diatas lemari yang ada di sana, tinggi lemari itu hanya sebatas pinggangnya, berfungsi sebagai meja juga sepertinya.
"Taruh di sana aja, kamu kalo lagi dapet atau apa, bisa bawa pakean ganti taro di sini," ucap Tia menunjuk lemari itu.
Disa mendengar suara benda keras terjatuh, seperti sekarung beras atau apa yang sangat besar.
Disa pun menoleh, mencari sumber suara itu, dia merasa yakin jika suara yang dia dengar berasal dari kamar khusus majikannya itu.
Disa pun bertanya kepada Tia, "Kamu denger suara kaya benda jatoh ngga?"
"Suara apa? Ih ngga ada suara apa-apa kok."
Tia pun lantas menggandeng lengan Disa agar segera turun. Mereka langsung duduk di meja depan, menunggu pelanggan datang, Joko dan Ari mendekat ke arah mereka.
"Karyawan baru ya Mbak?" tanya Joko.
"Kenalin saya Joko," ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Ari," lanjut lelaki satunya, Disa menyebutkan namanya seraya bergantian menyalami mereka.
Saat ada pelanggan datang mereka pun membubarkan diri, menunggu Tia atau Disa memanggil mereka untuk mengambil barang permintaan pelanggan.
Disa memperhatikan apa yang Tia lakukan, Tia mencatat apa yang pelanggan itu sebutkan, Disa berusaha mengingatnya, pasti tak akan langsung bisa, tapi tak apa dia akan berusaha.
Saat ada pelanggan lain Disa melakukan apa yang Tia contohkan tadi, walau dia masih banyak bertanya tentang barang yang dia sebutkan ada atau tidak, Disa lumayan cepat menguasi apa yang Tia ajarkan, hanya dia harus mulai menghafal letak barang, karena Joko dan Ari akan mengambil barang yang lumayan berat, dan mereka mengambil sisanya.
Saat jam makan siang, toko akan tutup karena Hanubi beserta Irwan akan pulang untuk makan siang.
__ADS_1
Sejak kedatangannya di toko, Hanubi sama sekali tak pernah keluar dari ruangan itu. Karena tugasnya sendiri memang ada di kamar itu.
Tia pun menutup pintu toko dan mengajak Disa ke warung makan langganannya, sebelum istirahat Irwan sudah memberi mereka masing-masing uang untuk makan siang.
Warung makan itu sangat ramai pengunjung, mungkin memang ini waktu jam makan siang, sebuah warung sederhana.
Disa dan Tia pun memasuki warung itu, betapa terkejutnya Disa saat melihat mahluk buruk rupa tengah menjilati lauk yang ada di sana, orang-orang yang makan disana, pun memakan liur mahluk tersebut, tapi tak seorang pun dari mereka menyadari keberadaan mahluk itu.
Disa keluar dan berdiri di tong sampah, dia memuntahkan semua isi perutnya.
"Astaga, mahluk menjijikan apa itu? apa pemilik warung ini mengikuti pesugihan?" pikirnya dalam hati.
Tia yang bingung hanya berdiri di belakang Disa sambil menekan-nekan tengkuk Disa.
"Kamu kenapa sih Dis?" ucapnya heran.
"Kamu sering makan disini Ya?"
"Iya, makanan disini enak, trus murah lagi."
Disa meringis, berarti temannya ini biasa memakan liur mahluk tadi.
Disa lantas mengajak Tia untuk pindah tempat makan. "Kalo kita pindah aja gimana Ya? pliss," pintanya memohon.
Tia pun mengangguk pasrah, di sini memang banyak sekali warung makan, namanya juga di kota.
Disa juga melihat ada sebuah warung makan di mana di depannya terdapat mahluk besar berbulu duduk menutupi warung, warung itu nampak sepi, Disa paham, warung itu sedang di isengi oleh pesaingnya, dan Disa tau siapa orang yang tega melakukan itu.
Disa tak berani mendekati warung itu, karena sepertinya mahluk itu melihat dirinya.
Sekujur tubuh Disa bergetar karena takut. "Ya ampun kenapa aku jadi bisa melihat mahluk mengerikan seperti mereka, ada apa dengan diriku?"
Disa memasuki warung makan yang tak terlalu ramai, setidaknya dia tak melihat ada mahluk mengerikan di sana, walau tempat ini berjarak agak jauh dari tokonya.
Mereka segera memesan makanan, Disa mencoba mengenyahkan ingatannya tentang mahluk yang ada di warung-warung tadi.
Orang jahat yang rela menggadaikan keimanan dengan ikut pesugihan serta tamak dan ingin menghancurkan usaha milik orang lain. ucapnya dalam hati.
Setelah selesai istirahat Disa memilih berjalan dengan pandangan lurus ke depan, dia tak mau melihat mahluk besar itu.
"Emang kenapa sih Dis, padahal makanan di warung itu lebih enak loh dari pada warung tadi," ucap Tia.
"Jangan makan di situ lagi, ntar lah aku jelasin di rumah aja, takut kamu malah muntah-muntah ... lagi," jelas Disa.
Dan itu membuat Tia malah semakin bingung, namun ia tak mempermasalahkannya.
Disa, Tia beserta Joko dan Ari menunggu majikan mereka di depan seperti pagi tadi.
Tak lama mobil majikan mereka pun datang dan mereka melanjutkan kegiatan seperti biasa, hingga waktu sore tiba, mereka pulang dan toko di tutup.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....