Pesugihan

Pesugihan
Penangkal


__ADS_3

Disa dan Tia yang diliburkan kerja, berpikir akan mengunjungi rumah majikan mereka. Walaupun Tia merasa enggan, namun dia takut jika berada di kontrakan sendirian.


Disa tak tau ada keperluan apa majikannya hingga meliburkan mereka selama tiga hari, namun apapun itu, Disa memiliki firasat tak enak, hingga ia memutuskan untuk mengunjungi teman-temannya di kediaman majikan mereka.


Di sepanjang perjalanan, Disa selalu melamun, Tia yang berada di sebelahnya selalu menyenggol dirinya, dan hanya di balas dengan senyuman saja oleh Disa.


Seperti biasa angkutan umum yang mereka tumpangi berhenti di depan perumahan majikannya, sedang untuk menuju kediaman majikan mereka harus di lanjutkan dengan berjalan kaki.


Setelah sampai, Disa merasa jika gank rumah majikannya, terasa anyep, di tambah tak ada penghuni di sepanjang rumah itu, sebab semuanya milik majikan mereka. Setelah mereka berada di depan gerbang kediaman kanjeng ibu pun nampak sepi, biasanya ada pak Jarwo yang menjaganya, namun ini sepi.


Disa akhirnya menekan bel rumah, hingga dua kali, barulah nampak Yanti berlari dari arah samping rumah, dia tergesa-gesa membukakan pintu untuk orang yang memang dia tunggu kedatangannya.


Setelah membuka gerbang, Yanti langsung memeluk Disa dan menangis di pelukan temannya itu.


"Aku ngga kuat Dis, aku takut ... sampai kapan kaya gini Dis, tolong jelasin ada apa ini Dis?" Yanti menangis sesenggukan.


Disa mengusap punggung Yanti, ia benar-benar merasa bersalah, penampilan Yanti terlihat sangat mengenaskan, badan kurus dengan wajah pucat dan mata pandanya, orang pasti akan menebak jika ia mungkin mengidap insomnia.


"Sabar ya Yan ... kita masuk, yuk?" ajak Disa sembari menggandeng Yanti, yang nampak lemah sekali.


"Kok sepi Yan, majikan kita pada kemana?" tanya Disa heran sebab di garasi tak nampak dua mobil mewah milik majikan mereka.


"Ngga tau, mereka cuma bilang mau pergi, tapi ngga bawa Ndoro Putra," jelas Yanti.


"Hah! kok bisa? aneh banget," gerutu Tia.


Disa meletakan telunjuk di bibirnya sendiri, sembari menoleh ke arah Tia, bermaksud menghentikan apapun perkataan Tia.


Mereka bejalan masuk dari samping rumah, menuju halaman belakang, tempat di mana Yanti dan Fatmah tadi sedang berbincang, sambil menidurkan Ndoro Putra.


Yanti tak mau ke kamar Ndoro Putra seorang diri, sedang Fatmah dia juga sibuk, Yanti pun enggan berjauhan dengan Fatmah, jadilah mereka menjaga Ndoro Putra bersama-sama.

__ADS_1


Baru juga duduk di halaman belakang, Disa sudah di kejutkan oleh penampakan perewangan Bu Sumarni yang memelototinya dari arah ruang tamu, seperti tak suka dengan kedatangannya.


Semilir Disa mendengar suara Amung, walau nampak jauh sekali "Ikat bawang putih beserta cabai dan daun kelor jadi satu, ikat di pintu kamar, dia tak akan mendekatinya."


"Apa di sini ada daun kelor?" tanya Disa berbisik pada Yanti.


Yanti menggeleng, dia pun balas berbisik, "di rumah Mas Yuda ada kayaknya, aku pernah liat soalnya, kenapa Dis?"


"Kalian ini ngomong kok bisik-bisik gitu, ngomongin siapa hayo?" tukas Fatmah yang datang dengan membawa suguhan untuk Disa dan Tia.


"Ngomongin siapa sih Mbak ... kita ngga lagi ngegosip lah," jawab Disa sambil terkekeh.


Mahluk itu masih menatap sengit Disa, hingga dia berharap Amung dapat menyingkirkan mahluk itu, namun entah kemana penjaganya itu, Disa benar-benar merutuk dalam hati.


Disa tak tahu, jika kediaman kanjeng ibu memiliki dinding pembatas yang sulit sekali untuk di tembus oleh mahluk seperti Amung, bentuknya menyerupai kubah.


Dahulu pun Amung harus mengeluarkan semua kekuatannya untuk menebus dinding itu, jika sudah berada di dalamnya, Amung seperti di paksa untuk keluar, sekarang beruntung Disa bisa mendengar bisikannya, walau Amung berada jauh dari sana.


Disa mengajak Yanti untuk ke rumah Yuda yang berada di luaran tak jauh dari perumahan majikan mereka, saat sampai rumah Yuda nampak sepi, namun Disa dan Yanti meminta izin kepada tetangga Yuda, dan di perbolehkan lagi pula itu bukan tanaman berharga, ucap tetangga Yuda.


"Daun kelor buat apa Dis?" tanya Yanti saat mereka berjalan kembali ke kediaman kanjeng ibu.


"Nanti kita ikat sama bawang putih trus cabe, gantung di pintu kamar, semoga aja bisa nangkal mahluk itu."


"Emang kamu tau dari siapa Dis?" heran Yanti, dia sedikit kesal sebab Disa tak memberitahunya sejak lama, kenapa setelah teror-teror mencekam yang di alaminya.


"Aku juga baru tau Yan, nanya-nanya sama para tetangga di kontrakanku," jawab Disa berbohong, padahal dia mendengar bisikan dari Amung tadi.


"Oh ... enak, ya Dis? Kamu bisa ngobrol sama tetangga," keluh Yanti sambil mengehela nafas.


"Yang penting kita bisa keluar dari sini selamat dulu ya?" Disa berkata yang malah membuat Yanti semakin yakin ada yang tak beres dengan keluarga majikan mereka.

__ADS_1


"Pasti ada sesuatu ya Dis? sama keluarga kanjeng ibu," terka Yanti dengan menyipitkan mata meminta penjelasan Disa.


"Hemmm ... mungkin karena kanjeng ibu keluarga kaya jadi banyak yang mau jatohin, makanya banyak yang kirim mahluk-mahluk aneh buat ganggu, mungkin loh ... ," balas Disa ambigu, lebih baik Yanti tak tahu pikir Disa, sebab Disa tak ingin tingkah laku Yanti malah akan membuat Bu Sumarni mencurigai mereka semua.


Yanti manggut-manggut setuju mendengar penjelasan Disa, menurutnya masuk akal, jika para pengusaha seperti majikan mereka pasti memiliki banyak saingan.


Padahal yang terjadi sebenarnya, keluarga majikan mereka lah yang melakukan perjanjian terkutuk, dan mereka yang menjadi tumbal keegoisan kuncen keluarga majikannya.


Saat sore hari Disa dan Yanti akan pamit pulang, mereka di cegah oleh Fatmah dan Yanti, mereka berdua meminta Disa dan Tia untuk tinggal bersama mereka selama majikan mereka sedang berlibur.


Tia ingin sekali menolak, sebab dia memang merasa tak nyaman di kediaman kanjeng ibu, walau dia sendiri belum pernah melihat mahluk aneh-aneh di sana, namun parasaan akan kewingitan rumah kanjeng ibu membuat Tia tak kerasan disana.


Namun Tia juga tak enak jika menolak, sebab melihat Fatmah dan Yanti yang tinggal hanya berdua di dalam rumah itu, walau ada pak Wahyu yang menjaga saat malam hari bersama Yuda, namun di rumah sebesar itu pasti mereka merasa tercekam.


Setelah selesai makan malam, mereka semua sepakat tidur bersama-sama di kamar Ndoro Putra, mereka akan tidur menggunakan karpet, sebab Nyonya Mariska berpesan agar ada yang menemani anaknya saat mereka semua pergi.


Setelah Ndoro Putra tidur, mereka semua berbaring di bawah, Disa menunggu Fatmah tidur agar ia bisa memasang penangkal di kamar Ndoro Putra.


Disa meletakannya di fentilasi yang berada di atas pintu. Dan di jedela kamar, berharap saat mereka tidur mahluk itu tak mengganggu dirinya dan Yanti, sebab hanya mereka berdua yang di ganggu mahluk itu.


Saat hari sudah semakin larut, suara erangan dan hantaman terdengar nyaring dari luar kamar Ndoro, Disa terjaga, keringat dingin sudah membasahi dahinya yang ketakutan, sepertinya hanya Disa yang mendengar suara amarah dari mahluk itu, sebab Disa melihat jika ketiga temannya masih tidur terlelap.


Gedoran beralih dari pintu berpindah ke jendela, terdengar suara seperti seseorang menggesek-gesek di kaca hingga bunyi berdecit, suara yang membuat ngilu pendengaran Disa.


Disa berdoa dalam hati semoga mahluk itu lekas enyah, Disa tak menyangka jika bisikan yang dia dengar ternyata ampuh menangkal mahluk itu, walau Disa masih bisa mendengar erangan marah dan frustasi dari mahluk itu yang mencoba menerobos masuk ke kamar, dan mengganggu dirinya dan Yanti.


Setelah tak terdengar suara erangan atau pun gedoran yang memekakan telinga, Disa mencoba berbaring lagi dan memejamkan matanya, hingga akhirnya dia bisa juga terlelap tidur menyusul teman-temannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2