Pesugihan

Pesugihan
Berita mengejutkan


__ADS_3

Wulan lantas bangkit setelah mendengar dering suara telpon.


Ternyata Kanjeng ibu yang menelponya, dia senang mendengar suara ibunya, sudah lama dia tak menghubungi keluarganya itu.


Namun berita yang di sampaikan oleh sang ibu membuatnya terkejut.


"Lan ... kamu kapan pulang Nak? Minggu depan mas mu akan menikah lagi," ucap Kanjeng ibu.


"Hah!" pekik Wulan. "Menikah lagi gimana maksudnya Bu? lalu mbak Mariska gimana?" tanya dia heran.


"Ya ngga gimana-gimana, sudah atas persetujuan bersama, kamu tenang saja, pulang ya?" ucap Kanjeng ibu.


Wulan hanya menggeleng, tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Kanjeng ibu memutuskan panggilannya, sedang Wulan dia tak habis pikir dengan pemikiran keluarganya itu.


Dia memang pernah mendengar jika Ayahnya juga memiliki istri lain, meski tak pernah tau siapa orangnya.


Sebab sepengetahuan Wulan hubungan Ayah dan Ibunya selalu nampak harmonis, tak pernah Ayahnya itu menginap di rumah madunya, entahlah Wulan sendiri enggan menanyakan hal itu.


Dan sekarang Mas-nya itu akan mengikuti jejak sang ayah yaitu memiliki istri lebih dari satu.


Huh! aneh-aneh aja sih mas kamu, aku pikir kamu akan setia sama mbak Riska, nyatanya sama aja kamu kaya Bapak. Rutuk Wulan.


Dia berpikir tak akan mau di madu oleh suaminya kelak, apapun alasannya, Wulan yakin tak ada wanita manapun yang rela di madu.


Apa mas Irwan kawin lagi karena mbak Mariska sakit keras, ya? Ishh, tega betul kamu mas kalo kaya gitu, istri sakit malah kawin lagi.


Wulan masih merutuki kakaknya sambil membuat teh hangat untuk dirinya sendiri.


Setelah merileks-kan diri, dia hendak mengistirahatkan tubuhnya kembali.


Wulan memutuskan mandi dan berendam dengan aroma terapi favoritnya.


Wulan memejamkan mata, tak lama dia tertidur di bathtub, dia bermimpi lagi, di mimpinya dia sedang bergandengan dengan Prima, dan mereka saling berkejar-kejaran di hutan yang sangat asri.


Namun Wulan menabrak sesuatu yang sangat besar setelahnya, saat dia berbalik Prima hanya melambaikan tangan tanda perpisahan.


Mahluk itu membopongnya di bahu, Wulan meronta, dia memberontak agar di lepaskan, dia tak melihat wajah mahluk itu.


Wulan berteriak agar Prima menolongnya, namun Prima hanya diam terpaku di sana.


Wulan di lempar di ranjang yang sangat indah, bentuknya seperti tak asing, ini seperti gazebo di rumahnya, hanya terdapat tirai-tirai merah di tiangnya, dan sebuah kasur dengan bunga bertebaran di sekitarnya, sungguh mirip sekali dengan ranjang pengantin.


Tak lama sosok bayangan hitam mendatanginya, tak terlihat bentuk dan rupanya, dia hanya berbentuk gumpalan asap hitam.


Dan...


Wulan menjerit bangun, nafasnya terengah-engah, mimpi itu muncul kembali, dia segera bangkit dari bathtub dan membersihkan dirinya, namun saat dia melihat genangan air di dalam bathtub berwarna merah ia pun menjerit histeris.

__ADS_1


Sandra yang sedang berada di ruang televisi terkejut mendengar teriakan Wulan, ia lantas berlari ke kamar Wulan, untung pintu kamarnya tak terkunci.


Sandra segera mencari Wulan ke kamar mandi dan saat membukanya, terlihat Wulan tanpa handuk menutup matanya ke arah bathtub, Sandra mengambil kimono handuk untuk menutup tubuh Wulan, dan menarik gadis itu kepelukannya.


"Ada apa?" ucap Sandra khawatir.


Wulan menangis di pelukan Sandra, dia berkata jika air bathtub-nya berwarna merah seperti darah.


Sandra mengernyitkan dahi, dia lantas bangkit dan segera kembali ke kamar mandi untuk melihat apa yang Wulan katakan.


Air bathtub hanya di penuhi busa mandi berwarna putih, ia lantas kembali ke kamar.


"Lan ... mana ada darah, kamu ada-ada aja, yuk liat kalo ngga percaya," ajak Sandra menuntun Wulan kembali ke kamar mandi.


Wulan masih takut, dia lantas melongok ke kamar mandi, dan benar itu hanya air busa.


Sandra mendekat ke arah bathtub dan membuka sumbat air agar airnya keluar.


Dan saat air itu mengering ada sosok kepala buntung di sana, Wulan menjerit sambil menunjuk ke arah bathtub, Sandra pun menoleh dan kepala buntung itu menyerangnya.


Namun ....


Wulan menjerit histeris, Sandra membangunkannya dari tempat tidur.


"Lan ... Lan ... kamu kenapa?" ucap Sandra yang menggoyang-goyang bahu Wulan.


"Kamu di kamar lah, aku kaget denger kamu teriak, makanya jangan tidur waktu sendakala kaya gini ngga baik tau, bangun gih mandi dulu," ucap Sandra menjelaskan.


"A ... apa! Aku ketiduran?" ucap Wulan tak percaya namun, saat dia melihat jika dirinya masih mengenakan pakaian yang sama, dia malah bingung.


Apa aku bermimpi, namun itu seperti nyata, aku takut sekali. Halusinasi ini bisa membuatku gila.


"Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Sandra saat melihat Wulan seperti bingung dengan keadaannya sendiri.


"Iya, kepalaku sakit San, mimpi ini seperti peringatan, tapi aku ngga tau tentang apa."


"Ya udah kamu mandi, aku siapin makanan, ya?" Sandra lantas meninggalkan Wulan untuk membersihan dirinya.


Setelah menutup pintu kamar Wulan, Sandra tersenyum miring.


Ya dia adalah anak suruhan Bu Sumarni untuk menjaga Wulan, jika Disa melihatnya tentu saja dia juga memiliki tanda merah di dahinya.


Sandra di bayar mahal oleh Bu Sumarni untuk melaporkan semua kegiatan Wulan, dan menjauhkan Wulan dari teman-temannya.


Tentu saja siapa yang tak mau di bayar hanya untuk menjaga seorang gadis.


Dia tak perduli, mungkin karena Wulan anak dari orang kaya jadi dia di batasi dalam bergaul.


.

__ADS_1


.


.


Sedang di Toko sembako, Disa gemetar saat Tuan Irwan menyerahkan surat kontrak kerjanya, sungguh setelah tau apa yang Bu Sumarni lakukan dia tak ingin memiliki kontrak kerja itu, apa lagi menandatanginya.


"Kenapa?" tanya Tuan Irwan heran, saat Disa seperti enggan menerima kertas kontraknya itu.


"Terima kasih Tuan," ucap Disa setelah menerima kertas itu, ingin dia menolak namun dia tau itu tindakan tak sopan.


"Dis ... kamu nanti bantu-bantu di rumah dulu ya minggu depan, persiapan pernikahan saya sama Mita."


"Hah!" pekik Disa, yang segera menutup mulutnya. "Ma ... maaf Tuan, saya kaget," ucap Disa.


"Ngga papa, mungkin Toko akan di tutup selama satu atau dua minggu kedepan," jelas Tuan Irwan.


"Maaf Tuan, bukan saya lancang, Nyonya gimana?" Disa tak mengerti jalan pikirian Tuan mudanya ini, tega sekali dia menikah kembali saat istrinya masih keadaan seperti itu.


Apa karena Nyonya Mariska sudah tak bisa memuaskannya?


Lalu kenapa harus Mita, bukan kah itu menyakitkan.


Nyonya bagaimana kabarmu?


"Sepertinya itu bukan urusanmu Dis ...." ucap Tuan Irwan menohok.


Disa hanya mampu menahan air matanya, bagaimana pun ini pasti menyakitkan bagi Nyonya Mariska , pikir Disa.


Tega sekali anda tuan, kamu juga Mita, apa kalian tak punya hati? Apa kalian berselingkuh?


Banyak pertanyaan di batinnya, namun hanya bisa Disa pendam saja.


"Ya sudah kamu kembali bekerja," perintah Tuan Irwan.


Disa berjalan lesu ke arah Tia, bingung apa yang akan dia lakukan kedepannya.


Ingin sekali dia pergi dari keluarga kanjeng ibu, namun ia tak tega meninggalkan Tia dan teman-temannya yang akan di jadikan tumbal Bu Sumarni.


Disa juga tak tau bagaimana cara memberi tahu Tia, dirinya takut jika Tia akan histeris dan memilih pergi dari sini, malah akan membuat perjanjian laknat itu terlaksana.


Agar selamat Tia harus bekerja di sana, itu lah sebabnya Disa tak memberi tahu Tia, dia akan mencari cara menolong teman-temannya, seperti pesan sang peramal itu, bahwa dirinya yang akan mampu menolong teman-temannya, walau dia tak tau bagaimana caranya.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2