
Disa bekerja seperti biasa, tak ada kejadian aneh yang dia alami selama bekerja di toko Pak Hanubi, namun dia masih merasa risih dengan patung yang berada di atas meja Tuan Irwan, dimana dia tau mahluk yang pernah datang ke kontrakannya, adalah perwujudan dari patung itu.
Disa yakin ada sesuatu dengan keluarga sang majikan, pernah terbesit di pikiran Disa bahwa sang majikan memiliki perewangan.
Tapi Disa belum bisa memastikan, tadinya Disa berpikir jika rumah sang majikan mungkin dulunya tempat wingit, atau bekas tanah kuburan atau sebagainya.
Karena rumah yang di bangun pada tanah bekas seperti itu juga bisa menjadi wingit.
Namun, saat semua puzzel yang sering dia lihat di kediaman sang majikan Disa yakin jika majikannya menyembunyikan hal ganjil? apa mereka penganut pesugihan?
Saat jam makan siang, seperti biasa Tuan Irwan dan Pak Hanubi akan kembali ke rumah mereka.
Joko dan Ari menghampiri keduanya sesaat setelah toko tutup.
"Mau makan dimana, Dis?" ucap Joko.
"Ngga tau," Disa yang memang belum begitu mengenal daerah ini, hanya bisa menggeleng.
"Makan di warung baru aja yuk? Kemarin kita nyoba disana, enak loh, pas lah harganya sama uang makan kita," ajak Ari.
"Warung yang pernah kamu ceritain kemarin itu, Ri?" sela Tia.
"Iya— yuk, mau ngga bareng?" bujuk Ari.
Disa dan Tia, nampak enggan saat mendengar warung ramai, tapi bukankah sebagai manusia mereka tak boleh berburuk sangka dahulu? Akhirnya Disa dan Tia pun mengangguk menyetujui ajakan kedua teman mereka.
Warung makan tersebut letaknya lumayan jauh dari Toko, tapi tak jadi masalah bagi mereka.
Saat sampai di depan warung, Disa agak skeptis melihat warung makan tersebut, memang warung yang ramai pengunjung, dia takut melihat mahluk yang berbentuk lain lagi.
Tapi, lagi-lagi nuraninya dia gunakan, dia pun berjalan masuk mengikuti Joko dan Ari, sedang Tia yang menebak jika Disa memiliki ilmu kebatinan, memilih mengikutinya saja.
Walau Tia tak bisa melihat mahluk mengerikan seperti itu, Tia tetap merasa jijik jika mendengarnya dari orang lain.
Disa pun melihat kesegala penjuru warung. 'Tempat yang bersih, sepertinya tak ada mahluk mengerikan di sini.'
Disa dan Tia pun duduk di tempat dimana Joko dan Ari sudah menunggu mereka.
Mereka pun memesan di warung makan sederhana itu, nampak lauk-pauk yang di hidangkan sangat menggugah selera.
Tia pun berbisik ke telinga Disa, "Dis ngga ada mahluk ghaib kan disini?"
"Ngga ada, aman, jangan lupa baca do'a sebelum makan, biar Tuhan yang kasih tau kamu, kalo makanan itu layak ngga untuk kamu makan," perintahnya.
"Iya lah, tau aja kamu Dis, aku sering lupa baca do'a," cengirnya, sambil menggaruk pelipisnya.
Tia memang sering kalap jika melihat makanan, sehingga dia jarang berdo'a ketika makan, sehingga dia bisa kecolongan makan di tempat aneh seperti warung yang memuja pesugihan.
Sebenarnya, jika dia ingat akan rezeki yang Tuhan berikan, dan bersyukur, yakinlah Tuhan pasti akan membantu memberi tahu padanya mana rezeki yang dia makan layak dan tak layak untuknya.
Mereka berempat makan dengan lahap, dan memang makanan disana enak, terlebih lagi harganya pas, cukup pas sesuai jatah uang makan mereka.
Mereka pun segera kembali ke toko, Joko dan Ari berjalan di belakang sambil menghisap rokok, Disa dan Tia berjalan jauh di depan mereka.
__ADS_1
"Serius Dis, ngga ada mahluk serem di warung makan tadi?" ucap Tia penasaran.
"Ya— ngga semua warung makan yang rame, pake pesugihan, aku yakin mereka menjual makanan yang halal kok. Lagian aku kan dah ingetin kamu kalo makan berdo'a, biar makanan yang kamu makan jadi rezeki yang baik buat kamu," ceramahnya.
"Gimana nasib makanan yang dulu sering aku makan dari warung itu ya Dis?" Sambil mengusap perutnya.
Disa pun hanya mengedikan bahu, Karena ia sendiri pun tak tau jawabannya. Mereka sampai di toko sesaat sebelum majikan mereka tiba.
.
.
Sore menjelang tutup, Disa mendekat ke arah meja Tuan Irwan, dia akan menanyakan kontrak kerjanya sama seperti milik Tia.
"Maaf Tuan," Disa menggenggam ujung kemejanya.
Irwan yang melihat Disa berdiri di depan mejanya lantas menjawab, "Iya ada apa, Dis?" Sambil membereskan buku di atas mejanya.
"Maaf, saya mau tanya Tuan apa saya punya kontrak kerja?" ungkap Disa dengan hembusan nafas lega, sebab dia takut mendapat masalah, walau niatnya hanya mengingatkan barang kali majikannya lupa memberinya kontrak kerja.
Namun ekspresi Irwan yang mengernyitkan dahi, menjawab jika dia sendiri tak tau menahu tentang kontrak kerja Disa.
"Apa Bu Sum ... ngga ngasih kamu kontrak kerja?"
Disa hanya menggeleng menjawabnya.
Tak lama, Pak Hanubi turun, pertanda mereka akan segera meninggalkan toko.
"Bentar Pak."
"Ada apa?" ucap Pak Hanubi, yang melihat jika karyawannya berdiri di depan meja sang Putra.
"Disa belum mendapat kontrak kerja dari Bu Sum," jelas Irwan.
"Nanti kami tanyakan, ya? Yang pasti kamu kami gaji sama seperti karyawan lain." Pak Hanubi lantas menepuk bahu Disa, seolah itu hanya masalah sepele.
Pak Hanubi beserta Tuan Irwan pun lantas pulang kerumah saat sudah menutup Toko.
Joko dan Ari juga kembali kerumah mereka, sedang Tia dan Disa berjalan menyebrang ke kontrakan mereka.
Tia berhenti di toko kelontong yang berada dekat dengan kontrakan mereka, dan menyuruh Disa untuk kembali terlebih dahulu.
Tia lalu memberikan kunci kontrakan kepada Disa. Saat sudah di tangga, lagi Disa mendengar suara seseorang menangis.
Bulu kuduknya meremang, nampak seorang wanita sedang menangis di kamar ujung seperti kemarin.
Disa yang tak tega akhirnya memberanikan diri menghampirinya.
Makin lama wangi pandan bercampur bau busuk tercium di hidungnya.
Disa berjongkok agak berjauhan dari wanita itu, dia mensejajarkan diri dengan sang wanita.
"Mbak? Kamu kenapa? Saya orang baru di sini, kenalkan saya Disa," ucap Disa memperkenalkan diri, berharap wanita tersebut tak merasa takut padanya.
__ADS_1
Namun bukan balasan yang Disa terima, tiba-tiba suasana menjadi hening, wanita di hadapannya ini berhenti menangis, namun tak lama, dia malah tertawa terkikik, sungguh membuat Disa merinding di buatnya.
Wanita itu, lalu menengadahkan wajahnya, menatap Disa.
Panik, Takut, itu yang Disa rasakan, namun dia tak mampu menjerit dan bangun lari dari sana.
Wanita di hadapannya itu tak memiliki bola mata, wajahnya putih pucat, dari lubang matanya mengalir darah, sungguh rupa yang mengerikan.
Disa jatuh terduduk, dia mendadak lemas, dia pun menyeret tubuhnya menjauh dengan mengesot.
Wanita itu, lantas merangkak hendak mendekatinya, Disa panik dia sudah sampai di ujung tangga, ingin sekali dia berteriak namun tak bisa, lidahnya kelu.
Wanita itu sudah berada di kakinya, Disa berusaha menendang menjauhkan mahluk itu darinya, namun sepertinya itu hal sia-sia.
Disa terlentang, tak tau apa yang akan terjadi padanya saat ini. Wanita itu sudah berada tepat di atas wajahnya, dia menyeringai.
"Kau bisa melihatku," ucapnya lantas tertawa terkikik.
Disa hanya memejamkan mata, sayup-sayup dia mendengar suara itu semakin menjauh, berganti dengan panggilan Tia.
"Dis ... Dis ... ngapain kamu tidur di tangga?" ucap Tia heran melihat Disa terlentang di tangga dengan mata terpejam erat.
"Tia!" ucap Disa dengan nafas memburu, dan jantung yang berdebar-debar, lantas bangkit dan memeluk tubuh Tia.
Tia yang terkejut karena serangan tiba-tiba, hampir terjengkang ke belakang, untung dia mampu menahannya.
"Kenapa sih?" omelnya yang masih terkejut.
"Perempuan itu setan, Ya." Disa segera memberitahu Tia apa yang baru saja ia lihat.
Mereka tampak panik, dan segera masuk ke dalam, ini sudah sendakala memang, jadi lebih baik berada dalam rumah.
Setelah di dalam, Tia pun bertanya tentang hal yang Disa alami.
"Perempuan mana?"
"Yang aku bilang nangis di pojokan, tadi nangis lagi, aku pikir dia manusia, ya aku deketin, taunya—" Disa tak berani melanjutkan ceritanya.
"Perempuan? kayaknya dulu emang ada yang pernah tinggal di sini mati bunuh diri deh!" ucap Tia mengingat-ingat cerita dari para tetangganya.
"Serius kamu Ya!" sergah Disa.
"Tapi ngga pernah ganggu, kamu punya ilmu kebatinan jadi bisa liat, apa mungkin dia mau kasih tau kamu kenapa dia bunuh diri?" ucap Tia yang malah membuat Disa semakin takut.
Dia masih mengingat wajah mengerikan hantu wanita tadi, kenapa juga Disa harus melihatnya, dia merutuki apapun kelebihan yang ada di dirinya itu.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1