Pesugihan

Pesugihan
Akhirnya Lenyap


__ADS_3

Dengan kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan, Disa menatap lemah kaki Bu Sumarni yang menginjak dadanya. Namun kata-kata 'BAGAS' yang di ucapkan dalam ancaman, membuat matanya menajam dan menyala, jiwa berontaknya berkobar seakan meminta dukungan pada asa di luar nalar.


Mahluk penjaga yang menerjang Asih yang di miliki Wulan lenyap seketika berubah menjadi udara tanpa noda, padahal Asih belum sama sekali menyentuhnya apa lagi menyerang.


Bu Sumarni sontak terkesiap teringat kondisi penobatan Wulan. Melupakan pijakannya pada tubuh Disa yang mulai meninggi. Kegundahannya bertambah saat penjaga Kanjeng Ibu yang meremang lalu lenyap menjadi serbuk emas yang berterbangan, pertanda sang pemilik telah tiada.


Bu Sumarni sangat murka hingga pandangannya menoleh jauh ke arah dimana ritual penobatan di laksanakan. Firasatnya memburuk, menerka apa yang telah terjadi dengan ritual penobatan pemindahan kekuasaan dari Kanjeng Ibu kepada penerusnya Wulan, mungkin sudah gagal menurutnya.


Di cabutnya tangan yang menancap kuku-kukunya di tubuh Disa, Bu Sumarni ingin segera mencincang dan mengoyak dengan cara membabi buta untuk melampiaskan amarahnya.


AARRRGGGHH!! ....


Namun nyalinya menciut, wajah seramnya mengkerut, detak jantungnya berdegup kencang, suara geramannya pun terdengar sumbang saat menatap Disa yang sudah berubah wujud seperti dirinya, bahkan dengan sorot mata yang lebih menyala dan wujudnya dua kali lipat lebih besar dari dirinya.


Bu Sumarni hendak kabur untuk melarikan diri, namun kedua tangan perwujudan Disa yang berbulu dan berotot kekar, mencekal kedua lengan Bu Sumarni dengan merentangkannya kuat-kuat, membuat tubuhnya terangkat dan menjerit kesakitan.


Sado, Maung Rekso dan Amung datang bergabung dengan raut wajah sama takutnya, tak jauh beda dengan ekspresi Bu Sumarni yang melihat perwujudan Disa. Mahluk seperti mereka juga memiliki keterbatasan, tenaga dan semua kemampuan mereka terkuras habis, hanya terpaku menyaksikan perlakuan yang sangat mengerikan. Dan menunggu apa yang akan di lakukan Disa kemudian.


WUAAARRRRRGH!! ....


Mulut Disa yang kini bertaring dan penuh dengan lelehan air liur, mengarahkan suaranya pada wajah ketakutan Bu Sumarni, dan menyipratkan liurnya dari hembusan napasnya yang seperti angin kencang, lidahnya yang merahpun terlihat menegang.


"Disaa!! Cukup!" teriak Asih, menghentikan usaha temannya dalam mengisi ilmu. "Jika cawannya pecah, kau akan mewarisi sifat iblis Bu Sumarni, selamanya!"


Amung tersentak, teringat dan bersiap menumpahkan cawan Disa untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi.


Namun Amung mengernyitkan dahinya, cawan Disa yang dulunya seperti terbuat dari tanah, kali ini berubah menjadi seperti logam tungsten yang tahan panas, bukan berisi air namun lahar yang membara.


Pantas saja Disa mampu menyerap dan menampung ilmu iblis, dimana jiwanya Bu Sumarni bagai lahar melebihi api, karena sifat manusianya sudah melampaui iblis. Luka-luka menganga di raga Disa pun kembali tertutup dan menghilang, hanya menyisakan darah di kulitnya.


Weeerrgh!! ....


Disa hanya menggeram, berbicara lewat batinnya pada Asih dan Wiwit, agar kepala dan tubuh Bu Sumarni di lenyapkan dalam posisi terpisah.


Wiwit berpikir ragu, mungkin Disa akan memenggal kepala Bu Sumarni dengan memelintirnya, sebab perwujudan Disa tak memiliki kuku panjang, dan senjata kuku macan yang dia miliki juga raib.


Ternyata Disa hanya menyerap dua kali lipat kekuatan Bu sumarni, tanpa mengikut sertakan karakter kejam yang tersemat pada kuku-kuku tajamnya yang sudah banyak memakan korban yang tidak bersalah.


Lalu Disa berdo'a dalam hati, meminta petunjuk pada Tuhan, di tengah keterbatasan waktunya yang menipis. Disa tidak mau mengotori langsung tangannya untuk membunuh, dia belum tega, biar Tuhan yang mengirim perantara itu, lagi dan lagi.


Sinar terang melesat dari arah langit, senjata yang di simpan turun temurun, sebagai pusaka leluhur, yang terpajang di dinding rumah kakeknya, kini hadir di sini, seolah memberi sinyal bantuan pada keturunannya.


Disa terkesiap ....


Dilemparkannya tubuh Bu Sumarni ke atas, dan tangan Disa seperti refleks meraih keris pedang yang mengarah pada tangannya, dan ....


Slaastz!! ....

__ADS_1


Kepala mahluk menyeramkan perwujudan bu Sumarni langsung terpisah di udara dari tubuhnya dengan semprotan darah yang berhamburan menghujani tubuh Disa. Bu Sumarni melengking kesakitan dengan suaranya yang menggema mengisi sisi ruang-ruang istana sang Tuan.


Bahkan lengkingannya yang menembus cakrawala, berhasil mengundang tatapan iblis menuju langit kelam untuk kedua kalinya, akankah iblis yang terlahir dari mahluk bernama manusia ... binasa dengan terhina.


Semua para Iblis pencabut nyawa kiriman Bu Sumarni pun mematung di depan calon korban, tidak percaya akan perintah yang belum di tunaikan, sedang tanda merah sudah hilang dari pandangan. Namun iblis tak pernah tepati janji, juga tak pernah ikuti aturan, meski tanda merah sudah hilang, mencabut nyawa bagi iblis seperti suatu keharusan.


Di ayunkannya kembali tongkat di tangan ...


.


.


.


Wiwit yang mengerti ucapan batin Disa melesat berlari dan menerjang menendang kepala Bu Sumarni yang belum menyentuh tanah.


Asih pun demikian, mengikuti petunjuk batin Disa, lantas di lepaskannya kain pusaka leluhur yang mengikat kepalanya, dan di bentangkan untuk menangkap bola kepala Bu Sumarni yang bergulir melesat di udara, hasil tendangan Wiwit.


Kruup!! ....


Tangkapan yang di lakukan Asih berhasil, "Sadoo!!" teriaknya dan segera memeluk tangan Sado yang melesat menuju pintu gerbang istana agar penggalan kepala terpisah dari tubuhnya. Melesatnya Sado di iringi dengan istana sang Tuan yang runtuh berjatuhan bagai hujan badai, hanya saja airnya kini berupa percikan api.


"Disa!! Ayo kembali, cahaya kita sebentar lagi mau padam!!" tariak Wiwit lantas menaiki punggung Maung Rekso untuk kembali ke pintu ghaib yang terdapat di gazebo kanjeng Ibu. "Maung Rekso, Ikuti Tuan Amung."


Sukma Bu Sumarni yang memiliki kesaktian yang mumpuni hendak pergi, mungkin akan mencari jiwa yang lain untuk dia singgahi, namun Disa tak tinggal diam.


Untuk kedua kalinya tebasan keris pusaka itu membuat Bu Sumarni merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti melebihi rasa sakit yang di derita Wulan. Sukmanya retak dan menjalar keseluruh bagian tubuhnya, di antara retakan itu keluar bara lahar lalu pecah membuatnya berubah menjadi sekumpulan asap hitam yang memudar.


Dan para iblis pencabut nyawa suruhan Bu Sumarni yang akan melakukan tebasan keduanya, juga ikut lenyap seketika ....


Bhuusssh!! ...


Menjadi asap hitam pekat yang memudar. Mereka tak sanggup memenuhi nafsu keinginan dan tak mampu merubah takdir kematian yang sudah di gariskan Tuhan.


***


Bagas tersadar, tak mengerti apa yang sedang dia lakukan, dengan seutas tali yang melingkar di leher. Dia menangkap sosok penampakan, di sebutnya nama Sang Tuhan ....


Bhuush!! ....


Penampakan hilang, Bagas pun selamat dari kematian.


***


"Sayang!!" panggil sang istri dari arah jendela kamar yang terdengar manja. "Katanya pengen."


"Ya Tuhan!" Wahyu tersentak, bulu kuduknya meremang, melihat posisinya yang kini berada di atas sumur tua, di bawah pohon asem, hanya beberapa langkah di belakang rumahnya. Di usapnya tengkuk yang seperti ada yang menyentuhnya.

__ADS_1


Dia turun dari arah sumur itu menuju rumahnya. Wahyu menghampiri suara manja sang istri. Rupanya malam ini dia akan menunaikan tugasnya di medan perang, untuk berjuang mendapatkan momongan lagi, yang belum juga Tuhan berikan.


***


"Ya Tuhan." ucap Yuda yang terjaga dari tidurnya dalam kemudi, dan langsung di injaknya rem di kaki, membuat lajunya tak terkendali.


Indranya menangkap sekelebatan bayangan membuntuti, dia terus berusaha agar laju mobil bisa dia kuasai, hingga di injaknya rem sekali lagi yang membuat mobil yang di kemudikannya berhenti tepat di pembatas jalan hanya berjarak dua mili.


Setan apa malaikat pencabut nyawa ya tadi? batin Yuda menebak bayangan yang dia lihat sebelum penampakan itu lenyap menghilang.


Yuda mengkondisikan mobilnya untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


***


"Keluarga Bapak Jarwo," panggil Dokter untuk menjelaskan kondisi pasien pada keluarganya.


"Saya Dok," ucap ibu paruh baya dengan mata terlihat sembab lalu menghampiri. "Gimana keadaan suami saya, Dok?"


"Berkat do'a anda, usaha kami berhasil," jelas sang Dokter sambil mengusap keringat di dahinya dengan sapu tangan. "Padahal, detak jantungnya tadi sempat berhenti beberapa detik, namun ini seperti suatu keajaiban."


"Jika telat beberapa detik saja anda membawanya, mungkin baliau sudah tiada," tambahnya.


"Terima kasih," ucap ibu paruh baya menatap Dokter yang sudah berlalu memunggunginya. "Tuhan."


***


"Ya Tuhaan, lindungilah anak dan keponakanku," ucap seorang ibu dalam heningnya malam memanjatkan do'a.


Dia merasa gundah saat anak semata wayang dan keponakan tercintanya berpamitan tadi sore, dan sampai malam begini belum juga pulang. Yang membuatnya janggal, baru kali ini sang anak dan keponakan pergi dengan menyalaminya dan meminta do'a.


Joko dan Ari yang tenggelam dalam aliran sungai, kaki mereka seperti tertarik terbawa semakin dalam, mereka terus meronta, berusaha lepas dari kematian yang dirasa semakin dekat.


Ari tersangkut di kaki rumah panggung, yang menjarah sebagian lebar sungai tanpa aturan.


Joko merayap di tumpukan sampah yang menutupi sebagian permukaan sungai yang kotor dan berbau amis.


"Tuhan! Haruskah saya berterima kasih pada para pecundang?" ucap Joko dengan berbaring menatap bintang di gelapnya malam. "Sampah yang mereka buang telah menyelamatkanku!"


"Dasar mabok, lu," ucap Ari yang masih dalam keadaan setengah mabok dan memeluk tiang kayu itu.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2