
Disa dan Tia kembali bekerja seperti biasanya, selepas acara lamaran tempo hari tak terlihat perubahan pada sikap Tuan Irwan.
Menurut Disa, tuan Irwan bersikap seperti biasa tak ada kesenanngan yang berlebihan.
"Dis ... Ya ... besok kalian bantu di rumah saya ya, mempersiapkan acara pernikahan di rumah."
Disa dan Tia terkejut, karena baru lima hari yang lalu Tuan Irwan melamar Mita, dan dua hari mendatang mereka sudah akan menikah.
"Pernikahan di lakukan di rumah Kanjeng ibu Tuan?" tanya Disa yang merasa heran.
Walaupun berstatus istri kedua, namun menurut Disa Mita adalah seorang gadis, apa mereka tidak melangsungkan pernikahan di kediaman Mita.
"Ya, nanti Mita sama keluarganya yang datang," jawab Tuan Irwan.
Disa lantas mengangguk dan kembali ke meja kasir bersama Tia.
Mereka tak berani berbicara apapun, karena bagaimana juga mereka masih di tempat kerja.
Saat jam istirahat baru lah mereka mengeluarkan pikiran mereka yang sudah mereka tahan sejak tadi.
"Mita nikahnya di rumah Tuan Irwan? ya meskipun kita pembantu bukannya lebih baik nikahnya di mempelai wanita ya Dis?" tanya Tia yang juga sepemikiran dengan Disa.
"Aku juga mikirnya gitu, tapi ya udah lah, bukan urusan kita, aku cuma penasaran, apa tanda di dahi Mita bakal ilang, soalnya cuma pekerja yang punya tanda merah, kalo keluarga kanjeng ibu ngga ada."
"Aku malah ngebayangin ketemu Bu Sum, gila aja Dis kita suruh kesana, ngeliat orang yang mau ngehabisin kita tanpa bisa kita berkutik coba."
"Aku tau Ya, tapi kamu sabar, bu Sum itu bukan manusia sembarangan, bukan seperti kita ini," ucap Disa.
Tia mendengus mendengar perkataan Disa, dia sedang berpikir sendiri, bagaimana nanti dia akan menemui calon algojonya itu.
.
.
.
Wulan sudah menyelesaikan tugas skripsinya, dan sudah menjalani sidang dengan lancar, dia sudah tau jika kakaknya sudah resmi melamar calon istri keduanya.
Meskipun tak habis pikir dengan pikiran sang kakak, namun Wulan tak akan ikut campur masalah rumah tangga kakaknya itu.
Dia memutuskan untuk segera kembali ke negaranya, ingin sekali dia berkumpul lagi dengan mereka, dan kebetulan juga acara pernikahan kedua kakaknya itu tak lama lagi akan di selenggarakan.
Wulan ingin memberi kejutan pada keluarganya, dia akan memberi dukungan kepada kakak iparnya Mariska, agar tabah dan sabar dalam menghadapi biduk rumah tangganya.
Wulan sudah sampai di bandara, dia berharap keluarganya akan terkejut dengan kedatangannya.
Saat Taxi yang dia tumpangi sudah sampai di depan rumahnya, Wulan segera turun dari sana dan menekan bel rumahnya.
Pak Jarwo lantas mengintip lewat celah pagar untuk melihat siapa yang datang, dan dia terburu-buru membuka pintu pagar karena yang datang adalah anak majikannya.
__ADS_1
"Nona Wulan, ya ampun ngga ngabari kalo mau pulang, harusnya di jemput tadi sama Yuda," ucap Pak Jarwo yang segera mengambil koper majikannya itu.
"Kejutan Pak, Pak Jarwo gimana kabarnya sehat?" tanya Wulan kepada tukang kebunnya itu yang sudah lama bekerja pada keluarganya.
"Sehat Non, Kanjeng pasti seneng liat Non udah pulang," ucap Pak Jarwo yang juga terlihat senang dengan kedatangan anak majikannya itu.
Di mata para pekerja di rumah kanjeng ibu, sebenarnya para majikan mereka tak pernah semena-mena terhadap mereka, bisa di katakan jika mereka itu orang orang baik.
Wulan segera masuk, ada perasaan rindu dan sakit saat memasuki rumahnya itu, rindu akan kehangatan keluarga, dan sakit saat mengenang masalalu bersama Prima.
Kanjeng ibu sedang berada di ruang baca bersama Bu Sumarni.
Wulan yang melihat jika ibunya tak berada di ruang tengah berpikir jika sang ibu berada di ruangan favoritnya, dan benar saja dia berada di sana.
Setelah mengetuk pintu Wulan segera membukanya, dan terlihat raut wajah bahagian kanjeng ibu bertemu putrinya itu.
Wulan segera memeluk kanjeng ibu. "Surprise ... aku kangen ibu," ucapnya dan mulai meneteskan air mata.
Kanjeng ibu mengusap punggung anaknya itu, dia juga merindukan sang anak, namun kepulangan sang anak kali ini, membuatnya malah bersedih.
"Ibu kenapa?" ucap Wulan menjauhkan tubuhnya dengan tetap mencengkram kedua lengan ibunya. "Kaya ngga suka gitu aku pulang," dengusnya.
"Ibu juga kangen sama kamu, cuma kaget aja, ya ampun anak ibu makin cantik aja, ini mata kamu kenapa kok hitam gini," ucap kanjeng ibu mengusap kantung mata Wulan yang menggelap akibat kurang tidur itu.
"Biasalah Bu, namanya juga mahasiswa semester akhir, banyak tugas jadi kurang tidur," jawabnya, lantas melirik kesebelah di mana Bu Sumarni berdiri.
"Bu Sum apa kabar?" tanya Wulan basa basi.
"Apa aja Bu, makasih ya?" ucapnya lantas menarik Kanjeng ibu untuk duduk bersebelahan.
Bu Sumarni lantas pergi meninggalkan majikannya itu, untuk membuatkan minuman.
Wulan duduk sambil tetap memeluk ibunya dari samping, "Bu kok bisa sih Mas Irwan di izinin nikah lagi, apa ngga kasian sama Mbak Mariska?" ucap Wulan penasaran.
Kanjeng ibu membuang kasar nafasnya, Wulan yang mendengar ibunya menghela nafas lantas melepaskan pelukannya, dan memandang ke arah sang ibu.
"Belum saatnya kamu tau, yang pasti Mbak mu ngga keberatan kok," ucap Kanjeng ibu yang menatap iba putrinya itu.
Kanjeng ibu mengusap pipi Wulan, sebentar lagi dia sang putri harus menanggung perjanjian baru keluarganya, Kanjeng ibu masih belum rela dengan kenyataan itu, bagaimana pun kanjeng ibu berpikir jika anaknya itu masih kecil, namun dia harus siap sekarang, karena kematian juga membuatnya takut.
"Ada apa sih Bu? Kalian nyembunyiin sesuatu ya dari aku?" rengek Wulan.
Bu Sumarni lantas masuk dan membawakan minum untuk majikannya, pembicaraan mereka seketika berhenti.
"Silahkan Nona," ucap Bu Sumarni sambil meletakan suguhannya.
"Makasih Bu." Wulan segera mengambil minumannya, bagaimanapun dia juga merasa haus.
"Sebaiknya Nona istirahat dulu, pasti lelah abis perjalanan jauh," pinta Bu Sumarni.
__ADS_1
Wulan melihat ke arah Kanjeng ibu, dan sang ibu mengangguk tanda setuju dengan perkataan Bu Sumarni.
Wulan pun bangkit meninggalkan mereka berdua, dia akan kembali ke kamarnya.
Wulan berjalan ke arah kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Kanjeng Ibu, namun dia berbelok ke arah kamar Mariska dan Putra berada.
Wulan berdiri di depan pintu hendak mengetuk, namun ia urungkan.
Dia memilih berbalik, dan saat itu pintu kamar Mariska terbuka.
"Wulan!" seru Mariska yang terkejut dengan kepulangan adik iparnya.
"Mbak ...." ucap Wulan lantas segera menghampiri Mariska dan memeluk kakak iparnya itu.
"Ya ampun Lan, kamu kapan dateng? Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam," ajak Mariska yang menggandeng adik iparnya itu.
Niat hati Wulan ingin segera istirahat dia urungkan saat melihat wajah kakak iparnya yang nampak bahagia bertemu dengannya.
Saat mereka sudah sampai di dalam, Mariska mendudukan dirinya beserta Wulan di sofa depan ranjangnya.
"Kamu apa kabar? Kenapa ngga ngabarin kalo mau pulang," ucap Mariska pada adik iparnya seraya mengusap rambut panjangnya.
Mariska sangat menyayangi Wulan, dia menganggap adik iparnya itu seperti adik kandungnya sendiri.
"Baik Mbak," balas Wulan yang lantas menunduk tak sanggup menatap mata kakak iparnya itu, dia melihat keadaan Mariska yang nampak belum sehat, dengan mata yang sayu.
"Maafin mas Irwan, ya Mbak?" mohon Wulan sambil menggenggam tangan Mariska.
"Masalah menikah lagi? Kamu sengaja pulang apa mau liat pengantin mas mu itu?" sungut Mariska bergurau.
"Diih Mbak mah, aku nih baru nyelesein tugasku biar bisa pulang nengok Mbak, ngga liat nih kantung mata aku dah kaya panda," omel Wulan, dia memang berniat pulang karena ingin menjenguk seluruh keluarganya, hanya waktunya saja yang pas dengan acara pernikahan sang kakak.
Mariska tertawa melihat gerutuan adik iparnya itu, dia lantas memeluk Wulan kembali, karena tak lama lagi Wulan akan menjadi penerus pesugihan keluarganya.
Hati Mariska teriris, melihat adik perempuannya yang cantik ini, akan melakukan entah ritual mengerikan macam apa yang akan di terimanya nanti.
Karena Mariska melihat saat Bu Sumarni mengatakan pergantian kedudukan itu, terlihat sekali wajah mertuanya menunjukan raut tak sukanya.
Tak lama suara pintu di ketuk, dan seseorang melenggang masuk.
"Nona bukannya tadi mau istirahat? Bisa nanti lagi berbincang dengan Nyonya Mariska," tegur Bu Sumarni yang membuat Wulan kesal, walau lelah dia benar-benar senang bertemu dengan kakak iparnya itu.
"Ya ampun maaf Lan, Mbak lupa kalo kamu pasti cape, malah Mbak tarik ke sini, ya udah kamu istirahat, ya?" pinta Mariska.
"Iya Mbak, aku ke kamar dulu, ya?" ucap Wulan lantas bangkit dan meninggalkan kamar Mariska dia melewati Bu Sumarni tanpa memandang ke arahnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....