Pesugihan

Pesugihan
Kebahagiaan Mita


__ADS_3

Irwan dan Mariska berada di kamar bersiap tidur, Irwan melihat jika istrinya itu nampak gugup, terlihat dari caranya menggigit bibirnya sendiri.


"Kenapa sayang?" Ucap Irwan sembari memeluk sang istri.


"Mas kamu belum pernah tidur di kamar Mita bukan? Sebaiknya kamu malam ini tidur di sana," pinta Mariska yang masih tak ikhlas mengatakan hal itu terhadap suaminya.


"APA!! Si Mita ngomong apa sama kamu?" Ucap Irwan menahan amarahnya.


Mariska tau jika Irwan kesal, langsung memeluk suaminya itu dari samping, dia mendaratkan kepalanya pada dada sang suami.


"Mita ngga ngomong apa-apa Mas, aku cuma ngerasa kasian aja sama dia, kamu ngga kasian, sebentar lagi dia di persiapkan buat jaga-jaga pas Wulan nurunin parjanjian itu kan, berilah dia sedikit kebahagiaan."


Irwan memalingkan wajahnya, hatinya terenyuh di ingatkan tentang masalah perjanjian laknat keluarganya itu.


Bahkan dia merasa belum siap menyerahkan adiknya untuk menjadi penerus janji selanjutnya, Irwan masih merasa bahwa Wulan masih gadis kecilnya yang selalu merengek akan segala hal.


Apa lagi dia tau jika kekasihnya semasa Sekolah Menengah Atas di singkirkan oleh Bu Sumarni.


"Mas ..." panggil Mariska yang melihat suaminya melamun. Dia lantas bangkit duduk.


Irwan pun ikut duduk dan memeluk istrinya itu, tidak terasa air matanya tumpah di bahu sang istri.


Mariska merasa tak enak hati, pasti perkataannya tadi menyakiti hati sang suami. Dia pun mengusap punggung suaminya itu.


"Maafin aku Mas ... aku ngga bermaksud—"


"Bukan kamu yang harus minta maaf Ris," potong Irwan seraya melepaskan pelukan, dan memegang kedua pipi istrinya. "Tapi aku!"


Bibir Irwan mulai bergetar, menunjukan ketidak berdayaan dalam situasi yang rumit.


"Aku yang jahat udah ngorbanin kamu." Irwan lantas menunduk dan kembali menangis.


Sekarang giliran Mariska yang menyentuh wajah sang suami dengan nafas mereka yang saling beradu. "Sudahlah Mas, itu udah berlalu, sekarang gimana kamu sama Mita, apa kamu ngga kasian sama dia?"


Irwan dilema, dulu dia merasa tak berguna sudah mengorbankan istrinya sendiri, dan sekarang dia akan mengorbankan istri barunya juga, meski sudah tau rencana itu namun pikirannya malah kalut di luar dugaan.


"Nanti aku pikirkan Mita, sekarang kamu tidur aja, ya?" pinta Irwan, lantas menarik pelan Mariska agar segera kembali tidur.


Saat di lihatnya Mariska sudah terlelap, Irwan memutuskan untuk ke kamar Mita, dia akan bertanya langsung kepada istri keduanya itu mengapa dengan lancang berani mengeluh pada Mariska.


Irwan menebak seperti itu sebab, tak mungkin Mariska tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Jika mau, Mariska sudah mengatakannya sejak malam pertama mengapa dirinya tak tidur bersama Mita, Irwan tau jika Mariska belum rela berbagi dirinya, dan itu sebabnya Irwan berpikir jika Mita pasti mengadu pada istrinya itu.


Irwan membuka pintu dengan perlahan, dia tak mau mengganggu istirahat istrinya itu, yang tak di ketahui Irwan jika Mariska sebenarnya belum juga tidur, dia hanya memejamkan mata saja. Setelah pintu ditutup dari luar Mariska membuka matanya, dan mencengkram selimutnya, dia terisak, membayangkan jika sang suami akan menghabiskan malam panjang bersama madunya.


Irwan sudah berdiri di depan pintu kamar Mita, ketika akan membuka pintu ternyata terkunci, lantas dia segera mengetuknya.


Tak butuh waktu lama Mita membukanya, dia mengenakan kimono tidur.


"Mas ... " ucapnya dengan mata berbinar, namun Irwan tak bergeming dengan tampilan Mita yang seakan menggoda dirinya.


Kecurigaannya semakin besar, sebab Mita seperti sudah tau jika dirinya akan datang ke kamar itu.

__ADS_1


Irwan berdiri di sisi ranjang, sedang Mita berdiri di sampingnya, menatap sang suami bingung.


Irwan memasukan kedua tangannya di saku celana. "Apa kamu pikir aku kesini mau tidur bersama?" ucap Irwan sinis tanpa memandang istrinya itu.


Mata berbinar Mita berubah sendu, lagi-lagi dia hanya mampu terisak, dia mengepalkan tangannya di samping tubuhnya.


"Kenapa kamu ngomong aneh-aneh sama Mariska, sudah aku bilang kamu harus tau diri, sudah di panggil Nyonya di rumah ini saja sudah cukup, jangan berharap lebih!" Bentak Irwan, dia berniat meninggalkan Mita, namun istri keduanya itu malah mencekal lengannya.


"Aku salah apa Mas? ... Aku juga istrimu, aku juga berhak mendapat kasih sayangmu Mas," mohon Mita jatuh terduduk dengan memeluk erat kaki Irwan.


Irwan lantas berjongkok, dia mencengkram kedua pipi Mita. "Kamu bersyukur saja, tak perlu banyak tau!" Irwan lantas menyentak kasar Mita hingga Mita jatuh terjerembab.


Irwan segera meninggalkan Mita yang berteriak histeris memanggil dirinya itu.


Saat Irwan meninggalkan kamar Mita, Bu Sumarni keluar dari kamarnya, dia segera masuk ke kamar Mita.


Dia melihat Mita yang masih menangis di lantai, Bu Sumarni lantas mendekat, dan mengusap rambut panjang Mita.


"Kamu kenapa? Apa kamu masih belum bisa menaklukan suamimu?" ucap Bu Sumarni dengan suara lembut layaknya seorang ibu.


"Bu, sebenarnya apa tujuan mas Irwan menikah lagi?" Mita yang sudah tak tahan dengan gejolak batinnya, dulu dia berpikir jika Mariska sudah tak bisa memuaskannya, itu sebabnya dia menikah lagi, namun dia selalu mendapat penolakan dari sang suami yang lebih sayang terhadap istri pertamanya itu.


"Nanti juga kamu tau, sekarang apa kamu mau kalo Irwan juga menyanyangi kamu?" ucap Bu Sumarni tersenyum miring, Mita tak melihatnya sebab dia sedang berada di pelukan Bu Sumarni.


Bu Sumarni sudah menyiapkan rencana licik agar Irwan mau meniduri Mita.


Mita yang tak sadar akan kata ambigu yang Bu Sumarni katakan hanya tertuju pada perkataan Bu Sumarni yang akan mendekatkan dirinya dengan sang suami, dia seolah sudah tak perduli hal lainnya.


Di otaknya hanya ingin Irwan menganggapnya sebagai seorang istri sama seperti Mariska, cemburu membutakan matanya hingga ia tak sadar jika Bu Sumarni tengah memberi tahu dia tentang sebab kenapa dirinya menjadi istri kedua sang Tuan muda.


Mita mengangguk lantas memejamkan matanya, upayanya mengadu kepada Mariska berbuah kemarahan pada sang suami, sekarang dia memasrahkan nasib rumah tangganya pada Bu Sumarni.


Ke esokan paginya, seperti biasa mereka makan bersama, Mariska yang merasa bersalah kepada Mita semakin merasa bersalah melihat lingkar hitam di wajah madunya itu.


Ingatannya kembali saat malam tadi, saat dirinya tengah terisak hingga terlelap tak lama dia merasakan pelukan Irwan, dan itu membuatnya terkejut, berarti Irwan tak bermalam di kamar Mita, ada rasa lega dan juga kasian di lubuk hati Mariska saat itu, namun ia tak menampik bahwa ia masih belum siap berbagi tubuh sang suami.


Mita bahkan tak memandang Mariska, dia yang kesal karena kejadian semalam masih menyalahkan Mariska sebab sang suami marah kepadanya, dia berpikir jika Mariska mengadu yang tidak-tidak. Sekarang dia hanya berharap pada Bu Suamrni yang berjanji akan membantunya meluluhkan hati Irwan.


.


.


.


Malam menjelang, setelah acara makan malam keluarga kanjeng ibu, Mita tak berharap banyak jika malam ini Irwan akan langsung ke kamarnya.


Namun alangkah terkejutnya dia saat Irwan masuk ke kamarnya yang memang belum dia kunci itu.


Irwan berdiri di hadapannya, mengusap lembut pipinya dan itu membuat Mita terharu dan merona.


"Mas," panggilnya sembari memegang telapak tangan Irwan yang berada di pipinya.

__ADS_1


"Shuuut ..." ucap Irwan dan segera menarik tubuh Mita ke kasurnya, dan terjadilah malam pengantin mereka yang sempat tertunda.


Mita senang akhirnya sang suami mau tidur bersama dengan dirinya malam ini, terlebih lagi sebagai seorang istri Mita sudah menunaikan kewajibannya. Dia kesal jika mengingat kenapa tak mengeluh saja dengan Bu Sumarni, dari pada harus menjatuhkan harga dirinya di depan Mariska madunya itu.


Jika Mita merasa bahagia sebab keinginannya sudah terpenuhi, lain halnya dengan Mariska, dia sekarang terisak sendirian di kamarnya, sebab sejak makan malam tadi Irwan sang suami tak nampak menyusulnya di kamar.


Mariska yakin jika sang suami pasti berada di kamar Mita. Mariska menangis di heningnya malam diiringi rasa sakit di dada bagai tertusuk ribuan belati. Hingga dalam lelap tidurnya pun bulir-bulir air mata menetes di sudut matanya.


Saat pagi tiba menawarkan sejuta harapan, mentaripun mengintip perlahan hendak menampakan keindahan dan kehangatannya, namun saat ini terhalang awan sejenak. Seperti mewakili keadaan Mita saat ini.


Irwan terbangun dan melihat sosok perempuan yang tidur di sebelahnya bukanlah istrinya Mariska.


Dia terkejut bukan kepalang, sebab dia sedang berada di kamar istri keduanya Mita. Dan lebih mengejutkan lagi jika dia bangun dengan tanpa sehelai benang pun pakaian melekat di tubuhnya, hanya selimut sebagai penutup dari dinginnya penyejuk udara di kamar itu.


Irwan tau apa yang sudah mereka lakukan, dia hanya kesal, dia tau ini pasti perbuatan Bu Sumarni, sebab dia merasa jika wajah yang dia lihat semalam adalah wajah istrinya Mariska.


Irwan segera bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai.


Mita menyipitkan matanya karena cahaya matahari mulai masuk kamar melewati celah-celah tirai jendela yang menyilaukan pandangannya.


"Mas," panggilnya dengan suara serak, namun tak mendapat sambutan dari sang suami, yang terlihat hanya ketergesa-gesaan saat mengenakan pakaiannya.


Mita bangkit duduk dengan menutupi bagian dadanya dengan selimut.


"Mas," ulangnya, berharap kali ini di respon sang suami.


"Jangan jumawa, aku hanya khilaf," ucap Irwan dengan nada ketus. "Kamu bersihkan diri, aku mau kembali ke kamar,"


"Khilaf mas? Apa menyentuhku itu perbuatan dosa? Kita kan sudah sah." Mita minta penjelasan.


Irwan tidak mempedulikan ucapannya, dan langsung pergi meninggalkan Mita yang terheran-heran.


Kenapa Mas Irwan berubah, apa semalam dia lupa apa yang terjadi, kenapa sekarang Mas Irwan keliatan kesal?


Mita ingin menangis, mengira semalam sang suami menidurinya dalam keadaan tak sadar.


Irwan berjalan dengan cepat ke kamarnya, setelah sampai dia melihat jika sang istri Mariska, sedang membereskan tempat tidurnya, Irwan segera memeluknya dari belakang, meminta maaf lewat sentuhan.


Dan itu malah membuat Mariska menangis, dia tau pasti jika sudah terjadi malam panjang antara sang suami dengan madunya itu.


"Maaf ... Maafkan aku, aku ngga sadar, entah kenapa aku bisa tidur di kamar dia," jelas Irwan yang malah membuat sesak dada Mariska terulang lagi.


"Ngga papa Mas, lagi pula itu juga kewajibanmu," ucapnya dengan senyum di paksakan.


"Aku janji ngga akan nyakitin kamu."


Mariska hanya mengangguk, tak berharap banyak sang suami akan menepati janji itu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2