Pesugihan

Pesugihan
Mutih


__ADS_3

Wulan diantar oleh seorang ketua abdi di sana, sebab hanya perempuan itu yang mengenakan tusuk konde di sanggulnya.


Sesampainya di kamar, Wulan pasrah saat sang abdi menggantikan pakaiannya, dan memberinya teh hangat, dia seperti tak ada tenaga untuk membantah.


Wulan heran dengan tubuhnya, sebab dia merasa kalah dari sang ibu yang bahkan bisa berjalan tegak sendiri tanpa harus di papah seperti dirinya.


Tak lama Wulan akhirnya memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Ke esokan paginya, seorang abdi yang semalam membantunya, masuk dengan sebuah nampan berisi sarapan untuk Wulan.


Wulan bangkit bersandar pada kepala ranjangnya, mengumpulkan seluruh nyawanya.


"Saya bisa sarapan sendiri Mbak, ngga perlu harus di antar," sergah Wulan, dia merasa sehat walau letih, dia merasa sanggup jika hanya untuk berjalan ke ruang makan.


Abdi perempuan yang bernama Sri tersenyum menjawab perkataan Nona muda di depannya ini. "Ini sudah tugas saya Nona, lagi pula mulai hari ini sampai tiga hari mendatang anda hanya akan berada di kamar ini, dan saya yang akan mengantar makanan untuk anda," jelas Sri.


"A ... apa!!" Pekik Wulan yang tak terima jika dirinya akan di kurung, dia benar-benar tak mengerti mengapa di perlakukan seperti ini.


"Perkenalkan nama saya Sri, saya yang akan merawat anda selama berada di sini," ucap Sri masih dengan tersenyum, namun itu membuat Wulan ngeri, Wulan membayangkan bahwa dia akan di kurung ditempat itu entah sampai berapa lama.


Sri tak terpengaruh dengan jeritan Wulan, dia sudah terbiasa menghadapi para turunan pengikut Tuan mereka, sebab anak-anak itu tak pernah tau apa yang di lakukan orang tua mereka untuk mendapatkan kekayaan selama ini.


Sri mengaduk bubur yang berada di mangkuk yang terbuat dari kayu itu, mendinginkannya, sebab masih terlihat kepulan uap panas dari mangkuk itu.


Wulan melihat makanan yang di bawa oleh Sri, hanya bubur putih tak ada lauk apapun, bukan seperti bubur ayam, dan hanya segelas air putih.


"Apa aku benar-benar akan di paksa melakukan puasa mutih?"

__ADS_1


Sri menyodorkan sendok berisi bubur itu di depan mulut Wulan, namun Wulan masih menutup rapat mulutnya, dia tak mau makan-makanan seperti itu, apalagi harus puasa mutih.


Sri lantas menarik kembali sendok itu, dia tetap tersenyum ramah. "Sekuat apapun anda menolak, anda tetap akan menerima takdir anda, sesuai perjanjian orang tua anda," ancam Sri dengan senyum menyeringai.


"Apa maksudmu? aku akan bicara dengan orang tuaku," kesal Wulan lantas bangkit menuju pintu, saat ia akan membukanya pintu itu terkunci, dia menggedor-gedor agar di perbolehkan untuk keluar.


Setelah lelah berteriak yang tak membuahkan hasil, Wulan kembali menghadap Sri. "BUKA PINTUNYA!! AKU MAU KELUAR DARI SINI!!" teriaknya, Wulan sudah mengepalkan semua tinjunya, dia sangat marah.


Sri bangkit, masih dengan tetap mempertahankan senyuman itu. "Tak perlu berteriak Nona, bukankah saya sudah memperingatkan anda? baiklah saya akan meninggalkan anda, silahkan anda makan, saya permisi dulu." Lalu membungkukan dirinya bermaksud pamit, namun Wulan segera menyekalnya, tak mengizinkan Sri meninggalkannya.


"Jangan pergi, aku mohon biarkan aku keluar, aku ingin bertemu dengan orang tuaku," ucap Wulan menghiba, dia berpikir lebih baik dia memohon siapa tahu Sri akan iba padanya.


Wulan sudah berderai air mata, namun Sri menggenggam tangan Wulan yang mencengkram lengannya dan melepaskannya.


"Maaf Nona, sebaikanya anda menerima saja, semakin anda menolak semakin sakit yang akan anda rasakan." Lalu berjalan ke arah pintu, Wulan pun mengikutinya, berencana ikut kabur saat pintu itu terbuka.


Sri tersenyum miring saat tau jika Wulan berada di belakangnya, dia biarkan saja, Sri mengetuk lantas pintu itu terbuka, ternyata pintu itu di jaga oleh dua orang abdi laki-laki yang mengunci mereka dari luar, dan hanya akan di buka saat Sri yang memintanya.


"Bu ...," panggilnya dengan tangan yang menggapai bermaksud meminta pertolongan, namun Kanjeng ibu hanya bergeming, dia menatap sang putri dengan nanar tanpa bisa membantunya.


Wulan merasakan jika tubuhnya seperti di seret, namun saat melihat kebelakang tak ada seorang pun yang menariknya, Wulan menjerit histeris, dia berteriak memanggil-manggil sang Ibu, dia menangis saat melihat kanjeng ibu hanya berdiri saat dirinya di tarik oleh sosok ghaib.


Sedang di kamar keluarga kanjeng ibu mereka semua mendengar jeritan Wulan yang menyayat hati, hanya bisa menangis dalam diam.


Irwan bahkan menutup wajahnya untuk menutupi kesediahan, sedang pak Hanubi jatuh terduduk di pinggir dipan dan memukul dadanya, tak tega mendengar jeritan anak gadisnya.


Sedang Mita dia panik dan mengguncang-guncang tubuh Mariska yang hanya duduk di ranjangnya.

__ADS_1


"Mbak itu Wulan kenapa? kasian Mbak, ayo Mbak liat," ucap Mita panik, Mariska lantas bangkit mencengkram kedua bahu Mita menjelaskan dengan sorot matanya.


"Ngga ada yang bisa kita lakuin, sekarang pilihannya cuma di tangan Wulan, kamu diem aja."


"Apaan sih Mbak, kamu ngga kasian apa denger suara Wulan kaya gitu?" sungut Mita lantas membuka pintunya, namun Mita jatuh tak sadarkan diri, saat melihat mahluk mengerikan berdiri di depan pintu kamarnya, hingga mau-tak mau Mariska berteriak meminta tolong.


Irwan yang mendengar jika Mariska berteriak berniat keluar untuk membantu, namun dia mengingat ucapan ibunya setelah sarapan mereka harus berdiam diri di kamar, sebab akan banyak sekali mahluk mengerikan akan datang ketempat ini.


Mariska yang masih dalam keadaan panik, semakin panik saat mereka melanggar apa yang tadi ibu mertuanya katakan untuk tak keluar kamar sampai tengah hari nanti.


Saat ini bahunya di cengkram oleh tangan hitam legam dengan kuku tangan yang sangat panjang, Mariska ketakutan setengah mati, dia menyesal harusnya tadi dia mencegah Mita yang akan memaksa keluar, sekarang pasti para iblis itu berada di kamarnya.


Mariska memjamkan mata tak berani melihat sekelilingnya, namun perasaannya melega saat dia mendengar suara langkah seseorang berhenti di depannya, Mariska mengintip dengan menyipitkan mata, dia melihat jika kaki manusia yang berada di hadapannya saat ini.


Akhirnya Mariska membuka matanya, tak pernah menyangka baru pertama kali dia merasa senang atas kehadiran Bu Sumarni dalam hidupnya, sebab kedatangan Bu Sumarni membuat mahluk itu seketika menghilang.


Bu Suamrni lantas membantu Mariska membopong tubuh Mita yang tak sadarkan diri.


"Jangan sampai keluar, tunggu ada abdi yang mengetuk pintu untuk makan siang, kalo ngga mau di ganggu lagi," ucap Bu Sumarni lantas beranjak pergi, namun perkataan Mariska menghentikan langkahnya di penghujung pintu.


"Gimana keadaan Wulan Bu, apa dia baik-baik aja?" Bagaimana pun Mariska menyayangi adik iparnya itu, dan mencemaskan keadaannya.


"Ini belum seberapa, kamu tunggu saja sampai dia menjadi ratu di rumah kita nanti," ucapnya lantas segera keluar dari kamar Mariska.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2