Pesugihan

Pesugihan
Peramal dan Wiwit


__ADS_3

Hamparan padang rumput yang Disa pijak, sangat hijau cerah dan subur, di kelilingi pepohonan di setiap sisinya. Namun, hutan seperti menolak kehadirannya.


Disa menggenggam kembali tangan Tia yang masih terasa dingin, mungkin masih trauma kejadian tadi pikir Disa.


"Kenapa kamu lari? takut?"


"Iyalah Ya, aku kan bisa lihat wujudnya," jawab Disa jujur.


"Takut mana sama Tuhan?"


Disa heran dengan pertanyaan Tia. "Itu bukan pertanyaan, Tiaa ... beda kelas, takut sama kecoa, takut sama ular, takut sama penyakit itu respon manusia pada mahluk ciptaan Tuhan karena suatu hal, bisa karena perwujudannya, dampaknya, ada juga karena trauma."


"Apa respon kamu pada Tuhan?"


"Takut Tuhan karena azab-Nya yang amat pedih, merespon dengan beribadah ... Mencintai Tuhan karena Dia Maha Memberi dengan berbuat baik pada semua mahluk ... Merindukan Tuhan karena Dia Maha pengampun dengan bertaubat." Disa menjelaskan pada Tia yang masih terlihat pucat, dan lebih cerewet saat ini.


"Paham?" tambah Disa mengingatkan Tia yang sekarang seperti tak semangat dan selalu memprovokasi dirinya untuk menyerah dan segera pulang. Disa mulai berpikir atas pertanyaan Tia yang sepertinya mirip pertanyaan menjebak orang-orang yang berusaha membuat keimanan seseorang kepada Tuhan berkurang atau juga hilang, itulah rencana iblis.


Disa sangat ingat satu hal dengan rasa imannya yang ada, bahwa Tuhan-nya tak memiliki pembanding, Dia berada paling atas tanpa tandingan. Sungguh pernyataan merendahkan Tuhan, jika rasa takut manusia pada mahluk menyeramkan di samakan dengan rasa takut pada Tuhan karna berdasarkan wujud.


Disa melihat tanda merah di dahi Tia sekarang hilang, namun disela perbincangan mereka berdua, terdengar oleh Disa suara orang berlari dari arah semak-semak dan deretan pohon rindang menjulang yang berada di hadapannya.


Suara itu semakin dekat dan semakin jelas sedang mengarah padanya, sontak membuat pikirannya tentang tanda merah di dahi Tia yang hilang ... menghilang juga di ingatannya saat itu.


"Ya! Kayanya ada orang berlari dari arah depan kita, deh." Disa mencengkram tangan Tia siap berlari, karena dia merasa ada mahluk tinggi sedang mengikuti orang itu.


Benar saja di balik semak-semak itu muncul seseorang dengan bercucuran keringat di ikuti mahluk menyeramkan yang sangat tinggi sepadan dengan pepohonan, namun yang membuat Disa kaget dia seperti tak asing dengan orang itu.


Disa mematung dengan menggenggam tangan Tia yang tak sedetikpun dia lepaskan, seseorang itu ternyata wanita yang dia kenal, dengan kalung besar di lehernya dan di belakangnya sosok mahluk yang saat ini tengah menyeringai pada Disa.


"Nona Cawan?" orang itu menunjuk Disa dengan napas yang tak beraturan karena kelelahan.


Disa mengernyitkan dahinya atas panggilan nona cawan padanya, lantas berkata, "Ibu peramal?"


Disa menatapnya dengan bermacam dugaan.


Di balas dengan anggukan. "Kamu kesini sendiri?" tanyanya.


"Sama Tia," balas Disa dengan menarik tangan Tia berniat menunjukan hendak memberi tau.


Disa terperangah dengan apa yang dia lihat dalam genggaman tangannya.


KAIN PUTIH? YANG MELILIT BATU NISAN TADI?


IBLIS ... !!! gumamnya geram, lantas Disa spontan membuangnya ke tepi jurang dan kini tubuhnya bergetar.


"TIA! ... TIA!" Disa berteriak histeris dengan tetesan air mata.


Sontak membuat si Peramal bereaksi. "Pasti anak cerewet itu?" Lalu menarik Disa yang mulai panik.


"Kenapa ajak dia? Pasti bikin ulah!" ucapnya dan menyeret Disa untuk segera berlari ke arah dimana Tia hilang. "Ayo Sado! Yang kamu ceritakan tadi bahwa ada tamu, dan kamu seperti mengenalnya ternyata benar ... itu penjaganya Nona Cawan."

__ADS_1


"Werrk ...." Sado menyeringai berlari mendahului mereka, menuju tempat yang sudah dia ketahui, dan tentunya Amung sedang bertarung dengan mereka yang berusaha menggangu Disa dan menyembunyikan Tia.


Makanya sedari tadi Disa bisa di dekati iblis mahluk jadi-jadian yang menyerupai Tia, namun Disa tak bergeming dengan segala bujuk rayuan iblis itu.


Disa ingat betul dimana tempat kain putih itu, dan mereka menerobos tepat dimana batu nisan itu berada, dengan melewati semak belukar penuh duri.


Benar saja, Tia sedang menangis menelungkup memeluk batu nisan itu. Jika di lihat mata batin terdapat rantai ghaib yang melilitnya. Sado pun sudah ada di sana menunggu perintah sang majikan.


"Tia! ...." Disa berteriak memanggilnya. Tidak mempedulikan lilitan cahaya yang melilit tubuh Tia, terus berlari menghampiri hendak memeluknya. Namun terpental terpelanting ke belakang beberapa langkah. Dan dengan sigap Amung yang sedang bertarung melesat meraih tubuh Disa.


Di ikuti serangan mahluk-mahluk mengerikan yang melesat mengikuti arah perginya Amung.


"Disaa!" teriakan Tia menggema memanggil sahabatnya.


Namun usaha Amung sia-sia. Karena tangkapannya pada tubuh Disa seperti memeluk angin. Justru peramal-lah yang berhasil meraih Disa, dan mereka tersungkur ke tumpukan dedaunan kering.


Sreeet!! ... mereka terhempas, Peramal itu bangkit.


"Sado! Hentikan mereka!" perintah peramal itu pada perewangannya.


"WERRK!!" geraman Sado membuat para mahluk yang sedang bertarung mengepung Amung, seketika lenyap menghilang.


Namun Disa masih tak sadarkan diri, peramal itu bersila menghadap Disa yang tengah berbaring dan bekomat-kamit merapalkan ajian yang dia pelajari lalu menotok bagian-bagian syaraf yang membuat ...


Uhkg!!


Disa sontak mengeluarkan darah segar di mulutnya menyembur ke arah Peramal yang berada di hadapannya, lantas dia siuman tersadar dan bangun dengan tangan di dada yang terasa sesak.


"Dis."


Sorot mata mereka bertemu dengan tetesan air mata.


"Jangan mendekatinya," ucap peramal. "Lilitan ghaib itu sangat kuat."


Sado menyeringai pada majikannya dan memberikan isyarat dengan bahasa mereka berdua saja yang mengerti.


"Nona, kain putih tadi kamu buang dimana?" tanya peramal setelah dapat sedikit informasi dari Sado.


"Saya buang di ... uhuk!" jawab Disa parau dan terbatuk. "Sepertinya terlempar ke arah jurang."


Peramal menggeleng memejamkan mata, lalu Amung mendekatinya hendak membantu, karena dia yang tau persis kejadian itu.


"Saat kamu menarik Tia, sebenarnya kain putih itu yang kamu raih hingga terlepas dan sampai kau membuangnya," ucap peramal meniru penjelasan Amung.


"Aku udah manggil kamu Dis berkali-kali 'jangan tinggalin aku Dis!'' kamu malah lari ninggalin aku," ucap Tia lirih dengan lilitan ghaib yang mulai menjeratnya perlahan.


"Maaf Ya, aku panik."


"Harus kamu sendiri Nona Cawan yang mengembalikan kain itu ke tempatnya dan mengikatnya kembali seperti semula," ucap Peramal ragu, yang berusaha mengingat legenda yang kakeknya ceritakan dahulu.


Disa menangis ... asa-nya menipis, hingga peramal segera menghampiri Disa dan menepuk bahunya dan menotok satu titik di dekat ulu hatinya, berharap Amung dan Disa bisa lebih terhubung.

__ADS_1


"Tuan Amung silahkan masuk, tak ada waktu lagi," ucap peramal lantas menyuruh Sado menjaga sukma Disa yang kini berada di luar tubuhnya.


Amung tak banyak berpikir ...


Shuut!! ....


Disa melesat secepat kilat dengan Amung yang kini sedang bersemayam ditubuhnya, dan berlalu meninggalkan mereka menuju jurang dimana Disa membuang kain di tempat itu.


Jlegh!! ....


Disa kembali hanya beberapa detik berselang dengan membawa kain putih kumal dan usang itu.


Peramal bergegas menghampiri Tia yang mulai sesak napas, dan mengamati batu nisan yang sedang di peluknya, namun kain putih itu masih melilit di sana di batu itu.


"Tia, yang kamu lihat saat Disa meraih kain itu letaknya dimana?" tanyanya dengan tergesa.


Tia menunjuk arah daun kering yang berserakan dan bertumpuk.


"Sadoo!" perintah sang peramal.


Wuuuh ... wuuuh ...


Sado meniup dedaunan kering yang di tunjuk Tia, dengan dedaunan yang berhamburan seperti kena angin badai nampaklah dua nisan lagi di sana tak jauh dari Tia berada, benar saja ada satu nisan tanpa lilitan kain itu.


Disa mendekat hendak melilitkan kain itu, wajah dan badan Tia terlihat mulai membiru.


Sukma Disa yang menyaksikan itu lantas berdo'a dalam hati, memohon pada Tuhan, karena yang dilakukan Amung pada tubuhnya untuk mengikat kain itu firasatnya mengatakan tidak akan berhasil, karena harus dia sendiri yang mengembalikannya.


"Tuan Amung, maaf ... biarkan saya selesaikan tugas saya sendiri, saya akan kembali ke raga saya," ucap sukma Disa memohon dan berusaha menghubungkan batinnya.


Disa lantas mengikat kain itu, disaksikan mahluk satu kaki, dan anak berwajah tua, tepat si hadapan Disa dekat nisan itu seperti menunggu kaku.


Setelahnya kain itu terikat kuat Tia terkulai lemas hampir tak sadarkan diri setelah lilitan ghaib seperti ular melata merayap melepas lilitannya dan berubah menjadi mahluk cantik berambut panjang dan berbadan ular.


Ular itu menghampiri dua mahluk tadi dan mereka menyeringai.


Anak berwajah tua dan menyeramkan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Disa dengan mata melotot seperti tanda peringatan.


Werrg!! ... werrg!! ....


Dan merekapun menghilang serupa asap yang lenyap tertiup angin, hanya menyisakan dua mahluk yang kini sedang tersenyum dan menyeringai yakni Amung dan Sado.


Tia mulai membuka matanya, menatap Disa dan Peramal.


"Makasih Dis, maksih ... Bu Wiwit."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2