
Tak terasa sudah tiga hari Mita menjalani biduk rumah tangga, orang tuanya sudah kembali ke kampung halaman sehari setelah acara pernikahan itu berlangsung.
Disa dan Tia masih berada di rumah kanjeng ibu, sebab setelah kejadian pada Yanti yang sempat tak sadarkan diri, Yanti mengalami sakit deman, hari ini keadaannya sudah lumayan lebih baik.
Walaupun Fatmah bekerja sendirian, saat Disa dan Tia harus pergi ke toko, setidaknya saat pagi dan sore dia masih di bantu Disa dan Tia. Untuk urusan merawat Putra, itu masih tugas Mita.
Pagi hari setelah Mita dan Irwan sudah resmi menjadi suami istri, Irwan mendatangi kamar istri keduanya itu. Terlihat Mita yang sudah rapih mengenakan pakaiannya, dan berdandan, dia menyambut hangat suaminya itu, namun di balas acuh oleh Irwan.
"Aku cuma mau ingetin, tetap urus Putra, Yanti sama Fatmah sudah sibuk ngurus rumah, paham!" perintah Irwan, dan setelah itu dia meninggalkan Mita kembali.
Mita sedih mendapati kenyataan pahit itu, bahwa dirinya masih tak lebih dari seorang pembantu.
Selama tiga hari itu pula, tak pernah sekalipun Irwan menyentuhnya, dia masih tidur di kamar Mariska, sedang Mita dia masih seperti dulu menjaga Putra.
Mita berpikir dia tak ingin menjadi janda, jika ia tak merawat Putra, dirinya takut sang suami akan marah.
Disa dan Tia yang memperhatikan dari jauh wajah sendu Mita setiap harinya selalu bingung.
"Dis, kenapa Mita abis nikah ngga ada seneng-senengnya, ya?" ucap Tia berbisik.
"Tau lah, bukan urusan kita, inget biasain panggil Nyonya," Disa mengingatkan. "Kalo keceplosan panggil Mita, bisa di marahin kamu."
Tak lama Yanti datang, wajahnya masih sedikit pucat namun sudah lebih baik, sebab hari ini Disa dan Tia akan kembali ke kontrakan mereka.
Yanti pun tak enak hati jika ia masih saja berbaring, walaupun ia tak tau kenapa bisa badannya mendadak sakit seperti itu.
Ini lah level penyiksaan Bu Sumarni, jika dia ingin segera menyingkirkan seseorang yang di curigainya, dia akan menggunakan cara licik seperti ini, membuat seseorang melihat perewangannya, dan akhirnya para pekerja tak betah, dan memilih untuk mengundurkan diri.
Disa paham betul dengan taktik Bu Sumarni, sebab dia yang pertama mengalaminya, Bu Sumarni akan sangat senang setelah menyiksa mereka secara mental, baru setelah itu menghabisi nyawa mereka.
Selama tiga hari itu juga, tak pernah sekalipun Disa berbicara dengan Nyonya Mariska, sebab setelah membantu pekerjaan di rumah pagi harinya dia dan Tia akan ikut pak Hanubi dan Tuan Irwan ke toko, dan sore baru kembali.
Setelah sarapan Disa mengajak Yanti ke kamar, dia akan meminta Yanti bertahan.
"Yan, aku pamit, ya? Ingat pesenku, kamu harus percaya sama aku, kamu jangan takut, kalo kamu liat penampakan aneh-aneh tutup mata trus berdo'a. Jangan keluar dari kerjaan ini, ya?" ucap Disa memohon, sebab dia belum berani berkata jujur pada Yanti tentang kontrak licik yang di buat Bu Sumarni padanya.
"Ka ... kamu tau gak? waktu aku pingsan itu sebenernya gara-gara liat mahluk—" Yanti menelan salivanya, sebab dia tak berani melanjutkan kalimatnya itu.
"Iya ... aku juga liat mahluk itu, pokoknya kamu sabar, kamu betah-betahin di sini, aku minta tolong kalo kamu bisa ngobrol sama Nyonya Mariska tolong kasih tau apa maksud dia, ya?" pinta Disa.
Tia lantas masuk ke kamar mereka, dan melihat tatapan sendu Yanti. Disa segera memeluk Yanti memberinya kekuatan.
"A ... aku takut Dis, itu mahluk apa? Aku ngga pernah liat dia selama kerja di sini, kenapa sekarang ... aku di nampakin," Yanti mengutarakannya sambil terisak dan menatap Disa penuh harap.
__ADS_1
"Aku ngga tau Yan, yang pasti kamu dengerin aja kata-kataku dulu, ya?"
Tia melihat itu merasa sangat kasihan, setidaknya dia belum pernah melihat mahluk yang kata Disa adalah perewangan Bu Sumarni.
Tia tak tau bagaimana nasibnya jika dia di hantui sosok mengerikan seperti itu, membuatnya harus tak betah kerja, dan lantas mati setelah keluar kerja.
"Apa kamu juga, dulu ngalamin itu, Dis? pantes aja kamu nampak was-was terus, gimana kalo nanti mahluk itu nyakitin aku kaya kamu?" Yanti beruntun menanyakan.
Yanti berpikir jika dulu wajah ketakutan Disa di sebabkan oleh mahluk itu, pantas dulu dia tak mau bercerita padanya, lalu dia berpikir juga jangan-jangan mahluk itu juga yang menyebabkan lebam di tubuh Disa.
Padahal saat itu pun Disa tak tau jika perewangan Bu Sumarni yang sengaja membuat Delusi untuk menakut-nakuti Disa, dan lebam yang di peroleh Disa bukan karena mahluk itu.
"Ngga ... mahluk itu cuma nakut-nakutin kamu aja, kalo lebam, nanti lah aku ceritain lagi, ya?" ucap Disa yang paham jika Yanti sangat takut memikirkan nasib dirinya sendiri itu.
Disa lantas mengajak Yanti keluar untuk sarapan terakhir bersama, sebelum Disa dan Tia kembali tinggal di kontrakan.
Di meja makan dapur suasana kembali ceria, melupakan sejenak nasib buruk mereka.
Setelah kepergian Disa dan Tia, yang ikut bersama Pak Hanubi, Mita kembali melakukan tugas rutinnya merawat Putra.
Dia sedang bermain bersama Putra di kamarnya, namun dia banyak melamun, karena rumah tangga yang di idamkannya ternyata tak sesuai harapan.
Mariska masuk ke kamar Putra, karena saat ini Wulan sedang berbincang dengan Kanjeng ibu, oleh sebab itu dia memutuskan untuk bermain bersama Putra dan Mita.
"Kamu ini Mit, panggil aku mbak aja, jangan Nyonya, anggap aja aku kakakmu," pinta Mariska yang merasa aneh dengan panggilan madunya itu.
Mita memikirkan ide, dia akan berbicara pada Mariska agar Mariska mau membujuk suami mereka. Dia berharap jika itu keinginan Mariska pasti Irwan sang suami akan menuruti.
Mita menunjukan wajah sendunya, dan sedikit terisak, dia akan mencari simpati pada madunya itu.
Mariska yang melihat Mita terisak lantas menoleh ke arahnya, "Kamu kenapa Mit?" tanya Mariska, yang segera menarik lembut Mita agar duduk di sebelahnya.
"A ... aku sedih Mbak, sudah tiga hari menikah namun mas Irwan sama sekali tak menunjukan tanggung jawabnya sebagai suami," adunya.
Deg...
Mariska merasa kalut, dia tau Irwan sama sekali belum menyentuh Mita sebagai seorang istri, dan jika boleh, dia tak rela tubuh suaminya itu juga menjamah wanita lain, Mariska belum siap, namun dia tau dia egois, tapi bagaimana pun Mita juga istri sang suami.
Mariska menarik nafas berat, sungguh dia dilema saat ini, namun melihat bagaimana Mita akan merasakan menjadi sesembahan Tuan mereka, Mariska berpikir jika Mita juga layak mendapatkan kasih sayang sang suami.
"Maaf ya Mit, mungkin Mbak emang egois, Mbak emang belum siap berbagi, tapi Mbak janji mulai sekarang Mbak akan ikhlas berbagi mas Irwan."
Mariska benar-benar berat mengatakan hal itu, pikirannya sudah berkelana kemana-mana dimana sang suami bersama istri barunya akan memadu kasih, menghabiskan malam pertama mereka.
__ADS_1
Mita lantas memeluk Mariska, namun terlihat dia tersenyum miring, tanda jika idenya itu berhasil membuat Mariska yang baik jadi tak tega terhadap dirinya.
Bodoh! Rutuk Mita.
"Makasih ya Mbak?" ucapnya lantas melepas pelukan Mariska.
"Iya, kamu juga berhak atas diri mas Irwan kok Mit."
.
.
.
Sedang di toko Disa dan Mita yang sudah kembali ke kontrakan mereka karena sudah sore, berjalan riang, mereka sangat merindukan kontrakan mereka.
Saat sudah sampai di depan pintu Disa di kejutkan oleh hantu Indah dengan wajah yang sangat menyeramkan.
"Astaga Ndah!!" bentaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kalian dari mana saja sih!" omel Indah yang sudah kembali ke wajah semula.
Disa menjawab dengan masih menutup wajahnya. "Ndah ubah ngga wajah kamu, serem tau, kalo ngga aku treak nih suruh pak tua buat ngusir kamu," ancam Disa.
"Ishhh ... rupaku dah balik lah, ayo jawab! dari mana sih kalian?" paksa Indah.
"Kami pulang ke rumah kanjeng ibu," jawab Disa yang langsung melenggang melewati Indah dan duduk bersama Tia.
"Kenapa si Indah Dis?" Tanya Tia heran.
"Kangen kamu," seloroh Disa, yang langsung mendapat pelototan dari Tia.
"Ngga lucu Dis, biar kata aku tau kamu kalo ngomong sendiri sama si Indah, tetep aja Dis masih merinding aku nih," ucap Tia sambil menunjukan bulu halus di lengannya.
Dan di balas Indah dengan tawa terkikiknya yang membuat Disa bergidik ngeri.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1