Pesugihan

Pesugihan
Kecurigaan


__ADS_3

Keluarga kanjeng ibu sudah tiba di kediaman mereka, disana mereka sudah di sambut oleh para pekerja di depan pintu utama.


Kanjeng ibu tersenyum, dan menyapa Disa dan Tia yang berada di sana.


"Kalian ada di sini?" tanya Kanjeng ibu menatap Disa dan Tia bergantian.


"Iya Bu, dari pada di kontrakan kami memilih main ke sini, maaf Kanjeng tidak meminta izin terlebih dahulu." Disa merasa tak enak hati, sebab dia datang tanpa persetujuan majikannya itu.


"Ya ngga papa, kalian bisa bantu-bantu yang lainnya, kan? Ya sudah Ibu masuk dulu, ya? Ingin cepet istirahat." Sembari menepuk bahu Disa dan berlalu dari sana.


Mariska yang melihat Disa ingin sekali berbincang dengannya, namun rengekan Putra membuatnya mengurungkan niat untuk berbicara dengan Disa.


Dia juga sangat merindukan putra semata wayangnya itu, yang beberapa hari sudah ia tinggalkan.


Bu Sumarni lantas berdiri di hadapan Disa dengan pandangan menyelidik.


"Apa semenjak kami pergi, kalian ada di sini?" ucapnya.


"Iya Bu, semenjak Tuan bilang jika toko akan tutup, kami memang berencana main kesini, maaf Bu kami tak izin terlebih dahulu," kata Disa sembari mengatur nafasnya, karena dia masih belum terbiasa dengan bau menyengat yang keluar dari tubuh Bu Sumarni.


"Ya sudah," ucap Bu Sumarni singkat, kemudian dia berlalu dari hadapan mereka semua.


Sedangkan pak Hanubi dan Irwan setelah memarkirkan mobilnya memilih untuk langsung masuk.


Para pekerja lantas membantu pak Jarwo mengangkat barang bawaan majikan mereka.


Disa mengernyit heran sebab dia tak melihat keberadaan Nona Wulan dalam rombongan majikannya itu.


Terlebih wajah Mita sama sekali tak menunjukan kebahagian layaknya seseorang yang telah menghabiskan waktu liburan beberapa hari.


Yang Disa lihat adalah raut wajah pucat dan sorot mata ketakutan dari Nyonya barunya itu.


Mereka semua memilih segera mengistirahatkan tubuh, di samping lelah perjalanan, pengalaman yang mengerikan di kediaman Ki Brasta juga membuat mereka lelah secara psikis.


Hari itu mereka lewati seperti biasa, tak ada ketegangan yang terjadi, walau para pekerja di rumah kanjeng ibu merasa heran dengan keberadaan nona muda mereka, namun melihat jika tak seorang pun dari keluarga majikannya itu membicarakan salah satu anggota keluarganya, membuat mereka semua memilih tak ikut campur.


Keesokan paginya, Disa dan Tia berangkat kerja bersama Pak Hanubi dan Tuan Irwan, sekaligus berpamitan dengan teman-teman mereka karena, Disa dan Tia akan kembali tinggal di kontrakan mereka.


Yanti sudah tau dari Tia jika pencarian mereka terhadap Wiwit itu gagal, namun dia tetap menyemangati Disa, bahwa pasti ada jalan terbaik bagi mereka.


Walau Disa belum juga menceritakan kepada Yanti, mengapa dirinya diminta untuk bertahan di kediaman kanjeng ibu. Beruntungnya Yanti setuju tanpa banyak bertanya.


Padahal banyak alasan bagi Yanti untuk berhenti bekerja dan segera meninggalkan rumah kanjeng ibu, namun batin dan naluri bertahannya merespon agar percaya pada Disa.


Disa juga sudah membuat penangkal baru untuk Yanti, dan meminta Yanti untuk menyembunyikan penangkal itu, dia juga meminta Yanti untuk pindah tidur di bekas kamarnya, supaya Bu Sumarni tak mencurigainya, walau takut, namun Yanti menyanggupinya.

__ADS_1


Fatmah juga tak mempermasalahkan keinginan Yanti untuk tidur sendiri-sendiri di kamar khusus pembantu itu.


Selepas kepergian Disa, Bu Sumarni menatap tajam Yanti, namun Yanti berusaha bersikap biasa saja, dia mengikuti saran Disa untuk jangan terlihat panik di hadapan Bu Sumarni.


Setelah sarapan Bu Sumarni berbincang dengan Kanjeng ibu di ruang baca, dia mengeluhkan kedatangan Disa di kediaman mereka, oleh sebab itu sang perewangan tak bisa mengganggu Yanti.


"Saya tak tau, apa semenjak tinggal sendiri Disa memperdalam ilmu kebatinannya, sepertinya anak itu sedang menguji saya Kanjeng," keluhnya, namun di tanggapi dingin oleh kanjeng ibu.


"Kau fokuskan saja pada ritual Wulan, tak usah kau urus anak itu, dia tak membahayakan kita saat ini," ucap Kanjeng ibu.


Bu Sumarni mengerti situasi dari pengabdi sang Tuan ini, namun sisi egonya tetap merasa terusik akan keberadaan Disa yang memang sedikit menyusahkannya itu.


Bu Sumarni mengawasi Yanti seharian itu, sebab menurut perewangannya Yanti tak dapat di sentuhnya semenjak kedatangan Disa, dia juga melihat perbedaan itu, sebelum kedatangan Disa Yanti nampak sekali kacau, namun berbeda saat ini, Yanti terlihat seperti sedia kala, seperti tak pernah terjadi apa-apa pada dirinya itu.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, dia lantas meminta Yanti keluar untuk membelikan sesuatu yang sebenarnya tak dia perlukan, dia akan mengecek kamar tidur Yanti yang menurut perewangannya tak bisa dia tembus itu.


Saat Yanti sudah pergi, dan Fatmah nampak sibuk dengan Putra, Bu Sumarni segera memasuki kamar mereka untuk memeriksa kecurigaannya.


Bu Sumarni mengecek semua tempat, namun, tak menemukan hal aneh, dia hanya heran apa sekarang Yanti dan Fatmah memutuskan untuk tidur sendiri-sendiri, sebab di kamar yang dulu di tempati Disa dan Yanti sekarang tersisi oleh barang-barang yang Bu Sumarni tak tau milik siapa.


Dia lantas keluar, dia akan bertanya pada mereka nanti, walau secara tak langsung, sebab dia tau itu akan membuat pembantunya itu curiga.


Saat sedang menyiapkan makan malam untuk majikan mereka, Bu Sumarni berbasa basi, kepada mereka. "Apa Disa dan Tia akan tinggal kembali di sini malam ini?" Dia tau jika jawaban itu pasti tidak, sebab Disa tak meminta izin kepadanya untuk bermalam di rumah majikan mereka lagi.


"Lantas di kamar yang dulunya kosong sekarang di tempati siapa?" pancingnya.


"Oh ... itu kamar Yanti Bu, sekarang kami tidur sendiri-sendiri," jawab Fatmah dan melirik Yanti yang tetlihat sedikit gemetar, apa Bu Sumarni mencurigainya seperti yang di takuti Disa.


"Loh tumben Yan, bukannya kamu ngga mau tidur sendirian?" kata Bu Sumarni dengan senyum menyeringai.


Yanti berusaha tenang, saat mencoba menjawab pertanyaan Bu Sumarni. "Iya Bu, dari pada kosong, bolehkan Bu?" Bagaimana pun Yanti tetap harus meminta izin, jika tak di izinkan maka dia akan kembali ke kamar Fatmah, pikirnya.


"Oh ya ngga papa, ya sudah ayo lekas siapkan makan malamnya," perintah Bu Sumarni.


.


.


.


Di kediaman Ki Brasta ...


Dalam proses pergeseran waktu dari detik ke detik, menit ke menit, juga jam, bahkan hari, Wulan melewatinya dengan segudang kecurigaan yang dia balut dalam lamunan, serta tatapan kosong dan tetesan airmata.


Seperti biasa Wulan bersandar pada bantal yang di tumpuk di kepala ranjang dengan kaki lurus santai, mata nanar menatap jendela. Lamunannya kini tertuju pada sosok ibu yang selama ini ia kagumi.

__ADS_1


Bu, Wulan rindu ...


Bukan karena Wulan di tinggal sendiri ...


Wulan pernah melewati lebih dari ini,


Tanpamu dan tanpa bertemu, di seberang dan lautan sebagai penghalang.


Juga bukan karena Wulan di tinggal kemewahan ...


Dengannya pun tak ada kebahagiaan, hanya kesenangan semu.


Wulan rindu ... sosok ibu yang dulu, pengasih, penyayang, penuh perhatian dan pengertian, sosok ibu impian ...


Karena saat ini seperti tidak Wulan dapati itu ... di dirimu.


Wulan memilih mencurahkan isi hatinya dalam asa, masih dengan tetesan air mata yang tersisa, atau menyisakannya untuk esok jika masih ada yang menurutnya akan lebih pedih menyiksa.


Wulan terhanyut semakin dalam menyelami imajinasi tak bertepi, hingga sentuhan tangan yang menurutnya mahluk ghaib itu tak sedikitpun ia hiraukan, meski dia dapat merasakannya.


Bahkan jika ia mau menyeka air matanya yang menggenang, bisa saja sosok mahluk itu nampak jelas tanpa blur ter-sensor air mata.


Sentuhannya Wulan rasakan semakin nakal, yang sedari tadi hanya di seputar kaki kini mulai naik, dan dia tetap mematung meski tubuhnya gemetar.


"Non," sapa Sri membuyarkan lamunannya.


Wulan tersentak dan menghapus air matanya. "Issh, rupanya kamu yang dari tadi di situ? Saya kira—" Dengan cepat ia menarik kakinya dan menyilangkan kedua tangannya di dada dengan expresi berubah menjadi ketakutan. Sebab yang di hadapannya sekarang Ki Brasta yang menurutnya lebih mengerikan.


Kehadiran Ki Brasta yang mendadak duduk, menggantikan posisi Sri yang bangkit pergi setelah tadi memijat kakinya, sontak membuatnya risih, kini sorot mata Ki Brasta terlihat mengancam menurut Wulan.


"Nona, persiapkan diri anda, sebab beberapa hari lagi kita akan melakukan ritual puncak, sekarang anda harus memulihkan semua tenaga anda," ucapnya dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi.


Wulan hanya mengangguk, lalu ia menatap Sri yang kini datang membawa makanan untuknya, dia lantas memakan makanan itu tanpa merasakan rasanya, dengan tetap fokus mendengarkan semua ucapan dan wejangan Ki Brasta. Entah kenapa Wulan merasa perkataan Ki Brasta seperti sihir yang membuatnya menuruti semua perkataannya.


Saat Ki Brasta menjelaskan keluarganya juga akan hadir kembali di ritual itu, tetap di tanggapi Wulan dengan dingin tanpa menunjukan raut wajah kebahagiaan.


Tak ada yang tau, hanya kayu sebagai saksi bisu, dimana ranjang, nakas, lantai, dan dindingnya terbuat dari itu ... kayu.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2