Pesugihan

Pesugihan
Kehilangan


__ADS_3

Wulan kembali kerumah, dia bahagia akhirnya bisa mengenalkan kekasihnya itu pada keluarganya, walau hanya Ibunya saja, Wulan berjanji akan segera memperkenalkan Prima pada Ayahnya.


Hari ini malam jum'at dimana Wulan selalu merasa risih, karena kebiasaan keluarganya yang di rasa cukup aneh.


Kebiasaan Ibunya untuk menaruh sesajen di Gazebo keluarganya itu, benar-benar membuat gadis seperti dirinya jengah.


Baginya merawat warisan leluhur tak harus sepertu itu bukan, apalagi dia selalu merasa bulu kuduknya meremang saat berada di sana.


Saat berdiri di sana, dia selalu merasa ada yang mengusap punggungnya. Dia pernah mengeluh pada Ibunya, untuk tak melakukan itu lagi, namun dia malah di marahi sang Ibu, bahwa dia di anggap tak menghormati mendiang kakek-neneknya.


Dan malam ini dia akan berdiri di sana lagi dengan pakaian adat yang lengkap.


.


.


Di ruang baca, setelah makan malam Kanjeng Ibu sedang berbincang dengan Bu Sumarni.


Bu Sumarni sedang mengeluh dengan kelakuan Nona Wulan.


"Kanjeng ... sebaiknya Nona Wulan jangan di biarkan dekat dengan pemuda tadi, tak baik baginya," ucapnya.


"Dia pemuda baik Sum, kenapa tidak biarkan saja Wulan berteman dengannya, kasian anak itu tidak memiliki teman," ucap kanjeng ibu membela anaknya.


Dan itu membuat Bu Sumarni menjadi kesal dengan pengabdi Tuan-nya itu.


"Anda tau betul bukan Kanjeng, jika Nona Wulan adalah penerus anda, bagaimana jika kita kecolongan, dan terjadi hal-hal yang tak di inginkan, kita semua akan binasa," kecam Bu Sumarni mengingatkan janji majikannya itu.


"Mereka masih muda, banyak hal yang pasti membuat mereka penasaran," lanjutnya mencemooh, dia berbicara seperti itu karena melihat apa yang tadi Nona-nya itu lakukan, tentu saja dia berpikir jika bisa saja nanti Nona-nya itu melakukan hal-hal di luar norma.


"Apa maksudmu? kau menuduh Wulan melakukan hal-hal yang di luar batas?" sungut Kanjeng Ibu memandang tajam kuncennya itu.


"Aku hanya melindungi keluarga ini dari hal yang tak di inginkan, dan itu memang sudah tugas saya," ucap Bu Sumarni balas memandang tajam majikannya.


Malam jum'at ini sama seperti malam-malam jum'at yang lainnya, Wulan berdiri di depan gazebo untuk ritual sungkem yang biasa orang tuanya lakukan.


Wulan berdiri di sana berdampingan dengan kakaknya Irwan.


Sang ibu akan menyiprat-nyipratkan air dan di sediakan sesajen di gazebo itu, Wulan merasa bosan. Apalagi setelahnya dia harus meminum entah ramuan apa yang rasanya sangat tak enak.


Wulan bingung, sekalipun dia tak pernah di ajarkan agama oleh orang tuanya, walau di kartu keluarganya dia memiliki agama, tapi orang tuanya lebih memlih kepercayaan animisme seperti ini, dia sendiri juga merasa malas jika akan mempelajari ilmu agama.


.


.


Paginya Bu Sumarni terlihat bersikap manis padanya, dia berbicara pada Wulan untuk mengajak main Prima ke rumah mereka.


Walau merasa aneh, namun hati kecil wulan senang. Siang hari saat pulang sekolah Wulan mengundang Prima untuk makan siang di rumahnya.

__ADS_1


Karena jika hari jum'at sekolah akan pulang lebih awal, itulah mengapa Bu Sumarni mengundang Prima kerumah majikannya.


Siang itu Bu Sumarni bersikap manis pada Prima, dan itu membuat pemuda itu bahagia, dia berpikir akhirnya pengasuh kekasihnya itu mau menerima dirinya, tapi tidak dengan Wulan, gadis itu malah merasa aneh dengan perubahan sikap pengasuhnya, perasaannya jadi tak enak.


Makan siang hari itu berakhir lancar, Prima terlihat selalu tersenyum, pemuda itu tak tau apa yang akan di lakukan Bu Sumarni padanya.


Senyuman terakhir yang akan Wulan ingat sampai saat ini, karena setelahnya senyuman itu menghilang untuk selamanya.


Prima belum merasakan efek dari jampi-jampi yang Bu Sumarni berikan padanya, dia masih bersikap normal sampai tiga hari setelahnya, dia baru merasakan efek jampi-jampi yang di berikan Bu Sumarni.


Pagi itu ia muntah-muntah hebat, tubuhnya lemah, keringat mengucur deras di dahinya. Badanya terasa panas membara, Prima tak tau ada apa dengan dirinya.


Orang tuanya lantas membawanya ke rumah sakit, namun aneh, menurut Dokter, Prima baik-baik saja, dia hanya di beri vitamin.


Orang Tua Prima memaksa Dokter untuk merawat anaknya karena terlihat sekali jika Prima itu pucat dan lemah, sang Dokter pun mengabulkannya, namun tetap tak ada perubahan setelah beberapa jam di rawat.


Wulan yang mengetahui jika Prima tidak masuk sekolah lantas memutuskan untuk pergi kerumahnya.


Setelah sampai dia melihat jika keadaan rumah Prima sepi, dia lantas bertanya kepada tetangga Prima, tetangganya itu menjawab jika Prima di bawa kerumah sakit.


Wulan terkejut, Prima kekasihnya itu ternyata sakit, Wulan segera mendatangi rumah sakit yang terdekat, berpikir mungkin Prima ada di sana, dan benar setelah menanyakan pada receptionis ternyata Prima ada di sana.


Wulan segera menuju kamar inap Prima, setelah mengetuk Wulan masuk dan melihat jika Prima terbaring lemas dengan selang infus di tangannya, wajahnya pucat.


"Bu ...." panggil Wulan pada ibunda Prima.


"Nak Wulan." Ibu Prima lantas memeluk kekasih anaknya itu, dia menangis tersedu-sedu.


"Ibu ngga tau Lan, pagi tadi dia muntah-muntah, tapi kata Dokter dia ngga papa," ucap Ibu Prima.


Tak lama Prima bangun dan memandang takut ke arah Wulan.


Dia menjerit histeris, karena Prima melihat Wulan adalah sosok hitam yang menyeramkan.


Wulan yang bingung dengan sikap sang kekasih, lantas diam terpaku namun, pekikan Ibu Prima membuatnya sadar.


"Wulan ... maaf tolong keluar dulu ya," pekik Ibu Prima, lantas Wulan segera keluar dari ruang rawat inap itu dengan berderai air mata.


Sedang di dalam Ibu Prima menenangkan anaknya yang tiba-tiba histeris melihat Wulan.


"Tenang nak, kamu kenapa? itu kan Wulan." ucap Ibu Prima memberitahu.


Prima mengernyit dahi heran, "Wulan Bu?" Dia tak memberitahu ibunya apa yang dia lihat tadi itu bukan Wulan.


Keadaan Prima tak membaik, sudah seminggu lebih dia sakit dan di rawat di rumah namun tak ada perubahan, dia selalu histeris, dia bahkan menggaruk tubuhnya yang selalu terasa gatal, namun saat di periksakan ke Dokter anaknya itu tak menderita sakit apapun.


Saat ada teman Ayah Prima menjenguk, dia berkata jika Prima sedang di kerjai oleh seseorang.


Tubuh Prima sangat memprihatinkan, tubuh yang dulu segar, sekarang kurus kering dengan luka bekas garukan di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Orang Tua Prima terkejut mendengar penuturan teman mereka, siapa orang yang tega melakukan hal ini kepada anaknya.


Mereka lantas membawa Prima kepada orang pintar, namun alangkah terkejutnya mereka saat Prima bangkit menyeringai, dengan bola mata berwarna hitam sempurna, tubuhnya di kuasai mahluk yang di perintah Bu Sumarni untuk melenyapkannya.


"Anak ini akan mati!" ucap Mahluk yang ada di tubuh Prima.


Ibu Prima pun menjerit histeris, orang pintar itu juga tak bisa membantu, sebab menurutnya mahluk yang menguasai anak mereka itu kuat.


Orang Tua Prima, sudah mencari pengobatan alternatif, namun tak membuahkan hasil.


Wulan yang rutin menjenguk pun sedih melihat keadaan kekasihnya itu.


Tak lama Prima seperti sadar akan kehadirannya, karena selama ini Prima bahkan tak berbicara pada siapapun karena dia sibuk menggaruk tubuhnya.


Sudah tak banyak lagi yang menjenguknya, karena bisa di bilang teman-teman Prima mulai jijik dengan dirinya, karena tubuh Prima melepuh penuh luka dan berbau amis.


"Lan ... maafin aku ya, aku ngga bisa jagain kamu sekarang, kamu baik-baik ya, aku pamit," ucap Prima memegang tangan Wulan.


Wulan menangis sedih, dia tak bisa melakukan apapun, tak lama Prima menghembuskan nafas terakhirnya.


Ibu Prima menjerit histeris, Wulan pun bangkit karena orang tua Prima akan membawa Prima ke rumah sakit, untuk memastikan anaknya benar-benar wafat.


Wulan masih di rumah Prima bersama para tetangga dan teman-teman sekolah Prima, dengan harap-harap cemas mereka menunggu.


Setelah Dokter memastikan bahwa Prima memang sudah tiada, jenajah Prima di bawa pulang kembali ke rumah duka di sambut dengan tangisan saudara, tetangga dan teman-teman Prima, terutama Wulan yang nampak sangat terpukul.


Setelah proses pemakaman, ada teman Prima mendekat ke arah Wulan. "Kamu emang perempuan pembawa sial, tau ngga!" ucap gadis itu ketus, dan berlalu dari sana.


Wulan pulang dengan berderai air mata, saat sampai dia melihat Ibunya dan Bu Sumarni tengah berbincang di ruang tengah, Wulan lantas memeluk ibunya dan berkata jika Prima sudah tiada.


Kanjeng ibu hanya menghela nafasnya, dan mengusap rambut panjang anak gadisnya, dia melirik tajam ke arah Bu Sumarni, dan Bu Sumarni hanya bersikap biasa saja.


Itu membuat dia trauma memiliki kekasih, karena hatinya masih sangat mencintai Prima.


Hingga kakaknya mas Irwan pun, yang ia tau, menikah dengan Mariska juga atas persetujuan Bu Sumarni. Dia membenci pengasuhnya itu, kenapa sepertinya Ibunya lebih mendengarkan pembantu rumah tangganya ketimbang perasaan anak-anaknya.


Untungnya Irwan menyukai pilihan Kanjeng Ibu, Wulan berpikir dia tidak akan di atur oleh ibunya apa lagi Bu Sumarni.


Sebab itu dia memberontak meninggalkan negaranya, dan memilih tinggal bersekolah di negara orang, berharap dia memiliki teman, namun sepertinya benar jika hidupnya memang sial, sudah jauh dari negaranya pun ia tak memiliki teman.


Bu Sumarni mengirim penjaga ghaib di sana, dan bodyguard suruhan ibunya, memastikan jika Wulan baik-baik saja.


Wulan tak pernah tau jika dia di ikuti sosok ghaib dan manusia yang menjadi pengawas dirinya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2