Pesugihan

Pesugihan
Gagal


__ADS_3

Di kamar yang di tempati Disa dan Tia, mereka segera menghampiri ember yang berisi air sisa siraman Mita yang berhasil Disa sembunyikan.


"Mudah-mudah berhasil, ya Dis?" harap Tia.


Disa lantas mengangguk, Tia segera mengambil air itu dengan bergayungkan telapak tangannya, dan segera membasuh wajahnya.


Setelahnya, dia menatap Disa. "Gimana?"


Disa lantas mengusap dahi Tia, dan menggeleng, itu berarti tanda Tia masih berada di sana.


Tia terduduk lemas di samping ember. "Emang kamu liatnya gimana Dis pas tau-tau tanda di dahi Mita ilang?" tanya Tia penasaran.


"Waktu itu pas Bu Sum yang mandiin trus ngusap wajah Mita kayaknya," ucap Disa tak yakin, sebab dia melihat dari jauh dan Bu Sumarni memunggunginya.


Setelah Bu Sumarni melakukan siraman untuk Mita tiba-tiba tanda di dahi Mita hilang.


"Hemmm ... mungkin harus bu Sum sendiri yang mandiin kamu Ya," balas Disa tak semangat.


Saat mereka sedang melamun, terdengar suara ketukan di pintu.


"Dis ... Ya ... ini aku Yanti, bukain pintunya," ucap Yanti dengan suara yang berbisik, dia takut mengganggu penghuni lainnya, apalagi jika sampai ketahuan Bu Sumarni bisa celaka pikirnya.


Padahal tubuhnya sangat lelah karena acara majikannya itu, namun ia paksakan agar bisa berbincang sebentar dengan Disa sebab ada yang ingin dia sampaikan.


Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan selagi Disa masih berada di rumah ini, dia tak tau kapan Disa akan kembali ke kontrakannya sendiri.


Disa lantas membuka pintu, sedang Tia menyembunyikan kembali air itu, dia tak ingin membuat orang lain curiga, sebab benar kata Disa, takut pekerja lainnya tak bisa menerima perkataan mereka lantas memilih mengundurkan diri dan membuat Bu Sumarni mencurigai mereka, dan akhirnya memilih untuk menghabisi mereka semua.


"Yan ... ayo masuk," ucap Disa lantas menarik lengan Yanti dan melongok ke segala arah memastikan tak ada yang melihat Yanti.


Padahal jika Disa bersikap biasa saja tak akan membuat orang lain curiga, wajar jika mereka ingin mengobrol sebab mereka baru bertemu, namun begitu lah manusia jika sedang menyembunyikan sesuatu, pasti merasa was-was.


Mereka semua duduk di lantai, dan memilih berbisik saat berbicara karena mereka semua takut ketahuan oleh Bu Sumarni.


"Mana Mbak Fatmah? Kok ngga di ajak ke sini sekalian?" tanya Tia.


"Mbak Fatmah udah tidur, aku kesini juga nunggu dia tidur," ucap Yanti, Disa mengernyitkan dahi heran, untuk apa Yanti sembunyi-sembunyi kesini.


"Ada apa Yan?" tanya Disa penasaran.


"Hemmm ...." ucap Yanti ragu-ragu sebab ada Tia di sana.


Disa lantas melirik Tia juga. "Mau ngomong tentang Bu Sum?" tebak Disa, Yanti hanya mengangguk menjawab pertanyaan Disa.


"Ngomong aja ngga papa, lagian aku lebih tau banyak tentang Bu Sum dari pada kamu Yan," sela Tia, yang baru mengerti akan keragu-raguan Yanti.


"Emang kamu tau apa Ya?" Yanti merasa heran, sebab dia sendiri sebenarnya tak akan membicarakan masalah Bu Sumarni.


Disa menggeleng pelan memberi kode pada Tia agar jangan banyak bicara, sebab dia sendiri tak tau maksud kedatangan Yanti.


"Ah ... ngga, maksudku, kamu takut kan sama Bu Sum? sama lah," cengir Tia sambil menggaruk pelipisnya.


"Oh iya, kalo ketauan belum tidur, bisa di marahi kita," balas Yanti sependapat.

__ADS_1


"Dis, yang sms kamu kemarin itu aku," ucap Yanti buru-buru menyelesaikan tugasnya.


"Sms? yang mana Yan?" Disa lupa akan sms misterius yang pernah di terimanya.


"Itu loh yang Wiwit sama alamatnya," balas Yanti gemas.


"Kamu udah punya hape, Yan? Hebat," puji Disa yang hanya di balas putaran bola mata malas Yanti, sebab bukan masalah ponsel yang akan dia bahas melainkan pesan penting dari Nyonya Mariska.


"Ishh ... kamu ini, ada yang lebih penting malah bahas hape-nya," gerutu Yanti.


"Oh, itu apa maksudnya Yan?" Disa yang merasa aneh dengan sms misterius itu sebab dia tak tau siapa pengirimnya.


"Aku di suruh Nyonya Mariska buat ngasih tau kamu nama sama alamat itu, tapi nyonya ngga ngomong apa-apa, aku juga ngga tau apa maksudnya," jelas Yanti.


Disa dan Tia saling berpandang-pandangan heran. "Maksudnya apa ya Nyonya ngasih tau nama sama alamat si Wiwit, emang Wiwit siapa Yan?" tanya Disa.


"Aku ngga tau Dis, waktu ngasih alamat aja Nyonya mariska seperti ketakutan," Yanti menjelaskan, "Padahal kan bu Sum belum pulang, lagi pergi nganter acara lamaran tuan Irwan."


Disa hanya mengangguk, mencoba memahami mahluk yang sering dia lihat bisa saja itu suruhannya bu Sumarni untuk mengawasi siapapun termasuk nyonya Mariska.


"Sampai sekarang aku ngga pernah bahas masalah hape sama sms waktu itu sama nyonya Mariska." Yanti mengucap dengan tertunduk, "Apalagi ada bu Sum sekarang, nyonya juga keliatan ngga mau bahas sama sekali."


"Kamu ngga ngomong ke mbak Fatmah?"


"Ngga berani Dis, aku malah takut pada curiga, bahkan hape itu nyonya yang belikan, aku ngga berani keluarin," ucap Yanti sendu.


Disa dan Tia lantas memeluk Yanti, mereka saling memeluk, Yanti tak tau jika ada bahaya yang lebih besar lagi, yang akan merenggut nyawa mereka semua.


Disa memutuskan untuk tak memberi tahu kebenarannya pada Yanti, sebab temannya itu sudah cukup kesulitan tinggal di sini.


"Mungkin Ya, cuma aku ngga tau apa itu."


"Apa kamu mau ke tempat si Wiwit Dis?" tanya Yanti.


"Entah Yan, belum jelas maksud pesannya Nyonya, apa kamu ngga bisa nanya dulu nanti kamu kasih tau ke aku gitu," pinta Disa.


"Aku coba ya Dis, tapi ngga janji, soalnya aku kaya ngerasa Bu Sum selalu ngawasin, apa karena aku emang lagi nyembunyiin sesuatu jadi cuma perasaanku aja, atau emang dia beneran curiga sama aku," keluh Yanti.


"Kamu biasa aja makanya, jangan sampe Bu Sum curiga, bisa mati kita semua," balas Tia, yang malah membuat Yanti terkejut hebat.


"Ma ... mati? Maksudnya?" tanya Yanti takut.


"Eh ya Mati, kalo kamu di pecat, gegara hp maksudnya, jangan-jangan kita semua juga ikutan di pecat, ya matilah kita ngga punya kerjaan, gitu maksud aku," gurau Tia, yang kelepasan bicara itu.


Hadeuh gini amat ya kerja, sial betul Bu Sum, gimana cara nyingkirin dia.


Disa hanya menggeleng melihat kelakuan Tia, sesudahnya dia menatap Yanti. "Pokonya kamu jangan keliatan takut Yan, biasa aja ya. Udah malam Yan, tidur gih besok kan kita harus bangun pagi," pinta Disa.


Yanti segera bangkit, dia juga sebenarnya sudah merasa lelah, namun janjinya blm tuntas hingga dia melupakan rasa lelahnya itu.


Seperti seorang pencuri, Yanti berjalan mengendap-endap padahal hanya ke kamar sebelah.


Hingga saat dia membuka pintu, ada mahluk yang pernah dia lihat di kamar Ndoro Putra sedang berada di pojok atas tembok tempat tidurnya, mahluk itu menjulurkan lidah panjangnya, dan Yanti seketika ambruk karena ketakutan.

__ADS_1


Fatmah yang mendengar suara berdebum dari pintu yang terbuka karena tubuh Yanti menubruk pintu, lantas bangun dan melihat jika Yanti tergeletak di sana.


Dia yang panik lantas mengetuk kamar Disa. "Dis ... tolong Dis ...." ucapnya panik.


Disa yang baru saja merebahkan dirinya, segera bangkit saat mendengar Fatmah memanggilnya.


"Ada apa mbak?" ucap Disa yang segera di tarik oleh Mbak Fatmah, sedang Tia ikut mengekor di belakang mereka.


Disa dan Tia terkejut bukan main, saat melihat Yanti yang baru saja kembali dari kamar mereka, tiba-tiba tak sadarkan diri di depan kamarnya sendiri.


"Ya ampun Mbak kenapa bisa gini?" ucap Disa. Mereka bertiga membopong tubuh Yanti ke kasur.


Mbak Fatmah lantas keluar menuju dapur untuk mengambil minyak gosok di kotak obat dan membuat teh hangat untuk Yanti.


Sedang Disa terperanjat saat melihat mahluk perewangan Bu Sumarni sedang nangkring di atas lemari.


Disa menatap mahluk mengerikan itu, tak lama mahluk itu merambat menembus atap kamar.


"Dis ... malah ngelamun," ucap Tia yang mengikuti arah pandang Disa.


"Kamu liat apa? Jangan nakut-nakutin gitu!" gerutu Tia.


Mbak Fatmah tiba dengan minyak gosok dan teh hangat di kedua tangannya.


Kemudian Disa menggosok telapak tangan dan telapak kaki Yanti yang terasa dingin.


Setelahnya dia mendekatkan ke hidung Yanti, agar dia dapat menghirup aromanya.


Tak lama Yanti sadar, Mbak Fatmah lantas memberikan teh hangat itu, Yanti di bantu Tia agar bisa duduk.


Yanti lantas menengok ke arah pojokan atas tempat tidurnya di mana tadi dia melihat mahluk mengerikan disana, namun sudah tak ada sosoknya, Yanti bernafas lega.


Sedang Disa memperhatikan kelakuan Yanti pun ikut melihat arah pandangnya.


Apa Yanti liat perewangan Bu Sum ya? Kasian sekali Kamu Yan, apa sekarang kamu di ganggu mahluk itu juga?


"Kamu kenapa Yan?" tanya Mbak Fatmah khawatir, dia memang orang yang sangat baik, selalu memperhatikan rekan-rekan kerjanya.


"Apa kamu kecapean?" tebaknya.


Yanti yang tak ingin menakuti Mbak Fatmah memilih mengangguk saja membenarkan.


"Ya sudah, ayo istirahat udah malam sekali loh ini," pintanya, dan Yanti segera merebahkan tubuhnya.


"Makasih ya Dis? ... Ya ... kalian juga tidur lagi, maaf ganggu tadi."


"Alah Mbak ini kaya sama siapa, wajarlah kita bantu, ya udah kita balik ya Mbak, istirahat ya Yan?" ucap Disa lantas mereka berdua meninggalkan kamar.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2