
Sebulan sudah Mita dan Irwan menjalani rumah tangga, setelah kejadian malam panas mereka, dimana itu di lakukann atas campur tangan Bu Sumarni, yang telah menjampi-jampi Irwan agar mau tidur dengan Mita.
Selama itu juga sudah beberapa kali Irwan menghabiskan malamnya di kamar istri keduanya itu. Mariska sudah legowo untuk berbagi kasih sayang, memang suatu saat hal seperti itu pasti tak akan terhindarkan, dimana Irwan sang suami yang masih gagah dan memiliki kebutuhan biologis yang terkadang tak bisa Mariska tunaikan, jadilah Irwan pergi menemui istri keduanya.
Hari ini malam jum'at kliwon, dan malam ini untuk pertama kalinya Mita akan turut serta dalam acara sungkeman di gazebo, dulu saat malam jum'at pertama dia menyandang status Nyonya Irwan, dia masih belum di izinkan untuk ikut bergabung, walau sedih dia masih menurutinya.
Sekarang dia senang saat Bu Sumarni datang memberikan kebaya indah berwarna putih dengan jarik yang senada dengan semua keluarga kanjeng ibu.
Dia lantas mengetuk kamar Mariska, dan Wulan yang membukakan pintu kamarnya.
"Wulan ... Mbak aku nanti malam ikut acara sungkeman loh," ucapnya bangga, dia berbicara pada Mariska setelah menyapa adik iparnya.
Wulan memutar bola matanya malas, saat tak di anggap sama sekali oleh kakak ipar barunya itu.
"Ini Mbak, liat deh bu Sum tadi yang kasih, cantik ya, punya kalian sama kan?" Sambil memperlihatkan kebaya yang dia peragakan di depan tubuhnya sendiri.
Wulan dan Mariska mengeryit heran sebab hanya Wulan dan Mita yang senada mengenakan kebaya putih, sedang Mariska , kanjeng ibu dan Bu Sumarni mereka mengenakan kebaya hijau, walaupun corak jarik yang di gunakan sama.
Mita lantas melihat kotak persegi di meja dengan kebaya berwarna hijau nan cantik itu.
Dia menatap sendu, dia berpikir apa kali ini dirinya juga akan di bedakan dengan keluarga mertuanya itu.
Mariska yang tau mengapa bisa Wulan dan Mita yang berpakaian sama, hanya bisa menghela nafas melihat wajah kecewa Mita saat madunya itu melihat kebaya miliknya.
"Kamu jangan salah paham, kamu akan samaan dengan Wulan, karena bisa di bilang ini unggah ungguhnya, kamu kan baru mengikuti ritual ini, jangan sedih ya." Pinta Mariska sembari mengusap lengan Mita yang duduk di sebelahnya.
Sedang Wulan yang berada di depan mereka berdua nampak acuh saja, dia sendiri kesal kenapa juga harus samaan dengan kakak ipar keduanya itu.
Saat malam menjelang, Mita yang sangat antusias mengikuti acara rutin keluarganya itu, sampai sudah rapih saat selesai makan malam, bila yang lainnya memilih istirahat, dan sebelum tengah malam bangun untuk bersiap, berbeda dengan Mita yang sudah berdandang sangat berlebihan.
Saat bu Sumarni datang untuk mengingatkannya bahwa acara sebentar lagi akan di mulai, Mita segera keluar, Bu Sumarni yang melihat dandanan heboh Mita hanya tersenyum.
__ADS_1
"Ayo." Ajaknya.
Mita menunggu di ruang keluarga, saat Bu Sumarni memanggil yang lainnya, saat semua keluarga keluar mereka pun sama tersenyum geli melihat dandanan Mita.
Mariska sudah tak mengenakan kursi roda, sekarang dia bukan yang memegang nampan berisi ramuan minuman, sekarang wulan yang membawanya.
Saat Mita mendekat ke arah mereka, Wulan berkata "Heboh sekali dandananmu Mbak." Dan berlalu menyusul Ibu dan ayahnya.
Mita memberengut mendengar ejekan adik iparnya, dia lantas menatap suami dan madunya. "Aku berlebihan ya mas?" Tanyanya pada sang suami, dia berharap Irwan akan memujinya, namun ....
"Kau ini, memang kau pikir akan ada acara apa!" Ucap Irwan ketus dan meninggalkan kedua istrinya.
Mariska mengajak Mita berjalan bersama, Mita merasa minder melihat penampilan Mariska yang terlihat sederhana namun anggun, dia benar-benar seperti seorang ningrat di mata Mita.
Saat sudah di depan gazebo, seperti biasa Kanjeng ibu akan berdiri di tengah di apit oleh suami dan anak lelakinya.
Di belakang kanjeng ibu ada Mariska dan Mita yang berdiri berdampingan, formasi mereka berubah sesuai arahan Bu Sumarni.
Jika di lihat formasi mereka seperti segitiga, karena Bu Sumarni saja yang tak berdiri diam, dia yang mengarahkan semua ritual itu, mengambil nampan dan memberikan sesajen ke arah gazebo.
Tak lama, setelah Kanjeng ibu mengucapkan mantra pemanggil, bahasa yang tak dimengerti sama sekali oleh yang lainnya, seketika suasana menjadi hening, dan wuush seperti angin semilir dari arah gazebo dengan wangi bunga yang memabukan.
Mita merasa bulu kuduk di tengkunya merinding, dia menoleh ke arah Mariska yang masih berdiri tenang, suami dan ayah mertuanya bersimpuh, dan mereka semua ikut bersimpuh, perasaan Mita tiba-tiba was-was, dia masih melirik Mariska yang memejamkan mata dengan telapak tangan di tangkupkan seperti berdoa, Mita juga mengikutinya.
Dan setelahnya Mita merasa jika ada seseorang yang mengusap bahunya, sentuhan yang sangat halus, dia tau tak mungkin Wulan, sentuhan itu terasa seperti angin membelai tubuhnya.
Tubuh Mita bergetar, dia merasa takut entah kenapa hawanya seperti berbeda, dia merasa suasana wingit dan mencekam.
Tak ada yang bisa melihat Tuan, selain Bu Sumarni dan Kanjeng ibu, bahkan suami dan anak-anak kanjeng ibu tak dapat melihat Tuan jika hanya datang di acara ritual mereka.
Mereka semua bisa melihat Tuan jika mereka ke istananya, dan itu akan terjadi esok, sebab besoklah Wulan akan memulai ritual ajian SUDOJIWO yang mengikat janji keluarga mereka, walau Wulan sendiri tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Irwan pun hanya melihat sang Tuan saat dia mempersembahkan sang istri, sedang Mariska terkadang dia di perlihatkan terkadang juga tidak saat hanya acara sungkem seperti ini.
Mariska bersyukur jika sang Tuan tidak menampakan wujudnya, sungguh mahluk yang sangat mengerikan bagi manusia pastinya.
.
.
Dalam kurun waktu sebulan itu, Disa juga di buat risau oleh Yanti, sebab temannya itu tak sedikitpun memberi kabar kepadanya.
Disa sendiri tak tau jika keadaan Yanti sangat kacau, dia selalu di ganggu oleh mahluk perewangan Bu Sumarni.
Sekarang bahkan tubuhnya sangat kurus dan terlihat kusut, Fatimah merasa iba, namun saat dia menanyakan ada apa dengan Yanti, temannya itu selalu menjawab baik-baik saja.
Yanti lelah secara psikis dan mental, sekarang dia hanya bekerja berdua dengan Fatmah, walau Mita masih yang mengurus Ndoro Putra, namun pekerjaan lain yang biasanya di kerjakan bertiga, sekarang hanya di lakukan berdua.
Yanti juga tak memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Mariska, sebab Nona Wulan selalu berada di dekatnya, Wulan selau keluar rumah saat Mariska tertidur, jika Mariska membutuhkan bantuan, Wulan memilih dia sendiri yang membantu kakak iparnya itu, dari pada meminta tolong kepada pembantu rumah tangganya.
Kasihan sekali nasib Yanti, Disa saja sudah hampir gila saat di ganggu oleh perewangan Bu Sumarni, padahal saat itu baru tiga hari dia bekerja, sedang Yanti dia bertahan selama ini sebab dia yakin akan perkataan Disa.
Walau tak tau ada apa, tapi perasaannya mengatakan semua pasti ada penjelasaannya, dia yang tau akan masalah yang menimpa Disa, di tambah Nyonya Mariska menunjukan kelakuan aneh dengan meminta Disa mencari seseorang.
Yanti sendiri tau, Disa pasti menunggu kabar darinya, namun dia sendiri belum bisa mendekati Nyonya Mudanya itu.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1