Pesugihan

Pesugihan
Misteri Mulai Terungkap


__ADS_3

"Aku gak selemah itu, tau!" ucap Tia menolak tawaran Wiwit lantas berlari mendekati Disa yang sedang berjalan menuju sungai.


Di perjalanan ki Wiryo selalu mengarahkan Disa agar terus berlatih, mempercepat spontanitas dalam menggunakan cawan, terutama dalam membuka tutup.


"Nak Disa," panggil ki Wiryo tanpa nama cawan agar lebih akrab. "Sambatan yang barusan nona lakukan, masih lewat perantara pendamping, dengan setruman yang saya lakukan."


"Berarti, saya gak akan bisa melakukannya sendiri, Ki?" tanya Disa sedikit kecewa.


"Bukan gak bisa, tapi harus sering di asah, seperti orang yang sedang belajar mengemudi dengan pendamping ..." jawab ki Wiryo. "Setelah bisa, harus sering di lakukan sendiri agar tak hanya di ingatan, tapi hubungan antara, mata, keinginan, gerak tubuh, dan spontanitas harus langsung terkoneksi menjadi satu keputusan dalam waktu yang cepat,"


"Lebih cepat lebih baik," tambahnya.


"Baik ki, apa lagi waktu saya di sini cuma sebentar," ucap Disa yang kini bersemangat lagi.


"Saran saya, kalau mau sambatan ilmu-ilmu, sebaiknya lewat Asih ... namun agar proses belajar anda cepat, lewat Wiwit saja, karena dia daya ingatnya kuat," ucap ki Wiryo dan berlalu meninggalkan ke'empat wanita yang hendak membersihkan diri di sungai.


Tia yang menguping terlihat bingung dengan penjelasan ki Wiryo pada Disa, dia hanya mengernyitkan alisnya saja berusaha mencerna dengan otaknya yang sedang berkelana, Tia pun menggaruk dengkulnya.


"Semangat!" Asih memberi dukungan pada Disa dan berucap, "Beruntung banget kamu Dis, hanya butuh beberapa hari saja, kamu sudah bisa mendapatkan banyak ilmu, dan apapun yang kamu mau, bisa di dapat."


"Iya Dis, kita butuh bertaun-taun untuk mendapatkannya, berkorban tenaga, waktu, dan pikiran bahkan perasaan," ucap Wiwit mengingat masa lalunya. "Kehidupan memang begitu, tapi kita gak bakalan iri akan hal itu, atau mengeluh pada Tuhan, kita hanya menjalani apa-apa yang sudah di gariskan."


"Mencintai proses itu, lebih baik dari sekedar pemuja hasil," tukas Tia dengan tersenyum dan mengedikan alis.


"Udah balik kayaknya, yang tadi berkelana di dengkul," ledek Asih.


"Kalu mau belajar sabar, Dis! Baaru sama saya," ucap Tia menawarkan diri.


Disa, Wiwit, dan Asih terdiam saling tatap.


"Kalian harus tau, walaupun kalian suka naik darah ngadepin aku ... aku tetep sabar," seloroh Tia lantas berlari ke atas batu dan loncat dengan gaya koproll menyelami air sungai yang terdalam.


Merekapun mengejarnya dengan tertawa geli, dan loncat mengikuti gerakan Tia seperti anak kecil dengan gaya aneh masing-masing. Mereka akhirnya membersihkan diri dengan tertawa lepas.


Tia di tarik Asih menyelam lebih dalam untuk sekedar menikmati pemandangan bawah sungai yang jernih.


Wiwit sekarang hanya berdua bersama Disa, asik membersihkan diri dari peluh dan debu, merekapun saling gosok bagian tubuh yang tak dapat mereka jangkau.


Saat di gosok punggungnya, Disa pun merapal mantra bersiap berlatih, beberapa saat setelah tangannya bergetar dia berbalik menatap Wiwit.

__ADS_1


"Aku udah ngisi cawannya, mba."


"Masih dua puluh detik, Dis." Wiwit menghitung lamanya proses sambatan Disa.


"Lumayan cepat kan, mba?


"Iya, jika kamu berhadapan sama orang yang ingin membunuhmu, terus cawan terisi dalam dua puluh detik," jawab Wiwit menggeleng. "saat kamu hendak menyerang , kamu sudah beda alam ... alam baka."


"Hahg!! Disa kaget, ternyata tak semudah yang dibayangkannya. "Ya sudah nanti saya ulangi, sekarang ceritalah ... aku sudah nyerap ilmumu, agar saya ingat apa yang kamu ceritakan."


"Baiklah ... sebenarnya aku tau suatu saat akan ada seseorang yang mencari aku, tapi aku tak tau ada apa kamu mencariku?" tanya Wiwit serius. "Sampai akhirnya mimpi dan bayangan itu selalu hadir, dan semakin jelas."


"Aku juga ngga tau tujuanku nyari kamu Wit, cuma ... kamu tau? Nyonya Mariska berulang kali meminta aku untuk menyelamatkan ndoro Putra, aku ngga tau apa maksudnya, dan terakhir dia minta aku mencarimu, cuma itu yang aku tau."


Tia muncul tiba-tiba dari dalam air di antara mereka, Disa yang kaget pun langsung menghentikan ucapannya, sontak membuat cawan yang berisi tadi jadi tumpah isinya.


"Ya, kamu masih lama? noh mba Asih udah mandinya," ucap Disa menunjuk Asih yang ijin mendahului untuk segera memasak.


"Aku masih lama, Dis," jawab Tia yang langsung menyelam.


Disa dan Wiwitpun mempercepat proses mandinya untuk menghindari Tia yang hendak menguping dan pastinya akan sangat mengganggu.


Disa yang pulang ke gubuk bersama Wiwit meninggalkan Tia, tak bosan terus latihan sambil berjalan. Dia memberi aba-aba lagi pada Wiwit agar menghitungnya, lalu kembali terpejam merapal ajian yang di ajari ki Wiryo, tangannya mulai bergetar.


"Gimana mba?" tanya Disa kembali.


"Lumayan, delapan detik ...," ucap Wiwit dan langsung bertanya, "Kamu bekerja di rumah Kanjeng Ibu?"


"Awalnya, tapi cuma beberapa hari, setelah itu aku di pindahkan ke Toko, sebenarnya aku memang akan di tempatkan di Toko, tapi waktu itu mereka kekurangan tenaga untuk merawat Nyonya Mariska."


Wiwit mengangguk-angguk paham.


Buuk!! Tia terjatuh, lalu bangkit dengan menatap mereka berdua lalu berlari menuju gubuk.


Disa dan Wiwit tak terusik, hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah laku Tia.


Merekapun sampai di gubuk, terlihat ki Wiryo sedang terpejam duduk bersila di atas pagar, mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam.


Setelah berganti pakaian, Disa duduk santai di ruang tengah. Wiwit menghampiri dengan membawa buku kuning dan menaruhnya di pangkuan.

__ADS_1


"Apa kamu tau apa yang terjadi sama nyonya Mariska?" tanya Wiwit melanjutkan pembicaraan.


"Engga ... aku pikir nyonya sakit keras."


Wiwit tertawa getir mendengar perkatan Disa, "Dia menjadi sesembahan keluarga Kanjeng ibu, dia hanya korban." Geram Wiwit menceritakan kejadian di keluarga mantan majikannya itu.


"Sesembahan? maksudnya?" Disa mulai risau, dia takut apa yang selalu di asumsikannya ternyata benar.


"Ya ... kanjeng ibu memang penganut pesugihan," jawab Wiwit yang menebak jalan pikiran Disa.


Disa sedikit terkejut, sebab dia sebenarnya sudah curiga, hanya tak berani bertanya langsung kepada Mariska saat itu.


Tia yang sedang membantu asih di dapur mendengar kenyataan itu, kini dia jatuh terduduk di depan tungku, dirinya sangat terkejut, sebab dia tak menyangka jika majikannya melakukan hal laknat seperti itu.


Asih yang berada di sebelahnya mengusap bahunya, memberi dukungan moril.


"Pesugihan macam apa yang keluarga mereka anut Wit? setau Aku, biasanya ada tumbal nyawa jika melakukan pesugihan."


"Ya memang ada Nyawa yang di tumbalkan, aku ngga tau pesugihan apa, yang pasti Tuan mereka sepertinya sangat kuat."


"Lalu Nyonya Mariska kenapa?"


Wiwit menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya sebab, luka dan kengerian yang dia alami, masih bisa dia mengingatnya.


Dia menceritakan jika sebelumnya Mariska dan Irwan tak tinggal bersama orang tua mereka.


Hingga tiba-tiba Mariska dan Irwan pergi terburu-buru dari rumah mereka, dan menghilang selama 2 minggu lamanya meninggalkan dirinya dan Putra di kediaman mereka.


Hingga Irwan kembali kerumah untuk menjemputnya dan sang putra untuk di ajak menemui Mariska.


Saat Wiwit sampai di kediaman kanjeng ibu, dia langsung tau jika rumah orang tua majikannya terasa berbeda, apa lagi Wiwit melihat banyak mahluk menyeramkan berkeliaran di sana, namun dia tau ada yang lebih hitam di rumah itu, namun dia berusaha tak merisaukannya, mengingat kebaikan Mariska padanya, dia berusaha mengenyahkan ketidaknyamanannya di rumah kanjeng ibu.


"Aku shock waktu ketemu nyonya Marisa, coba kamu bayangin dalam waktu 2 minggu nyonya yang tadinya sehat tau-tau dah kaya mayat hidup."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2