Pesugihan

Pesugihan
Tanda Pengikut


__ADS_3

Tubuh Disa sudah merasa lebih baik, dia mulai berfikir bau-bau yang dia cium sepertinya berasal dari tubuh Bu Sum, apa Bu Sum memakai wewangian melati? tapi kenapa ada bau anyir juga.


Di tengah lamunannya yang sedang mengelap piring disana, Disa di kejutkan oleh Yanti.


"Ishhh ... masih ngelamun aja, sampe segitu sedihnya mo ninggalin kita?" selorohnya.


Disa tertawa mendengar ucapan temannya itu, walaupun bukan itu yang dia fikirkan saat ini.


"Dis, nanti kalo kamu libur sering-sering main ke sini, ya?" pinta Yanti.


"Iya," jawab Disa.


.


.


Malam menjelang Disa pun berbaring di kamarnya, dia senang meninggalkan rumah ini, karena memang dia tak nyaman tinggal di sini, bukan karena penghuninya melainkan rumah ini seperti menyimpan misteri sendiri.


"Dis, belum juga aku pinjam hape-mu buat telpon, kamu dah pergi aja dari sini," ucap Yanti.


"Kamu simpan aja nomerku. Nanti kamu bisa telpon di wartel, syukur-syukur kamu bisa beli hp nanti," ucap Disa, mereka pun tertawa, Disa bersyukur bisa mengenal mereka, keluarga pertama yang mau menerima dirinya.


Di rumah ini memang ada telpon rumah, tapi Disa yakin para pembantu di rumah ini tak ada yang berani menelpon atau mengangkat telpon untuk diri mereka sendiri.


Telpon itu pasti di gunakan hanya untuk keperluan majikan mereka saja.


Bahkan selama Disa tinggal di sini, dia belum pernah mendengar telpon itu berdering.


"Yan, kamu kalo mau ngabarin orang tuamu emang gimana?" tanya Disa yang memilih untuk berbincang-bincang dengan Yanti, karena malam ini adalah malam terakhir dia tidur bersama Yanti.


"Pake telpon wartel lah. Aku telpon ke rumah pak Rt, soalnya cuma rumah pak Rt yang punya telpon rumah, itu juga cuma kalo mau kirim uang Dis, ngga bisa se-enaknya sering telpon. Bu Rt ku orang yang pelit, padahal kalo kirim aku pasti suruh orang tuaku kasih buat beliau juga," jawab Yanti sambil menggerutu, Disa pun tertawa mendengar gerutuan Yanti.


"Lah, trus kamu minjem hape-ku buat telpon siapa?" tanya Disa curiga, jangan-jangan Yanti akan menelpon kekasihnya.


"Ya mau telpon temenku, sama kaya temen kamu. Dia juga pernah bilang kalo aku boleh telpon dia. Masalahnya kalo pake telpon biasa ke hp biayanya mahal Dis, makanya aku mau telpon yang puas sama orang tuaku, soalnya ngga leluasa kalo telpon ke Pak Rt. Kata ibuku di tungguin terus sama Bu Rt," keluhnya.


"Ya udah, coba kamu telpon sekarang. Temen kamu deket kan rumahnya?" tanya Disa semangat, dia ingin membantu Yanti berbicara dengan orang tuanya, ini sudah jam 10 malam, jika teman Yanti dekat tentu tak masalah.


Yanti pun mengangguk antusias, dia pun mencari kertas berisi nomor telpon temannya yang ia simpan di tas.


Telpon Yanti hanya di respon oleh operator, berkali-kali di coba masih suara operator yang menjawabnya, Yanti pun pasrah dan mengembalikan hand phone milik Disa.


"Kenapa?" tanya Disa.

__ADS_1


"Ngga aktif," jawab Yanti singkat.


Mungkin baterai hand phone temannya habis, atau mungkin sudah berganti nomor atau mungkin juga sudah di jual, Yanti mengenal temannya, dia pun sama seperti dirinya hanya seorang pembantu rumah tangga, mungkin saat memiliki uang lebih dia membelinya, dan jika ia menganggur kemungkinan hand phone itu di jual untuk menyambung hidup.


Mereka memilih untuk segera memejamkan mata, merasa jika tubuh juga sudah lelah bekerja seharian.


Disa pun memejamkan mata, tak lama ia bangun karena seperti mendengar suara Bu Sum.


Disa melihat Yanti berbaring di sampingnya, ingin membangunkan tapi tak tega, Disa memutuskan untuk mengecek keadaan di luar kamarnya.


Sepi ... tapi dia masih mendengar suara Bu Sum, beliau seperti sedang berbicara pada seseorang.


Rasa penasaran mengalahkan segalanya, ia yang tahu tak boleh ikut campur memutuskan untuk melihat.


Harusnya Bu Sumarni sadar diri, ini tengah malam, dia bisa membangunkan seluruh penghuni kamar belakang jika berbicara tak jauh dari sana.


Menurut Disa wajar, jika ia mencari tau ada apa gerangan, karena dia bisa mendengar nada bicara Bu Sum seperti marah pada lawan bicaranya.


Disa keluar, mengikuti suara Bu Sum, dia tau Bu Sum sedang berada di taman belakang, Disa mengintip lewat pilar besar di sana.


Bu Sumarni sedang berbicara dengan seseorang, jarak mereka bicara berjauhan, lelaki di depannya memakai pakaian putih, sedang Bu Sumarni hanya terlihat setengah badannya, karena terhalang tumbuhan di depan Disa.


Suara lelaki itu seperti tak asing, ia seperti pernah mendengarnya, Disa sedang mengingat-ingat, dan sekelabat ingatannya kembali saat dia merasa dirinya sedang melamun di ruang baca majikannya, walau Disa merasa kejadian itu benar-benar nyata tapi ia sendiri tak bisa menyimpulkan menggunakan logikanya.


"Apa orang itu nyata? Lalu siapa beliau?" tanya Disa dalam hati.


Masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Disa mendengar pekikan keras dari Bu Sum.


Disa yang panik, berniat menolong Bu Sum, dia berfikir jika lelaki itu mungkin akan menyakiti Bu Sum.


Namun langkahnya berhenti di belakang tubuh sang lelaki, dia melihat perwujudan yang ada di hadapannya.


"Seorang manusia berkaki kuda? apa aku bermimpi?" Disa menelan kasar salivanya.


"Siapa sebenarnya Bu Sum? Apa dia Bu Sum?" Masih bergumam dalam hati.


Tak lama perwujudan Bu Sum itu bangkit, Disa yang biasa mengenal Bu Sum sosok wanita normal pada umumnya mendadak ngeri, karena wujud yang dia lihat memang seperti Bu Sum tapi rupa beliau sangat mengerikan.


Beliau berbentuk aneh, dia membungkuk siap menyerang, mata merah dengan air liur yang menetes-netes, bahkan rambutnya sudah tak berbentuk.


Ia menggeram marah, sepertinya dia akan menyerang lelaki di hadapannya ini.


Disa pun terkesiap, saat itu lah Bu Sumarni memandang dirinya, sepertinya dia yang akan menjadi target sasaran Bu Sum.

__ADS_1


Saat beliau melesat lari, lelaki di hadapan Disa berbalik menghadapnya, lagi-lagi ia di tarik dan seperti di lempar ke angkasa, Disa melihat ke bawah mereka sedang bergumul, bertarung, erangan frustasi keluar dari Bu Sum.


Saat itu lah Disa bangun dengan terengah-engah, nafasnya tercekat, Yanti yang ada di sebelahnya langsung memberikan air minum pada Disa.


"Kamu kenapa Dis, mimpi buruk?" tanyanya, setelah melihat Disa sudah menenggak habis minumannya.


"Aku ... aku ... iya kayaknya." Hanya itu yang bisa Disa katakan, apa ia bermimpi buruk lagi?


Sekarang Disa merasa sekujur tubuhnya sakit, seperti habis beradu duel dengan seseorang.


Yanti yang melihat pun bingung. "Kamu kenapa Dis?" tanyanya saat akan kembali tidur, dan melihat Disa sedang memijat-mijat bahu sampai lengannya.


"Badanku sakit semua Yan," ucap Disa jujur.


Yanti bangun. "Tunggu, ya? Aku ambil minyak gosok dulu, biar badanmu enakan." Dia akan ke dapur untuk mengambil minyak itu di kotak P3K.


Disa yang panik, merasa jika yang ia alami itu pun nampak nyata menyekal tangan Yanti. "Ngga usah Yan, ngga papa kok, tidur lagi aja," pintanya.


"Kamu masuk angin kali Dis, tadi kan muntah-muntah, trus badan kamu sakit-sakit, makanya aku ambilin minyak gosoknya, biar bisa aku kerokin juga," ucap Yanti.


Disa senang dengan perhatian Yanti, dia pun memeluk Yanti erat, mengucapkan terima kasih dengan bahasa tubuhnya.


Saat Disa melepaskan pelukannya, Disa kaget karena di dahi Yanti terdapat tanda merah, reflek ia pun mengusapnya, tapi tak hilang.


"Perasaan tadi ngga ada, kok tau-tau ada merah-merah ini?" tanya Disa.


Yanti pun ikut menggosok dahinya. "Ada apa emangnya Dis? Merah apa?" tanyanya, lantas berdiri di depan cermin yang ada di kamar mereka.


"Ihh, ngga ada apa-apa Dis, kamu ini aneh banget sih, jangan-jangan mata kamu ikutan rabun lagi," ucapnya lantas keluar kamar, dia akan mengambil minyak untuk Disa.


Disa melihat tanda itu, Disa pun bangkit ia ikut bercermin apa dia memiliki tanda yang sama dengan Yanti.


Saat dia bercermin tak ada apa pun di dahinya, Yanti pun masuk membawa minyak gosok itu.


Disa mengucek matanya memastikan jika matanya masih jelas, dan benar saja masih ada tanda merah itu di dahinya.


Jika hand phone Disa adalah keluaran sekarang yaitu hand phone android dengan kamera bermega-mega pixel, dia pasti sudah memotretnya, sayangnya jaman ini hand phone seperti Disa lah musimnya, hanya bisa menelpon dan sms.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2