Pesugihan

Pesugihan
Arti Sebuah Penyesalan


__ADS_3

Di sudut lain, Disa dan Tia yang sedang bersantai di waktu liburnya, dikejutkan oleh nada suara panggilan dari ponsel Disa.


Disa mengernyitkan dahi saat nama yang tertera disana adalah Yanti.


"Kok tumben Yanti telpon, apa ada yang penting, ya?" gumam Disa pelan.


Dia lantas segera mengangkat panggilan tersebut, berharap tak menerima kabar buruk apapun itu.


"Halo Yan?"


"Dis! Kamu ngga kesini?" pinta Yanti, yang tau jika hari ini Disa libur kerja dan majikan mereka juga sedang pergi.


"Si Tia sakit, semalem badannya panas, tumben bisa telpon emang ngga ada keluarga kanjeng ibu?" tanya Disa heran, sebab dia tau betul jika Yanti memang menyembunyikan ponselnya itu dari majikan mereka bahkan juga terhadap mbak Fatmah.


"Kanjeng ibu sekeluarga pergi lagi Dis, ngga tau mau kemana tapi katanya besok juga pulang, biasa ndoro Putra aja yang di tinggal," jelas Yanti.


"Mau kemana ya mereka? Kok, ndoro di tinggal-tinggal terus. Eh Yan, nona Wulan apa udah pulang ke luar negri lagi, ya?" tanya Disa penasaran, sebab dia belum menemui jawaban dari perginya nona muda mereka.


"Ngga tau Dis, mungkin kali ya, jadi waktu mereka pergi apa sekalian nganter nona ke bandara ya?" Yanti ikutan menerka-nerka.


"Tapi Dis ... waktu mereka mau pergi, si Mita bilang katanya mau honeymoon mereka," ucap Yanti mengingat jika seminggu lalu majikan baru mereka memamerkan diri jika akan di ajak berwisata oleh keluarganya.


"Ya ngga tau lah Yan, ngomong-ngomong bisa kamu leluasa telpon aku, apa udah ngga di ganggu?" kata Disa memastikan jika keadaan Yanti masih baik-baik saja.


"Iya Dis, cuma kadang-kadang masih sering mahluk itu nampakin diri, cuma udah ngga ganggu pas tidur aja."


"Syukurlah, tapi kamu tetep waspada dan selalu berdoa, jangan sampe lengah nyembunyiin penangkal itu," pinta Disa.


"Iya Dis, ya udah ya, ngga enak lama-lama ninggalin mbak Fatmah, aku tutup ya Dis."


"Iya," balas Disa yang juga segera meletakan kembali ponselnya itu.


.


.


.


.


Di kediaman Ki Brasta, terlihat Wulan yang sudah menghabiskan tiga kantung darah itu, dia masih belum sadarkan diri, darah juga masih terus mengalir dari organ intimnya.


Sri dengan cekatan membersihkan tubuh Wulan, sedang kanjeng ibu hanya berdiri di sisi ranjang memperhatikan anak gadisnya yang sudah tak gadis itu.


Setelah ini Wulan masih harus menerima segala kesakitan yang akan dia alami hingga batu Sudojiwo itu terbentuk, terlihat jika batu Sudojiwo yang kanjeng ibu kenakan sudah mulai retak, pertanda jika batu itu akan lahir dari darah keturunan baru.


"Sebaiknya anda istirahat saja Nyonya, saya akan menjaga Nona Wulan di sini," perintah Sri, dia berbicara tanpa menghentikan kegiatannya itu.


Kanjeng ibu tak menyahut, namun dia mengikuti perintah Sri untuk meninggalkan Wulan.


Dia lantas kembali kekamarnya, disana Pak Hanubi sedang berdiri menatap jendela, terlihat cakrawala sudah menampakan dirinya, dimana hari menunjukan jika pagi akan segera menjelang.

__ADS_1


Angannya berharap, dengan rambut yang sudah memutih duduk berdua di kursi rotan kesayangan, melewati masa senja dengan tenang, di temani teh hangat tersaji dan riuh gelak tawa anak dan cucu. Namun hari ini takdir berjalan sebaliknya ... tak terasa Ia meneteskan air itu lagi di sudut keriput matanya yang kini mulai rabun.


Kanjeng ibu berdiri mendekat, pak Hanubi yang tau jika sang istri yang berdiri di sampingnya, membuang kasar nafasnya.


Tak ada yang ingin dia katakan, dia juga masuk dan terjerat oleh perjanjian keluarga istrinya tersebut. Sekarang dia harus merelakan anak gadisnya jatuh ke perjanjian terkutuk itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


Kini dia memilih membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak, melepas beban di hatinya, sebab siang ini mereka semua harus kembali ke kota.


Setelah cukup mengistirahatkan tubuh, keluarga kanjeng ibu di minta untuk makan siang di sana sebelum mereka kembali ke kota, suasana di meja makan lebih hening dari kemarin, bahkan Mita, memakan makanannya tanpa melirik kemanapun, di pikirannya dia hanya ingin segera pergi dari rumah itu.


Di dalam mobil pun sama, saat perjalanan pulang Mita yang biasanya sedikit cerewet dengan banyak pertanyaan kali ini dia diam seribu bahasa, bahkan lebih memilih memejamkan matanya di kursi belakang.


Saat mereka sampai, Mita langsung berlari meninggalkan keluarganya. Para pembantu yang melihatnya sedikit terkejut.


"Loh ... loh ... kok ngacir aja!" ujar Fatmah yang menunjuk mengikuti arah Mita, hingga ia sadar berkat sikutan Yanti, yang mengingatkan dirinya jika Mita adalah majikan mereka sekarang. Fatmah pun menutupi mulutnya segera yang hendak tertawa.


"Mas ..." Mariska berucap, sesaat setelah mereka keluar dari mobil.


Irwan yang mengerti maksud perkataan istrinya itu tanpa menjawab dia segera menyusul istri keduanya itu.


Mariska lantas berdiri di hadapan kedua pembantunya, mengambil Putra yang berada di gendongan Fatmah.


"Tas Mita, kalian taro aja di kamarku ya, jangan ke kamar Mita dulu," perintah Mariska, sebab dia tau pasti ada pertengkaran antara suaminya dan Mita di sana.


Kanjeng ibu dan Pak Hanubi hanya membiarkannya saja, sedang Bu Sumarni yang sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan istri kedua tuan mudanya itu, meminta undur diri terlebih dahulu, dia juga akan menyusul Mita dan Irwan.


Setelah sampai di kamarnya, Mita segera mengepak pakaian, dan membereskan semua perhiasaan yang di berikan kanjeng ibu saat dirinya di persunting oleh Irwan.


Irwan menyekal tangan Mita, saat istrinya itu tengah sibuk membenahi kopernya. "Mau kemana kamu HAH!" pekik Irwan, yang menatap murka sang istri.


"Lepasin Mas!! aku mau pergi, ceraikan saja aku, aku ngga mau terjerat sama pesugihan keluargamu!!" teriaknya, yang berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.


Irwan tersenyum sinis."Kamu pikir bisa lepas semudah itu, pikir! Yang ada kamu langsung mati kalo kamu berani keluar dari rumah ini!"


Mita terkejut, dia yang memang kondisi tubuhnya sedang tidak fit lantas ambruk di kaki suaminya.


"Kenapa begini Mas, kenapa kalian tega sekali sama aku, apa salahku, apa aku juga suatu saat akan mengalami apa yang Wulan dan Mbak Mariska alami Mas?" tanya Mita bertubi-tubi.


Irwan tak menjawab, sebab memang itu tujuan dia menikah dengan gadis malang itu.


"Kenapa diam Mas? JAWAB MAS!!!" jeritnya histeris.


Dan lagi-lagi Bu Sumarni muncul, dimana ada masalah dia akan hadir, dan semua masalah akan selesai olehnya, teknisnya begitu. Namun kenyataannya justru malah menimbulkan masalah baru yang akan lebih serius.


Di tengah perbincangan Mita, dia segera mendekati istri majikanya itu yang sedang duduk di lantai, dengan kondisi tangannya masih di cengkram oleh suaminya sendiri.


Bu Sumarni mendekat, dia berjongkok di dekat Mita, lalu dia menjambak rambut Mita, dan menyeretnya hingga Mita menjerit kesakitan, dan meminta tolong kepada suaminya.


Namun Irwan hanya bisa bergeming, dia lantas melepaskan cengkraman tangannya, dan pergi berlalu meninggalkan Mita yang berusaha melawan jambakan tangan Bu Sumarni.


Mita menjerit memanggil suaminya itu namun sang suami tak menoleh kepadanya, hati Mita terasa sakit yang teramat sangat di perlakukan seperti itu oleh suaminya.

__ADS_1


Dirinya yang sekarang tau apa tujuan keluarga majikannya dulu meminangnya, ternyata berniat menumbalkan dirinya juga suatu saat. Sungguh Mita merasa menyesal, jika waktu bisa di putar kembali, dia pasti akan menolak pinangan tersebut.


Dia tak pernah menyangka, keserakahannya akan membuatnya terjerat seperti sekarang ini.


Setelah beberapa langkah Bu Sumarni melepaskan rambut mita dari genggamannya, beralih mencengkram dagu dengan tatapan tajam.


"Berhenti menangis Nyonya, bangun dan ikut saya, jangan melawan," ujar Bu Sumarni dengan nada halus yang sangat mengancam.


Mita lantas mengangguk, sebab dia melihat jika tatapan mata Bu sumarni sangat mengerikan.


Bu Sumarni lantas membantunya bangun, dan menggandeng kasar tangan Mita menuju kamarnya.


Mita yang baru pertama kali memasuki kamar Bu Sumarni, langsung merasa merinding, sebab bau di kamar itu tak jauh berbeda dengan tempat Tuan yang dia datangi kemarin.


Bu Sumarni melepaskan cekalan tangannya, dan dia mengambil sebuah kendi kecil berisi air. Lalu dia menarik kursi dan memaksa Mita untuk duduk disana.


Tubuh Mita sudah bergetar hebat, saat ia duduk, tak lama berselang sebuah tangan hitam dengan kuku-kuku panjang mencengkram bahunya. Dan hembusan nafas hangat dia rasakan, di bawah telinganya kiri dan kanan bergantian dengan perlahan. Mita ingin menjerit namun tercekat di tenggorokan.


Bu Sumarni yang berdiri di depannya lantas meletakan kendi itu di atas pangkuan Mita.


Lalu dia membaca mantra dan mengusap permukaan kendi itu seperti pola peredaran bulan pada malam gelap menuju terangnya mentari terbit. Dengan ajaib Air dalam kendi yang terlihat riaknya saja karena gelap kini perlahan terang ... barulah nampak sebuah penampakan di rumah kedua orang tua Mita.


Mita gemetar melihat orang tuanya tengah duduk di ruang tamu, mereka sedang mengagumi uang dan perhiasan yang tak di ketahui Mita, jika Bu Sumarni mengirimkan itu untuk orang tuanya.


Yang membuat itu mengerikan adalah, ada mahluk mengerikan seperti sosok abdi yang Mita lihat di istana sang Tuan, tengah berdiri di belakang orang tuanya.


"Kau lihat? Jika kau gegabah, dan memilih pergi dari sini, atau menceritakan hal ini kepada para pekerja di sini, aku dengan senang hati meminta para abdi itu untuk melenyapkan orang tuamu, jadi kau mengerti kan apa yang harus kau lakukan sekarang?" ucap Bu Sumarni dengan senyum menyeringai.


Kendi yang di pegang oleh Mita bergetar, dia amat sangat ketakutan, dia tau sekarang jika Bu Sumarni bukan orang sembarangan, namun dia tak tau siapa sebenarnya sosok Bu Sumarni.


Mita hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bu Sumarni, dia bahkan tak punya pilihan atas ancaman itu.


"Bagus ... sekarang silahkan anda beristirahat, dan jangan membuat keributan lagi, kami akan tetap membuat orang tuamu senang atas kepatuhanmu."


Seperti terhipnotis Mita lantas bangkit berdiri, dan berjalan meninggalkan kamar Bu Sumarni, kembali menuju kamarnya.


Dia berbaring di atas ranjang dan menangis histeris, dia menyesali semua keputusan yang dulu pernah dia ambil, hingga dia harus terjerat dengan persekutuan mertuanya itu.


Meski belum memejamkan mata untuk melalui tidurnya, namun ia sangat berharap dirinya akan segera terbangun, dimana ini semua ternyata hanya mimpi.


Namun dia merasa, itu mustahil ...


"Aww!" Ia mencubit pipinya penasaran.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2