Pesugihan

Pesugihan
Berakhirnya Perjanjian


__ADS_3

Di hari yang sama, di istana sang Tuan, namun ruang yang berbeda, tempat rahasia ....


Wulan berjalan beruntun bersama Ki Brasta yang memimpin perjalanan mereka menuju istana sang Tuan.


Setelah kepergian Kanjeng ibu beserta semua anggota keluarganya, hanya Wulan bersama Ki Brasta dan Sri yang belum mendatangi tempat tersebut.


Ternyata rute yang di lalui oleh mereka berbeda dengan keluarga kanjeng ibu, mereka melewati pintu lain.


Hingga sampailah mereka di sebuah Aula yang di tengah-tengahnya terdapat kolam darah yang biasa di gunakan oleh Bu Sumarni untuk menyembuhkan dirinya.


Ki Brasta berjalan di susul oleh Sri, sedang Wulan hanya diam mematung, menunggu aba-aba dari para kuncen tersebut.


Setelah sampai di samping kanan kiri kolam itu, kolam yang tadinya seperti tenang, lantas dari mulut patung yang menghadap persis di hadapan Wulan, mengeluarkan pancuran darah.


Wulan tak menampakan wajah terkejutnya, dia bersiap menerima apapun yang akan Ki Brasta katakan.


"Nona silahkan buka pakaian anda, dan berendam di kolam darah ini, sebagai ritual akhir anda," pinta Ki Brasta sopan.


Wulan melakukan apa yang di minta oleh Ki Brasta, menanggalkan pakaiannya satu persatu tanpa rasa malu sedikitpun, hingga dia berjalan mendekati kolam berwarna merah pekat itu.


Sama persis dengan Sri, tatapan ki Brasta datar menyaksikan tubuh Wulan yang putih mulus tanpa noda.


Bau anyir bercampur wangi bunga sudah sangat memuakan di penciuman Wulan, namun dia abaikan.


Dia memasukan satu persatu kakinya, dan mulai merendam tubuhnya, hanya kepalanya yang masih berada di atas permukaan air kolam itu, menunggu aba-aba selanjutnya.


Baru beberapa detik tubuhnya terendam di kolam darah itu, rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya.


Wulan memberontak namun seperti terkubur di dalam pasir, usahanya tak membuahkan hasil, kini tubunya seperti di kuliti secara perlahan. Wulan menjerit histeris, tak tau apa yang terjadi dengan tubuhnya di dalam sana, dia hanya merasa seperti di rendam oleh asam.


Batinnya yang pernah menyaksikan film, dimana sang aktor membunuh mangsanya dengan cara merendamnya di larutan asam, seperti itu lah yang di pikirkan Wulan atas rasa sakitnya kini.


Lelah menjerit, siksaan yang harus di hadapi Wulan membuat dirinya lemas, lantas dia pasrah seperti akan menenggelamkan kepalanya, namun Sri menangkapnya lantas menarik kepala Wulan dan meletakannya di pinggir kolam.


Wulan masih sadar, air mata sudah kering, dia hanya diam di tengah rasa sakit yang di deritanya, hingga rasa panas membakar itu secara perlahan menghilang.


"Ini untuk menyembuhkan luka Nona yang di alami saat menghasilkan Batu Sudojiwo, meski terlihat Nona baik-baik saja, namun luka itu masih ada, di dalam tubuh Nona," jelas Ki Brasta.


Wulan tak menggubris sedikit pun perkataan Ki Brasta, dia di bantu Sri bangkit dari kolam, berjalan menuruni kolam darah itu.


Anehnya darah dari kolam itu seperti pasir maghnet yang tak menetes, dia kembali ke kolam itu sebelum tubuh Wulan keluar dari sana.

__ADS_1


Tubuhnya benar-benar kering, tanpa menyisakan air kolam darah satu tetes pun, bahkan bau anyir yang mengganggu penciumannya tadi hilang, tergantikan bau harum yang memuakan.


Sekarang Sri membantu Wulan mengenakan pakaianya kembali, menata sanggul yang sedikit berantakan.


Ki Brasta kembali menggiring Wulan menuju lorong gelap, benar-benar gelap, cahayanya hanya dari lampu minyak yang di bawa oleh Ki Brasta.


Ini adalah ruangan khusus untuk para kuncen dan pengabdi yang manghasilkan Batu Sudojiwo, hanya Kanjeng ibu yang pernah kemari, dan sekarang Wulan yang menggantikannya.


Suhu di lorong itu benar-benar dingin, namun tubuh Wulan bahkan tak menggigil, hingga di akhir perjalanan Ki Brasta meletakan lampu minyak itu di dinding dan melanjutkan perjalanan.


Wulan melihat jika di depan sana suasana sedikit terang, saat sudah melintasi lorong gelap itu, seketika itu juga lampu minyak yang tergantung tadi padam.


Berjalan semakin dekat menuju cahaya di tengah gelapnya suasana, nampaklah kini wajah-wajah keluarganya yang tengah duduk bersimpuh.


Wulan berjalan seperti sudah tau dirinya harus berdiri dimana. Sebuah lingkaran yang di kelilingi bunga menuju tempat terakhir langkahnya.


Ternyata sorot cahaya redup menampakan singgasana sang Tuan yang berada di belakangnya, Wulan berada di tengah antara keluarganya dan sang Tuan.


Suara geraman sang Tuan, mengatakan ritual harus segera di laksanakan.


Ki Brasta lantas mendekati kanjeng ibu dan melepaskan kalung yang sudah tak memiliki batu di bandulnya.


Ki Brasta mengambil nampan itu, dia mengitari Wulan sambil mengucapkan mantra, setelah selesai, Ki Brasta berdiri di hadapan Wulan, meminta Wulan mengenakan kalung simbol perjanjian itu sendiri.


Wulan mengambil kalung itu, Ki Brasta menyingkir dan kembali berdiri berdampingan bersama Sri.


Namun ....


Saat semua pandangan mata tertuju pada Wulan, yang di pikir akan mengenakan kalung tersebut, tenyata Wulan menarik tusuk kondenya dan menancapkan ke tenggorokannya sendiri dengan sekuat tenaga.


Craak!! ....


Darah mengalir dari leher Wulan, raut wajahnya tak sedikitpun menunjukan rasa sakit, karena dia pernah mengalami rasa sakit lebih dari ini dan berkali-kali.


Ki Brasta dan Sri terkesiap, namun dia tetap mematung, sedang sang Tuan menggeram murka.


Keluarga kanjeng ibu Shock, tak menyangka Wulan nekat memilih jalan yang membuat keluarga mereka terancam musnah.


Wulan berjalan terhuyung, menjatuhkan pusaka pengikat janji itu, dia tak perduli, hingga dia jatuh di pangkuan Mariska, tak ada suara yang dapat dia katakan, hanya lelehan air mata dari keduanya, yang seakan berbicara bahwa, mereka berdua saling meminta maaf dan ingin mengakhiri perjanjian laknat itu.


Tuhan aku tau jalan yang aku pilih ini salah ...

__ADS_1


Tetapi aku tak tau jalan lain lagi ...


Setelah berulang kali aku minta, agar Engkau mencabut nyawaku ...


Namun tak pernah Engkau kabulkan ...


Tuhan hanya satu pintaku, selamatkan lah Putra ...


Biarlah aku menjadi penebus dosa keluargaku yang mengingkari-Mu ...


Di tengah kegelapan yang seakan menarik dirinya, Wulan memanjatkan do'a, bukan untuk menyelamatkan dirinya, dia berharap Putra sang keponakan yang tak hadir di ritual mengerikan ini, bisa selamat.


Mariska hanya bisa mengangguk seperti satu hati. Memang lebih baik begini, meski orang-orang akan menghakimi lebih dahulu sebelum Tuhan mengambil keputusan. Kembali ke tanah, berharap agar mereka berpulang bersama kepada-Nya.


Sang Tuan berjalan perlahan menghampiri tubuh Wulan yang sekarat di ambang maut, namun detak jantung masih berdenyut hanya semakin melemah.


Yang lainnya hanya menunduk pasrah, menunggu maut menjemput mereka saat ini.


Kanjeng ibu yang biasanya tegar, nampak gemetar, di selingi isakan, yang memilukan hati, karena kehilangan sang putri dan bersiap menemui ajalnya.


Hanya Mita yang terdengar menjerit histeris, dia memeluk tubuh Irwan dari belakang berusaha menyembunyikan diri, dia benar-benar ketakutan.


Ki Brasta dan Sri diam tanpa ekspresi, mereka hanya menunggu keputusan Tuan mereka.


Hingga sampailah Sang Tuan di hadapan tubuh tak berdaya Wulan, dia mengangkatnya dengan menjambak rambutnya, membuat darah mengucur semakin deras, sebenarnya sang Tuan bisa menyelamatkan Wulan dengan Batu Sudojiwo, namun enggan dia lakukan.


Dia menatap lekat-lekat wajah Wulan sebelum akhirnya.


SREEET!!!


Kepala Wulan menggelinding, Mariska memejamkam mata dan semakin menundukan wajahnya.


Mita histeris dia bangkit berdiri dan berlari dari sana, namun percuma, kemanapun dia berlari pasti berakhir di tempat semula, sebab dia berlari di tengah kegelapan yang dia rasa tak ada penghalang apapun.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2