
Sri mendatangi ruang Ki Brasta, ia mengetuk terlebih dahulu sebab pintu itu tertutup rapat.
Setelah di persilahkan oleh Ki Brasta, Sri baru membuka pintunya. Ki Brasta berjalan menghampiri sambil mengenakan pakaian atasnya.
Sri melirik ranjang di ruangan itu yang tertutupi tirai putih, rupanya Ki Brasta baru saja menyelesaikan hajatnya dengan seseorang di sana.
Pemandangan seperti itu tak asing bagi para penghuni kediaman Ki Brasta.
Setelah Ki Brasta duduk di tempatnya, Sri ikut duduk di hadapannya yang terhalang meja berisi peralatan sajen Ki Brasta.
Sri meletakan wadah yang berisi batu Sudojiwo di meja, lalu menggeser ke arah ki Brasta.
Ki Brasta menatap batu yang masih mengeluarkan sinar walau darah kental nampak pekat menyelimutinya.
Dia lantas meletakan kemenyan dalam wadah yang biasa dia gunakan, sambil membaca mantra, Ki Brasta menuang secara perlahan wadah yang berisi darah dan batu itu ke dalamnya. Asap mengepul semakin pekat, api itu tak padam meski di guyur oleh cairan darah, baranya bahkan mengeluarkan api, aroma anyir yang sangat menjijikan ikut menyeruak di indera penciuman, namun tak mengganggu mereka.
Asap itu hilang perlahan, namun masih menyisakan bara apinya sedikit, tak lama bara itu benar-benar padam dan hilang, menyisakan batu itu yang sinarnya telah meredup.
Batu Sudojiwo sudah terpatri dan siap di gunakan, itulah mengapa batu itu di rendam darah pekat, sebab batu itu mengeluarkan sinar yang bisa membutakan mata manusia yang melihatnya.
Sri lantas mengambil nampan yang sudah di lapisi kain putih dan bertabur bunga di atasnya, Ki Brasta mengambil nampan itu dan meletakan batu Sudojiwo di tengah-tengahnya.
Kini batu itu sudah siap di gunakan oleh Wulan yang akan menghiasi lehernya. Tinggal menunggu rantai kalung yang akan menyanggahnya nanti.
"Kau kembali lah, rawat Wulan, persiapkan semuanya untuk malam nanti, jangan lupa kamar untuk menginap keluarga Megantari," titah Ki Brasta, yang di balas anggukan Sri.
Sri lantas pamit undur diri untuk membersihkan tubuh Wulan setelah kejadian menegangkan yang dia alami.
Sri melepaskan ikatan kaki dan tangan Wulan, lihatlah kuasa yang di dapatkan oleh pemegang batu itu, tubuh Wulan benar-benar kembali kesedia kala, bahkan sekarang kulit di tubuhnya nampak bercahaya.
Sri membersihkan tubuh Wulan membasuhnya secara perlahan, hingga sebelum memakaikan pakaian, dia menutupi tubuh Wulan dengan sehelai kain, agar para penjaga di luar tidak melihat kembali tubuh polosnya.
Sri juga meminta para penjaga yang lain untuk mengembalikan kasur Wulan, setelahnya penjaga yang membopong tubuh Wulan meletakan tubuhnya secara hati-hati.
Tak lama, Wulan membuka matanya, sudah tak ada tatapan sayu dan kosong, Sri yang melihat jika sekarang tatapan Wulan sungguh tak terbaca, aura yang di pancarkan juga nampak berbeda, hampir menyerupai ibunya.
__ADS_1
Wulan memegang kain yang menyelimuti tubuhnya saat dia terbangun dan mendudukan dirinya.
Perlahan dia menatap Sri di sebelahnya, "minum," ucapnya datar.
Sri lantas mengambil air dari teko, Wulan meneguknya dengan rakus, sampai menetes melewati dagunya.
Dia lantas meminta lagi, dan Sri melakukan apa yang dia minta. Setelahnya Wulan berkata ingin membersihkan diri.
Tubuhnya masih mati rasa, seperti kebas saat kesemutan, namun dia tetap memaksakan diri bangkit untuk menghilangkan rasa lengket dan bau anyir yang tercium olehnya.
Sri mengangguk, berlalu untuk mempersiapkan bak berendam untuk Wulan.
Wulan menatap tubuhnya, mulai dari tangan dan dadanya, walau samar dan dengan mata yang berkabut, Wulan mengingat jika lengannya saat itu nampak sangat mengerikan, bahkan dia melihat jika darah mengalir dari pergelangan tangannya yang ia tarik sekuat mungkin untuk melepaskan diri, namun upayanya itu tak membuahkan hasil, hanya luka saja yang di dapatinya.
Namun luka yang ia lihat, hilang tak berbekas, kulitnya kembali seperti sedia kala, hanya menyisakan bau anyir yang sangat mengganggu penciumannya.
Masih mengingat kejadian mengerikan malam kemarin, Sri menghampiri Wulan, memberitahu jika apa yang di mintanya sudah di siapkan.
Wulan bangkit, melilitkan kain itu di dadanya, berjalan pongah di hadan Sri. Sri menyeringai, benar-benar aura berbeda yang dia lihat sekarang.
Setelah mengenakan kebaya, dan menyanggul rambutnya, yang di bantu oleh Sri, aura Wulan benar-benar memancarkan sosok yang berbeda, tatapan mata yang sangat tajam, dan wajah itu sudah tak lagi menampakan senyuman manisnya, benar-benar datar tak ada emosi yang bisa Sri baca.
Sri lantas memberitahu jika keluarganya sudah menunggu di meja makan untuk makan malam mereka, sebelum mereka beranjak ke istana sang Tuan.
Wulan berjalan dengan Sri yang membuntuti di belakang, kanjeng ibu dan bu Sumarni tersenyum menatap penerus mereka.
Kanjeng ibu merasa bangga, pikirannya tak tenang sejak kemarin, namun saat melihat senyum sekilas yang di perlihatkan Wulan padanya membuat dirinya melega.
Berbeda dengan Mariska, dia menatap sendu adik iparnya itu, dia sama sekali tak tersenyum seperti yang lainnya menyapa Wulan, meski ini untuk kali pertama dirinya bertemu dengan Wulan.
Bahkan Wulan terlihat tak menggubris dirinya, dengan tak menatap Mariska secara langsung, Mariska bisa merasakan aura yang berbeda dari Wulan, dia sedih harus kehilangan senyum ceria sang adik ipar yang sangat ia sayangi.
Bahkan Mita menyapa adik iparnya yang baru dia lihat sejak acara ritual mengerikan itu, menyapa hanya dengan senyuman tipis, bersyukur bahwa Wulan bisa melalui ritual itu tanpa harus dirinya menjadi pengganti.
Acara makan berlangsung hening, meski keadaan seperti itu sudah biasa bagi mereka, namun suasana terasa lebih mencekam saat ini.
__ADS_1
Selepas santap malam, mereka di minta untuk berkumpul terlebih dahulu di ruang Ki Brasta.
Semuanya duduk bersimpuh di hadapan meja, yang selalu tercium wangi kemenyan dan asap tipis yang keluar dari tempat pembakaran.
Ki Brasta meminta kanjeng ibu beserta bu Sumarni untuk menuju istana terlebih dahulu, nanti dirinya beserta Wulan dan Sri yang akan menyusul mereka.
Bu Sumarni paham, dia lantas menggiring keluarga pengabdi sang Tuan menuju istana, dengan menuntun mereka dari depan membawa lampu penerangan.
Mita merasa enggan, walau tubuhnya sudah sedikit sehat, namun rasa pusing masih sering menghampirinya, apalagi dirinya harus ikut kembali ke tempat mengerikan itu, sungguh dirinya merasa sangat frustasi.
Di dalam perjalanan menaiki gunung itu, Bu Sumarni nampak gelisah, dia tau ada yang tak beres dengan keadaan di kediaman majikannya, namun dia tak tahu apa yang terjadi, hingga akhirnya mereka sampai di gerbang istana, bu Sumarni meminta salah satu abdi di istana sang Tuan untuk mengantar rombongan kanjeng ibu menuju tempat penobatan.
"Anda kesana terlebih dahulu Kanjeng, saya akan menyusul, ada masalah yang harus saya bereskan," ucapnya tak berniat memberi tahu majikannya itu.
"Apa ada masalah serius Sum?" tanya kanjeng ibu dengan picingan matanya.
"Tak ada yang perlu di khawatirkan, kita akan semakin kuat kanjeng, ini hanya masalah sepele," balas Bu Sumarni menerangkan.
Kanjeng ibu tak banyak bertanya, dia yakin kuncennya itu mampu mengatasi masalahnya, hingga akhirnya dia berlalu dan menuju tempat penobatan sang putri.
Setelah kanjeng ibu dan keluarganya sudah tak nampak, Bu Sumarni lantas memanggil abdinya yang dia perintah untuk menjaga kediaman majikannya.
"Keluarlah!"
Mahluk hitam itu lantas menghampiri Bu Sumarni, dia memberitahu kejadian di kediaman kanjeng ibu yang telah di obrak-abrik oleh Disa dan Wiwit.
Bu Sumarni mengepalkan tinjunya, amarah sudah memuncak hingga ke ubun-ubun, "KURANG AJAR!!" pekiknya, lantas dengan murka, tubuhnya berubah dengan proses yang sangat mengerikan. Bentuknya hampir menyerupai para abdi di istana itu, namun lebih menakutkan.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1