Pesugihan

Pesugihan
Rasa Sakit Dua Sisi, Satu Waktu & Dua Dimensi


__ADS_3

Terus menerus gambaran-gambaran itu masuk lewat kesadarannya yang mulai tumpul, sang Tuan sengaja membuat jiwa Wulan mati dengan merasakan sakit yang teramat sangat, dan kebencian yang harus dia lalui agar batu Sudojiwo tercipta sempurna.


Kilasan beralih pada keadaan kakak iparnya Mariska, dia meringis saat menyaksikan bahwa, kakak iparnya yang tak bersalah itu harus ikut merasakan akibat dari ketamakan keluarganya, hanya karena sang ibu belum rela membuat dirinya menerima tumbal seperti sekarang, jahat sekali, pikir Wulan.


Dia sedih bagaimana dulu ia mengingat keadaan kakak iparnya Mariska, dia harus merasakan sakitnya menjadi bahan sesembahan sang Tuan, yang harusnya di lakukan sang Ibu. Mariska harus meninggalkan sang Putra yang masih kecil, sungguh dia sangat marah terhadap keluarganya, kakak iparnya harus menanggung derita yang harusnya sudah ia pikul sejak lama, ingin sekali dia berlari dan memeluk kakak iparnya, meminta maaf atas semua kebejatan keluarganya.


Lalu gambaran beralih saat sang ibu berbincang dengan Bu Sumarni, dimana sekarang Wulan tau siapa sebenarnya pengasuhnya sejak kecil itu, sebab semenjak sang nenek bersekutu dengan Iblis, Bu Sumarni yang juga merupakan kuncen yang bernaung di bawah asuhan Ki Brasta, di perintah untuk mengikuti dan mengawasi keluarganya.


Mereka mendiskusikan sebuah rencana untuk membantu dirinya dalam ritual itu dimana Bu Sumarni akan menikahkan Irwan dengan perempuan lain untuk menjadi tameng saat ritual itu di laksanakan.


Karena sang ibu tau bagaimana menyakitkannya proses itu, jadi dia berharap sang Tuan mau memaafkan mereka jika Wulan tiba-tiba tak sadarkan diri, dengan menggantikannya dengan Mita untuk di berikan darahnya.


Huh ... bukan kah percuma, jika aku mati dalam ritual ini kalian semua juga pasti mati, lalu apa fungsinya Mita, lagi pula dia bukan orang yang bisa di turunkan perjanjian ini. Dia hanya bahan sesembahan pengganti seperti mbak Mariska bukan?


Dalam kesakitan yang masih mendera bertubi-tubi, Wulan masih bisa memperolok ide keluarganya itu untuk mengakali sang Tuan.


Lalu gambaran paling menyakitkan adalah saat ia tau bahwa ternyata Prima mati akibat guna-guna yang di berikan oleh Bu Sumarni lewat makanan yang dulu ia sajikan, tubuh sakitnya merespon amarah yang sangat membuncah, ingin sekali Wulan membunuh kuncen keluarganya itu.


Wulan merasa jika Bu Sumarni sangat biadap, dengan tega menyingkirkan orang baik seperti Prima. Amarah itu seperti tak bisa dibendung, ternyata penyebab kematian Prima yang sangat hina itu adalah dari dirinya.


Wulan menangis sejadi-jadinya, bukan karena sakit di tubuhnya yang sampai saat ini belum tuannya sudahi, namun karena sakit hatinya yang mengetahui kenyataan tentang kematian kekasih yang sangat ia cintai.


Lalu bagaimana saat dia meninggalkan negara kelahirannya sebagai usaha melupakan kenangan masa lalunya bersama Prima, tetap saja dia sulit mendapatkan teman, di karenakan Bu Sumarni ternyata dalang di balik itu, dimana semua orang menjauhinya.


Sandra ... seseorang yang Wulan pikir adalah teman baiknya setelah Prima, ternyata hanya kaki tangan Bu Sumarni. Tentu saja dia tau sekali keadaannya di sana untuk menginformasikan pada Bu Sumarni segala gerak-geriknya setiap saat.


Dia juga yang membuat Wulan tak memiliki teman, dan halusinasi yang pernah dia rasakan adalah hasil dari rapalan mantra yang di ucapkan Sandra atas perintah Bu Sumarni.

__ADS_1


Namun nasib nahas harus di rasakan oleh Sandra, Wulan yang tak tau kabar terbaru sahabatnya itu terkejut, saat gambaran itu memperlihatkan jika sosok Sandra yang tergantung dengan seutas tali di lehernya. Secara kasat mata memang nampak seperti itu, namun sebenarnya dia di lenyapkan oleh Bu Sumarni, karena dirasa sudah tak berguna lagi.


Saat melihat gambaran itu, perasaannya terpecah antara kasihan dan puas atas binasanya Sandra, sebab bagimana pun ada rasa sakit hati yang Wulan rasakan atas perlakuan Sandra terhadap dirinya.


Dan merasa kasihan sebab, gadis seperti Sandra pun hanya karena sebuah uang rela melakukan segalanya, meski pada akhirnya harus di singkirkan juga. Padahal dia berperan penting dalam melindungi kesucian dirinya di negeri orang.


Dengan keadaan setengah sadar, Wulan membuka matanya, menatap seluruh keluarganya dari balik tirai tipis itu, dengan pandangan berkabut, karena hampir saja kesadarannya hilang.


Wulan memperhatikan bagaimana dia melihat jika sang ibu nampak tenang namun dengan tatapan yang kosong menatap ke arahnya dengan berkaca-kaca, Wulan membalasnya dengan senyuman miring.


Sang Ayah dan kakaknya terlihat hanya memejamkan mata dengan air mata mengalir deras, Wulan menatap mereka dengan kekecewaan, bukankah tanggung jawab melindungi keluarga itu di pundak laki-laki? gumamnya mempertanyakan.


Seolah berbanding terbalik yang dirasa Wulan dengan wibawa mereka saat membelanya di setiap masalah yang menimpa dirinya ... ya tentunya dengan uang.


Namun di sini seperti di pecundangi.


Sedang kedua kakak iparnya masih dalam keadaan tubuh mereka yang bergetar karena tangis dan takut, padahal Mariska pernah melewati itu. Wulan berusaha tersenyum dan mengangguk dengan tenaga yang tersisa saat Mariska menatap dirinya.


Akhirnya dengan dorongan itu, dia mencoba bertahan dengan semua rasa sakit yang dia rasakan, dia memejamkan mata di kegelapan itu, hanya sakit yang Wulan rasakan, sakit badan dan juga sakit hati yang bercampur menjadi sebuah kebencian.


Hingga saat sebuah sinar itu nampak meredup, Wulan berpikir apa dia sekarang sudah mati? namun dia masih mendengar suara geraman Sang Tuan, dan kelegaan suara dari Ki Brasta dan Sri, tubuhnya sudah mati rasa.


Suara sendawa sang tuan terdengar mengema, di hempaskannya Wulan yang nampak lunglai, dan berlalu dengan geraman yang menyisakan tetesan darah di setiap jalur langkahnya menuju kegelapan. Di sambut isak tangis keluarga memecah kesunyian.


Wulan hanya mampu memejamkan matanya, saat sayup-sayup dia merasakan jika sehelai kain menyentuh kulitnya, dan dia merasa jika seseorang tengah mengangkat tubuhnya.


"Ritual sudah berhasil Nona, sekarang tinggal menunggu batu Sudojiwo itu terbentuk, anda perempuan kuat, saya tak tau apa yang membuat anda bertahan dengan rasa sakit yang anda alami, sebab itu membutuhkan kegigihan untuk hidup dan bertahan."

__ADS_1


Perkataan Ki Brasta mungkin merupakan sebuah pujian bagi yang tidak mengetahuinya, namun itu adalah kehinaan bagi Wulan, sebab dia merasa jika dirinya di puji bertahan karena dia mencoba menjadi penerus perjanjian laknat keluarganya itu.


Wulan merasa Ki Brasta membawa tubuhnya menjauh, telinganya berdengung, saat semilir angin Wulan rasakan.


Apa aku di bawa kembali pulang? Apa penyiksaan itu sudah selesai?


Wulan masih bergumam di pikirannya hingga tiba-tiba pandangannya benar-benar menggelap, dia sudah tak sadarkan diri di gendongan Ki Brasta.


Ki Brasta membawa tubuh Wulan kembali ke rumahnya, untuk segera di beri pertolongan medis. Tentu saja perjalanan mereka sekarang lebih mudah karena mendapat bantuan mahluk abdi istana suruhan tuan yang merasa puas dengan sesembahan pemujanya.


Di sana mereka sudah di tunggu oleh seorang ahli medis dari perkampungan di sekitar mereka.


Seorang Mantri, bergerak dengan cekatan memeriksa keadaan Wulan, tanpa banyak bertanya, sebab dia sudah tau apa yang terjadi dengan gadis itu.


Dia juga Mantri yang di percaya oleh Ki Brasta untuk merawat semua para pelaku pesugihan di tempatnya mengabdi.


Jangan tanyakan apa motifnya, pasti tak jauh-jauh dari materi, dan kehormatan semu.


Hanya merawat pasien yang ada, sang Mantri mendapatkan bayaran besar, dimana dia hanya mendapatkan gaji tak seberapa dari tempat ia berdinas, bagaimana itu tak menggiurkan baginya yang hidup di pelosok perkampungan seperti ini.


Dia segera memasangkan selang transfusi darah, dia sudah tau golongan darah Wulan, sebab sejak seminggu kemarin Sri sudah mengambil sempel darah Wulan, agar sang mantri itu sudah bersiap dengan darah yang mereka perlukan.


Sekarang tinggal menunggu batu Sudojiwo itu lahir, dan sempurnalah ritual turunan yang harus di penuhi oleh keluarga kanjeng ibu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2