Pesugihan

Pesugihan
Di Hantui


__ADS_3

Disa dan Tia sudah tertidur, melupakan perempuan yang membuat bulu kuduk mereka merinding.


Walau Tia tak bisa melihatnya, tapi saat Disa mengatakan ada hantu perempuan di kontrakan mereka, dia pun ikut takut, karena sedikit banyak dia pernah mendengar kisah seram dari Erna dulu.


Erna pernah bercerita pada Tia, mengapa kontrakan ini murah karena pernah ada kejadian bunuh diri di bekas bangunan ini.


Ya dulunya kontrakan yang mereka tempati adalah sebuah rumah, lalu tiba-tiba pembantu rumah tangga di rumah ini memilih bunuh diri.


Simpang siur kabar mengatakan, jika sang pembantu bunuh diri akibat hamil di luar nikah, dan kekasihnya tak mau bertanggung jawab.


Ada pula yang mengatakan jika sang pembantu menjadi tumbal pesugihan majikannya.


Pemilik sekarang berbeda dengan yang dulu, dan pemilik rumah ini memutuskan untuk membongkar bangunan rumah, dan memilih membangun rumah kontrakan.


.


.


Disa merasa terganggu tidurnya saat suara kaca seperti di timpuk kerikil berulang-ulang.


Disa melirik jam dinding, dimana sekarang sudah pukul 4 pagi.


Suara itu masih terdengar, Disa yang tak ingin melihat kejadian aneh sendirian, lantas dia memutuskan untuk membangunkan Tia.


"Ya, bangun deh." Disa menggoyang-goyang bahu Tia yang memunggunginya.


Tia pun berbalik menatap Disa sambil melirik jam dinding.


"Kenapa Dis?" ucap Tia dengan suara paraunya.


"Kamu ngga denger? Ada yang nimpukin kaca kita," tukas Disa.


Tia pun bangkit duduk, dan segera mengikat rambutnya, menajamkan indera pendengarannya, mencoba mendengar suara yang di dengar Disa.


"Ngga ada suara apa-apa Dis," ucapnya setelah beberapa saat dia coba mendengar.


"Masa sih, coba tengok yuk Ya," ajaknya.


Tia pun bangkit berdiri, dia berjalan kearah pintu, walau ia sendiri takut, tapi menurutnya jika ia tak melihat mahluk tak kasat mata itu, tak apalah.


Disa memilih berdiri di belakang Tia, pertama Tia membuka horden memastikan ada atau tidak orang di sekitar kontrakan mereka.


Tetangga mereka adalah para pekerja malam, Tia berfikir bisa jadi itu suara mereka yang baru kembali dari tempat kerjanya.


Sepi tak ada siapapun, Tia pun memutuskan membuka pintu, lagi pula ini sudah termasuk pagi, Tia melongok kedepan tak ada siapapun.


Disa yang di belakang, mendadak tengkuknya seperti merinding, benar saja, wanita yang tadi menakutinya ternyata sudah berdiri di sampingnya.


Wajah ya sudah tak semenyeramkan tadi, sekarang lebih mirip manusia hanya saja pucat pasi.


"Hai," sapa sang hantu.


Disa pun memeluk punggung Tia erat, sungguh dia sangat ketakutan di sapa oleh seorang hantu.


Walaupun wajahnya tak menyeramkan, namun tetap saja dia bukan manusia.


Tia yang terkejut karena Disa yang tiba-tiba menangis di punggungnya pun bingung.

__ADS_1


'Apa ada sesuatu di depan hingga Disa ketakutan?'


Dia bersyukur tak bisa melihat mahluk astral seperti itu.


"Dis," ucap Tia sambil berbalik dan memeluk Disa.


Disa pun melirik ke arah sampingnya berharap hantu itu sudah tak ada, namun sepertinya hantu itu memang ingin mengenal Disa, dia masih berdiri disana sambil melambaikan tangan.


Makin histeris saja Disa. "Pergi kamu, aku mohon jangan ganggu aku," pintanya kepada sang Hantu.


Tia semakin bingung dengan ucapan Disa. "Kamu ngomong sama siapa Dis?"


"Itu Ya, hantu perempuan, di samping kita," ucapnya yang sontak membuat Tia berjengit menarik Disa merapat ketembok belakang mereka.


"Serius kamu Dis, ya ampun Mbak tolong jangan ganggu kami," pinta Tia memohon, walau ia tak melihat, tapi mendengar perkataan Disa ia pun ikut memohon agar hantu itu tak mengganggu mereka.


Hantu itu pun tertawa, dimana hanya Disa yang bisa mendengarnya, sungguh tertawaannya sangat mengerikan.


Disa makin menciut saja, makin erat ia memeluk Tia.


"Jangan takut, aku tak bisa melukai kalian, jika kalian menolak terus, maka aku akan terus mengganggu kalian," ancam sang hantu.


"Emang kamu mau apa dari kami?" tanya Disa, dia benar-benar dilema saat ini, kenapa juga dia harus berurusan dengan mahluk-mahluk ghaib ini.


"Namaku Indah, jangan terkejut, ya? Aku pasti akan sering muncul tiba-tiba nantinya ... saya permisi Tuan," ucap sang Hantu, semilir angin menyentuh kulit mereka saat Hantu Indah ikut menghilang.


"Mbak," panggil seseorang mengetuk pintu, dimana orang tersebut melihat Disa dan Tia saling berpelukan dengan pintu kamar yang terbuka.


Disa dan Tia terkesiap mendengar suara lelaki dari arah depan mereka.


"Kalian kenapa?" tanya lelaki yang merupakan tetangga mereka.


"Ngga papa mas, ada kecoa tadi," Jawab Tia, yang tak ingin menakuti tetangganya.


"Oh, masih ada ngga?" Lelaki tersebut berniat ingin membantu kedua gadis itu.


"Ngga ada mas, udah keluar kayaknya," ucap Tia, dengan cengirannya.


"Ya udah, aku balik ya? ngantuk," pamit sang lelaki, yang memilih langsung pergi dari sana.


Tia pun langsung menutup pintu kamarnya, dan berlalu menuju kamar mandi.


Disa kembali duduk di kasurnya, tiba-tiba wangi pandan tercium lagi, dia pun berteriak memanggil Tia.


"Ya, buruan aku takut Ya!" teriaknya.


"Aku ngga akan nyakitin kamu, rupaku ngga menyeramkan kok," ucap Indah sang hantu.


Disa yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hanya berani mengintip lewat celah jarinya.


Disa sudah duduk bergeser hingga merapat ke tembok saat sang hantu malah berjongkok di dekatnya.


"Aku tak akan mengganggu dia, Tuan," ucap Indah kepada Amung, yang berdiri di belakang disa, dia bersiap akan melempar jauh Indah si Hantu.


"Ka— kamu ngomong ama siapa?" tanya Disa takut-takut, karena Indah berucap 'Tuan', yang tak di mengerti oleh Disa.


"Kau tak bisa melihat pelindungmu?" tanya Indah si hantu bingung.

__ADS_1


Disa merasa aneh, siapa yang di maksud pelindung oleh sang hantu, karena Disa merasa sosok yang di katakan oleh sang hantu tak bisa melindunginya.


Dimana dia saat dirinya terancam?


Itu lah yang Disa pikirkan, Disa tak tau jika Amunglah yang selalu menghalau iblis yang akan menyakitinya, Disa memang belum bisa melihatnya, karena secara batin Disa belum menerima keberadaan Amung.


Jadi Disa berpikir jika percuma saja dia memiliki penjaga yang selalu mengikutinya itu.


Disa masih mengintip lewat celah jarinya saat berbicara dengan Hantu Indah, bagaimana pun ini pertama kalinya dia berbicara dengan seorang hantu.


"Kamu mengijinkan aku bicara denganmu, kan?" pinta Indah pada Disa.


Karena Amung mengancam, jika Disa tak ingin melihat sosoknya, gadis hantu itu harus segera menjauh dari Disa.


"Penjagamu gaalak," ucap Indah terkikik yang di balas delikan oleh Amung yang berdiri di sana.


"Penjagamu akan melemparku jika kamu menolak keberadaanku, aku mohon, ini tempat tinggalku," pintanya masih memohon.


Karena hantu Indah memang takut terhadap Amung.


Disa tau, setiap tempat pasti ada penghuninya selain manusia, karena mahluk ghaib pun ikut bersemayam di rumah walau rumah tersebut ramai, hanya memang sosok mereka tak kasat mata jadi tak menjadi masalah.


Namun bagaimana jadinya jika Disa dapat melihat mereka, tentu ia akan merasa tak nyaman.


Disa yang tak tega pada hantu Indah pun hanya mengangguk, toh memang ini rumahnya, dia yang tamu disini, Disa hanya berharap jika dia tak akan melihat hantu Indah lagi.


Ingin sekali Disa pindah dari kontrakan ini, namun dia berpikir bisa saja dia bertemu dengan mahluk lain yang lebih jail dari sosok hantu Indah.


"Kamu kenapa Dis?" tanya Tia saat dia baru keluar dari kamar mandi dan melihat Disa mengintip lewat celah jarinya, dan mengangguk-anggukan kepalanya.


Disa yang melihat jika Hantu Indah sudah pergi dari sana, membuka wajahnya untuk menjawab pertanyaan Tia


"Hantu Indah minta di sini," ucap Disa yang di salah artikan Tia, bahwa hantu yang Disa lihat meminta tinggal di kamar mereka.


"Dis jangan gila, yang bener aja! Yaa biarpun aku ngga liat kan ngeri juga Dis!" rajuknya tak setuju.


"Bukan gitu, dia katanya memang tinggal di bangunan ini, yaa kaya ngenalin diri lah," jawab Disa sekenanya.


"Trus ngapain dia minta ijin?" Tia heran, jika memang hantu itu tinggal di sini kenapa seperti meminta izin pada Disa, pikirnya.


"Katanya dia mau di lempar sama penjagaku," jawab Disa.


"Hah!! Bener kan? ... Kamu bukan punya ilmu kebatinan, malah punya perewangan," ucap Tia tak percaya.


"Entah, aku sendiri belum pernah ngeliat dia, malah mahluk yang lainnya, aku juga bingung."


Disa pun berjalan menuju kamar mandi, dia juga ingin segera mandi, dan menelpon kelurganya di kampung, berharap Sari teman di kampungnya itu sudah kembali dari rumah saudaranya.


Disa bukanya lupa mengabari orang tuanya, Sari sudah memberi tahu dirinya, jika ia akan pergi berkunjung ke rumah sanak saudaranya.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2