
Disa berpikir bahwa Bu Sumarni masih bisa hidup kembali, karena tubuhnya belum hancur terbakar, di tambah lagi serapan ilmunya masih terhubung.
Dengan segala kemungkinan yang berkutat di otaknya. Disa tidak mau mengambil resiko, lantas berlari dengan menyeret tubuh Bu Sumarni yang tanpa kepala, juga agar kekuatan serapannya membantu tubuhnya yang lemah bisa mencapai pintu keluar dan kembali ke raganya.
Kini keberadaannya di belakang Maung Rekso yang mengikuti arah Amung. Dinding-dinding batu istana perlahan roboh, mereka meloncatinya dengan gesit dan menghindari setiap atap pelindung ghaib yang berjatuhan, mungkin sebentar lagi akan hancur dan meledak.
Amung berhasil mengarahkan Maung Rekso yang membawa Wiwit keluar pintu ghaib dengan selamat. Amung menunggu Disa di luar pintu ghaib yang berada di gazebo namun terpental ke luar kubah.
Sementara di akhir perjalanan Disa, sinar di tubuhnya mulai padam. Dengan sekuat tenaga dia berlari dan loncat ke arah pintu ghaib dengan meninggalkan tubuh Bu Sumarni, namun sepertinya dirinya akan terlambat.
Bruuk!!
Tubuh perwujudan Disa yang tinggi besar di terjang Asih, dia tau, sinar di tubuh Disa yang beberapa saat lagi akan padam. Mereka berguling keluar tersungkur di dalam gazebo.
"Amankan semua penghuni! Keluar kubah!!" teriak asih yang akan melesat memasuki raganya. "Kubah akan runtuh! Ki Wiryo tenaganya sudah habis."
Maung Rekso dan Wiwit berlari menuju ruangan dimana raga Wiwit berada. Maung Rekso berusaha menyingkirkan mahluk-mahluk menyeramkan yang masih mengerumuni kamar Fatmah di luar, meski akhirnya tubuhnya juga harus terpental keluar kubah.
Wiwit kembali ke raganya, lalu memandang raga Disa yang tanpa luka, hanya pakaiannya saja yang terlihat banyak bercak darah.
"Issh!" Wiwit merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang terluka, yang sudah terbalut dan terikat. "Makasih Ya, Yan, telah menjaga raga kami."
Tia mengangguk dan memeluk erat Putra yang tertidur di gendongannya, dan Yanti hanya mengulas senyum getirnya.
Wiwit langsung mengarahkan mereka keluar gerbang rumah kanjeng ibu, menyisakan raga Disa dan Fatmah yang terikat. Perjalanan mereka di serang mahluk-mahluk yang tersisa di dalam kubah, namun Wiwit dan Maung Rekso yang kembali mampu menghalaunya.
Fatmah yang kini hanya berdua dengan raga Disa berhasil melepaskan tangannya dari ikatan. Di gapainya pisau yang berada di bawah ranjang, lantas dia berjalan perlahan hendak menusuk Disa, di acungkannya pisau di tangan.
Clebs!! ... clebs! ....
Raga Disa bergerak, sukmanya kembali, matanya terbuka, melihat apa yang terjadi pada tatapan pertamanya langsung bertindak, mencekal tangan Fatmah yang menusukan pisaunya ke arah dada bertubi-tubi. Andai saja Fatmah memiliki indra yang tajam, dia akan terperangah dengan perwujudan Disa yang sekarang.
"Mba, sadar mba!" Disa yang tidak tau kejahatan Fatmah di balik jiwa menolongnya. Dia berpikir bahwa Fatmah depresi, dan membiarkan Fatmah menghujamkan tusukan pisaunya berkali-kali ke tubuh Disa, meski lukanya kembali ke semula namun rasa sakit tetap ada. "Kita pasti selamat, ayo kita keluar."
"Nggak! Nggak!" ucap Fatmah lirih sambil meneteskan air matanya di dada Disa, meski tangannya masih menancapkan pisau yang mulai melambat dan melemah. "Saya pasti mati, saya kaki tangan Bu Sum. Sayalah yang di tugaskan dalam mencari orang-orang dari keluarga yang jauh dengan agama, untuk di pekerjakan di sini."
"Bu Sum sudah mati!!"
"Kontrak ghaibku bukan dengannya, tapi sang Tuan. Mempekerjakan kamu, adalah kesalahan, Dis," tambahnya.
'Jadi kertas yang di sobek Wiwit, buku itu punya kamu, mba?' tanya batin Disa.
Disa sempat naik darah, namun bisa dia kendalikan, karena tau akal licik Bu Sumarni, "Yang sudah berlalu biarin, mba! Yang penting sekarang kita selamatkan diri."
"Ayo nona," ajak Amung yang mengkhawatirkan Disa, sebab kubah akan runtuh, lalu Amung terpental kembali dari kubah.
Duuuuaaaarrr!! ....
Disa yang kaget langsung keluar kamar, ternyata ledakan dari pintu ghaib dalam gazebo, pertanda istana sang Tuan hancur.
"Ayo mba, ikut saya!" teriak Disa yang menatap kubah kanjeng Ibu yang mulai retak, dan mencekal tangan Fatmah. "Jika ada suara memanggil, jangan menoleh."
Namun dalam pendengaran dan pandangan mata Fatmah, malam itu begitu hening dan sepi. Suara anaknya memanggil dari arah gazebo.
"Ibuu."
Fatmah terkesiap teringat anaknya, lalu menoleh dan melepaskan genggaman tangan Disa dan berlari ke arah gazebo.
"Ibuu."
"Anaku," panggil Fatmah yang mengenali suara khas anaknya lalu menangis. "Nak!"
"Ibuu!"
"Mba Fatmah!" teriak Disa.
__ADS_1
Duaaarrt!! ....
Suara ledakan kedua yang lebih keras terjadi dalam gazebo, seiring dengan ledakan itu keluar satu mahluk yang terpental. Yakni mahluk menyeramkan dengan tongkat pencabut nyawa melesat menghampiri Fatmah dan ...
Seet!! ...
"Pengikutku!"
Kepala Fatmah terlepas dari badannya dan menggelinding.
Duuuaaarr!! .... Kubah kanjeng ibu runtuh.
Mahluk-mahluk menyeramkan masuk ke dalam kubah yang hancur, mencari sasaran yang di mantrai sang pengirim santet.
Iblis pencabut nyawa sang Tuan, langsung habis di bantai di serang masal mahluk-mahluk musuh sang Tuan.
.
"Apa yang terjadi dengan Fatmah?" tanya Wiwit pada Tia yang sekarang sudah di luar kubah, di seberang gerbang rumah.
"Dia mengaku kaki tangannya Bu Sumarni," jawab Tia dengan isakan, teringat perkelahiannya dengan Fatmah yang hampir merenggut nyawa mereka semua.
Wiwit mengerti, namun memilih membahasnya nanti, karna dia hendak melihat keadaan Disa saat ini dengan mata batinnya.
Begitupun Asih dan Ki Wiryo ...
"Dissaa!" teriak Wiwit dan Asih yang menyaksikan kondisi temannya dalam batin. Terlihat sangat teraniaya dan bermandikan darah.
Tia dan Yanti menangisi keadaan temannya yang belum pasti.
Wiwit dan Asih bangkit hendak masuk kembali membantu Disa, namun hujan santet dan mahluk-mahluk menyeramkan begitu banyak sehingga membuat mereka kesulitan.
"Tenaga kita habis, usaha untuk masuk pun akan sia-sia," ucap Ki Wiryo dan melepaskan kain pengikat kepalanya pada batas zona kubah yang sudah hancur.
Kain itu langsung terkoyak dan hancur terbakar.
Disa masih berusaha berlari keluar kubah, dengan pengaruh serapan ilmu Bu Sumarni yang masih tersisa, semakin jauh dia berlari semakin berkurang pengaruh ilmu yang di serap, kecuali jika raganya berdampingan.
Dan perwujudan mahluk menyeramkan berangsur berubah ke perwujudan Disa secara perlahan dan dramatis.
Hujaman santet kiriman menembus tubuh Disa, kulitnya melepuh namun kembali ke kondisi semula. Tangannya tertebas lalu putus namun menyatu lagi seperti maghnet. Kakinya tersambar bola api hingga hancur dan kembali utuh.
Air mata Asih dan Wiwit pun mengalir deras menyaksikan Disa dalam batin mereka, yang terhuyung dan merangkak menerima ribuan hujaman yang mendera, dan tebasan mahluk-mahluk menyeramkan. Meski tubuhnya kembali ke kondisi semula tapi ekpresi kesakitan teramat sangat selalu nampak dari seringaian dan erangan yang memilukan.
Booooomm!! ....
Istana sang Tuan akhirnya hancur lebur dengan suara dentuman yang sangat mengelegar.
Satu mahluk menyeramkan berjenis kelamin wanita yang keluar dari gazebo melesat menubruk punggung Disa.
Wiwit dan Asih terkesiap ... 'Bu Sumarni?'
Disaat panjatan do'a di gumamkan, kenapa harus ada sosok mahluk menyeramkan seperti berjenis wanita. Pikiran mereka melayang pada sosok musuh utamanya, yakni Bu Sumarni.
Sosok mahluk itu memeluk erat punggung Disa yang tubuhnya sudah kembali ke wujud semula, hanya kepalanya saja yang masih menyeramkan, sebab penggalan kepala Bu Sumarni masih utuh di tangan Sado.
"Gimana nona?" ucap mahluk itu sambil menyeringai. "Aku mengikutimu."
Disa kaget lalu tersenyum dan meneteskan air mata ... Disa berlari seperti mendapat kekuatan baru dari mahluk di punggungnya.
"Argh." Mahluk itu mengerang kesakitan, akibat serangan membabi buta para mahluk tak kasat mata, begitu beringas tak memikirkan mana kawan mana musuh.
"Sudah lepaskan, kamu gak bakal kuat," ucap Disa sambil menangis.
"Tak mengapa nona, argh!" rintihannya kembali terdengar, dalam menahan serangan santet dan mahluk menyeramkan, sebagai tameng pada tubuh Disa.
__ADS_1
"Sudah waktunya saya kembali," jawabnya enggan.
Disa dan Asih semakin menangis histeris, sepertinya mahluk itu membantu Disa.
Yanti dan Tia pun ikut menangis, menebak kondisi Disa yang sepertinya bakal tidak selamat.
Disa tersungkur di gerbang rumah kanjeng ibu, satu langkah di luar zona kubah.
"Disaa!! ucap mereka bersamaan.
Disa tak sadarkan diri, hanya erangan mahluk yang tak dapat di lihat Tia dan yanti yang masih terdengar kesakitan.
"Gimana keadaan Disa?" tanya Tia.
"Nadinya masih berdenyut," jawab Asih yang menekan nadi di pergelangan tangan Disa. "Mengapa jin wanita ini rela mengorbankan tubuhnya, untuk melindungi Disa?"
"Siapa namamu, wahai jin?" tanya Ki Wiryo.
Mahluk itu menjawab dengan terbata, lalu memudar menjadi kepulan asap yang menghilang.
"Ayo kita bawa Disa ke mobil," perintah Ki Wiryo.
"Mobil? pikir Tia keheranan.
Diangkatnya tubuh Disa oleh ki Wiryo ke dalam mobil besarnya yang terparkir di ujung gang yang sangat sepi.
Pak Wahyu datang untuk bertugas malam, yang dia ingat hari ini dia harus bertugas jaga malam. Sialnya kali ini pikirannya kembali di pengaruhi Ki Wiryo untuk menjaga kerahasiaan, Disa, Tia dan Yanti. Sementara Fatmah dan Putra akan di urus nanti, sebab iblis sudah punya rencara lain pada pengikutnya, pikir Ki Wiryo.
Amung dan Maung Rekso bersiap mengawal perjalanan mereka, Sado mendadak tiba dengan membawa sesuatu yang sudah di bungkus kain ghaib, yakni kain pusaka milik Asih, sehingga tak ada bau atau darah yang menetes.
Mereka berlalu dari lokasi, dengan pikirannya masing-masing. Tentu saja membuat pikiran di benak Tia di penuhi banyak pertanyaan.
Di lontarkannya pertanyaan pertama Tia, "Nama jin tadi siapa, Ki?"
"Namanya Indah."
Tia menagis terisak tak menyangka, menilai sesuatu yang buruk tanpa alasan merupakan perbuatan salah, seperti halnya Indah.
"Namanya Indah, sesuai dengan perbuatannya," ucap Yanti menatap Tia yang menangis. "Kenapa kamu nangis, Ya?"
"Indah?" tanya Tia pada hatinya yang tak memerlukan jawaban, dan masih meneteskan air matanya dalam perjalanan pulang menuju kediaman ki Wiryo.
Mereka mengerti kecuali Yanti, alasan mengapa Tia menangisi Indah. Yanti terus mengelus punggung Putra agar tetap terlelap tidur.
"Lha, mba Asih ngapain bawa gembolan?" tanya Tia kembali mengutarakan rasa penasarannya.
"Helm."
"Helm?" Tia semakin penasaran atas jawaban Asih yang duduk di sampingnya.
"Helm Bu Sum!"
"Wuuaaaaahh!" teriak Tia histeris dan terkulai lemas menemani Disa sebagai rasa solidaritas.
"Ha ha ha ...." Mereka tertawa dalam suasana horor dan mencekam ....
Lagi-lagi kecuali Yanti.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1