Pesugihan

Pesugihan
Turun Gunung


__ADS_3

Mereka semua akhirnya memilih untuk segera mengisi perut agar perjalanan turun gunung nanti lebih kuat, karena hari ini Disa dan Tia harus segera kembali ke kota tempat mereka bekerja.


Lebih tepatnya kembali untuk melakukan apa yang telah di rencanakan, yang pasti bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan atau mungkin nyawa.


Disa ingin pulang ke rumahnya terlebih dahulu, memohon Do'a kepada orang tuanya, walau dia tak akan memberitahu apa tujuannya, Disa berpikir, dia harus meminta maaf kepada keluarga.


Jika nanti dia tak selamat, setidaknya dia sudah berpamitan kepada keluarganya, begitupun rencana Tia saat menemui keluarganya nanti.


Setelahnya Disa berbicara kepada Ki Wiryo dan Wiwit, dengan tekad mereka memutuskan untuk melawan, sebab mereka sudah kehabisan waktu. Firasat mereka mengatakan jika tak lama lagi bu Sumarni juga pasti akan tersadar dan mendahului menyerang mereka.


Sekarang mereka akan turun gunung, Tia sudah menghela napas panjang sebab, dia akan melewati jalur mengerikan yang hampir merenggut nyawanya. Namun, perkiraan Disa dan Tia salah, ternyata tak melewati jalur tersebut, mereka di bimbing Ki Wiryo melalui jalur para pendaki.


Tia menggerutu kesal. "Ya ampun Wit, kenapa kamu kasih rute ke kami ruwet banget padahal bisa lewat jalan ini!"


Wiwit dan Asih sudah tau jika Tia si cerewet pasti akan mengomel dalam perjalanan turun mereka.


"Tia, kami memberi rute itu memiliki tujuan, agar tak ada satupun mahluk yang mengikuti Disa, Bukankah aku sudah bilang, masa depan bisa berubah, dulu aku bilang ke Wiwit, untuk memberi rute itu, jika hanya Disa yang datang tentu mudah, tapi yang terjadi di luar perkiraan ternyata dia bawa mahluk lain, yaitu kamu!" jawab Asih.


"Haahg!" Tia kaget dengan ucapan Asih yang mengatakan dirinya mahluk lain. "Gak bilang demit sekalian?"


Tertawa dalam perasaan was-was mengiringi perjalanan mereka yang kini mulai berbaur dengan para pendaki, merekapun saling menyapa saling bertukar makanan yang masih tersisa. Akrab tanpa sebab, seperti teman karib karena senasib.


Para pendaki yang hendak turun memandang aneh dengan rombongan mereka, karena rata-rata jika turun gunung biasanya para pendaki dalam keadaan nampak kelelahan, perbekalan habis, tenaga menipis. Namun yang nampak justru sebaliknya.


Para pendaki pun mengira bahwa rombongan ki Wiryo dengan empat wanita berjumlah ganjil, sehingga banyak rintangan yang membuat mereka mengurungkan niatnya untuk naik dan kembali turun.


Sebelum sampai di pos penjagaan mereka berpisah dengan para pendaki, mereka mengambil jalan pintas menuju ke arah perkampungan agar terhindar dari pertanyaan para penjaga.


Saat sudah sampai bawah, mereka pun bersiap berpisah ....


"Guru!" Disa memanggil ki Wiryo penuh pengharapan. "Kenapa guru gak ikut kami saja, melawan bu Sum bersama?"


"Apa ki Wiryo takut mati?" tanya Tia.


"Tia!" pekik Asih. "Jaga ucapanmu, sebenarnya ki Wiryo—"


"Cukup Asih," potong ki Wiryo, lalu menatap Disa. "Saya pasti membantu."


Disa tak bertanya lebih jauh, makna di balik kata 'membantu' yang di katakan Ki Wiryo, Disa yakin jika Ki Wiryo pasti akan membantu, entah dengan cara apa. Saat ini prioritas Disa adalah menemui keluarganya.


"Dis, Ya," ucap Wiwit dengan memeluk mereka. "Aku pasti datang."

__ADS_1


Wiwit berjanji akan menyusul besok, mereka akan bertemu di kediaman kanjeng ibu, sebab tubuh manusia mereka bisa menembus kubah itu.


Rencana mereka akan menyerang saat sudah berada di kediamannya, Tia yang di tugaskan untuk mengamankan yang lainnya, entah seperti apa pertempuran yang akan terjadi nanti, yang pasti tugas Tia sama beratnya dengan Disa dan Wiwit.


Ki Wiryo, Asih dan Wiwit pun melepas kepulangan Disa dan Tia dengan perasaan lega. Karena mereka merasa do'a orang tua akan mempermudah jalan.


Disa menangis sambil berlalu, bukan hanya karena berpisah meninggalkan mereka, namun juga karena pertemuan yang akan dia lakukan dengan keluarga tercinta.


"Hati-hati di jalan!"


"Iya," ucap Tia dengan menoleh. "Kalian juga!"


Namun Tia sudah tidak melihat keberadaan mereka, sontak saja membuatnya langsung menggenggam tangan Disa.


"Dis, kita bukan abis melanglang buana di dunia ghaib, kan?" tanya Tia dengan wajah nampak ketakutan.


"Anggap saja begitu, Ya?" ucap Disa menggoda temannya.


"Iiihh."


Disa melamun di sepanjang perjalanan pulang, dia dan Tia berpisah di terminal, sebab kota tempat kelahiran mereka berbeda.


Setelah Disa menaiki kendaraan terakhir yang dia tumpangi, Dia harus berjalan lagi menuju desanya, sebab tempat tinggal Disa tidak di lalui kendaraan umum.


Di benaknya dia mengingat bagimana kehidupannya dulu yang sangat damai, seorang gadis biasa, namun kehidupannya berubah 180 derajat, diamana hal-hal yang dulu dia anggap mitos, ternyata dia sendiri mengalaminya.


Ingin berteriak namun dia malu, dia harus sebisa mungkin menampakan wajah ceria di hadapan keluarganya, dia tak ingin kepulangannya yang mendadak akan membuat keluarganya menaruh curiga.


Disa berhenti dalam jarak 10 meter dari rumahnya, dia melihat jika sang ibu sedang mengangkat jemuran, dan Ayahnya sedang membersihkan cangkul, dia baru kembali dari sawahnya.


Disa menitikan air mata, hatinya berdenyut nyeri "kamu bisa Dis ... demi adik mu," gumam Disa.


Dia langsung menyeka air matanya, dia lantas berlari dan memeluk ibunya yang masih sibuk dengan jemurannya.


"Eh ... eh ... Disa!" ucap sang ibu terkejut, namun bahagia melihat sang putri yang sudah berbulan-bulan meninggalkan rumahnya.


"Bu ..." ucap Disa dengan air mata tertahan.


"Bapak ... Bagas ... ini loh Mbak Disa pulang." Panggil sang ibu semangat.


Ibu Disa lantas menarik anak gadisnya itu masuk kedalam rumah, dia mendudukan Disa di ruang tamu. Disa sangat merindukan kehangatan keluarganya, merindukan suasana rumahnya, dia berharap Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menikmati hidup bersama keluarganya.

__ADS_1


"Disa!"


"Mbak!"


Panggil Ayah dan Adik laki-laki Disa berbarengan, mereka lantas duduk di hadapan Disa dan ibunya.


Ibu Disa masih mengusap rambut anak gadisnya, berdo'a dalam hati bahwa tak terjadi apa-apa atas kepulangan dadakan sang putri.


Disa yang melihat adik laki-lakinya terdapat tanda merah lantas bangkit dan segera memeluk tubuh Bagas.


Tak kuasa menahan tangis dan amarah, Disa menangis tersedu-sedu yang membuat keluarganya nampak heran.


"Bu ... buatkan minum untuk Disa," perintah Ayah Disa.


"Iya Pak, sekalian buat makan malamnya ibu siapkan," ucap sang ibu lantas bangkit menuju dapur menyiapkan makan malam spesial untuk anak gadisnya.


"Nduk mandi dulu sana, sudah sore, Bagas bawa tas Mbak mu ke kamar." Perintah sang Ayah kepada kedua anaknya.


Disa dan Bagas menurut, Disa juga butuh menyegarkan diri, menenangkan batinnya, dia yakin bahwa orang tuanya pasti heran dengan tingkahnya tadi.


Setelah acara makan malam, mereka akhirnya berkumpul kembali di ruang keluarga, berbincang dan menanyakan kabar Disa.


"Maaf ya Pak ... Bu ... Gas, Mbak ngga bawa oleh-oleh, abis Mbak pulang dadaka, besok Mbak harus segera kembali ke kota."


"Huh!" ucap sang ibu lega sembari mengusap dadanya.


"Ibu pikir kamu di pecat atau apa Nduk! abisnya setelah kami dapat kiriman uang dari keluarga majikanmu, kami merasa was-was."


"Uang? siapa yang memberikan Bu?" ucap Disa terkejut.


Sang ibu lalu menjelaskan jika uang itu di berikan oleh seseorang yang mengatasnamakan kelurga majikan anaknya.


Disa mengernyit heran sebab hanya adiknya saja yang memiliki tanda sedang ibu bapaknya tidak.


Dia berpikir jika uang itu pasti di mantrai, namun yang dia heran mengapa hanya sang adik.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2