
Disa masih mengatur napasnya yang belum normal sesaat setelah Tia memberinya minum.
"Ki ... kabut yang ada di sekitar rumah kanjeng ibu untuk apa sebenarnya? mereka kan kuat, lalu untuk apa kubah itu?" tanya Disa penasaran.
"Melindungi mereka dari musuh-musuhnya, kau tau begitulah iblis memanipulasi manusia, majikan kalian hanya di bodohi, mereka di tugaskan juga untuk menghancurkan usaha orang lain hanya untuk melihat apa lawannya akan membalas atau memilih mengalah,"
"Maksudnya Ki?" tanya Tia.
"Kalian tau kenapa Iblis di usir dari surga? ya karena sifat sombongnya, di antara mereka juga tetap ada rasa persaingan, Tuan dari majikan kalian ingin sekali mengadu domba antar manusia, jadi jika ada lawannya melawan, dia akan senang hati menunjukan kekuasaannya."
"Nah kubah itu di buat untuk melindungi majikan kalian dari para lawan yang menyerang balik, oleh sebab itu saya bilang itu semua hanya akal licik mereka untuk menyesatkan manusia."
Mereka yang mendengarkan paham, Tia juga mengingat dulu saat pertama kali bertemu dengan Disa, dan Disa mengatakan jika warung makan langganannya ternyata menganut pesugihan, anehnya mereka juga menghacurkan usaha orang lain, ternyata harus rumit seperti itu, Tia tak habis pikir dengan pikiran dangkal mereka.
"Lalu Ki, apa beda pesugihan dengan penglaris?" tanya Tia.
"Sebenanrnya pesugihan tanpa usaha pun mereka tetap bisa kaya, hanya agar tidak di curigai warga sekitar biasanya mereka berkedok membuka sebuah usaha, pun hanya untuk menghancurkan usaha orang lain."
"Nah kalo penglaris rata-rata mereka pedagang, dan ingin usahanya lancar, namun hati-hati juga, bisa juga itu menyesatkan, jika penglaris meminta kepada para pemuka agama biasanya akan di ajarkan agar keinginan mereka di kabulkan oleh Tuhan, berbeda jika mereka meminta kepada dukun, pasti di suruhnya yang aneh-aneh, segala tulisan di dinding, atau apapun yang tak berkaitan dengan Tuhan."
Mereka bergidik ngeri mendengar penjelasan Ki Wiryo.
"Apa liat-liat? Aku peramal biasa, bukan dukun!" jelas Asih pada Tia yang sedang menelisik padanya.
"Huh! Aku jadi takut kalo mau buka usaha, takut di kerjai kaya gitu," ucap Tia lesu.
Ki Wiryo dan yang lainya tertawa melihat ketakutan Tia. "Kamu kenapa takut kaya gitu, kita punya Tuhan berdo'a pada Tuhan, lagi pula semua yang terjadi atas kehendak Tuhan, entah itu santet atau apapun, iblis tak punya kuasa untuk itu, jika itu terjadi kepada kalian, mungkin Tuhan menguji keimanan kalian, tetapkah kalian pasrah dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya?"
"Nyatanya keadaan kamu sekarang pasti atas kehendak Tuhan, dan kalian di pertemukan, bukan? berpikir positif saja, lakukan semua yang terbaik, dan percaya bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kalian, dengan caranya." Nasehat Ki Wiryo.
"Ngomong-ngomong ada kejadian apa di kediaman majikan kalian, sepertinya kubah pelindung itu melemah?" tanya Ki Wiryo penasaran.
__ADS_1
Disa hanya menceritakan kejadian yang dia ketahui saja, yaitu meninggalnya kepala keluarga kanjeng ibu, dan kepergian nona muda mereka, karena Disa tak tau apa sekarang nona Wulan sudah kembali apa belum.
Ki Wiryo berusaha mengurai kembali antara cerita Wiwit, Asih dan Disa seperti benang kusut tiga warna yang belum ketemu ujung dan pangkalnya.
Setelah semua reda, suasana kembali seperti semula, Disa mulai menata lagi dari awal emosinya yang kini sudah luluh lantah. Dan yang lain kembali melanjutkan aktifitasnya dengan perasaan was-was akan kesiapan Disa dalam menghadapi masalah rumit ini.
Tia menemani Asih mencari ikan untuk lauk makan, setelah mereka selesai memasak nasi dan sayur tentunya.
Tia yang terduduk di batu dengan tombak bambu di tangan, menatap iba dua sahabatnya yaitu Disa dan Wiwit yang sedang terduduk melamun di tepi gubuk. Kakinya menjuntai ke arah sungai di bawahnya, dan mata mereka menatap kosong air terjun.
Ki Wiryo menatap Wiwit dengan anggukan, Wiwit pun berlalu dengan loncat dari pagar ke arah Maung, yang berada di bawah turunan jalan yang sedang bersimpuh dan lagi asik menjilati bulu di tubuhnya.
Yang Disa lihat, Wiwit memeluk dengan menyandarkan pipinya di samping mulut Maung yang sedang memperlihatkan kedua taringnya yang panjang. Wiwit terpejam mengelus bulu halus di dagunya, dan Maung pun berdiri lantas pergi berlalu dengan lambaian tangan Wiwit yang mengisyaratkan tanda perpisahan.
Wrraaaaw!! Maung pun kabur ke arah timur.
Wiwitpun kembali duduk si samping Disa, dengan bulu mata yang terlihat basah.
Asih pun terangkat ke atas dan tak lama tubuhnya terhempas lagi ke sungai, karena Sado melepasnya dengan wajah tak mau menatap, karena tetesan air mata di ujung matanya yang hitam sengaja dia sembunyikan, berharap perpisahan ini tidak akan menjadi beban.
Weerrk!! Sado melesat pergi ke arah barat.
Asih menatap kepergian Sado dengan senyuman yang di paksakan.
"Menakjubkan!" puji Tia yang duduk di batu dengan kedua tangan menopang dagu. "Terbang."
Asih tertawa dengan ucapan Tia yang tak dapat melihat keberadaan Sado, lantas menggandengnya dengan memindahkan beberapa ekor ikan di tangan.
Disa hendak bertanya pada ki Wiryo apa yang terjadi ... karena dia berpikir ada hubungannya dengan dirinya yang membuat penjaga mereka menjauh pergi.
Wiwit berkata, "Mereka pergi--"
__ADS_1
"Sado dan Maung menjauh sementara, agar terhindar dari serapan ilmu cawan anda yang belum stabil, Nona," potong ki Wiryo dengan mempertahankan matanya agar tetap terbuka.
Disa mengangguk dan menyesali, dia merasa bersalah atas segala tindak tanduknya yang belum terkendali.
"Nak Disa, ingat," ucap ki Wiryo yang berada di belakangnya namun tidak terlihat oleh Tia karena terhalang pepohonan. "Tujuan awal anda kesini, atas apa?"
Disa berusaha mengingat kembali dalam lamunannya. "Nyonya Mariska menyuruh saya untuk menjaga anaknya dan segera menghubungi Wiwit."
"Satu-satunya jalan untuk melepaskan semua yang terikat dengan tumbal ilmunya, ya harus melenyapkan Sum."
"Tapi Ki ... gimana caranya, aku malah berpikir, saat kita kembali, jangan-jangan bu Sum akan melenyapkan kami," keluh Disa.
"Sepertinya tidak, ada sesuatu terjadi di sana, sebenarnya ini waktu yang tepat untuk kalian membinasakan Sum itu, karena kalian bisa masuk dengan tubuh manusia kalian, mungkin Amung yang akan sedikit kesulitan."
"Membinasakan bagaimana Ki? membunuh bu Sum? itu sangat sulit Ki, dulu saat tubuhku di rasuki Amung, aku melihat jika Amung membunuh bu Sum, namun dia masih bisa bangkit dengan leher patah," ucap Disa bergidik membayangkan kembali kejadian lampau itu.
"Sepertinya ilmu yang di anut Sum itu memiliki kelebihan dirinya tak mudah mati, pantas saja dia mencari tumbal, semakin banyak tumbal, semakin kuat ilmunya,"
"Hemm ... salah satu cara yang bisa kalian lakukan dengan memenggal kepalanya, dan membakarnya kalo memang bisa. Namun saat tubuh Sum itu bersatu kembali, dia pasti akan mengincar kalian seperti Wiwit, agak susah memang menyingkirkan seseorang seperti dia, paling mudah jika Tuannya mengambil kembali kesaktiannya, maka dia akan binasa dengan sendirinya," jelas Ki Wiryo menuntaskan ucapannya,
Disa dan Wiwit agak pesimis, walau dengan kekuatan mereka berdua melawan Bu Sumarni, namun pengalaman dan jam terbang bu Sumarni pasti jauh lebih hebat dari mereka, dimana bu Sumarni sudah terbiasa berkecimpung di dunia yang penuh kekejaman melawan para musuh-musuh pengabdi sang Tuan.
Mampukah Disa dan Wiwit sebagai manusia normal biasa, melakukannya. Memotong kepala ayam saja mereka belum pernah, apa lagi harus memenggal kepala manusia.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1