
Sebenarnya sebelum minta ijin kepada kanjeng Ibu, semalaman Disa memikirkan keinginannya untuk mencari Wiwit, dia tau sangat tak sopan saat keluarga majikannya sedang berduka dia malah meninggalkannya. Namun, Disa merasa hanya sekarang kesempatannya, jadi dia sudah memutuskan untuk meminta izin kepada majikannya esok.
Dia tak membicarakan niatnya kepada siapapun, namun dia terkejut saat melihat Tia, lari terburu-buru menemuinya dan kanjeng ibu, dia sudah menebak niatan Disa sebab dia membuntuti Disa.
Tia juga hanya sebatas tau jika suatu saat Disa akan mencari Wiwit, namun rencana hari itu dia tak memberi tahukan kepada Tia, karena Disa tak mengaharapkan Tia akan ikut serta.
Saat mendapat izin dari kanjeng ibu mereka berdua juga berpamitan kepada teman mereka.
Yanti dan Fatmah tak bisa mencegah, mereka berpikir jika Disa dan tia beruntung sebab mereka bekerja di Toko, hingga saat Toko libur mereka di izinkan untuk pergi kemana saja.
Sedang mereka, tak mungkin meminta izin juga, sebab mereka bekerja di rumah utama.
Saat berada di jalan perumahan Kanjeng ibu, Tia menggerutu, "Kamu tega banget Dis, mau pergi kok ninggalin aku sih!"
Sebelum menjawab Disa menghembuskan kasar nafasnya. "Lagian aku ngga tau Ya, tempat tinggal si Wiwit ini bisa di temuin apa ngga."
"Makanya aku harus ikut."
"Coba kamu bayangin, dia bersembunyi di gunung, aku aja ngga pernah naek gunung," keluh Disa tanpa menanggapi rengekan Tia.
"Boleh ikut ya? Seenggaknya ada yang nemenin kamu, dari pada kamu luntang-lantung sendirian." Tia berusaha menawarkan diri lagi setelah tak ada respon.
"Ya sudah, kita berangkat hari ini, biar nyampe di desa itu pagi-pagi."
Tia mengangguk, mereka menatap lurus kedepan, bertekad menguak misteri keluarga majikan mereka, sebab hanya Bu Sumarni yang sudah mereka ketahui kedoknya, sedangkan majikan mereka masih misteri, walau curiga, namun mereka tak berani mengutarakanya.
Setelah sampai di kontrakan mereka, Disa di sambut hantu Indah yang sedang duduk di tumpukan kasur dan bantal yang mereka lipat.
Disa di sambut tawa cekikikan khas hantu perempuan itu, yang sampai saat ini masih tetap saja membuatnya bergidik ngeri.
"Kalian kemana saja?" tanya Hantu Indah.
Saat Tia akan mendekati kasur, Disa mencekalnya. "Ndah awas, kami mau istirahat."
"Heh! ya ampun, ada si Indah disini Dis?" ucap Tia yang segera memeluk lengan Disa.
__ADS_1
"Hemm ..." gumam Disa malas.
Indah pun segera menyingkir dan memilih duduk di atas almari sambil menggerak-gerakan kakinya yang pucat.
"Ishh ... ngapain di situ? Aku mau buka lemari!" sungut Disa, walau saat membukanya pintu itu bisa menembus kaki Indah, namun kaki Indah akan bergelantungan di depan wajah Disa, saat dirinya mengambil pakaian, dan itu akan sangat mengganggu.
Tia melihat arah pandang Disa yang menatap atas almari mereka.
"Dis ... aku jadi ngebayangin, kalo aku liat hantu Indah duduk di atas lemari, ya ampun serem banget ya pasti, kok aku ngga bisa liat hantu ya Dis? Dulu temen-temenku katanya sering liat penampakan apa iya Dis, liat hantu segampang itu?" tanya Tia penasaran, sebab dia membayangkan hantu Indah adalah sosok hantu wanita yang sering dia liat di televisi.
"Kamu tau ngga, sebenernya saat kamu liat hantu, kamu itu ngerasa apes kan? Nah sama, hantu juga apes kalo sampe ngga sengaja penampakannya terlihat manusia, kata kakekku dulu, mereka juga sakit, tapi ya aku ngga tau, namanya juga cerita, iya kan!"
Indah yang mendengar itu, manggut-manggut setuju, sebab apa yang dikatakan kakek Disa ada benarnya, mahluk seperti mereka biasanya hanya mengganggu melalui suara, atau gerakan yang tak nampak oleh manusia.
"Trus itu kalo yang sengaja nyari-nyari setan buat di tonton gimana Dis?"
"Ya bisa jadi di liatin beneran, kesel mungkin setannya, iya ngga Ndah?" jawab Disa meminta dukungan Indah dan hanya dengan cekikikan dia menjawabnya, yang sudah pasti tak di dengar Tia.
"Dis ... kamu tau ngga, katanya gunung itu menyimpan misterinya sendiri, kok mendadak aku takut ya Dis."
"Kalian mau ke gunung? mau ngapain?" tanya Indah.
"Iya apa?" heran Tia, sebab jawaban yang di berikan Disa tak nyambung dengan pertanyaannya.
"Aku jawab si Indah, ishhh ... kalo kamu takut ya ngga usah ikut, kan aku juga ngga ngajak."
Disa sudah siap dengan perbekalan yang akan dia bawa, sedang Tia dia masih saja merebahkan tubuhnya.
"Hah! udah kelar? Tunggulah aku kan mau ikut," pekik Tia, lantas terburu-buru membereskan barang yang akan dia bawa.
"Lagian dari tadi ngomong mulu, ini udah siang Ya, nyampe sana pasti tengah malam."
"Kalian berhati-hati, ya? Tau sendiri, jika hutan gunung tempat bersemanyam mahluk seperti kami, aku ngga bisa ikut, sebab aku pasti di usir dari sana, perjalanan kamu pasti berat sebab kamu membawa—" Indah melirik Amung yang berdiri di belakang Disa.
"Pak Tua?" jawab Disa yang tau jika Indah membicarakan Amung.
__ADS_1
Indah balas mengangguk.
Tia yang terlihat terburu-buru menyiapkan perbekalannya membuat Disa heran.
"Ya! Jangan bawa banyak-banyak, kamu pikir kita mau pulkam bawa pakean segitu banyak, ini naek gunung sanggup kamu bawa tas segede itu?"
"Hah! Trus ... aku harus bawa apa aja?" tanya Tia bingung.
Disa lantas mengambil barang-barang yang akan Tia bawa, dan membantu Tia memilih perlengkapan apa saja yang dia perlukan.
"Aduh." Disa menepuk jidatnya sendiri dan bergegas mencari sesuatu yang baru dia ingat. "Hampiir aja lupa."
"Ada apa Dis?" Tia kaget mendengar dan melihat reaksi Disa yang mendadak itu.
"Ini Ya." Sambil memperlihatkan secarik kertas yang di berikan Wiwit melalui Yani, lalu dia mengambil sebuah pena.
Disa pun melihat kembali rute-rute yang harus dia lewati. Seperti halnya seorang pendaki gunung, Disa menjelaskan pada Tia memperkirakan di rute mana saja dia harus beristirahat ataupun rute cadangan bila terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
Akhirnya kertas usang yang penuh coretan kini menjadi banyak coretan bertambah disana, lebih lengkap dan terarah, membuat Disa merasa bahwa, kesempatan kali ini akan berhasil.
Ini lah cerminan hidup, dimana kita terlahir suci tanpa dosa bagai kertas putih, dan orang tualah yang akan memberi alur ceritanya dengan kasih sayang dan sabar. Semakin bagus alur ceritanya semakin mudah si anak menjalani kisahnya.
Setelah selesai, dengan perlengkapan yang ada dan tekad yang bulat mereka pergi meninggalkan kontrakan menuju terminal untuk pergi ke Desa kaki gunung tempat Wiwit bersembunyi.
"Ya, semoga kali ini kita bisa nemuin Wiwit, ya? Jangan lupa selalu berdo'a, supaya Tuhan melancarkan perjalanan kita."
"Aamiin ..." ucap Tia.
Perjalanan panjang itu mereka lebih memilih untuk istirahat tidur, sebab bagaimana pun ini juga pengalaman pertama mereka menaiki gunung, medan yang sudah pasti asing yang ada di pikiran mereka pasti akan membuat perjalanan itu agak sulit, namun mereka tetap semangat.
Di sinilah perjalanan Disa dan Tia menemukan Wiwit di mulai ....
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....