
Keesokan paginya, Disa makin merasa badannya remuk redam, bahkan kakinya hampir tak bisa di gerakan. Namun dia bingung, kenapa Asih berkata bahwa dirinya kuat dan hari ini pembuktiannya.
"Ya, saat bangun badanku sakit semua," keluh Disa.
Tia lantas bangun dan merenggangkan semua otot tangan dan kakinya, semua tubuh Tia juga terasa kaku. Namun dia masih bisa segera bangkit dari tempat tidur.
"Sama lah Dis, sini aku bantu," ajak Tia, dia lantas bangkit dan membantu Disa berdiri, dia memapah Disa keluar kamar.
Hawa pegunungan yang sejuk membuat pernapasan mereka terasa ringan. Sinar matahari mulai masuk dari celah dedaunan dan kabut, menerpa riak air yang memantulkan cahayanya seperti kilauan mutiara.
"Kenapa? sakit semua?" seloroh Asih yang sedang menumbuk sesuatu.
"Iya nih Bu ..." jawab Tia.
"Bu ... bu ... panggil Asih aja, kalo ngga Mbak aja. Kaya tua banget aku di panggil Ibu," tolak Asih, yang masih menumbuk dedaunan.
"Lagi ngapain sih Mbak?" tanya Tia, sembari membantu Disa duduk di hadapan Asih.
"Bikin ramuan buat kalian biar cepet pulih."
"Wiwit kemana Mbak?" tanya Disa, sambil celingak-celinguk, mencari keberadaan seseorang yang memang menjadi tujuannya.
"Dia lagi mengambil singkong yang kita tanam di belakang buat sarapan, beras abis, ga papa kan?"
Disa dan Tia merasa tak enak hati sebab mempersulit kehidupan Asih dan Wiwit.
Asih tertawa mendengar pikiran mereka. "Biasa aja, ngga usah ngerasa ngga enak, kami ngga sesusah itu, cuma emang persedian lagi abis, tenang aja, guru kami lagi turun gunung mengambil bahan pokok buat persedian di sini."
Disa dan Tia bernapas lega mendengar penjelasan itu. Setelah membantu menyelesaikan pekerjaan Asih, mereka memilih berjalan-jalan sekitar air terjun untuk menikmati suasana alam yang sudah tidak mereka dapati selama tinggal di kota, dan sekedar melihat ikan yang terlihat jelas berbagai corak warnanya.
Beberapa saat kemudian, Asih menghampiri mereka yang terduduk di atas tumpukan bebatuan pipih, dengan membawa dua gelas bambu, dimana didalamnya terdapat air ramu seperti jamu.
"Makasih mba," Disa meraih gelas bambu yang berada di nampan yang di bawa asih.
"Pake di anterin segala," ucap Tia.
"Ya udah, saya simpan lagi di__"
"Eit becanda, sensitif banget, entar cantiknya luntur loh," potong Tia, lantas menenggak abis minuman pait itu dan menyisakan bulir ampas halusnya saja. "Makasiih."
Asih menaruh nampan dan dua gelas bambu kosong di atas batu besar, dan duduk menemani mereka yang sedang menikmati lukisan dan suara melodi nyanyian alam.
__ADS_1
"Bisakah kalian berlari menapakan kaki di air tanpa tenggelam?" tanya Asih mentap aliran tenang yang menenangkan.
Tia dan Disa menggeleng, namun mereka antusias karena sepertinya akan ada pertunjukan kesaktian lagi.
"Kalo batu?"
"Kaki aja gak bisa apalagi batu," tukas tia sambil cemberut atas pertanyaan lanjutan yang dia kira akan melihat pertunjukan.
Disa berdiri menggengam batu pipih dan melemparnya ke arah air tenang paling dalam. Dan batu itu melesat memantul di atasnya beberapa kali loncatan bagai se'ekor kijang sedang berlari.
"Tia ... dalam hidup jangan terpaku pada kemampuan, tapi berusahalah. Sesuatu yang kau ragukan jika Tuhan berkehendak pasti bisa membantumu."
Tia mengangguk-angguk sambil melirik ke atas dengan telunjuk di sudut bibirnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Disa mengira yang mendekat tak sendiri, karena dia mendengar banyak langkah kaki, salah satunya seperti langkah berat dan besar. Wiwit rupanya yang membawa beberapa singkong yang sudah di ikat.
"Kita ke gubuk, Ki Wiryo dibelakang membawa stok perbekalan," ajak Wiwit.
Mereka bangkit dan berbalik menghadap Wiwit yang keluar dari rumpun bambu, di ikuti Ki Wiryo yang terlihat berumur namun perawakan dan penampilannya masih gagah perkasa seperti seorang punggawa jaman kerajaan dulu.
Dengan stok perbekalan yang di bawa segitu banyaknya, langkahnya seperti ringan tanpa beban, dengan karung beras di pundak, berbagai lauk pauk dalam keranjang rotan yang di gendong di atas punggung, dan beraneka buah di kedua genggaman.
Tapi Disa terperanjat berlari tunggang langgang ke arah gubuk, dia terkejut melihat mahluk belang yang dia liat muncul di belakang Wiwit di samping ki Wiryo, hewan besar putih berkaki empat melenggang meperlihatkan taringnya yang tajam dan mengaum padanya. Dan yang membuatnya berlari, karena sosok yang dia anggap macan kenapa bisa sebesar gajah afrika.
"Disa!" teriak Tia yang heran melihat sahabatnya yang berlari seketika.
Tia memikirkan banyak hal, tentang mahluk penjaga, hantu indah, dan membayangkan mahluk-mahluk yang tak dapat dia lihat, dan wujud ki Wiryo sebenarnya menyeramkan pikir Tia menilai Disa yang kini berlari, sontak diapun berlari mengikuti.
"Dis, jangan tinggalin aku lagi dong!" Tia berteriak dan berlari setelah menatap Asih sesaat. "Mba Asih bohong!!"
Asih dan Wiwit pun tertawa, melihat tingkah Tia yang menurut mereka cerewet. Namun membuat mereka juga ingat bahwa, selama ini hampir melupakan apa itu tersenyum dan tertawa.
Mereka segera mengikuti dengan tersenyum.
Disa yang sudah sampai terlebih dahulu, disambut ucapan ki Wiryo yang sedang bersila dan beberapa karung beras dan lauk pauk serta buah di sampingnya.
"Selamat datang Nona Cawan ... Tuan Amung."
Disa menghentikan langkahnya karena terkesima, masih berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah untuk membalas sapaan Ki Wiryo.
Namun mendapat anggukan dari amung yang Disa lihat seperti mewakilinya.
__ADS_1
Disa berpikir yang di hadapannya adalah Ki Wiryo yang tadi berjalan di belakang Wiwit yakni guru yang semalam di ceritakan, dan entah mengapa bisa mendahuluinya tanpa tanda dan isyarat. Disa melihat jika kehidupan Wiwit dan Asih di lereng gunung ini tak sesusah yang di pikirkannya.
"Guru," Disa spontan berucap itu, lalu bersimpuh menyalami sosok pria tua yang masih terdengar tegas ucapannya dengan aura cahaya di wajahnya.
"Panggil Ki Wiryo saja," tolaknya lalu berucap, "Nona ... cawan anda sepertinya sudah terbuka, dan terlihat bekas digunakan."
Ki Wiryo menatap Amung, Disa pun mengikuti menatap penjaganya.
"Disaa!" Tia berlari menghampiri tentunya dengan napas dan peluh melebihi Disa.
Suara Tia menghentikan ucapan Ki Wiryo seketika, membuat Disa mendesis, karena dirinya tengah serius memperhatikan penjelasan Ki Wiryo.
Ekpresi Tia tidak jauh berbeda dengan Disa. Namun reaksinya yang terlihat berlebihan.
Tia menatap Ki Wiryo dengan menyisir pagar bambu dan mengendap-endap mendekati Disa, dan kini dia bersimpuh bersembunyi di belakangnya dengan sorot mata yang mengintip.
"Nona Cawan ... Wiwit sering menceritakan sosok misteri dewi penolongnya yang membawa cawan. Dan sering hadir di bayangan indranya di dimensi lain," ucap Ki Wiryo yang kini terhenti. Dia risih melihat gerak-gerik Tia. "Nona ... kalau mau ikut mendengarkan, sini maju disampingnya."
Disa menyikutnya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Tia dari bajunya.
"Sini Ya! Jangan bikin malu, gak sopan, tau!" bisik Disa pada sahabatnya.
Tia pun maju bersiap mendengarkan. Namun Disa mulai pesimis akan kehadiran Tia yang di anggap nanti bakal merusak suasana, meski kadang pertanyaan nyelenehnya melahirkan suatu jawaban yang membuat pendengarnya bertambah ilmu, dan merasa berterima kasih atas pertanyaannya.
Wiwit dan Asih pun tiba dengan raut wajah berseri. Namun itu tidak bertahan lama ketika Wiwit mendekat dan bersimpuh merapatkan jaraknya dengan Disa dan Tia yang sedang berada di hadapan gurunya.
Sang Guru pun membuka pembicaraan untuk mengungkap misteri yang Disa dan Wiwit ingin mengetahuinya.
Disa pun menatap Wiwit dan menggenggam tangannya di pangkuan bersiap menerima misteri itu, begitupun sebaliknya. Wiwit menatap Disa dengan penuh pengharapan, bahwa misteri dewi penolong bagi dirinya dan banyak orang itu adalah gadis yang berada di hadapannya.
Wrraauw!! ....
Mahluk penjaga berwujud se'ekor macan putih yang kini sedang di usap Amung pun mengaum sebagai tanda dukungan pada majikannya ... Wiwit.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1