Pesugihan

Pesugihan
Pertarungan


__ADS_3

Bukan Disa yang terbangun menghadap Bu Sum, sukmanya sendiri malah sedang berkeliaran, karena lagi-lagi tubuhnya di kuasai Amung.


Saat Disa memejamkan mata. Terdengar suara ringkikan kuda, dan Disa terbangun. Namun itu bukan Disa melainkan Amung, dia tau jika Bu Sum memanggilnya.


Dia berjalan ke halaman belakang, di sana Bu Sum sudah berdiri menunggunya, dengan wujud aslinya.


Setengah tubuhnya berbentuk kuda dari pinggang hingga ke dua kakinya, bahkan dia memiliki ekor, mulutnya bermoncong seperti anjing, dia terus mengeluarkan liurnya.


Jika manusia yang melihatnya tentu mereka sudah sangat ketakutan setengah mati, melihat mahluk seperti ini.


Aneh memang, dia rela menukar jiwanya untuk jadi pengikut mahluk astral seperti Amung dan Tuan mereka.


Bahkan mahluk seperti Amung dan Tuan mereka derajatnya di bawah manusia karena Mereka adalah mahluk gaib. Dia (Bu Sumarni) yang manusia derajatnya di atas dirinya bahkan rela turun derajat hanya untuk kenikmatan sesat itu.


Wujud manusia normal, harus berganti mahluk mengerikan untuk harga yang ia bayar karena suatu ilmu yang ia miliki.


Dia memang terlihat seperti manusia normal, jika hanya di lihat oleh mata manusia, lain halnya untuk mahluk seperti Amung, atau seseorang yang memang memiliki ilmu kebatinan seperti Disa atau Kanjeng Ibu.


"Ada apa kau memanggilku?" tanyanya, Amung tak akan terkecoh lagi dengan akal licik wanita di hadapannya ini.


Dia tak bisa muncul di sini dengan wujud aslinya, dia memerlukan tubuh Disa sebagai penghubung dirinya untuk berkomunikasi.


Saat wanita licik di hadapannya ini akan menandai Disa, ia menggunakan seluruh kekuatannya agar bisa menembus benteng rumah ini.


Sekarang pun dia seperti berada di sisi medan magnet, dimana keberadaannya seperti di paksa untuk menjauh.


Mau tak mau Amung harus memasuki raga Disa, untuk bisa menghadapi Bu Sum.


Tapi dia tak akan meninggalkan sukma Disa melanglang buana ke alam lain.


Jadi Amung memberi pengikat rantai gaib antara Disa dan raganya. Untuk berjaga-jaga jika Disa akan pergi terlalu jauh maka Amung dapat segera menariknya.


"Apa kau sengaja menurunkan ilmu-mu pada turunanmu? Agar Disa dapat mencium ilmuku dan tau siapa aku?" ucapnya marah. Air liur tak henti-hentinya keluar dari mulutnya, bahkan kedua taringnya pun terlihat.


"Kau yang membuat ilmu itu bangkit dari dalam dirinya. Sekarang kau menyalahkan orang lain," sinis Amung.


"KAU!" tunjuknya dan ia mengeluarkan cahaya api dari tangannya untuk menyerang Amung.


Namun amung menahan serangan Bu Sum dengan membalikan kembali serangan itu ke arahnya, dan Bu Sum terpental ke belakang.


Tentu saja dia masih manusia, sehingga ia masih mengeluarkan darah dari dalam tubuhnya.


Bu Sum terbatuk-batuk liurnya berwarna merah, dia menyekanya dan segera bangkit, ia akan menyerang kembali Amung.


Bu Sum tau dia memang tak bisa melukai Amung, tapi saat ini Amung berada dalam raga Disa, bagaimanapun tubuh Disa dapat terluka oleh kekuatannya, dan itulah kelemahan Amung saat ini.


Namun saat ada suara terkesiap dari belakang Amung, Bu Sum tau jika sukma Disa ternyata ada di belakangnya.

__ADS_1


Disa bisa melihat wujud Bu Sum, tapi dia tak melihat jika tubuhnya sendiri di kuasai oleh Amung, karena di mata Disa Amung tetap berwujud seorang lelaki.


Bu Sum menyeringai. Dia akan melukai raga Disa atau sukmanya. Pilihan yang sulit bagi Amung karena dia memiliki raga, dan Disa adalah pemilik raganya. Sungguh sebuah keuntungan jika ia bisa melukai sedikit saja Disa entah raga ataupun sukmanya.


Amung dilema, dia tak ingin beradu fisik dengan Bu Sum, karena bagaimana pun tubuh Disa dapat terluka, tapi jika Bu Sum melukai sukma Disa maka kemungkinan Disa akan koma, hidup seperti mati.


Saat Bu Sum melesat untuk menyerangnya Amung memilih untuk melempar sukma Disa ke angkasa, sementara dirinya bergelut dengan Bu Sum, Amung berusaha menghindar dari taring Bu Sum yang berusaha merobek kulitnya, kulit tubuh Disa.


Mereka berguling di rerumputan di mana Amung berhasil menaiki tubuh Bu Sum dan memelintir kepalanya. Bu Sum menggelepar.


Tapi Amung tau wanita laknat itu masih hidup, Amung pun segera kembali ke kamar Disa agar sukma Disa dapat kembali ke raganya.


Dan tak lama Disa bangung dengan keringat mengucur deras dari dahinya, dia mungkin berfikir jika ia bermimpi buruk.


...****************...


Yanti membalur telapak kaki Disa dengan minyak gosok itu, dan memijat-mijat kaki Disa.


Kaki Disa memang sangat dingin. Mimpi seperti apa yang temannya itu alami hingga tubuhnya dingin seperti ini.


"Mimpi apa, sih? Ampe badan kamu dingin gini? Noh telapak kaki kamu aja pucet banget kaya ngga ada darahnya," ucap Yanti.


"Ngga tau, lupa aku," jawab Disa enggan, karena dia tak mau menakut-nakuti Yanti jika dia bermimpi Bu Sum berwujud aneh.


"Ya udah, ngga usah di inget-inget. Sekarang buka baju kamu biar aku balurin. Kayaknya bener, kamu masuk angin juga," pinta Yanti.


Disa pun menurut dia mengambil selimut saat akan membuka baju tidurnya, walaupun sesama wanita, tetap saja dia merasa malu memperlihatkan tubuh bagian depannya.


Yanti menelan salivanya kasar. "Dis— pundak kamu kenapa?" tanyanya.


Disa pun melihat bahunya. Betapa terkejutnya dia melihat memar itu, pantas saja bahunya terasa sakit dan ngilu.


Hal aneh apa lagi yang dia alami, memar di pergelangan tangannya belum hilang, sekarang memar di bahunya.


Disa mengingat saat di alam bawah sadarnya, jika lelaki yang melemparnya itu di cengkram erat oleh mahluk yang menyerupai Bu Sum di bagian bahunya, dan lelaki itu seperti memelintir kepala Bu Sum. Dia tak tau apa Bu Sum mati atau tidak di mimpinya itu.


Itu mimpi atau kenyataan? Disa berpikir ia bisa-bisa gila seperti ini terus, karena ia tak bisa membedakan alam nyata dan alam bawah sadarnya.


Saat Yanti menyentuh bahunya Disa meringis, itu benar-benar sakit.


"Aw! ... sakit Yan," keluhnya.


"Aku ambilin salep, ya? Kali aja ada obat buat memar kamu itu." Yanti pun bergegas kembali mencari obat untuk Disa.


Saat Yanti akan keluar kamar dia bertemu dengan Mbak Fatmah yang akan masuk ke kamarnya, setelah dari kamar mandi.


Dia pun bertanya pada Yanti, karena melihat temannya itu seperti panik.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Yan?" tanya Mbak Fatmah.


"Mbak, di kotak obat ada salep ngga buat memar?" tanya Yanti.


"Ada kayaknya, yuk aku anter," Mbak Fatmah pun berjalan bersama Yanti menuju dapur mencari obat yang Yanti perlukan.


"Emang kamu memar kenapa?" tanya Mbak Fatmah saat menemukan obat yang ia cari.


"Bukan aku, tapi si Disa," jawab Yanti, mereka mengobrol sambil berjalan menuju kembali ke kamar.


"Disa kenapa emang?"


"Ngga tau, Mbak liat aja sendiri"


Mereka pun sampai di kamar, terlihat Disa masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


Mbak Fatmah pun mendekat bermaksud menanyakan keadaan Disa.


"Kamu kenapa Dis?" tanya mbak Fatmah, duduk di ujung tempat tidur


Lagi Disa melihat tanda merah di dahi mbak fatmah seperti milik Yanti. Tanda apa sebenarnya itu? Saat dia bercermin dia tak memiliki tanda itu, entah dengan Mita, dia belum melihatnya.


Disa belum pernah melihat tanda itu di dahi mereka, sejak kembalinya ia dari entah alam gaib, atau khayalannya menurut Disa, sekarang dia melihat tanda itu.


"Ngga papa Mbak, biasalah aku kan gampang memar," jawab Disa, ia enggan membuat teman-temannya panik.


"Ya ampun Yan, kamu sampe bangunin Mbak Fatmah?" tukas Disa.


"Engga, tadi ketemu di luar," jawab Mbak Fatmah, dia pun mengecek bahu Disa.


Sama seperti Yanti, Mbak Fatmah pun terkejut dengan keadaan memar Disa.


"Kok bisa ampe kaya gini Dis?" tanyanya khawatir.


"Ngga papa mbak. Udah tenang aja, dah biasa kok," jawab Disa berbohong.


Yanti pun mengolesi bahu Disa dan membalur punggung Disa dengan minyak gosok.


Setelahnya Disa mengenakan kembali pakaiannya. "Udah malam, yuk tidur," ajaknya.


Mbak Fatmah pun meninggalkan kamar mereka, dan Yanti kembali berbaring di samping Disa dan memejamkan matanya, dia pun sangat mengantuk.


Disa pun sama, dia memilih memejamkan matanya, mengenyampingkan rasa nyeri di bahunya, karena tubuhnya benar-benar lelah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2