Pesugihan

Pesugihan
Menyembuhkan Luka Dalam


__ADS_3

Suasana sisi bumi lereng gunung ....


Sang petang berusaha menahan matahari yang akan pergi bersembunyi. Melampiaskan amarahnya pada awan yang membuatnya menyala bersemburat jingga di tepinya.


Kini dia hanya bisa memandang rona itu terbenam, membuat sinarnya tenggelam berganti cahaya bulan di pekatnya malam.


Sepinya malam itu tak membuat suara gemuruh air terjun terdengar lebih jelas, malah semakin mengisis seperti volume suara yang semakin di kecilkan, dan menghadirkan suara lainnya.


Yakni rincitan serangga dan kicauan burung malam menjadi intro nyanyian alam yang mengawali perbincangan empat wanita di sana, mereka tak kenal dekat mereka bukan saudara tapi seperti ada persamaan perasaan yang mengikat melebihi sekedar kata hubungan darah.


"Bu Asih mana?" tanya Tia pada Wiwit setelah berganti pakaian meninggalkan Disa yang masih di kamar Wiwit, yang kini di pakai mereka berdua.


"Sedang membersihkan diri di sungai, setelah membakar ikan tadi," jawab Wiwit yang sedang membaca kitab yang berwarna kuning dengan penerangan seadanya.


Disa keluar dari kamar dan berjalan ke arah teras kayu dengan pagar bambu di sekelilingnya, tempat santai dimana Wiwit dan Tia sedang bercengkrama disana.


Berdiri dengan mencondongkan badan kedepan dan tangan melipat di dada, yang bertumpu di atas palang bambu penguat atas pagar, dan terdapat satu buah tiang dengan lampu tradisional menggantung disana.


Disa mengedarkan pandangannya ke sekitar sungai dan berhenti pada siluet tubuh seseorang yang tersinari cahaya rembulan dalam temaram malam, meski menggunakan kemben namun, yang nampak oleh Disa seperti tanpa busana.


Siluet yang menampilkan tubuh Asih sebatas pinggang, karena terendam air sungai sebagian, kini tubuhnya mulai bergerak gemulai, tangannya lentur namun kokoh memutar air dihadapannya seperti gerakan gabungan antara olahraga kebugaran dan seni bela diri yang bertujuan untuk melatih keseimbangan tubuh, ruh dan pikiran.


Gerakannya menyerupai aliran air yang tenang di sana, seolah-olah perlahan memasuki kondisi yang sangat rileks layaknya bermeditasi di kebisingan suara air terjun yang semakin tak terdengar.


Asih bergerak semakin mendekat ke arah air terjun, kedalamannya kini sebatas dada, masih dengan gerakan memutar tangannya hingga air itu berputar dan berlubang lalu dia menghilang membenamkan tubuhnya di pusaran itu.


Suara air terjun seketika berhenti tanpa suaranya lagi, Disa melongo dan hendak berbalik untuk bertanya pada Wiwit ...


Suara pelan Asih melesat bagai petir. "Ini bagian dari misteri, alam selalu menunjukan pesonanya pada manusia yang ingin mengenalnya dekat." Sambil berjalan meniti tangga batu dan kemben yang basah menuju ke arah Disa yang termangu.


Disa terkesiap, heran dengan apa yang dia lihat, karena jarak dari Asih terbenam ke tempatnya sekarang yang sedang berjalan sangat jauh sekali. Tidak mungkin secepat itu, jika iya, sehebat itukah bu Asih? pikirnya.


"Menjelang malam, air terjun itu perlahan mengecil, dari curahan air deras menjadi tetesan saja," Asih menambahkan.


Tia terusik mendengar ucapan Asih samar, jiwa cerewet dan keingin tahuannya sontak berontak, lantas bangkit menghampiri Disa yang menatap Asih yang sedang menanjak dan mendekat.


Disa masih terdiam, memilih menyimpan tenaganya yang akan terbuang percuma jika banyak berucap. Karena Jawaban itu satu persatu dia dapatkan tanpa mengutarakan tanya.


Asih sampai di ujung tangga batu menuju teras kayu, dia berdiri di bawah sinar lampu tradisional itu, dengan rambut tanpa ikat kepala terurai panjang meneteskan air yang sedang dia plintir untuk memerasnya. Kini nampak sosok Asih yang berbeda, tanpa eyeshadow hitam berlebih juga aksesoris ciri khas peramal yang biasa dia kenakan.

__ADS_1


"Bu Asih?" Tia menatap dengan tatapan tertegun, Dia merasa andai saja dia lelaki pasti akan langsung jatuh cinta, terbukti saat ini dia seperti grogi, cerewetnya hilang bak gadis yang sedang mencari perhatian.


Tia bergidig berusaha membuyarkan lamunan menyimpangnya itu.


"Ba-bu-ba-bu! Saya sebenernya risih dengernya," tukas Asih menjawab panggilan Tia padanya dan berlalu masuk ke bilik kamar.


"Saya masih seumuran kalian ... yaaa tua beberapa taun lah," tambah Asih di bilik kamar. "Panggil mba atau nama juga gak papa."


Disa dan tia mengangguk.


"Kalian jangan khawatir, ya? kalian pasti akan melewati malam ini dengan tertidur pulas, tempat ini sudah di bentengi."


"Apa kami tidak akan mengalami demam setelah kejadian menyakitkan tadi siang, yang mengakibatkan kami terluka?" tanya Disa.


"Itu tak akan terjadi padamu ... Nona Cawan," ucap Asih dan melirik Tia. "Kecuali si cerewet ini, dia akan menjalani proses penyembuhan beberapa kali lipat lebih lama darimu."


"Apa! Kenapa bisa?" Tia terkejut.


"Fisik kamu tak sekuat Nona Cawan, tapi sepertinya dulu kamu pernah ikut beladiri meski belum tuntas? kalau tidak, tubuhmu juga tak akan bisa bertahan selama itu saat terlilit rantai ghaib."


"Kalo gitu, ajari aku beladiri lagi, ya mba?"


"Yess!" Tia bersemangat.


"Dan kamu gak ada bakat untuk itu."


"Isssshh." Tia menggaruk kepalanya dan menyeringai gemas.


Kini Disa mengalihkan pandangannya, sekarang tertuju pada sosok wanita yang menyimpan misteri itu ... misteri keluarga kanjeng Ibu.


Wiwit yang sedang membaca, menoleh menatap Disa sejenak dan kembali menatap kitab berwarna kuning itu dan berucap, "Jangan sekarang."


Wiwit tak berani bercerita walau sedikit tanpa Gurunya. Dia perlu kepastian tentang Disa yang tidak bisa dia baca lubuk hatinya, sebatas di pikiran saja.


Disa terkesiap dan merendahkan tubuhnya sejajar dengan Wiwit dengan duduk bersimpuh.


Disa bergumam dalam hati, 'Enak ya, punya rekan bisa membaca ...'


"Bukkh!" Wiwit menutup kitab tebal yang di bacanya itu.

__ADS_1


" ... membaca pikiran," batin Disa mengira dengan menyimpan tenaga yang tersisa.


"Owh iya, kenapa mba manggil saya Nona Cawan?" Disa memilih kembali bertanya pada Asih.


"Begini Nona—"


Namun dengan cepat Wiwit memotong ucapan Asih, "Biar nanti Ki Wiryo saja yang menjelaskan, kami tau ... tapi tak cukup ilmu untuk membuat orang tau dan mengerti yang kami ucapkan."


Wiwit takut ketika Disa mengetahui misteri kanjeng Ibu dari dirinya sekarang, serta arti cawan yang sering di ceritakan gurunya Wiryo dan dia tak bisa mengendalikan, justru akan sangat membahayakan. Dan Wiryo lah yang tau cara mengajari untuk mengendalikannya itu.


Orang yang memiliki kodam berupa cawan akan sangat berbahaya bagi orang-orang yang memiliki ilmu, karena dia akan sangat cepat menduplikasi ilmu orang di dekatnya.


"Siapa Ki Wiryo?" tanya Tia. "Nama mahluk penjaga?"


"Hhhh ...." Wiwit mulai mengeluh akan pertanyaan Tia yang tak ada habisnya dan menjengkelkan.


"Guru kami." Asih meletakan ikan bakar itu di depan mereka, tak ada meja dan kursi empat kaki, hanya di lantai kayu yang kini beralaskan tikar.


"Yuk makan, abis ini kalian berdua istirahat saja dulu, besok saja tanya jawabnya, apalagi kamu Disa, tubuh kamu masih terluka," saran Asih menatap tamunya.


"Mmmm!" deheman Wiwit menyetujui saran asih.


Mereka semua memutuskan untuk segera makan malam tanpa bicara, hanya saling menatap saja. Masih banyak yang ingin Disa tanyakan kepada Wiwit, namun kondisi tubuh Disa dan Tia memerlukan istirahat untuk memulihkan tenaga mereka.


Disa sebenarnya ingin segera mengetahui misteri keluarga majikannya, namun saat Asih mengatakan keadaanya, Disa baru merasakan jika tubuhnya benar-benar letih, dan terasa sakit semua.


Setelah menyelesaikan makan malam sederhana itu, Asih memberikan jamu untuk Disa dan Tia, mereka tak menolak, dan menerima minuman itu dengan senang hati.


Tubuh mereka terasa menghangat, lantas Asih mengajak mereka berdua kebilik yang hanya di tutupi secarik kain, di sana terdapat dipan yang terbuat dari bambu dan tikar, tak ada kasur kapuk atau bantal empuk.


Disa tak mengeluh, tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat, bahkan dia sudah tak mendengar apa yang Tia bicarakan sebab penglihatannya mulai mengabur, dia terlelap dan Tia menyusulnya menuju alam mimpi.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2