
Wulan di tuntun mendekati gazebo oleh Sri, langkahnya ragu, wajahnya sendu. Dia lantas masuk ke dalam gazebo, walau hati menjerit ingin bertanya, namun terbungkam karena kepatuhan yang di paksa.
Sedangkan semua keluarganya duduk bersimpuh di depan sana, seperti hendak menyaksikan sebuah pertunjukan yang akan dia perankan. Letaknya jauh dari dirinya, di ruangan gelap ini, Wulan merasakan seluruh bulu kuduknya meremang. Tanpa arahan dia berbaring di sana, menunggu sesuatu terjadi padanya, begitulah pikirannya menerka.
Suasana begitu hening ... namun tak bertahan lama saat suara langkah berat datang dari arah kaki dimana ia berbaring, tak tau mahluk seperti apa yang memiliki langkah besar nan berat seperti itu. Sudut mata Wulan sudah mengeluarkan air mata.
Sementara disisi ranjang dekat dengan kepalanya di luar gazebo, Ki Brasta dan Sri pun duduk bersimpuh sembari mengucapkan kalimat yang sama sekali tak Wulan mengerti.
Wulan memejamkan mata, detak jantungnya tak beraturan, tatkala merasakan gazebo tempatnya berbaring bergetar, menandakan ada seseorang yang baru saja ikut bergabung bersamanya. Wulan masih berusaha mempertahankan matanya yang terpejam, saat merasa hembusan nafas kasar seseorang tengah menerpa kuat di sepanjang kakinya.
Tak lama kain yang menutupi tubuhnya di koyak, sakit yang Wulan rasakan, tubuhnya sekarang tanpa sehelai benang pun, namun lagi-lagi dia tak dapat berteriak meminta tolong. Suaranya terpekik di tenggorokan batas akhir sebuah pengharapan.
Wulan belum siap melihat kenyataan, dia masih memilih memejamkan mata dalam ketakutan meski begitu menyiksa, hingga saat merasakan sekujur tubuhnya seperti di endus-endus oleh mahluk itu, dia hanya menghela napas dalam isakan.
Tiba-tiba mahluk itu menggeram, dengan suara yang menyeramkan, Wulan mau tak mau membuka matanya, sungguh dia terkejut, ngeri yang dia rasakan, bagaimana ada sesosok mahluk besar bertaring, dan berbulu tipis-tipis, ada di atas tubuhnya, air liurnya menetes di perutnya, Wulan ketakutan, mata merah mahluk itu melotot, menatap dirinya.
"Aa' ... euk ... uu' ...." Wulan gagap, mulutnya menganga, bibirnya bergetar, matanya terbelalak.
Tak lama mahluk itu tersenyum, yang Wulan artikan dia menyeringai, karena tak ada perbedaan menurutnya.
Mahluk itu lantas menjilat lehernya dengan lidah panjangnya, tubuh Wulan gemetar, apa dia akan di mangsa oleh mahluk itu, masih dengan gumaman batinnya.
Mahluk itu terus menjilatinya tanpa ada yang terlewati, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, yang sekarang Wulan rasakan tubuhnya basah oleh air liur mahluk itu.
Ya mahluk itu adalah Sang Tuan ...
Sang Tuan kini berusaha mengangkangkan kakinya, untuk menuntaskan birahi iblisnya, tak peduli dengan perlawanan Wulan yang meronta-ronta dan memukul sebisanya. Dengan mencengkram kedua tangan Wulan untuk menguncinya, dia pun menyerang dan menggeram dengan membabi buta.
Wulan akhirnya menjerit saat dia merasakan sesuatu merangsek menerobos organ intinya, mengoyak sesuatu yang selalu dia jaga, benar-benar sakit luar biasa yang di rasakannya.
Setiap mahluk itu mengerang Wulan selalu menjerit histeris, dengan memanggil seluruh keluarganya berharap mereka datang dan membantunya, mahluk itu berada di atasnya melakukan apapun yang dia inginkan, berkali-kali tanpa henti.
Itu belum seberapa, saat tiba-tiba dia merasakan jika bagian dadanya tertancap sesuatu, sakit, perih, Wulan merasa nyawanya seperti akan di cabut malaikat maut.
__ADS_1
Wulan terperanjat ngeri melihat tetesan merah di mulut mahluk itu, ternyata mahluk itu sedang menghisap darahnya, dia merasa sekujur tubuhnya mati rasa, sakitnya tak bisa di jelaskan, jika boleh memilih dia ingin mati saja sekarang.
Ada apa ini?
Siapa mahluk mengerikan ini?
Ayah ... Ibu ... apa yang telah kalian lakukan padaku?
Hiks ... hiks ... bunuh saja aku, rasa ini terlalu menyakitkan ...
Mahluk itu masih menghisap dengan rakusnya, Wulan sudah tak perduli, dia hanya ingin mati saat itu, di antara sadar dan tidak, dirinya melihat sekelebat bayangan masa lalu keluarganya.
Wulan merasakan sakit teramat sangat pada kondisi yang berbeda namun dalam waktu bersamaan, tatkala dia menyaksikan kilasan masa lalu yang di perlihatkan tuan dalam bayangan fikirannya, dan saat itu pula ia mengalami rasa sakit dari sang tuan yang masih menjarah tubuhnya tanpa lelah.
Bayangan itu semakin jelas saat Wulan memejamkan mata. Terlihat Padmasari, sang nenek yang sedang bersimpuh di kaki Ki Brasta.
"Saya mohon Ki, bantu keluarga saya, saya tak sudi jatuh ke dalam lubang kemiskinan," ucap Padmasari dengan air mata yang berderai, dia bahkan sampai sujud meminta pertolongan kepada Ki Brasta.
"Nenek ... ada apa dengan Nenek? Apa yang kau minta dari Ki Brasta Nek?"
"Anda tau Nyonya, melakukan perjanjian seperti ini tak mudah, apa kau merelakan anak gadismu menjalani semua ritual itu?" ucap Ki Brasta dingin.
"Saya siap Ki, apapun akan saya lakukan asal ... jangan sampai kami terhina."
Sungguh egois pikiran manusia seperti Padmasari ini, dirinya memang seseorang dari keluarga yang di segani di kampungnya itu, bahkan sampai kampung sekitar.
Keluarganya memiliki lahan persawahan yang sangat luas, sehingga mempekerjakan orang-orang sekitar, itu yang membuatnya dikenal banyak orang.
Namun karena hasil panennya di tipu oleh sang tengkulak yang membawa kabur semua uang hasil panennya, dia lantas jatuh miskin, harta yang dia simpan harus dia jual untuk membayar para buruh taninya, bahkan dia sudah tak punya modal untuk membeli bibit, terlebih sawah mereka sudah di gadaikan saat akan memulai penanaman.
Padmasari yang tak biasa menerima gunjingan, karena orang-orang di kampungnya tau akan keadaanya dan dia merasa di perolok, padahal hanya perasaannya saja.
Seperti itu lah manusia, saat dia sedang merasa di bawah, saat ada seseorang datang menanyakan kabar dan mungkin akan membantu, dia merasa jika orang itu menghina dirinya yang sudah tak memiliki apa-apa.
__ADS_1
Mungkin cobaan harta bagi orang yang terlahir tak berpunya akan lebih mudah, tidak dengan Padmasari yang terlahir dari kalangan berada, dimana harta selalu menjadi prioritas utama.
Karena hasrat itulah, batinnya menggelap, apapun akan dia lakukan untuk mempertahankan harga dirinya.
Padmasari akhirnya mengajak kanjeng ibu muda mendatangi kediaman Ki Brasta.
"Ibu?" gumam Wulan dalam kesadarannya di tengah ketidak berdayaan dirinya yang kini masih sedang di gagahi sang tuan. Dia melihat sosok muda sang ibu yang terlihat ketakutan saat sang nenek memaksanya datang ke rumah Ki Brasta.
Wulan melihat kilas balik kejadian itu, dimana sang ibu pun melakukan ritual yang sama yang telah di laluinya itu, dan apa yang terjadi padanya pun sama seperti saat ini yang tengah di alaminya.
Sama seperti dirinya saat ini, saat itu pun Ki Brasta berada di sisi ranjangnya bedanya dia meminta sang ibu untuk bertahan, dalam ritual penyatuan itu, dimana akan terlahir sebuah batu yang bernama Sudojiwo, Ki Brasta merapalkan mantra, dan selalu menyemangati ibunya agar kuat, karena jika gagal, semua keluarganya akan mati.
"Megantari putri dari Padmasari, bertahanlah ... ritual hampir usai, selepas ini kekayaan keluargamu akan terpenuhi, bertahan dengan rasa sakit itu, sebab jika gagal, kau akan melihat keluargamu binasa."
Wulan memejamkan mata, air mata mengalir deras dari ujung matanya.
Tubuhnya ... jangan di tanyakan bagaimana sakitnya, tubuh gadis suci harus terenggut paksa oleh mahluk biadap, dan darahnya tersedot seakan sedang menyusui bayi.
Kilasan itu juga memperlihatkan keadaan sang ibu sesudah ritual mengerikan itu, dimana tubuhnya kurus kering, dengan memar di sekujur tubuh.
Wajahnya pucat pasi, seakan tak ada darah dalam nadinya, dan dia melihat sang nenek mengusap lembut rambut sang ibu. "Terima kasih Nak, setelah ini tak akan ada lagi kehinaan yang akan kita terima."
Wulan ingin sekali menghajar neneknya itu, setega itu beliau melakukan perjanjian dengan iblis hanya demi sebuah harta yang bahkan menurutnya tak bisa ia rasakan manfaatnya.
Ya, Wulan sendiri tau bagaimana rasanya, dia memiliki orang tua yang bergelimang harta, namun tak memiliki teman. Dia tercukupi segala kebutuhannya, namun tak ada kebahagian di hidupnya, dan itu hanya ilusi yang di ciptakan dari sebuah pikiran akan harta.
Dia tak menyangka jika selama ini keluarganya menganut pesugihan untuk mencari kekayaan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....