
Menjelang tidur Disa masih memikirkan kilas peristiwa yang Amung perlihatkan, ada satu hal yang Disa tangkap, sepertinya Amung tak mengikutinya secara terus- menerus, sebab Disa perhatikan Amung akan muncul saat Disa dalam kesulitan.
Disa berpikir apa dirinya memiliki ilmu khusus untuk memanggil Amung, lalu kenapa dirinya tak bisa berbicara dengan Amung seperti yang Disa lakukan dengan Hantu Indah.
Disa bahkan belum mengetahui nama Amung, dia masih memanggilnya lelaki tua.
Apa mahluk seperti mereka itu memiliki kasta? soalnya Indah pernah bilang kalo lelaki tua itu bukan mahluk sembarangan.
Disa lantas menatap Tia yang tidur pulas di sampingnya, Disa mengusap dahi Tia, dia bersedih dengan nasib temannya itu, bahkan bukan hanya Tia, nasib teman-temannya yang sudah menggadaikan nyawa mereka karena kelicikan Bu Sumarni, bagaimana cara dirinya bisa menyelamatkan mereka.
"Hei kau pak tua, apa kau tak bisa menyelamatkan teman-temanku sama seperti kau menolongku selama ini?" Disa berbicara sendiri, berharap Amung mendengar perkataannya.
Namun bukan sosok Amung yang dia harapkan menjawab pertanyaannya, Hantu Indah lah yang muncul dan duduk di sebelahnya dan berbicara dengannya.
"Kau tak tidur?" ucap hantu Indah yang di akhiri dengan suara cekikikannya yang tetap saja membuat Disa merinding.
"Ndah bisa ngga sih kamu kalo ngomong ngga usah sambil ketawa gitu, serem tau," omel Disa.
"Itu udah jadi ciri khas untuk mahluk seperti kami Dis," ucap Indah menjelaskan jika ternyata mahluk seperti Indah pun sama.
"Ndah, kamu bisa melihat penjagaku kan?" ucap Disa lantas menoleh ke arah Indah.
Hantu Indah tegang, terlihat dari wajahnya yang enggan berbicara mengenai sosok Amung.
Hantu Indah pun mengangguk menjawab pertanyaan Disa, nyatanya memang Dia bisa melihat Amung.
"Bukan kah kamu sudah melihat beliau?" Indah tau jika Amung sudah menampakan wujudnya kepada Disa.
Hantu Indah lantas bingung kenapa gadis itu menanyakan sosok Amung padanya.
"Iya, kamu bilang dia galak kan?" Disa tertawa mengingat bagaimana Hantu Indah di pelototi dan di lempar saat menakut-nakuti dirinya.
Hantu Indah pun mengangguk lagi menjawab pertanyaan Disa. Dia menunggu apa yang akan Disa tanyakan selanjutnya.
"Kenapa aku ngga bisa ngomong sama dia, ya Ndah? Kaya kita gini." Itu lah yang ingin Disa tau, apa mereka mahluk berbeda jenis atau gimana.
"Aku sudah bilang beliau bukan mahluk sembarang, sepertinya harus ada kontak batin antara kalian, apa kau tak menanyakan kepada kakekmu bagaimana cara berbicara dengan beliau?" ucap Indah memberi saran.
__ADS_1
"Aku tak pernah mempelajari ilmu seperti itu Ndah, sudahlah aku hanya berpikir akan sangat mudah jika aku bisa berbicara dengannya seperti kita gini."
"Apa sekarang dia ada di sini Ndah?"
Hantu Indah mengangguk, kenyatannya memang Amung sedang berdiri di hadapan dirinya dan Disa, meski agak jauh.
"Kenapa aku ngga bisa liat ya, apa aku harus masuk rumah hantu itu lagi buat liat dia?" ucap Disa bergumam yang sebenarnya dia tunjukan untuk dirinya sendiri.
"Sepertinya peramal itu membuka indera batinmu agar peka terhadap penjagamu itu."
"Ah iya, peramal ... apa aku harus menemuinya lagi?"
"Dis kamu ngomong sama siapa?" ucap Tia yang melirik Disa dengan mata yang disipitkan sebelah karena cahaya silau lampu.
"Hantu Indah," jawab Disa jujur, dan itu membuat Tia memeluk dirinya dan menenggelamkan wajahnya.
"Ih Dis ngapain ngobrol ma Dia sih, ntar dia betah malah ngikutin kita mulu lagi!" Sungutnya karena Disa tak masih saja berbicara dengan Hantu Indah.
.
.
.
.
"Mita? Apa Ibu yakin?" ucap Nyonya Mariska heran.
"Dari pada mencari di luar yang malah bisa jadi senjata makan tuan, kenapa bukan orang yang sudah kita kenal saja?" jawab Bu Sumarni.
"Kenapa Mita?" tanya Nyonya Mariska.
"Lalu ... apa anda ingin pembantu yang lain?" tantang Bu Sumarni pada Nyonya Mariska.
"Saya pikir jika pembantu yang lain akan merasa sungkan dengan tawaran kita, dan pasti akan ada banyak pertimbangan yang mereka pikirkan, tapi Mita ... dia gadis ambisius—" ucap Bu Sumarni, menarik nafas.
"Hanya harta yang dia pikirkan di otak dangkalnya itu," ucap Bu Sumarni santai sambil meneguk tehnya.
__ADS_1
Dan itu menjadi sindiran telak bagi Kanjeng ibu, walau bukan dia yang memulai awal perjanjian itu, namun perkataan Bu Sumarni bisa berarti jika Bu Sumarni mengatakan orang tua khususnya ibu kanjeng ibu sendiri berotak dangkal yang hanya memikirkan harta.
"Lagi pula kita sudah harus bersiap, sebentar lagi Nona wulan akan menurunkan SUDOJIWO, penerus generasi ini akan melanjutkan ritual perjanjian kalian."
Perkataan Bu Sumarni membuat keluarga Kanjeng Ibu menahan nafas mereka sesaat.
Nyonya Mariska bahkan melihat air muka keluarga suaminya itu tak baik-baik saja, Bahkan Kanjeng Ibu yang biasa bersikap tenang terlihat sedikit gemetar.
Keluarga Kanjeng ibu sedang bersiap menurunkan perjanjian itu pada anak gadis mereka.
Gadis yang tak tahu menahu dengan perjanjian yang keluarganya sepakati dengan Iblis, sekarang harus menanggung akibatnya.
Perjanjian ini bisa berhenti tergantung Kanjeng Ibu, namun resikonya juga sama besarnya, yaitu mereka semua di bantai.
Hanya yang sudah ikut andil dalam momen sesembahan lah yang dapat melihat TUAN, sebab dulu Irwan juga tak dapat melihat Tuan, dia hanya mengikuti ritual yang orang tuanya lakukan setiap malam jum'at nya.
Itu juga tak melibatkan Mariska— istrinya itu baru bisa melihat Tuan saat dia sudah di jadikan bahan sesembahan TUAN oleh keluarga kanjeng ibu.
Mariska bergidik ngeri, membayangkan bagaimana nasib adik iparnya kelak, dia tak tau bagaimana ritual perpindahan kekuasaan itu, yang pasti Mariska menebak jika ritual tersebut tak jauh berbeda dengan apa yang pernah dia alami.
Kanjeng ibu tak pernah menceritakan apa yang dulu dia alami, dia juga menjadi korban dari persekutuan orang tuanya dahulu kala.
Hingga Kanjeng ibu tak punya pilihan lain selain meneruskan perjanjian itu.
Jika dia tak memiliki anak perempuan maka perjanjian akan berakhir dan mereka semua akan mati.
Hanya itu yang Mariska tau dari Irwan suaminya, seandainya bisa, Mariska yakin ibu mertuanya itu pasti akan melimpahkan perjanjian itu padanya, sayang sekali itu tak akan bisa, dan Mariska bersyukur memiliki Putra, hingga dia tak berharap bisa memiliki anak perempuan dari pernikahannya itu.
Kanjeng ibu nampak melamun, begitu juga Pak Hanubi, terlihat kedua orang tua itu sedang memikirkan nasib anak gadis mereka Wulan, yang sebentar lagi akan menggantikan posisi mereka.
Tak ada obrolan sesaat setelah Bu Sumarni mengingatkan tentang perjanjian mereka, karena mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....