
Setelah acara siraman sekarang adalah waktu yang sangat ditunggu oleh Mita, yaitu mengucapkan janji sepasang suami istri.
Mita sudah selesai di dandani dengan kebaya putih, dan Irwan juga sudah selesai memakai jasnya, dia nampak gagah, Mariska yang melihatnya memandang sendu.
Sebentar lagi dia harus berbagi kasih sayang, dan perhatian sang suami.
"Kamu gagah sekali Mas," ucap Mariska sambil memeluk suaminya.
Irwan pun lantas membalas pelukan Mariska. "Maafin aku ya, aku janji cuma kamu prioritasku," balas Irwan dengan selalu mengatakan maaf.
Irwan merasa tak ada kata lain yang lebih baik selain maaf, dia yang harus menyaksikan sang istri menjadi bahan sesajen Tuan-nya, dan sekarang dia harus menduakan istrinya, sungguh Irwan merasa tak bisa menjaga keluarganya itu.
Mita berjalan ke arah taman belakang, dan dia tak melihat penampakan calon suaminya itu.
Akhirnya dia yang duduk menunggu bersama seseorang yang akan menikahkan mereka, tak lama Irwan datang menggandeng Mariska, Irwan tersenyum hangat kepada istrinya, dan itu membuat Mita amat sangat kesal, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya yang berada di pangkuan.
Bu Sumarni yang berdiri di sampingnya tersenyum sinis melihat kekesalan Mita.
Irwan duduk di sebelah Mita, dan kemudian terjadilah ucapan janji suci keduanya, sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Irwan mencium kening Mita, dan itu membuat Mita tersipu malu, di sisi lain giliran Mariska yang mencengkram erat ujung kebayanya.
Wulan yang melihat itu lantas mengusap bahu kakak iparnya, dan Mariska balas mengangguk.
Sedang para pekerja kanjeng ibu yang duduk di belakang, menatap iba majikan mereka yang akhirnya memiliki madu.
Acara berlangsung singkat, setelahnya hanya ada obrolan ringan, dan memakan aneka cemilan sebagai teman obrolan mereka, karena memang tak ada tamu undangan.
Mita terus saja menempel pada Irwan, membuat suaminya itu risih bukan kepalang, bagaimana pun Irwan tak memiliki perasaan pada Mita.
Para pembantu kembali ke dapur untuk membersihkan sisa pesta dan menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
Keluarga kanjeng ibu, kembali ke dalam rumah karena hari sudah sore, Mita terus saja menggandeng Irwan, sedang Mariska berjalan bersama Wulan di belakang.
"Bu, kok ayah gandengan sama Mbak Mita?" ucap Putra.
Mariska dan Wulan saling menatap, bingung cara menjelaskan pada anak empat tahun itu.
Wulan lantas berjongkok mensejajarkan pandangannya, lalu menggenggam kedua tangan keponakannya itu.
"Putra sayang ... sekarang kalo panggil Mbak Mita ibu juga ya, atau mamah juga boleh, sekarang kan Putra punya dua ibu," ucap Wulan sembari mengusap kepala Putra.
__ADS_1
Putra yang bingung dengan perkataan tantenya lantas melihat ke arah sang ibu. "Putra ngga mau punya ibu lain, Bu ...." ucap Putra yang memeluk kaki ibunya, dia menangis tersedu-sedu.
Irwan yang mendengar jika sang putra menangis lantas berbalik dan menghampiri keluarga kecilnya. Dia langsung menggendong Putra.
Mita lantas menyusulnya dengan pandangan kesal, sedang Mariska dan Irwan sibuk menghentikan tangis sang putra. Wulan yang melihat kekesalan di wajah Mita, semakin membuatnya tak menyukai kakak ipar barunya itu.
"Putra kenapa, Nak?" tanya Irwan, dia lantas menatap Mariska, meminta penjelasan.
"Putra bingung liat kamu gandengan sama Mita mas, sedang mbak Mariska sama dia ngga, wajarlah anak segitu heran, dia ngga mau punya ibu baru katanya," jelas Wulan, yang tak perduli dengan raut wajah marah pada Mita.
"Putra, sekarang kan Mbak Mita jadi mamah Putra juga, jadi Putra punya dua mamah ya?" rayu Mita.
Anak menyebalkan, liat aja nanti kalo aku hamil anak mas Irwan, pasti kalian akan tersingkir.
"Putra ngga mau punya Mamah ... yaah," tolak Putra yang bergelayut pada sang ayah. "Putra maunya Ibu aja."
Irwan menghembuskan nafasnya lelah, setelah menyakiti fisik dan batin istrinya, sekarang dia juga menyakitin psikis anaknya, Irwan benar-benar merasa menjadi lelaki tak berguna, dia bahkan tak bisa menjaga keluarga kecilnya itu.
"Ibu Putra tetep satu, kamu panggil Mbak Mita aja kaya biasa ya?" ucap Irwan yang langsung di sela oleh Mita.
"Mas—" sergah Mita.
Irwan juga menatap Mariska, dia mengecup dahi istrinya itu. "Kamu istirahat dulu ke kamar, ya?" pintanya, "nanti aku nyusul."
Mereka semua mengangguk dan meninggalkan sepasang pengantin baru itu.
Sekarang giliran Irwan yang memandang tajam istri keduanya. Dia lantas menarik lengan Mita, tak perduli jika Mita kesulitan dengan kebaya dan hak tingginya.
Irwan menarik Mita hingga ke kamarnya sendiri, disana sudah menunggu para penata rias yang akan membantu Mita membersihkan sisa make up-nya.
"Kalian semua tunggu di luar, saya mau bicara dengan Mita," perintah Irwan yang langsung diangguki mereka.
Irwan lantas melepaskan lengan Mita namun dia ganti mencengkram dagu Mita.
Mita ketakutan melihat tatapan nyalang dari suaminya itu, semenjak bekerja di rumah kanjeng ibu, tak pernah sekalipun dia melihat Irwan membentak bahkan menatap sengit para pekerja termasuk dirinya.
"Kamu harus tau diri, sudah kami jelaskan kamu hanya istri kedua, jangan berharap lebih sama pernikahan ini, Mariska tetap Nyonya kamu, sekali lagi kamu sembarangan terhadap keluargaku, aku habisi kamu!" Irwan menyentak dagu Mita, dan membuat gadis itu berderai air mata.
Irwan berjalan ke arah pintu, namun dia berhenti, dia berbicara tanpa berbalik menghadap Mita.
"Kau bersyukur saja jika keluargamu sudah bisa hidup enak sekarang, jangan mengharapkan kasih sayang dariku, dan satu lagi tugasmu seperti biasa merawat Putra," ucapnya lantas meninggalkan kamar pengantin itu.
__ADS_1
Mita jatuh terduduk di ranjangnya, dia memukul dadanya yang terasa nyeri, sakit sekali di perlakukan kasar oleh suaminya sendiri.
Dia tau jika tak mungkin secepat itu Irwan akan berpaling padanya, namun dia tak menyangka jika Irwan bahkan tak mengharapkannya.
Lalu kenapa harus menikah lagi? Sakit hati ku mas, suatu saat aku pastikan jika kamu akan cinta ma aku.
Tak lama para perias datang, mereka melihat sang pengantin yang duduk dan tersedu-sedu hanya bisa menatap iba, karena mereka tak berani bertanya terlalu jauh.
Sebenarnya saat mereka berada di rumah kanjeng ibu, mereka pun sudah merasa tak nyaman, sama seperti yang lainnya, alarm alami pada diri sendiri yang menganggap jika rumah itu sangat wingit.
Mereka semua bekerja dalam diam, membantu membersihkan make up, bahkan membersihkan badan Mita dalam bathtub.
Makan malam sudah terhidang di meja, sekarang bertambah tiga orang lagi dalam meja makan utama itu.
Orang tua Mita menatap bingung anaknya, Mita terlihat sembab, ibu Mita bahkan menggenggam telapak tangan anaknya di bawah meja, Mita membalasnya dengan senyuman.
Di kepala meja ada Pak Hanubi, sebelah kanannya ada Irwan dan Mariska yang mengapit Putra di tengah, lalu Wulan.
Sedang di ujung meja yang berhadapan dengan Pak Hanubi ada kanjeng ibu. Dimana sebelah kanan kanjeng ibu ada Bu Sumarni dan Orang Tua Mita, sedang Mita sendiri berhadapan dengan suaminya.
Mita selalu memandang ke arah sang suami yang sangat memperhatikan Putra dan madunya Mariska.
Ibunda Mita melihat arah pandang anaknya itu lantas, mengambilkan lauk untuk anaknya.
Ibunda Mita tau jika sang anak cemburu, tapi dia merasa jika itu adalah konsekuensi dari pilihan sang anak yang mau menjadi istri kedua.
Seperti biasa tak akan ada obrolan di dalam meja makan, beruntung orang tua Mita sudah di beri tahu, jadi mereka mengikuti saja aturan itu, walau terasa aneh dan tegang, karena mereka seperti kebanyakan orang makan sambil berbincang dan bergurau, sedang suasana di ruang makan ini terasa kaku menurut orang tua Mita.
Mita berada di kamar pengantinnya seorang diri, dia selalu melirik jam di dinding, berharap Irwan sang suami akan menghabiskan waktu bersamanya, namun harapan tinggal harapan di malam yang seharusnya memabukan bagi dua insan yang telah resmi menyandang suami istri, namun tak di rasakan oleh Mita.
Mita hanya menangis tersedu-sedu, hingga lelah menyerang dan ia tertidur.
Lalu bagaimana dengan rencana Disa dan Tia yang sudah menyimpan sisa air siraman Mita? Tunggu besok ya ...?
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1