
Disa sudah terlelap dalam tidurnya, badan yang nyeri karena lebam yang misterius, bagitu pula, hal ganjil yang seharian ini ia alami membuat tubuhnya lelah secara fisik dan mental, dia berharap bisa tidur nyenyak malam ini tanpa gangguan apapun.
Dug ... dug ... dug ....
Disa mengernyitkan dahinya dengan mata yang masih terpejam, berusaha mengabaikan bunyi berisik yang sedang mengganggu tidurnya.
Dug! ... dug! ....
Makin kencang saja suara itu, seolah menarik perhatian Disa untuk menyelidikinya.
Dengan rasa kantuk yang amat sangat, dia pun bangkit duduk, menoleh ke arah Tia yang nampak tidur tenang dengan tarikan nafas yang teratur.
Siapa orang yang malam-malam seperti ini seperti sedang memalu tembok.
Namun suara itu lebih seperti pekerja kontruksi yang sedang memasang paku bumi.
Tak tau diri atau memang lupa diri, bahwa kelakuannya bisa mengganggu seseorang di waktu istirahatnya.
Disa ingin sekali mencaci orang tersebut, tapi dia adalah orang baru di tempat ini.
Kenapa Tia seperti tak terganggu?
Apa memang di sini seperti ini suasananya?
Disa memutuskan untuk mengintip lewat celah hordengnya, jika terbukti ada seseorang yang mengganggu, Disa akan meminta Tia melaporkan pada pemilik kontrakan, pikirnya.
Saat Disa mengintip, pandangannya tak langsung tertuju ke depan, namun dia melirik ke arah samping kamar sebelah, sepi tak ada siapapun.
Dug ... dug ....
Lalu bunyi itu terdengar lagi, Disa pun menatap arah pandangnya lurus kedepan dimana dia berada tepat di seberang Toko lantai dua milik majikannya.
Disa terkejut, ada mahluk besar sedang bertengger di atap, dia memegang sebuah trisula panjang, dan sedang menghentak-hentakannya ke tanah, itu lah bunyi yang Disa dengar.
Disa pun menutup hordengnya, dia menepuk kedua pipinya berharap itu hanya sebuah mimpi.
Tidak, ini bukan mimpi, ini nyata.
Disa memutuskan untuk mengintip kembali, mahluk apa itu, rupanya sangat familiar, Disa ingin memastikan mahluk yang dia pikirkan sama dengan yang ia lihat saat ini.
Dan ... duarrrr ....
Saat Disa membuka hordeng untuk ke dua kali, mahluk itu ada di depan kontrakannya, tubuh besarnya berdiri tepat di depan bangunan kontrakan ini, tatapan matanya tajam ke arah jendela kamar Disa, ia menyeringai menampakan taringnya dengan liur yang menetes-netes.
Disa kaget dan jatuh terduduk, mahluk itu menggeram, dia seperti memukul-mukul pintu seolah akan menghancurkan kamar ataupun bangunan ini, dan suara terakhir yang Disa dengar adalah bunyi seperti cakaran di pintu.
Disa menutup telinganya. 'Apalagi yang aku alami, kenapa hidupku jadi seperti ini.' Lantas ia pun menangis.
__ADS_1
Tak lama Tia mengguncang-guncang tubuh Disa, dan suara mahluk itu pun menghilang.
"Dis ... Dis ... kamu kenapa?" ucap Tia panik melihat teman barunya duduk dan menutup kedua telinga, sambil menangis. 'Apa dia bermimpi buruk?' pikirnya.
"Tia!" ucap Disa lantas memeluk Tia erat. "Aku takut Ya, aku ngga tahan," keluhnya.
"Tenang ... tarik nafas ... ada apa Dis?" ucap Tia menenangkan, dia mengusap punggung Disa, memberinya sedikit penyemangat lewat sentuhannya.
"Kamu mimpi buruk Dis?" ucapnya setelah terdengar nada sesenggukan dari sisa tangisan Disa.
"Aku ngga tau, tapi aku yakin ini nyata Ya," ucap Disa yang hampir menangis ketakutan lagi.
Tia yang bingung lantas kembali bertanya, "Coba jelasin ada apa?"
Disa pun menjelaskan apa yang dia lihat baru saja. "Tadi aku lihat ada mahluk besar nangkring di atap ruko majikan kita."
Dan seketika suara petir menggelegar mengagetkan mereka berdua.
Tia menelan salivanya. "Kamu serius Dis?" ucapnya memastikan.
Disa tau mungkin penglihatannya tak akan mudah di percaya oleh orang, tapi ia tak tahan dengan keanehan yang akhir-akhir ini menimpanya.
Disa yakin setiap pertemuan pasti atas kehendak sebuah takdir yang sudah Tuhan gariskan padanya, untuk menentukan arah langkahnya kelak.
Jika ia bertemu dengan jalan yang buruk, mungkin itu sebuah contoh untuknya agar tak terjerumus ke jalan yang salah.
Semua merupakan pembelajaran hidup, pasti ada sebab akibat yang saling berhubungan.
Pertemuannya dengan orang-orang baru ini pun Disa anggap sebagai takdir hidupnya, hanya ... untuk menentukan ini adalah jalan yang baik atau buruk masih terlampau dini.
Tia masih mencoba memahami Disa. "Terus kenapa kamu sampe ketakutan kaya gini, Dis?"
"Mahluk itu tau-tau di depan kamar Ya. Kaya mau coba masuk gitu," ucapnya Ngeri.
Tia pun menoleh ke arah jendela, dia ragu apa Disa hanya bermimpi atau itu kenyataan, tapi saat Disa menjelaskan tentang warung makan tadi, sepertinya Disa memang memiliki kemampuan supranatural.
"Kamu punya ilmu kebatinan, ya Dis?" ucap Tia tiba-tiba.
"Kebatinan apa? Ngga ada lah, aku belajar ilmu-ilmu begituan," sergahnya.
"Ilmu kebatinan bukan cuma di pelajari, mungkin juga itu udah mengalir dalam darah turunanmu," jelas Tia.
Disa mencoba mencerna maksud perkataan Tia, hanya dia tak yakin memiliki ilmu seperti itu.
"Sekarang aku tanya, kamu sejak kapan bisa ngeliat mahluk kaya gitu?"
Disa berfikir, sejak kapan dia merasa, bahwa dia mulai peka terhadap hal-hal ghaib di sekitarnya.
__ADS_1
Dia memang tau, jika dia bisa merasakan aura negatif di sekitarnya, walau tak pernah melihat penampakan wujudnya.
Namum Disa bisa tau jika suatu tempat itu wingit, karena Disa bisa merasa aura ganjil di tempat tersebut.
Namun, kepekaannya itu semakin meningkat saat dia mulai tinggal di kediaman Kanjeng Ibu, seolah-olah sesuatu dalam dirinya selalu berusaha menjangkaunya untuk lebih peka terhadap hal ganjil itu, hanya terkadang dia lebih memilih mengabaikannya.
Untungnya Tia mau mendengarkan ceritanya, tidak langsung menjudgenya hanya berhalusinasi, dia bersyukur bisa bertemu dengan Tia.
Padahal bisa saja dia menceritakan keluh kesahnya terhadap Yanti dulu, tapi entah kenapa dia merasa segan, dan lebih memilih menutupinya.
"Sejak aku tinggal di rumah Kanjeng Ibu, bahkan aku punya luka yang aku sendiri ngga tau kenapa," ucap Disa, ada rasa lega di hatinya tak harus berbohong mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Serius? Mana? Boleh aku liat?" ucap Tia penasaran.
Disa pun membuka beberapa kancing piyama tidurnya untuk menurunkan baju di sebelah bahunya, dimana memar itu masih terlihat dan masih terasa nyerinya.
"Astaga, kamu kenapa bisa ampe biru begitu?" ucap Tia tak percaya melihat lebam di bahu Disa, ada apa dengan gadis ini, mendadak ia merasa was-was.
"Dua pundakku lebam kaya gitu semua," jelasnya, sambil mengancingkan kembali piyama tidurnya.
"Awalnya aku mimpi, aku ngeliat—" ucap Disa terhenti karena dia seperti enggan menyebut nama orang tersebut.
"Orang yang bekerja di rumah Kanjeng Ibu, sedang bertarung, wujud nya sangat aneh, yang aku ingat dia juga mencengkram bahu lawannya, namun saat aku bangun langsung ada lebam ini, padahal tadinya ngga ada," lanjut Disa.
"Orang yang kerja di rumah Kanjeng Ibu? Aku ngga kenal siapa-siapa aja yang kerja di rumah Pak Hanubi, aku cuma tau Bu Sum," ucap Tia.
Disa tak menyangka jika Tia mengenal Bu Sumarni. "Kamu kenal beliau?"
"Kenal lah, orang dia yang ngasih aku kontrak kerja."
"Makanya aku heran, kalo kamu udah kerja di rumah Pak Hanubi trus ketemu Bu Sum, kenapa kamu ngga di kasih kontrak kerja?" ungkap Tia.
Tia pun bangkit, dan akan mengecek keadaan di luar kontrakannya.
Disa pun ikut bangkit, dia tak menghalangi niat Tia, dia malah ikut melihat keadaan di luar, apa mahluk itu masih ada.
Tia pun hanya mengintip secelah di hordeng kamarnya, dia juga takut jika ia melihat mahluk yang Disa katakan.
Sedang Disa memilih untuk berdiri di belakang Tia, menunggunya.
Tia pun menutup kembali hordengnya dan berbalik menatap Disa. "Aku ngga liat apa-apa, yuk tidur aja besok kita lanjut lagi ceritanya, kalo kamu kurang istirahat malah bisa bikin mental kamu tambah down, kata orang tuaku, kalo kamu takut sama mahluk begituan, mereka malah semakin seneng goda kamu, kamu harus kuat Dis, jangan sampe lemah, oke?" ucap Tia menyemangati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....