Pesugihan

Pesugihan
Nona Wulan


__ADS_3

Seorang gadis sedang makan siang dengan temannya. Dia ingin bercerita tentang mimpi yang akhir-akhir ini di alaminya.


Tak masuk akal menurutnya, mimpi itu seperti kaset yang sengaja di putar-putar berulang-ulang, terlebih lagi itu adalah mimpi yang sangat menyeramkan.


Di akhir semesternya, yang hanya tinggal beberapa minggu lagi dirinya di wisuda, dia ingin segera kembali ke negaranya, berkumpul dengan keluarganya.


"Sandra, aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini, membuat tugas skripsiku kacau," keluh Wulan pada teman satu apartemennya.


Sandra adalah warga indonesia, mereka bertemu di kampus itu walau berbeda jurusan, dan memutuskan untuk tinggal bersama.


Sandra bertanya kerisauan temannya itu. "Memang kau bermimpi apa?"


"Aku berada di sebuah gua, namun seperti ruangan yang sangat indah, tapi aku seperti mayat hidup, dan selalu di akhir mimpiku ada bayangan hitam menggeram dan menyelimuti tubuhku, sungguh San itu sangat mengerikan."


"Mmmm ... mungkin kau hanya stres memikirkan skripsimu, jadi kau membayangkan Mr. Robert sosok hitam yang membuat kau ketakutan," olok Sandra, dan mereka berdua tertawa mendengar penjelasan nyeleneh Sandra.


"Semoga kali ini Mr. Robert menerima tugasku, aku ingin sekali pulang," harap Wulan.


Meski dia tak begitu menyukai sosok pengasuhnya sejak kecil yaitu Bu Sumarni, namun dia merindukan Ayah dan Ibunya, apalagi keponakan satu-satunya Putra.


Wulan mengingat dulu dia mendengar kabar jika kakak iparnya— Mariska sakit keras, dan sakit itu terulang lagi, Wulan merasa kasihan dengan kakak iparnya itu, apalagi penyakit yang di derita oleh kakak iparnya itu mirip sekali dengan penyakit ibunya.


Dia pernah bertanya-tanya, apa keluarganya memiliki penyakit turunan? Namun bukankah seharusnya adalah kaka kandungnya— Mas Irwan, tapi ini di alami Mbak Mariska, yang notabennya adalah iparnya.


"Kamu abis sidang, apa mau langsung pulang, Lan?" ucap Sandra membuyarkan lamunan Wulan.


"Iya kayaknya, mau nengok kakak iparku," jawab Wulan.


"Memang kenapa kakak iparmu?"


"Masku mengabari, waktu itu istrinya kambuh lagi, sepertinya kakak ipar ku memiliki riwayat penyakit keras," ujar Wulan.


Wulan dan Sandra berjalan bersama kembali ke apartemen mereka.


Saat di lift Wulan melihat bayangan aneh di belakangnya, dia pun terkesiap, menjerit dan menutup wajahnya.


Sandra yang terkejut dengan pekikan Wulan pun menenangkan temannya itu.


"Lan ... lan ... kamu kenapa?" ucapnya lantas memeluk Wulan.

__ADS_1


Wulan membuka matanya, sudah tak nampak lagi bayang hitam yang tadi dia lihat.


"Rileks, tarik nafas ... kayaknya kamu harus banyak istirahat deh," usul Sandra yang melihat wajah Wulan yang nampak pucat pasi.


Wulan berbaring di kamarnya, dia mengingat mantan kekasihnya saat di Sekolah Menengah Atas dahulu.


Seorang lelaki yang populer di sekolahnya saat itu, karena mantan kekasihnya itu adalah seorang ketua Osis.


Prima nama lelaki itu, seorang lelaki sederhana yang berhasil menaklukan dirinya yang introvert. Ya, Wulan sejak dahulu jarang sekali memiliki teman, padahal dirinya berasal dari keluarga kaya, dan dia termasuk pandai secara akademik, namun dia tak memiliki banyak teman.


Hanya teman sebangkunya saja, itu pun karena mereka duduk satu bangku, saat jam istitahat tak pernah sekalipun dirinya di ajak bergabung dengan mereka untuk makan bersama.


Dia pernah bertanya kenapa dirinya di jauhi, lalu mereka berkata jika bulu kuduk mereka selalu meremang jika berdekatan dengan dirinya.


Mereka juga takut terhadap pembatu di rumahnya yaitu Bu Sumarni, itu lah yang menyebabkan Wulan tak menyukai Bu Sumarni, karena sepertinya dia selalu mengintimidasi teman-temannya.


Namun Prima berbeda, lelaki itu mendekatinya, hanya Prima yang menjadi teman Wulan.


Semakin lama hubungan mereka semakin dekat, Wulan terkejut saat Prima menyatakan perasaannya pada Wulan.


"Lan ... aku suka ma kamu," ucap Prima kala itu yang membuat dunia Wulan menjadi terang.


Seorang introvert yang tak memiliki teman, bahkan mungkin di jauhi teman-temannya, tapi bisa menaklukan hati pria populer di sekolahnya.


Sangkin gugupnya saat itu Wulan tak dapat berkata-kata, dia hanya mengangguk menjawab pernyataan cinta Prima.


Saat itu walau tak ada ungkapan sebuah hubungan, menyatakan perasaan sudah mewakili keinginan seseorang menjalin sebuah hubungan.


Dua insan manusia yang sedang jatuh cinta, Wulan tak sadar bahaya yang mengintai orang yang di cintainya.


Hubungan mereka semakin erat, bahkan Prima sudah mengenalkan Wulan kepada orang tuanya, sedang Wulan dia masih takut memperkenalkan Prima pada keluarganya.


Hingga ...


"Lan ... apa kamu ngga mau ngenalin aku ke orang tuamu?" pinta Prima yang membuat Wulan gelisah.


Entah kenapa perasaan gadis itu mendadak merasakan firasat yang tak enak, walau ia sendiri tak tau ada apa.


Cuma kenalan sama Bapak ma Ibu, tapi kok aku was-was ya?

__ADS_1


"Iya Prim ... nanti pulang sekolah kita kerumah dulu, ya? Aku kenalin sama keluargaku."


Prima sosok lelaki baik, dia sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita, tentu saja sebuah hubungan harus di ketahui oleh orang tua, itu prinsipnya.


Dia risih jika harus menjemput Wulan di tempat lain, karena Wulan tak pernah mau di jemput olehnya di rumahnya sendiri, agar dirinya bisa berpamitan kepada orang tua Wulan.


Sempat terbesit di pikiran Prima jika, Wulan malu memiliki kekasih yang bisa di bilang berada di bawahnya.


Sebenarnya Prima pun dari keluarga berada yang sederhana berbeda dengan keluarga Wulan yang memang kaya raya.


Saat Wulan pulang sekolah di antar Prima, tatapan Bu Sumarni lah yang di rasa Wulan sangat menyebalkan.


Sedang sang Ibu malah tersenyum ramah pada kekasihnya.


Kenapa sih bu Sum, gitu amat mandengnya? Ngeselin.


Wulan menggerutu menatap pengasuhnya itu, bahkan dia selalu melirik Bu Sumarni dengan tatapan mengintimidasi, berharap Bu Sumarni enyah dari ruang kelurga saat itu.


Hanya ada Kanjeng Ibu dan Bu Sumarni yang menemui Prima, karena Pak Hanubi belum kembali dari Toko sembakonya.


"Kenalkan Kanjeng Ibu, saya Prima, teman sekolah Wulan," ucap Prima memperkenalkan diri, dia sudah di beri tau sang kekasih untuk memanggil ibunya itu dengan sebutan Kanjeng.


"Nak Prima ... silahkan di minum tehnya," ucap Kanjeng ibu, sebenarnya dia menyukai pembawaan Prima yang baik dan terlihat berwibawa, namun saat melihat tatapan tak bersahabat dari tangan kanannya dia merasa was-was.


Mereka berbincang dengan obrolan ringan, Kanjeng ibu hanya mempertanyakan kegiatan sekolah Prima.


Tak lama Prima pamit undur diri, karena sudah lama dia bertamu di rumah sang kekasih. Dia senang saat bertemu Kanjeng ibu, dia merasa di sambut hangat oleh beliau, namun tatapan mengintimidasi dia dapatkan dari Pengasuh kekasihnya itu, yang tak berbicara sepatah kata pun saat Prima berada di sana, Bu Sumarni hanya memperkenalkan diri setelah itu, dia memutuskan hanya sebagai pendengar.


Jelas keadaan itu membuat pemuda seperti Prima merasa risih.


Wanita yang sangat mengerikan, pantas Wulan di jauhi oleh teman-temannya, ternyata kabar itu benar. Batin Prima.


Wulan mengantar Prima keluar rumahnya, mereka bergandengan, Kanjeng Ibu sudah kembali ke kamarnya, sedang Bu Sumarni memandang tajam mereka lewat jendela.


Dia mengepalkan tangannya saat melihat Prima mengecup dahi Wulan, dia berbalik, dan tersenyum miring.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2