
Saat Mita dan Mariska datang terakhir mengikuti keluarga mertua mereka, yang sudah terlebih dahulu duduk bersimpuh di depan gazebo yang sama persis dengan gazebo yang ada di kediaman mereka.
Mariska tak heran dengan itu dan tau apa yang akan terjadi setelahnya, berbeda dengan Mita yang baru pertama kali melihat ritual sesat keluarga suaminya.
Di sepanjang kiri dan kanannya, bahkan di belakang mereka semua abdi berdiri memanjang sampai dekat dengan gazebo. Mita melirik masam para abdi di sana, sebab Mita merasa mereka itu menyeramkan, dengan wajah datarnya.
Dia sebenarnya ingin bertanya kepada Mariska yang duduk di sebelahnya, dimana keberadaan Wulan? dan mengapa mereka duduk bersimpuh di sana? namun dia takut, sebab, suasana saat itu sangat hening, yang terdengar hanya suara deru nafas mereka.
Tak lama, Ki Brasta dan Sri mengucapkan kalimat yang benar-benar membuat Mita bingung, dan setelahnya Mita merasa jika tempat mereka duduk sedikit bergetar.
Duk ... duk .... suara langkah besar dan berat terdengar, wangi harum yang memuakan tiba-tiba tercium oleh mereka semua.
Duk ... duk ... tak lama semerbak wangi itu berganti dengan bau anyir yang sungguh membuat lambung Mita bergejolak ingin mengeluarkan isi perutnya.
Saat dia ingin menutup hidung, tiba-tiba sang abdi yang berdiri di sebelahnya melirik kearahnya dan melotot, sungguh Mita merasa ketakutan, akhirnya dia kembali menunduk, dengan tangan terkepal di pangkuan, menahan getaran tubuhnya karena ketakutan.
Lalu tiba-tiba suara geraman yang sangat mengerikan memecahkan keheningan di ruangan itu, tubuh Mita bergetar hebat, suara yang baru pertama kali dia dengar begitu sangat mengerikan, dia sudah sesenggukan, dia ingin bangun dan lari dari sana, dia tau ini sudah di luar nalar, insting ingin lari begitu kuat Mita rasakan.
Namun saat dia membuka mata, dia melihat jika kaki dari sang abdi yang berdiri tak jauh dari dirinya semua berubah bentuk, kaki mereka seperti kuda, dengan rasa penasaran Mita akhirnya mendongak, dan betapa terkejutnya dia saat melihat jika abdi yang berdiri disana semuanya berubah wujud, mereka seperti manusia, namun bagian-bagian tubuh yang lainnya berbentuk hewan.
Mita menatap ngeri abdi yang tadi memelototoinya, dengan mulut yang moncong dan bertaring, abdi tadi menyeringai pada Mita, sangkin takutnya Mita hanya kembali menunduk, tanpa bisa menangis, dia memanggil nama kedua orang tuanya dalam hati, dia juga berdo'a namun tergagap seperti seorang yang tengah mengalami ketindihan saat tidur, sungguh Mita baru tau jika mahluk seperti mereka ini ada dan nyata.
Tak lama, suara jeritan menyayat hati terdengar dari Wulan, adik iparnya itu berteriak dan meminta tolong kepada mereka semua.
Mita menengadah menatap gazebo yang berada di depannya, gazebo itu nampak sedikit bergoyang. Mita sampai memikirkan mahluk apa yang bisa membuat gazebo yang besar dan kokoh itu bisa bergetar.
Mita lantas melihat kearah keluarganya, tampak olehnya Mariska juga terisak, Mita juga melihat jika tangan sang suami dan ayah mertuanya yang juga berada di pangkuan mereka nampak bergetar.
Apa yang terjadi denganmu Wulan, ya Tuhan, tempat mengerikan apa ini, kenapa aku masih sadar, bahkan mahluk yang sekarang aku lihat, lebih mengerikan dari pada yang aku lihat di depan kamar rumah Ki Brasta, aku ingin pingsan, aku takut ibu, hiks ... hiks ...
Gumam Mita masih dengan isakannya, sedang Mariska dia juga merasa iba dengan sang adik ipar, namun apa dayanya, dia juga sama, menjadi bahan sesembahan sang Tuan oleh keluarga suaminya itu.
Sedang kanjeng ibu, dia menatap kosong gazebo itu, dimana dia tau betul apa yang sedang terjadi disana. Pikirannya kosong, saat mendengar jeritan anak gadisnya yang meminta tolong padanya dengan suara parau.
__ADS_1
Hingga mereka semua sudah tak mendengar lagi suara isakan Wulan, mereka tak tau bagaimana keadaan Wulan, sebab gazebo itu sungguh gelap pekat, hanya siluet kelambu merah yang bisa mereka lihat, dan bentuk gazebo itu sendiri.
Hanya geraman yang mereka dengar dari sang Tuan, dan mantra yang di ucapkan Ki Brasta yang semakin cepat.
Setelah sekian lama kejadian itu berlangsung, mereka kembali mendengar tangisan Wulan, dan tak lama, geraman terakhir juga mereka semua dengar. Ki Brasta berhenti mengucapkan mantranya, setelah mengatakan terima kasih kepada sang Tuan.
Dari rentetan kejadian ngeri, kondisi dua lelaki di keluarga kanjeng ibu yakni pak Hanubi dan Irwan seperti jelmaan nyata orang yang sudah buta mata hatinya. Mengetahui hal ini salah namun tak mengakhirinya, menyayangi tapi menyakiti, iba tapi tega. Karena hati, darah dan dagingnya mengalir dari harta haram membuatnya sulit terlepas dari cengkraman dan hasutan iblis yang benar-benar musuh yang nyata.
Ki Brasta dan Sri lantas bangkit, Keluarga kanjeng ibu juga ikut bangkit dengan suara isak tangis mereka yang dari tadi tertahan. Tubuh Mita masih bergetar saat dia akan ikut bangkit, dia seperti sudah tak memiliki tenaga, Mariska yang melihat jika madunya itu nampak kepayahan segera membantunya.
"Mbak ..." ucap Mita, yang langsung di balas isyarat dari Mariska untuk tak berbicara saat ini.
Mariska menyangga bahu Mita, dia merasa lega, sebab Mita tak ikut merasakan sakit yang dulu dia rasakan, sebab Mita di persiapkan oleh keluarganya untuk tameng ritual ini jika Wulan tak sanggup bertahan, itulah yang Mariska tau.
Sri lalu membuka tirai kelambu itu dan mengikatnya ke tiang-tiang, lalu menyelimuti tubuh polos Wulan dengan sehelai kain putih.
Kanjeng ibu mendekat, yang lain masih berdiri di tempat mereka, dia menatap iba tubuh sang putri yang mengenaskan seperti mayat, hanya terlihat dari dadanya yang masih naik turun pertanda dia masih bernafas. Matanya menggelegar, kanjeng ibu tau jika Wulan masih antara sadar dan tak sadar.
Lalu Ki Brasta mengangkat tubuh Wulan yang terkulai lemas dengan rambut kusut terurai, dan berjalan melewati keluarga kanjeng ibu di sana yang masih berdiri kaku. Dan terlihat beberapa abdi tuan yang berwajah mengerikan mendampingi Ki Brasta dan mengiringinya.
Dan yang lebih mengerikan, Mita melihat jika bagian bawah tubuh Wulan meneteskan darah terus menerus ...
Apa yang terjadi denganmu Wulan? apa mahluk dengan suara mengerikan tadi yang melakukan itu padamu?
Mita menatap Mariska, meminta penjelasan dari tatapannya, namun Mariska menjawab dengan gelengan.
Keluarga kanjeng ibu bersiap pulang mengikuti langkah Ki Brasta, namun kali ini mereka masing-masing di dampingi dua pengabdi sang tuan yang sepertinya hendak mengantar selayaknya pawai mengiringi sang putri raja.
Di batas gerbang ghaib, penampakan mahluk mengerikan menghilang namun keberadaannya masih si rasakan keluarga kanjeng ibu. Membuat jalan yang mereka lalui untuk kembali ke kediaman Ki Brasta nampak lebih ringan.
Dan sepertinya hutanpun sebagai tuan rumah senang dengan apa yang telah terjadi saat itu, menjadikannya semakin angker.
Sepanjang jalan itu juga, darah masih mengalir dari tubuh Wulan, setelah sampai Mita melihat jika ada seorang petugas medis sudah menunggu mereka, Ki Brasta membawa tubuh Wulan yang seperti mayat kembali kedalam kamarnya, sedang Mita dia langsung di antar ke kamar mereka sendiri oleh Mariska.
__ADS_1
Setelah sampai kamar, Mariska segera memberikan segelas air pada Mita, yang masih dengan pandangan kosongnya.
Mita menerima gelas itu dengan patuh, dia meneguh air itu hingga tandas tak tersisa.
Setelahnya Mariska memeluk dirinya dari samping, barulah tangis Mita pecah, Mariska berusaha menenangkan madunya itu.
"Apa ini Mbak? tolong jelasin sama aku apa ini?" kata Mita memaksa.
"Shutt ... tenang dulu, nanti baru bisa Mbak jelasin," pinta Mariska, sebab dia tak ingin membuat Bu Sumarni mendatangi kamarnya dengan tangisan histeris Mita.
Mita berusaha menenangkan dirinya, dia masih ingat semua mahluk mengerikan yang ada di sana, ternyata tempat tadi berisi mahluk mengerikan, wujud manusia mereka hanya sebuah kamuflase.
Setelah dirasa Mita sedikit tenang, Mariska akhirnya menjelaskan situasi mereka saat itu.
Dengan sedikit kasar membuang nafasnya Mariska lantas berdiri menuju jendela dan menatap langit, dimana sebentar lagi pagi menyapa bumi.
"Keluarga ibu, menganut pesugihan, dan Wulan itu sedang melakukan ritual turunan, yang di emban padanya, setelah ini dia yang memegang kuasa di keluarga besar kita."
"A ... apa!" pekik Mita. "Pesugihan? jadi yang dulu Mbak alami, apa sama seperti yang Wulan alami sekarang Mbak?"
"Iya, namun aku hanya bahan sesembahan, bukan pemegang kuasa, jadi ritual yang harus di lalui Wulan lebih berat."
"Apa nanti aku juga akan seperti itu?" Tangis Mita sudah pecah, membayangkan bahwa dirinya akan ikut merasakan apa yang dulu di alami Mariska, dan yang sekarang dia lihat pada Wulan.
Mariska diam membisu, tak tau dia akan menjawab apa, sebab dia juga turut andil dalam proses penentuan calon madunya yang jatuh pada Mita.
Perbincangan mereka terhenti karena kedatangan Bu Sumarni yang telah membawa dua gelas teh hangat, tentunya dengan di bubuhi racikan penenang. Karena Bu Sumarni sudah faham efek kejadian ritual ini bakal mengguncang jiwa mereka.
Tak lama berselang Mariska dan Mita merebahkan tubuhnya setelah meminum beberapa teguk teh hangat yang di berikan Bu Sumarni. Dengan kantuk yang teramat sangat mereka terlelap di terbitnya mentari dan awal tenggelamnya kesadaran dalam jiwa.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....