
Disa dan Tia sudah berada di pasar malam, tempat yang sangat ramai, berbagai macam permainan dan pedagang bercampur menjadi satu.
Mereka bahkan ikut mengantri untuk bisa menaiki semua wahana yang ada di sana.
Sekarang mereka bahkan sedang menaiki wahana kincir angin, namun tak lama mendadak wahana itu berhenti tepat saat mereka berada di atas.
Sejenak mereka merasa panik, lalu biasa lagi, karena memang wahana seperti ini sering tiba-tiba terhenti.
Namun untuk anak-anak, mereka akan tetap ketakutan dan menangis.
Dari atas mereka bisa melihat sebuah tenda hitam besar bertuliskan rumah hantu, sepertinya menarik, karena terlihat jika antriannya sangat mengular.
"Nanti kita kesana ya Dis?" Tunjuk Tia ke tenda itu.
Disa sebenarnya malas, dulu saat di kampung dia juga sering masuk ke wahana rumah hantu, saat ada pasar malam seperti ini.
Namun karena sekarang seringnya Disa bisa melihat sosok tak kasat mata itu, Disa merasa bahwa aslinya mereka akan sangat lebih menyeramkan, jika wahana rumah hantu hanya berisi patung dan orang, sedang yang di lihat Disa benar-benar wujud asli mereka.
"Aku dah biasa liat begituan Ya, buat apa liat yang palsu!"
"Ih itukan kamu Dis, aku mana bisa lihat begituan."
Ada pepatah mengatakan mulutmu harimaumu memang benar adanya, saat Tia selesai mengatakan hal itu, tiba-tiba bulu kuduk mereka meremang, sangkar wahana yang mereka tumpangi bergoyang sendiri, namun Disa tak melihat penampakan itu.
Dan semilir wangi pandan berbaur dengan bau busuk kembali tercium, Hantu Indah sudah muncul dan bergabung bersama mereka.
Bagaimana pun Disa tetap terkejut saat penampakan Indah di hadapannya.
Indah duduk bersama Tia, yang sedang mengusap-usap tengkuknya.
"Hai," sapa Indah melambaikan tangan, di ikuti tertawaannya yang terkikik membuat Disa bergidik ngeri.
Pasalnya hanya Disa yang mendengar suara itu. "Astaga, mau apa kamu kesini?" sungut Disa kesal.
"Ngikutin kalian," ucap Hantu Indah tanpa rasa bersalah, seperti dia satu spesies dengan Disa dan Tia.
"Kamu ngomong apa Dis?" ucap Tia heran, karena tiba-tiba Disa mengatakan hal aneh padanya.
"Tuh hantu Indah, ada di sebelah kamu!" ucap Disa tanpa mau melihat ke arah Tia dan Indah yang ada di depannya, dan dia lebih memilih melihat ke arah samping.
Meskipun berwujud seperti manusia, Indah tetap hantu bagi Disa, dan dia belum terbiasa dengan sosok Indah.
"Hah!" Tia langsung memegang erat sangkar besi wahana ini, dia merapat, walau dia tak tau Indah ada di sebelah mana.
"Yang bener Dis, jangan nakut-nakutin!" pekiknya.
"Ya udah kalo ngga percaya," ucap Disa tenang, menahan senyum melihat wajah takut Tia.
Tia lantas bergeser ke tempat duduk Disa, walau sempit Tia memaksa, karena dia tak mau duduk dengan sosok hantu yang meski wujudnya tak terlihat, namun bisa membuat bulu kuduknya meremang.
__ADS_1
Setelah dari permainan wahana itu, Disa dan Tia memilih duduk sejenak untuk melepas dahaga, masih dengan Hantu Indah yang mengikuti mereka.
Tak jauh dari hadapan mereka, ada sebuah tenda dengan lampu remang-remang, ada seseorang yang sedang duduk bersila di depan seorang wanita yang mengenakan pakaian aneh.
Wanita itu memakai pakaian rumbai-rumbai, dimana wanita itu juga memakai hiasan kalung berpermata besar di lehernya. Serta sebuah ikat kepala hitam.
Wanita itu sedang menunjuk-nunjuk tangan lelaki di hadapannya, sambil menjelaskan masa depannya, lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya, setelah itu lelaki itu menaruh uang di kotak yang ada di sana lantas pergi berlalu.
"Dis, mau ke peramal?" ucap Tia memandang arah wanita yang berada di tenda remang-remang tersebut.
"Mo ngapain? ... aneh-aneh aja kamu," tolak Disa yang enggan ketempat seperti itu, karena menurutnya takdir seseorang tak bisa semudah itu di tebak oleh orang lain, bukankah takdir adalah sebuah misteri?
"Iseng aja Dis, kali aja pulang dari sini aku di nikahin sama pacarku." Tia menarik tangan Disa, memaksanya ikut ketempat wanita peramal itu.
"Malam, Nona," sapa wanita peramal itu kepada mereka.
"Malam, Bu," balas Tia, dengan tersenyum ramah.
"Ada yang bisa Saya bantu?" ucap wanita peramal itu, namun pandangannya tertuju pada Disa dan Indah yang berdiri di belakang Tia.
"Wanita itu bisa melihatku," bisik Indah kepada Disa, yang membuat Disa berjengit.
"Apa dia juga bisa melihat penjagaku?" Disa balas berbisik, jika iya, maka Disa akan menanyakan sosoknya pada sang peramal.
"Sepertinya enggak, pelindungmu memiliki kekuatan lain, dia bukan mahluk sembarangan," ungkap Indah.
"Lalu seperti apa bentuknya?" Disa lantas menatap ke arah Indah, masih dengan suara berbisiknya, ia takut di anggap gila karena berbicara sendiri.
"Kamu benar-benar spesial, Nak!" ucap sang peramal kepada Disa.
Disa mengernyit bingung dengan ucapan peramal wanita itu. Aku? spesial? apa maksudnya?
"Maaf Bu, saya mau di ramal dong," sela Tia, meminta perhatian sang peramal yang terlihat lebih memperhatikan Disa dari pada dirinya.
Sang peramal pun meminta telapak tangan Tia, seperti lelaki yang mereka lihat tadi. Tia pun segera meletakan telapak tangannya di tangan sang peramal.
Peramal itu membaca guratan demi guratan garis tangan Tia, dia lebih sering mengusap dan berkomat kamit membaca mantra, dahinya mengkerut karena masa depan gadis di hadapannya ini tak bisa ia baca.
Dia pun menghela nafas sebelum mengatakan kepada gadis yang sedang ia ramal ini. "Masa depanmu ... gelap—" ucapnya yang langsung di potong oleh gadis di depannya ini.
"Maksudnya?" sela Tia.
"Kematian akan segera menghampirimu," lanjut sang peramal.
Tia tertawa sumbang mendengar perkataan peramal wanita itu. "Ya ampun Bu, namanya orang pasti mati, maksudnya yang lainnya!" cerca Tia, sebenarnya dia ingin melihat nasib percintaannya tapi, ucapan sang peramal tentang kematian malah membuatnya kesal, namun dia tetap penasaran.
Peramal itu pun mengatakan sesuatu yang membuat hati Tia mencelos kaget. "Kamu sudah menggadaikan nyawamu, sudah pasti hanya ada kematian di depanmu."
"Anda benar-benar mengada-ngada!" sungut Tia, lantas menaruh uang di kotak yang berada disana, dan menarik tangan Disa agar segera pergi dari tenda sang peramal yang menurut Tia penipu itu.
__ADS_1
Namun ucapan sang peramal menghentikan langkah keduanya. "Temanmu itu bisa membantumu."
Tia pun berbalik kembali ke dalam tenda, menanyakan maksud perkataan sang peramal.
"Tadi anda bilang masa depan saya gelap, sekarang anda bilang kalau teman saya bisa membantu, apa anda sedang melucu?" sinis Tia.
Disa mengusap lengan Tia yang sedang di liputi amarah, masuk akal jika Tia marah, sebenarnya Tia antara takut dan tak percaya dengan perkataan peramal tentang nasibnya itu.
"Apa ada saya tertawa Nona? Saat mengatakannya?" balas Sang peramal seperti menghardik ketidak sopanan Tia.
"Boleh saya melihat tangan anda Nona?" pinta sang peramal kepada Disa.
Disa yang tadinya enggan, mendadak seperti tak punya pilihan.
Saat dia duduk di hadapan sang peramal, baru lah Disa melihat jika di belakang sang peramal ada sosok mahluk yang sangat tinggi.
Mahluk mengerikan itu duduk di belakang sang peramal, tubuhnya kurus dan tinggi, karena saat dalam posisi duduk, kepalanya menyentuh atap tenda, tangan dan jarinya panjang-panjang.
Tentu saja Disa berjengit kaget, karena tadi mahluk itu tak terlihat olehnya.
Disa menelan kasar salivanya, sang peramal tersenyum menyeringai kepada Disa. "Nona melihat Sado?"
Disa tak menjawab, mahluk di belakang sang peramal pun tersenyum kepada Disa.
Namun Disa mengartikan jika mahluk itu menyeringai kepadanya.
Sang peramal menengadahkan telapak tangannya, meminta agar Disa memberikan telapa tangannya, agar bisa dia baca.
Peramal itu nampak khusyuk membaca setiap jengkal garis tangan Disa.
Dan ....
"Kejadian besar sedang menantimu, banyak yang berharap padamu, pesanku hanya satu yakinkan hatimu, dan tingkatkan lagi kepekaanmu terhadap mahluk di sekitarmu," ucap sang peramal yang tak di mengerti oleh Disa.
"Aku tak bisa mengatakannya, hanya bersiaplah," pesannya kemudian.
Disa lantas bangkit dan menaruh uang seperti yang Tia lakukan, sang peramal lantas tersenyum membalas Disa.
Mereka meninggalkan tenda sang peramal dengan banyak pikiran di benak mereka, menangkap maksud teka-teki sang peramal.
"Ngeramal kok gantung gitu, aneh banget, ya Dis!" omel Tia, yang tadi juga mendengarkan ramalan Disa.
Disa hanya bergumam menjawab perkataan Tia, sekarang mereka menuju tenda rumah hantu.
Apa yang akan Disa temui disana? ....
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....