
Pagi setelah sarapan, Disa segera pergi ke kamar Mariska, biasanya Disa sarapan setelah mengurus keperluan majikannya itu, karena tubuh Sumarni yang terluka akibat kejadian semalam jadi sarapan majikannya hanya menu roti bakar saja yang di buat oleh Fatmah.
Disa akan berpamitan dengan Mariska, dia sedih sekaligus senang, setidaknya dia bisa keluar dari rumah majikannya itu yang dia pikir lama-lama bisa membuatnya gila jika harus bekerja disana.
Dia sedih karena harus meninggalkan majikannya itu, yang selalu baik padanya, serta teman-temannya yang selalu memperhatikannya.
Disa masuk setelah mengetuk pintu, dia segera masuk karena tau jika suami majikannya itu sedang sarapan di meja makan.
"Nyonya..." panggilnya, karena tak melihat majikannya itu berada di tempat tidurnya.
Disa lantas meletakan menu sarapan majikannya di nakas, dan berniat mencarinya ke kamar mandi.
Ada suara gemericik air di sana, Disa pun memberanikan diri mengetuk dan memanggil majikannya itu.
Tak ada jawaban, sampai tiga kali Disa mengetuk masih tak ada jawaban, Disa akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar mandi, berharap pintu itu tak di kunci, jika di kunci dari dalam dia baru akan meminta tolong yang lainnya.
Ceklek ....
Tak terkunci. "Syukurlah," ucap Disa dalam hati. Disa melihat Nyonya Mariska sedang berendam di bathtub seperti biasa, hanya posisinya membelakangi pintu kamar mandi.
Disa berpikir apa Tuan Irwan yang menyiapkan ini semua untuk Nyonya Mariska? atau Nyonya Mariska sendiri yang menyiapkannya.
Tapi menurut Disa walau terlihat sudah lebih baik, Nyonya Mariska tetap masih terlihat lemah, untuk berjalan pun dia masih menggunakan kursi roda.
Apa iya dia sanggup melakukan semuanya sendiri? mungkin Tuan Irwan yang membantunya.
"Nyonya, saya bantu ya?" ucap Disa, belum juga dia mendekat bau anyir menyeruak ke hidungnya, dia terpaku, bulu kuduknya meremang.
Disa mengusap lengannya, karena bulu halus di lengannya nampak berdiri.
Saat Disa menatap ke arah bathtub dimana perempuan yang dia pikir adalah Nyonya Mariska yang sedang berendam, ternyata itu bukanlah majikannya, Disa sungguh terkejut.
Kepala mahluk itu terpelintir 180 derajat ke arah belakang menatap Disa, hal yang mustahil di lakukan manusia, seperti se'ekor burung hantu.
Wajahnya bukan milik Nyonya Mariska, entah siapa wanita mengerikan yang sedang berendam itu, reflek Disa menutup matanya sambil terisak, dia ketakuan, kenapa Delusi ini dia alami lagi.
Tepukan di bahu mengagetkan Disa, lantas dia berjengit dan menghindar.
"Dis, kamu kenapa?" ucap Mariska heran, dia sudah memanggil-manggil Disa sejak tadi tapi tak ada sautan dari Disa, hingga ia memilih menghampiri Disa menggunakan tongkat untuk memapah dirinya.
__ADS_1
Tampak olehnya Disa sedang menutup wajahnya di kamar mandi. "Sedang apa dia? kenapa tak menjawab panggilanku," gumam Mariska.
Wajah Disa nampak ketakutan, apa dia melihat hal aneh di rumah ini? apa Bu Sum melakukan hal gila untuk mengguncang batin Disa. Terka mariska.
Dia merasa kasihan dengan Disa, seseorang sepertinya harus berurusan dengan wanita Iblis seperti Bu Sum, apa dia bisa melawan Bu sum?
"Astaga Nyonya, maaf saya kira Nyonya—" ucap Disa terpotong karena melihat bathtub yang sekarang hanya berisi air.
Mariska pun melihat arah pandang Disa, dia mengernyitkan dahinya. "Ada apa denganmu Dis? apa kau mengalami hal aneh di rumah ini?" ucapnya dalam hati, dia tak berani bertanya langsung pada Disa, karena dia yakin jika dia masih di awasi oleh Bu Sum.
"Itu tadi bekas mas Irwan, belum di buang airnya, ya udah yuk balik ke kamar," ajak Mariska.
Disa lantas memberanikan diri bertanya tentang keberadaan majikannya itu. "Maaf Nyonya anda tadi kemana ya?"
"Aku ada di ranjang, aku baru bangun Dis, pas nengok ada nampan di nakas, aku pikir itu pasti kamu, tapi aku panggil-panggil kamu ngga nyaut, pas liat pintu kamar mandi ke buka aku pikir ya kamu di sana, kenapa emang Dis?" jelas Mariska panjang lebar.
Sontak itu membuat Disa terkejut, dia tak melihat Nyonya Mariska berbaring di sana, melihat mimik wajah dan cara beliau menjelaskan tak ada kebohongan di sana, lantas kenapa tadi dia tak bisa melihatnya, Disa benar-benar tak tahan lagi dengan gangguan ini.
"Saya ngga liat Nyonya tadi, apa saya yang ngga fokus ya?" Disa tak tau apa yang harus dia katakan, jadi dia lebih memilih jujur saja.
Mariska hanya menghela nafas, dia prihatin dengan apa yang sedang Disa alami, dia pasti melihat mahluk aneh, yang berkeliaran di rumah ini.
"Ya sudah Dis, jangan di pikirin, yuk duduk, ini kan pertemuan terakhir kita," pinta Mariska.
Disa lantas duduk di tempat biasa, karena menu sarapan hanya roti bakar dan segelas susu, Disa memilih membuka buah jeruk yang ada di nampan, untuk kegiatannya menemani sang majikan.
Sarapan berlangsung singkat, Mariska pun meminta Disa membawanya keluar menggunakan kursi roda, dia akan melepas kepergian perawat sekaligus temannya itu.
Disa meminta izin untuk mengembalikan bekas makan majikannya itu, baru saja dia keluar kamar, dia sudah di kejutkan oleh keberadaan Sumarni yang berdiri di depan kamar kosong, Disa hanya mengangguk permisi dan segera meninggalkannya.
"Tumben Bu Sum baunya ngga aneh, terus kenapa dia mendelik ya? apa aku ada salah," gumamnya dalam hati.
Saat dia menuju dapur bau aneh yang menurut Disa dari tubuh Bu Sum tercium lagi, dan sangat menyengat, Disa sampai harus mengibas-ibaskan telapak tangannya untuk mengusir bau itu.
Betapa terkejutnya Disa saat melihat Bu Sum ada di sana, lantas siapa tadi yang berada di depan kamar Nyonya Mariska, Disa tercekat.
Tak mungkin Bu Sum tiba di sini secepat ini, jika iya dia pasti melewati dirinya, jika ia memutar lewat depan, waktunya akan lebih lama.
Disa bernafas pendek-pendek, menahan mual yang akan menguras isi perutnya.
__ADS_1
Sumarni lantas menatap Disa. "Kamu sudah siapkan barang-barangmu?"
"Sudah Bu," ucap Disa dengan pasokan oksigen yang menipis, karena pekat yang bercampur aroma Sumarni jelas sangat mengganggu oksigen masuk ke paru-parunya.
"Ya sudah ayo, Bapak sama Tuan sudah menunggu."
Saat itulah Disa melihat tanda merah aneh di sepanjang leher Sumarni, saat Sumarni membenarkan syalnya.
"Deg ... ada apa dengan leher bu Sum, seperti seseorang menjeratnya dengan sangat kuat, sampe ninggalin bekas kaya gitu."
"Anu ... Bu maaf, Nyonya Mariska minta keluar kamar, apa boleh saya bantu beliau?" ucap Disa, karena dia sudah berjanji untuk segera kembali.
Sumarni mengangguk dan meninggalkan mereka semua, Disa langsung bernafas lega, bukan karena di izinkan membantu Nyonya Mariska, namun kepergian Bu Sum, menghilangkan bau aneh dari hidungnya.
Disa ke kamar, walau dia agak takut karena melihat penampakan yang mirip Sumarni tadi, tapi mau tak mau dia tetap melakukan tugasnya.
Disa mendorong kursi roda majikannya sambil berbincang.
"Kamu hati-hati ya Dis? Semangat kerjanya biar bisa bantu orang tua mu di kampung," harap majikannya itu.
"Baik Nyonya." Disa sebenarnya ingin menanyakan apa majikannya itu memiliki gawai, karena dia ingin meminta nomornya, namun selama dia merawatnya tak sekalipun Disa melihat majikannya itu memegang benda pipih tersebut.
"Ayo Dis, mana barang-barangmu?" ajak Tuan Irwan yang mendekati mereka.
Disa pun melesat ke belakang, mengambil tas berisi pakaiannya, di dapur Disa memeluk teman-temannya, tangis haru pun keluar dari mata mereka, walaupun baru beberapa hari mereka saling mengenal, namun mereka tetap merasa kehilangan. Hanya Mita yang bersikap biasa saja.
Disa juga berpamitan kepada Kanjeng Ibu, dan Sumarni, Disa mendekat ke arah Mariska dia bersimpuh di depan kursi rodanya, karena Mariska menariknya dan memeluknya erat, dia juga nangis tersedu-sedu.
Disa makin sedih saja, melihat sepertinya majikannya itu enggan melepas dirinya.
Disela pelukannya, Mariska membisikan sesuatu, Disa terkejut namun hanya bisa mengangguk.
Disa akhirnya pergi meninggalkan mereka semua, dan masuk ke mobil majikan mereka, dia akan berada di tempat baru lagi, semoga ini awal mula yang baik, mohonnya dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....