Pesugihan

Pesugihan
Putus Asa


__ADS_3

Hari ini Disa dan Tia libur, karena di kediaman kanjeng ibu tuan Irwan sedang melamar Mita di kampung halamannya.


Sudah tiga hari dia mencari keberadaan peramal yang waktu itu ia temui.


Namun keberadaan sang peramal tak lagi berada di sana, Disa berkeliling hanya untuk memastikan, mungkin saja sang peramal pindah tempat.


"Kamu tiap malam minta di anter ke pasar malam, cuma mau nyari peramal itu doang Dis!" ucap Tia kesal, karena tiap malam dia harus menemani Disa hanya untuk sekedar mencari peramal yang menurutnya penipu itu.


"Itu juga demi kamu, Ya," balas Disa.


Disa mencari keberadaan sang peramal hanya untuk mencari tau bagaimana dia akan menyelamatkan teman-temannya itu.


Setelah bertanya keberadaan peramal pada para pedagang di pasar malam itu, dan para pedagang semua menjawab tak tau, mereka lantas memilih untuk segera pulang. Sekarang mereka sedang berbincang di kontrakan.


Andai si peramal tak memberitahu bahwa dia bisa membantu menyelamatkan mereka, tentu Disa ingin sekali pergi dari sana.


"Maksudnya? Kamu masih mikirin omongan si dukun yang bilang kalo kamu itu bisa nyelametin aku?" sinis Tia, yang bisa menebak apa yang Disa pikirkan.


"Ya kamu pikir aja sih Dis, kalo wayahnya mati mau gimana juga pasti mati," lanjut Tia.


"Heh gampang sekali kamu ngomong, kalo kamu tau yang sebenernya aku yakin, makan aja kamu ngga sanggup nelen nantinya, yang ada kamu bakal mikirin hidup kamu aja!" sungut Disa kesal, karena dia tau apa yang akan terjadi dengan Tia, namun gadis itu bicara seolah-olah nyawanya sedang tak terancam.


"Emang ada apa sih Dis? jujurlah sama aku, masalah serius kah?" ucap Tia serius.


Disa menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, dia juga bingung bagaimana menjelaskannya.


Dia takut jika tiba-tiba Tia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.


Namun Disa sendiri sudah putus asa mencari keberadaan sang peramal.


"Ya, aku mau ngomong, tapi kamu janji ngga usah histeris, kita cari solusinya bareng-bareng," ucap Disa perlahan.


Tia mendadak merasa takut mendengar ucapan Disa, di pikirannya dia berguman apa dia akan mati seperti kata sang peramal itu.


"Peramal itu bilang, kalo masa depan kamu gelap, soalnya kamu udah nggadein nyawa kamu kan?" Tia mengangguk menjawab pertanyaan Disa.


"Ya ... itu bener, soalnya Bu Sum, dengan liciknya memantrai kontrak kerja kamu, dimana di kontrak ghaib itu tertulis jika kamu bersedia menyerahkan nyawamu saat sudah tak di butuhkan lagi oleh majikan kita." Disa akhirnya lega karena dia sudah mengatakan apa yang mengganjal di hatinya, dia sedang menunggu reaksi Tia.


"A ... apa!" pekik Tia tak percaya, dia bangkit berdiri, namun di cekal oleh Disa agar dia duduk kembali.


"Ma ... maksud kamu aku bakal di tumbalin?" Tia menunjuk dirinya sediri. Dan Disa mengangguk.


"Kamu jangan bohong Dis, gimana kamu bisa tau kalo aku bakal jadi Tumbal?"


"Ya ... aku liat kejadian yang pernah aku alami, waktu kamu bilang aku punya ilmu kebatinan, itu bukan ilmu kebatinan, tapi ingat kan sosok yang aku bilang ngikutin aku?" Tia mengangguk, dia ingat jika Disa pernah mengatakan padanya jika dia memiliki penjaga.


"Dia ngasih tau aku apa yang aku alami Ya, waktu di rumah hantu di depan cermin yang kamu bilang aku ngelamun, dia nunjukin semua Ya" ucap Disa menggebu-gebu.

__ADS_1


"Di sana aku liat apa yang Bu Sum lakuin sama kontrak kerja kita Ya," ujar Disa.


"Trus aku harus gimana, Dis? Aku takut, aku ngga mau mati, kenapa jadi begini, Dis?" ucap Tia sambil menangis histeris.


"Jika cuma aku robek kertas itu, ngga mungkin langsung bisa membatalkan perjanjian itu juga, kan Dis?"


Disa menggeleng sambil mengusap punggung Tia. "Bukan cuma kamu, semua yang kerja sama Kanjeng ibu di tandai semua, asal kamu masih kerja masih aman, tapi kalo kamu milih berhenti ...." Disa tak sanggup melanjutkan perkatannya.


"Aku bakal mati!" ujar Tia.


"Erna ...." ucap Tia lantas mencoba menghubungi temannya itu.


Tia berusaha menelpon Erna, ingin tau kabar mantan rekan kerjanya itu. Namun sampai dering ketiga, hand phone Erna tidak aktif.


"Ngga aktif Dis," ucap Tia lalu melamun.


Semilir bau pandan bercampur bau bangkai milik Indah tercium, benar saja tiba-tiba hantu Indah sudah berdiri di belakang mereka.


"Kenapa dengannya?" tanya Hantu Indah menunjuk Tia dengan dagunya.


"Lagi kalut sama kontrak kerjanya, yang ternyata jadi malapetaka buat dia," jelas Disa.


Tia memandang kearahnya. "Kamu ngomong sama siapa? jangan bilang sama Indah?" ucap Tia sambil mengusap kedua lengannya.


"Siapa lagi, setan yang ngikutin kita kan cuma dia," tukas Disa.


"Tunggu Dis ... tadi kamu bilang kontrak kerja yang jadi malapetaka buat aku, emangnya kamu engga? Kan kamu juga dapet," ucap Tia heran.


"Oh kalian lagi ngomongin kertas yang baunya busuk itu, ya?" ucap Indah sambil terkikik.


"Bau busuk? Memangnya ada baunya Ndah?" tanya Disa, karena dia tak bisa mencium aroma apa-apa pada kertas itu, namun ingatannya kembali saat Amung merobek kertas kontrak itu terlihat cahaya merah keluar dari sana.


"Iya, itu bukan kertas biasa, bahkan aku ngga berani deketin dia gara-gara kertas itu, mahluk yang membuat kertas seperti itu pasti kuat," ucap Indah.


Disa jadi berpikir apa Indah juga bisa mencari tahu bagaimana dengan kertas kontrak kerjanya.


Disa lantas mengambil kertas itu dari dalam almari dan menunjukan pada hantu Indah yang berada di belakangnya.


Hantu Indah lantas menggeleng. "Ini ngga ada baunya, ngga kaya punya Tia."


Disa bernafas lega, namun dia penasaran bagaimana dulu Tia mendapatkan kontrak kerja itu.


"Ya kamu dulu waktu di kasih kontrak kerja itu, gimana? Sama kaya aku ngga? Cuma di kasih gitu aja?" tanya Disa berturut-turut.


"Aku di kasih pas di toko, kan Bu Sum ke toko, trus aku di ajak keruangannya Pak Hanubi, tapi hawanya emang aneh Dis anyep gitu, padahal aku waktu itu tiba-tiba takut loh, kaya semacem alarm alami kali ya Dis?" ucap Tia mengingat-ingat kejadian waktu itu.


"Mana aku di suruh minum katanya teh, tapi bau sama rasanya aneh kaya daun-daunan gitu, eneg banget sumpah."

__ADS_1


"Trus tau ngga kamu Dis, kalo setiap jum'at itu pasti di ruangan pak Hanubi kaya ada suara menggeram gitu loh,"


"Dis apa keluarga pak Hanubi itu menganut pesugihan juga? kamu kan pernah bilang kalo ada mahluk besar yang nangkring di atap toko."


"Mungkin Ya, aku juga ngga tau, tapi setau aku, kalo pesugihan itu tumbalnya keluarga sendiri, mana mau mahluk seperti itu minta tumbal orang lain, lah wong kamu yang nikamatin hartanya, kok orang lain yang di tumbalin,"


"Makanya aku bingung, buat apa kontrak kerja yang Bu Sum bikin buat kita."


"Mungkin hanya untuk menyingkirkan semua yang pernah terlibat dengan mereka," ucap hantu Indah, yang membuat Disa sadar.


Ya bener, mungkin Bu Sum mau nyingkirin kita aja, bukan buat tumbal, lalu apa iya kanjeng ibu menganut pesugihan?


Tapi ingatan Disa kembali pada masa ia merawat nyonya Mariska, tubuh kurus kering, tak di anggap istri, lalu meminta dirinya untuk melindungi ndoro Putra.


"Maksudnya? kan kita ngga tau apa-apa kenapa harus di singkirin?" ucap Disa.


"Ngomong apa si Indah?"


"Indah ngasih tau kalo kita bukan buat tumbal, mungkin cuma buat nyingkirin semua yang pernah terlibat sama mereka," jelas Disa.


"Astaga kejem banget Bu Sum, trus kita gimana ini Dis?" tanya Tia yang sekarang was-was, dia lantas menyandarkan kepalanya di bahu Disa.


"Apa kita harus nyingkirin Bu Sum Dis!" ucap Tia, yang membuat Disa terkejut.


"Nyingkirin gimana maksudnya? Kamu mau kita bunuh Bu Sum gitu!" ucap Disa melotot.


Disa tak mau membunuh Bu Sumarni, itu benar-benar bukan ide yang baik menurutnya.


"Ya trus gimana Dis? Kan aku cuma ngasih ide. Kamu enak ngga di mantrain, lah aku Dis! Jelaslah pikiran aku pengen nyingkirin Bu Sum."


Disa tau, dia memang tak berada di posisi Tia, namun menyingkirkan Bu Sumarni, adahal hal yang menurutnya sangat sulit untuk di lakukan, seperti mustahil.


Disa mengingat jika Bu Sum memiliki wujud yang sangat mengerikan, dan mereka harus melawan seseorang yang memiliki ilmu ghaib, imposible menurut Disa, bahkan sosok lelaki tua yang mengikutinya menurut Disa juga seperti kewalahan.


Tiba-tiba gawai Disa berdering, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak di kenalnya.


Dan Disa mengernyit heran dengan isi pesan itu. Saat dia mencoba menelponya, nomor itu sudah tak aktif, dan saat dia membalas pesan itu hanya terkirim namun tak ada jawaban.


Disa heran siapa yang sms dirinya, apa salah sambung? batin Disa.


Ingin Disa menghapus pesan itu namun ia urungkan, seperti ada sesuatu dari pesan itu.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2