
Pagi hari Mita sudah bersiap akan kembali ke kampung halamannya. Dia akan memberitahukan berita bahagia untuk orangtuanya.
Pak ... Bu, akhirnya kita ngga miskin lagi, aku bawakan suami kaya yang bisa buat kita bahagia.
Yanti mengetuk pintu kamarnya. "Mit, di cari Bu Sum," ucapnya lantas berlalu meninggalkan kamar Mita.
Mita segera keluar dan menuju dapur setelah mengepak pakaiannya untuk dia bawa pulang, karena dia berpikir toh baju-baju itu tidak akan dia gunakan lagi, karena dia berpikir akan membeli apapun yang ia inginkan dengan sangat mudah sekarang.
"Aku di tunggu di mana kata Bu sum?" tanyanya setelah berada di dapur.
"Di ruang keluarga dekat kamar beliau," ucap Yanti, dia masih saja heran dengan kelakuan Mita yang sepertinya sangat bersemangat menjadi Nyonya di keluarga ini.
Mita menghampiri Bu Sumarni yang tengah duduk menghadap jendela dengan dua cangkir teh di hadapnnya.
Mita tersenyum, dia berpikir akhirnya dia akan di hormati oleh ketua asisten rumah tangga majikannya itu.
"Bu ...." sapa Mita masih berdiri, bagaimana pun dia masih mencari perhatian terhadap tangan kanan calon mertuanya.
"Silahkan duduk, ada yang akan saya sampaikan sebelum kamu pulang, dan kamu harus memberi tau kepada orang tuamu nanti."
Ada apalagi sih, muak sekali aku dengan kau Bu, lihat saja nanti aku pasti nyingkirin kamu juga. Batin Mita merutuk.
Bu Sumarni tersenyum sekilas melihat raut wajah Mita yang nampak kesal itu.
"Kau harus sadar diri, di sini kau hanya istri kedua yang bahkan tak di akui negara," ucap Bu Sumarni membuat Mita membelalakan mata tak percaya.
"A— apa maksudnya Bu?" Dia kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh Bu Sumarni.
Tak di akui negara? berarti hanya menikah siri? bukankah boleh sah secara negara jika ada izin dari istri pertama.
Apa Mariska berubah pikiran? sial!! umpat Mita.
"Kau tetap harus menghormati Nyonya Mariska, dan tak boleh mengeluh apapun yang Tuan Irwan lakukan padamu, jika ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Nyonya Mariska kau tak boleh protes."
Hati Mita sakit mendengar kenyataan itu, ternyata pernikahan yang akan dia lakukan tak seindah yang dia khayalkan.
"Lalu ... bagaimana prosesi pernikahan itu, Bu? Orang tua saya pasti tidak akan setuju jika tidak ada pernikahan," ucap Mita mengeluh, bagaimana pun dia akan mencari cara agar harga diri orang tuanya terangkat di kampungnya.
"Kanjeng ibu akan datang ke kampung halamanmu, melamar membawa seserahan yang akan membuat bangga orang tuamu, namun pernikan tetap akan di lakukan di sini, dan hanya orang tua mu saja yang hadir," ucapan Bu Sumarni tentu membuat Mita bimbang.
__ADS_1
Mita mencari cara untuk tetap memaksa keinginannya itu pada keluarga calon mertuanya.
"Bukankah sudah saya jelaskan, tetap akan ada pernikahan, dan yang paling penting kehidupan keluargamu akan terjamin di masa depan. Mereka akan jadi orang yang tak di remehkan lagi." Iming-iming Bu Sumarni, yang jelas membuat buyar pikiran Mita.
Mita mengingat kesusahan yang keluarganya alami, kemiskinan mereka selalu jadi cemoohan keluarga besar orang tuanya.
Akhirnya Mita pasrah dan mengangguk, toh tetap Kanjeng Ibu berjanji akan melamarnya di kampung nanti, dia akan membuat acara yang meriah agar seluruh keluarga besarnya tau, bahwa dia memiliki calon suami yang kaya raya.
Bu Sumarni lantas berlalu meninggalkan Mita dan kembali ke kamarnya dengan membawa kotak merah berbahan beludru, serta amplop coklat tebal.
Mita sangat senang, dia tau itu adalah kotak perhiasan, dan amplop berisi uang.
Apa Bu Sumarni akan menunjukan barang yang akan di bawa oleh kanjeng ibu nantinya? Pasti seperangkat perhiasan kalo di liat dari kotaknya.
Bu Sumarni duduk dan membuka kotak merah itu dan menunjukan pada Mita.
Di sana satu set perhiasan yang sangat cantik dengan permata yang indah.
Wajah Mita berseri-seri melihat perhiasan mewah yang bahkan dulu tak pernah dia bayangkan untuk memilikinya.
"Ini kamu pakai, nanti saat Kanjeng ibu melamarmu, beliau akan membawa satu set yang lebih mewah dari ini."
Mita menangis, dia yakin orang tuanya akan menerima keputusannya itu, walau memang mereka pasti sedikit kecewa karena pernikahannya tak bisa di rayakan dengan megah.
"Dan itu uang untuk keluargamu mempersiapkan acara lamaran nanti."
Mita menerima semua pemberian Bu Sumarni dengan gembira tanpa perlu berpura-pura mencari simpati.
Mita membawa bingkisan itu ke dapur dan memamerkannya pada teman-temannya yang sebentar lagi dia anggap pembantu.
"Mbak ... Yan, liat deh sini, aku di bawakan sesuatu sama kanjeng ibu," ucapnya pongah.
Fatmah dan Yanti lantas mendekat dan melihat apa yang di perlihatkan Mita pada mereka.
Mereka tetap hanya bisa saling melirik, dan memilih tak berkomentar banyak. "Bagus Mit, sebaiknya kamu simpan baik-baik, hati-hati di jalan, ya?" ucap Fatmah, yang tetap mendo'akan kebahagian temannya itu.
"Sip, makasih Mbak. Eh iya, jangan lupa nanti kalo aku sudah menikah sama Tuan Irwan kalian juga panggil aku nyonya, paham kan!" ucapnya sombong sambil menunjuk ke arah Fatmah dan Yanti.
Dan setelah itu Mita lantas pergi ke kamarnya untuk segera mengambil tas dan pulang ke kampung halamannya.
__ADS_1
Sepeninggal Mita, Yanti menggerutu atas kesombongan yang Mita ucapkan. "Ya ampun Mbak, belum juga jadi majikan kita, sombongnya ngga ketulungan. Gimana ntar dah kalo jadi Nyonya, alamat semena-mena dia," ketus Yanti.
"Sudah, mau gimana lagi toh memang dia juga majikan kita nantinya."
.
.
.
.
Tiga hari kemudian ....
Di kediaman Mita di kampung halamannya, terlihat tenda dengan warna putih di hiasi bunga-bunga yang terlihat mewah, Mita memang mempersiapkan acara lamarannya dengan sangat besar-besaran untuk kelas orang kampung.
Di mana biasanya acara lamaran untuk masyarakat kampungnya, lamaran hanya di gelar sederhana, barulah acara pernikahan yang akan di helat besar, dengan mengundang banyak tamu.
Tapi tidak dengan Mita, acara lamaran itu seperti pesta hajatan di kampungnya.
Tak lama rombongan Kanjeng ibu datang, dan keluarga Mita menyambutnya.
Benar seperti janji Bu Sumarni padanya, Kanjeng ibu membawakan satu set perhiasan, dan barang bawaan layaknya seperti seserahan.
Tak nampak Nyonya Mariska, dia lebih memilih berada di rumah dari pada ikut menyaksikan proses lamaran itu.
Bagaimana pun hatinya tetap sakit saat dia harus berbagi suami, walau memang ada alasan di balik pernikahan itu, apalagi itu demi nyawanya sendiri juga.
Proses lamaran tak berlangsung lama, setelah menentukan tanggal pernikahan yang di pilih oleh Kanjeng Ibu, orang tua Mita hanya pasrah saja, mereka merasa kecil dan tak berani menuntut banyak.
Dengan bawaan banyak seperti ini juga, sudah membuat derajat mereka meningkat di mata sanak saudara dan tetangga mereka, jadi mereka tak mempermasalahkan penentuan tanggal pernikan yang terkesan terlalu cepat itu.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1