Pesugihan

Pesugihan
Keangkuhan Mita


__ADS_3

Disa dan Tia datang kerumah Kanjeng ibu setelah mendapatkan perintah dari Tuan Irwan kemarin, mereka sebenarnya enggan datang kerumah majikannya itu, sebab takut untuk bertemu Bu Sumarni.


"Dis, gimana kalo kita ketemu Bu Sum? aku takut loh," ucap Tia sambil mengepak bawaannya.


"Tenang aja kamu Ya, kamu harus percaya dan terus berdo'a, meski Bu Sum bukan manusia yang gampang di kalahin, yang penting saat ini kamu jangan bikin dia curiga aja, takutnya malah kamu—"


"Di bantai Bu Sum!" dengus Tia yang langsung memotong ucapan Disa.


"Ya ampun bahasamu, pake acara bantai segala."


Setelah Disa dan Tia sampai di kediaman kanjeng ibu, terlihat di sana ramai orang yang sedang mengantar barang. Dan nampak juga Joko dan Ari yang tengah sibuk membantu karena mereka tinggal di kampung sekitar.


Disa segera menghampiri Pak Jarwo yang pagi itu berjaga di depan.


"Pak Jarwo," sapa Disa lantas menyalaminya.


"Dis, kamu lewat samping saja, ya?" perintah Pak Jarwo yang langsung di angguki Disa.


Disa lantas gantian menuntun Tia yang harus di paksa, karena Tia seperti ingin kabur dari rumah majikan mereka.


Saat mereka sedang berjalan, terdengar suara khas seseorang yang memanggil dari belakang, praduga yang membuat jantung mereka berdebar kencang.


"Disa ... Tia ...." panggil Bu Sumarni.


Disa lantas berbalik terus menyenggol Tia agar dia ikut berbalik juga, dan ternyata benar dugaan mereka.


Disa nampak gusar, meski berusaha bersikap tenang seperti yang sering dia ucapkan pada Tia. Mungkin karena suasana kali ini berbeda saat bertemu langsung dengan Bu Sumarni yang memiliki aura negatif. Disa berusaha bernapas pendek-pendek karena aroma Bu Sumarni yang membuatnya mual.


"Bu ...." ucap Disa menunduk.


Sedang Tia, dia mencengkram erat tas yang dia genggam, tubuhnya sudah gemetar.


"Kamu kenapa Tia?" tanya Bu Sumarni yang melihat tubuh gemetar Tia.


"A ... anu Bu, Tia belum sarapan trus tadi jalan dari depan komplek, jadi gemetar nahan lapar," ucap Disa berbohong.


"Oh ya sudah kalian lekas sarapan, lalu bantu yang lain, ya?"


"Baik Bu," ucap Disa dan Tia kompak. Disa langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lama tak mencium aroma aneh Bu Sumarni membuat Disa kembali seperti dulu lagi.


Disa lantas menyeret tubuh Tia yang masih diam membeku. "Ayo Ya, jangan diem aja!"


Mereka sampai di dapur, di sana terlihat jika Yanti dan Fatmah sedang sibuk mempersiapkan acara siang nanti.


"Yan, Mbak," panggil Disa.


Yanti segera menoleh ke arah pintu belakang, dia segera berlari memeluk Disa.


"Ya ampun Dis, akhirnya," ucap Yanti dengan sudut mata sudah berlinang air mata.


"Napa sih? kok malah sedih," seloroh Disa.


"Ishh ... kamu ini, kami rindu lah, ini siapa Dis?"


"Eh iya kenalin ini Tia, Yan ... Mbak ... karyawan di toko." Disa memperkenalkan mereka pada Tia.


"Oh karyawan di Toko? aku Yanti," ucap Yanti memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Di ikuti Fatmah dengan mengucap namanya singkat sambil menjabat tangan Tia.


Lalu Bu Suamarni datang ke arah mereka, menghentikan obrolan yang baru saja dimulai.


"Sudah, nanti saja ngobrolnya, Disa ajak Tia ke kamar buat naro tas kalian, abis itu sarapan trus bantu kerjaan," intruksi Bu Sumarni.


Disa lantas mengajak Tia ke kamarnya, saat dia melihat arah gazebo, Disa terpana karena tempat itu sudah di desain dengan sangat indah, sepertinya acara pernikahan Mita dan tuan Irwan memang akan di gelar mewah walaupun tertutup.


Saat sudah sampai di kamar, Disa segera mengajak Tia untuk segera keluar dan membantu yang lain.


"Ayo Ya, malah duduk di ranjang," ucap Disa saat melihat Tia masih sama seperti sebelumnya, dia enggan sekali berada di rumah majikan mereka.


"Aku takut Dis," rengeknya.


"Kalo kaya gini malah bisa bikin Bu Sum curiga, ayo biasa aja, tolong lah Ya," pinta Disa dengan nada menghiba. Karena bisa saja kelakuan Tia membuat Bu Sumarni akhirnya menghabisi semua pekerja kanjeng ibu, bukan cuma nyawa Tia, namun semua bisa terkena imbasnya, dan Disa tak ingin itu terjadi.


Tia lantas bangkit keluar dari kamarnya, namun Disa membeku, saat ada tangan yang memegang bahunya.


Sebuah jemari hitam legam, Disa masih terpaku melirik tangan itu, tak lama hembusan nafas di tengkuknya benar-benar membuat Disa tak bergeming, Disa memejamkan mata. Tak lama Tia kembali ke dalam kamar, saat dirinya tak melihat Disa berada di belakangnya.


"Dis, gimana sih, ayok," ucap Tia yang membuat mahluk perewangan Bu Sumarni lenyap seketika.


Disa bernafas lega, dia lantas mendekat ke arah Tia, dengan tangan yang bergetar.


"Kamu kenapa Dis?" tanya Tia curiga.


"Ngga papa," jawab Disa singkat karena tak ingin membuat takut Tia.


.


.


.


Mita berjalan pongah bersama kedua orang tuanya, dia nampak berbeda.


Dandanan yang sedikit menor dengan perhiasan yang di kenakan membuatnya seperti orang kaya baru.


Mita dan keluarganya di jemput oleh supir suruhan keluarga Kanjeng ibu.


Saat sampai di gerbang, dia hanya tersenyum miring pada Pak Jarwo yang sekarang ikut menunduk menghormatinya.


Sedang kedua orang tua Mita mereka tetap ramah pada pekerja di sana.


Saat baru memasuki rumah calon besannya, ibunda Mita berpegangan erat kepada sang suami.


"Pak, rumah calon besan kita besar, ya? Tapi kok aku merasa wingit ya Pak? Hawanya anyep," keluh Ibunda Mita.


"Shuut ...." ucap Ayah Mita yang takut terdengar oleh salah seorang penghuni rumah calon besannya. "Jangan ngomong sembarangan Bu, bersyukur saja anak kita bakal hidup enak."


Tak lama Bu Sumarni menyambut mereka di pintu utama. "Selamat datang Bapak, Ibu, Mita, mari saya antar ke kamar, agar bisa istirahat," ajak Bu Sumarni yang berjalan di depan.


Mereka di antar oleh Bu sumarni ke kamar tamu, dan Mita karena sudah menjadi calon mantu keluarga kanjeng ibu dia juga tidur di kamar tamu.


"Ini kamar Bapak, Ibu, acara siraman nanti siang, silahkan istirahat terlebih dahulu, nanti saya suruh orang untuk membawakan camilan," ucap Bu Sumarni ramah.


"Terima kasih Bu," ucap ibu Mita yang ikut membungkukan tubuhnya. Dan Mita yang melihat itu merasa kesal, sebab dia berpikir jika sekarang dirinya dan keluarganya berstatus lebih tinggi dari Bu Sumarni.

__ADS_1


"Ayo Mita," ajak Bu Sumarni.


Lagi-lagi Mita merasa kesal karena Bu Sumarni tak memanggilnya Nyonya.


Mita di arahkan ke kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar orang tuanya, saat pintu kamarnya di buka, Mita merasa takjub sebab, dia melihat jika kamarnya sudah di hias layaknya kamar pengantin.


Di ranjang tergeletak baju yang akan dia pakai untuk acara siraman.


"Kalo begitu saya permisi, kamu boleh istirahat, nanti perias pengantin datang untuk membantu mendandani kamu," ucap Bu Sumarni lantas segera berlalu dari sana.


Mita lantas mengambil baju kebaya berbentuk kemben itu, dan berputar-putar di depan cermin.


Mita tak ingin beristirahat, dia ingin segera ke dapur di mana mantan teman-temannya sedang sibuk menyiapkan acara untuk dirinya.


Mita berjalan dengan angkuh saat akan menuju ke dapur, dia berpapasan dengan Wulan yang juga baru kembali dari dapur.


"Eh Wulan ...." ucap Mita berusaha akrab dengan calon adik iparnya.


Wulan kaget mendengar Mita memanggil dirinya tanpa panggilan nona. Walau dia tau jika Mita adalah calon kakak iparnya, namun terlalu dini.


Jika Mita memanggilnya nona Wulan seperti dulu pun, pasti Wulan juga akan melarangnya, dan justru membuat Wulan sungkan, tapi tidak Mita lakukan. Itu yang membuatnya kecewa.


Mita mengaku menerima pernikahan ini atas dasar perjodohan, namun sekarang di mata Wulan jika Mita itu benar-benar berharap menjadi istri kakaknya.


"Iya Mit, selamat ya?" ucap Wulan enggan, kini dia bisa menebak sikap asli Mita.


"Makasih," balas Mita malas, dia berharap Wulan akan menghormatinya seperti saat Wulan menghormati Mariska.


"Kamu kapan datang?"


"Kemarin ... Ya sudah aku ke kamar dulu ya?" pamit Wulan lantas melenggang pergi dari hadapan Mita.


Mita lantas mendengus setelah Wulan pergi. Saat sampai di dapur dia melihat jika semua mantan teman kerjanya sedang sibuk.


"Khemm ...." sapanya yang langsung membuat semua yang berada di sana menghentikan aktifitasnya.


"Udah sampai mana persiapannya? Jangan sampai ada yang kelewat, ya?" ucapnya lantas duduk di meja dapur.


Semua menatapnya heran, begitu juga Disa, dia melihat jika sifat angkuh Mita semakin menjadi-jadi.


Namun pertemuan dengan Mita sedikit membuat rasa penasaran Disa terobati, sebab dia penasaran apa kontrak ghaib antara Mita dan Bu sumarni masih ada, dan ternyata Mita masih memiliki tanda merah itu.


"Iya Mit, tenang aja," jawab Mbak Fatmah.


"Eits! Biasain mulai sekarang panggil Nyonya, biar kalian ngga di tegur Bu Sum," ucap Mita sinis, lantas segera bangkit dari sana dan melihat halaman belakang yang sudah di hias cantik untuk acara dirinya.


Mita kemudian memilih kembali ke kamarnya, untuk merawat diri dengan berendam dengan bunga-bungaan yang sudah Bu Sumarni persiapkan.


Sepeninggal Mita semua yang berada di dapur hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan calon Nyonya baru mereka.


"Sombongnya," keluh Tia.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2