Pesugihan

Pesugihan
Batu Sudojiwo


__ADS_3

Flash back ....


Di kediaman kanjeng ibu paska kematian pak Hanubi.


Setelah kepergian Disa dan Tia yang meminta ijin untuk pulang. Mereka semua tengah mempersiapkan diri untuk pergi kerumah Ki Brasta, mengabari kepergian Pak Hanubi kepada Wulan, meski mereka tau jika kemungkinan besar Wulan sudah mengetahui berita itu.


"Maaf kanjeng, tadi Disa ada perlu apa menemui Anda?" tanya bu Sumarni penasaran, sebab hari itu dia tak melihat keberadaan Disa dan Tia, saat bertanya kepada Fatmah, di jawab jika Disa izin pulang kampung.


"Dia meminta izin untuk pulang ke rumah, bersama temannya itu," balas kanjeng ibu, melupakan nama Tia, sebab konsentrasinya tengah terpecah.


"Kau tak usah merisaukan mereka Sum, fokus saja pada tujuan kita, mereka mudah untuk di singkirkan setelah semuanya selesai." Lanjut kanjeng ibu seakan tau isi hati kuncennya yang merisau di sana.


Benar adanya, dia memiliki tugas yang lebih penting saat ini, namun tetap dia merasa geram, sebab dia merasa jika Disa sudah melewati batas, seharusnya Disa izin terlebih dahulu padanya, dan dia serta merta membawa Tia, saat Bu Sumarni tengah keluar.


Para abdi sang Tuan pun di suruhnya untuk mengecek keberadaan Tia, namun nihil, Tia tak berada di mana pun, bertambah geram saja Bu Sumarni.


Mereka pergi hanya bertiga untuk menjenguk Wulan tanpa mengajak Mariska dan Mita. Mariska tak bisa ikut sebab Kanjeng ibu tak tega meninggalkan cucunya yang tiba-tiba sakit demam, sedang Mita dia masih merasa tak enak badan, dan kanjeng ibu juga tak mengajaknya, takut keadaan menantu keduanya itu semakin parah.


Setelah sampai di kediaman Ki Brasta, kanjeng ibu langsung diantar Sri menuju kamar Wulan, dia melihat anak perempuannya itu masih duduk di ranjang yang selalu dia lihat seperti itu saat dirinya menjenguk, namun sekarang tatapan mata itu nampak semakin kosong.


Kanjeng ibu menghela napas pelan sebelum akhirnya duduk di kursi samping ranjang Wulan.


Wulan tak melirik kedatangan sang ibu, sebab dia sudah tau apa yang akan di katakan sang ibu.


"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya Kanjeng ibu, menarik sejumput rambut Wulan yang menjuntai tak terawat.


Rambut yang biasanya wangi, dan di sisir rapi, sekarang tampak sangat acak-acakan. Kulit yang dulu putih bersinar, sekarang hanya nampak putih pucat saja. Wajah ayu yang dulu selalu berhias senyuman, sekarang hanya ada wajah datar dan mata sayu dengan lingkar hitam menghiasinya.


"Mau sampai kapan kita begini Bu?" balas Wulan.


Kanjeng ibu yang tau jika Wulan pasti akan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lain memilih bangkit dan berniat meninggalkan putrinya, dia merasa jika Wulan nampak baik-baik saja.


"Kamu tau, Ibu pun sama takutnya denganmu, kematian entah seperti apa yang menanti kita, lakukan saja tugasmu, Ibu yakin kau tau jika ayahmu sudah tiada," balas Kanjeng Ibu ketus, dan memilih segera pergi dari sana.


Dia akhirnya menuju ke ruang Ki Brasta, di sana sudah ada Sri dan Bu Sumarni yang tengah duduk menunggunya.

__ADS_1


"Bagaimana Ki, apa masih lama batu itu muncul?" tanya Kanjeng Ibu setelah duduk bersimpuh diapit oleh para kuncen itu.


"Sepertinya sebentar lagi, namun saat ini perasaannya tengah goyah entah karena apa? Yang membuat batu itu kembali muda di dalam tubuhnya," jelas Ki Brasta.


Sebenarnya tubuh kanjeng ibu juga sudah merasa tak sanggup melawan para musuhnya yang masih menyerangnya, sebab kekuatan batu itu sedang melemah karena milik dirinya sudah mulai retak.


Bahkan dia selalu muntah darah, menahan semua serangan itu dengan kekuatannya.


"Ya sudah, sebaikanya kami pulang dulu saja," ucap Kanjeng Ibu yang di balas anggukan Ki Brasta, dia dan Bu Sumarni segera keluar dari ruangan itu dan mereka semua pergi dari rumah Ki Brasta tanpa berpamitan dengan Wulan.


.


.


Baru dua hari setelah Wulan mendapatkan berita duka dari Ibunya itu, Wulan merasakan jika tubuhnya terasa panas malam ini, seperti ada api berkobar di dalam tubuhnya.


Wulan lantas bangkit dan segera meminum air yang tersedia di nakas, panas yang masih dia rasakan memaksanya untuk meminum langsung lewat teko itu.


"Panas ... panas ...." Wulan bergumam sendiri, dia mencari keberadaan Sri yang biasanya tidur di bawah menemaninya akhir-akhir ini.


"Tolong ... panas ... Sri!" hanya itu yang mampu dia katakan, bahkan dengan tak tau malu dia sudah melucuti semua pakaiannya, dia berguling di lantai berusaha mendinginkan tubuhnya lewat dinginnya lantai kayu itu, namun api yang dia rasakan tak menyurut, dia lantas menjerit memanggil Sri.


Tak lama Sri pun datang menghampirinya, dia di bantu para penjaga memindahkan tubuh Wulan kembali ke ranjang, namun menyingkirkan kasur empuk yang biasa menopang tubuh Wulan, sekarang ranjang itu hanya beralaskan papan kayu yang terdapat sedikit celah, dia lantas mengikat kaki beserta tangannya ke sisi ranjang.


Wulan menjerit histeris, dia meminta tolong agar Sri memadamkan apinya, namun ini yang dia dapatkan, kaki dan tangannya malah di ikat, dia tak tau apa yang akan Sri lakukan padanya.


"Sabar nona, sebentar lagi batu Sudojiwo akan keluar dari tubuh anda," ucap Sri lembut memberitahu, dia lantas meletakan sebuah wadah cekung seperti mangkuk yang terbuat dari tembaga di bawah ranjang Wulan.


Pendengaran Wulan sudah tak setajam dulu, akibat rasa panas yang teramat sangat itu, dia tak mendengar apa yang Sri ucapkan, hanya seperti gumaman saja di pendengarannya.


Sri lantas menyirami tubuh tanpa busana Wulan, dengan air bunga, sambil membaca mantra.


Tak lama panas membakar yang di rasa Wulan mereda, dengan napas tersengal-sengal ia meminta segelas air pada Sri.


Sri belum melepas ikatannya, sebab dia tau proses kesakitan itu masih akan Wulan rasakan.

__ADS_1


Setelah meneguk segelas air, Wulan meminta Sri menutupi tubuhnya, lantas berkata apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


Sri tersenyum menjawab pertanyaan Wulan, dia lantas menjelaskan kembali tentang batu sudojiwo yang sebentar lagi akan keluar dari tubuhnya.


Wulan membelalak, dia berteriak dalam tanya, "Apa batu itu sudah keluar, Sri?! Aakkh!!"


Namun Sri menggeleng, dia menjelaskan, akan ada rasa sakit yang akan kembali Wulan rasakan, dia hanya berharap jika Wulan dapat bertahan, jangan sampai mati di tengah puncak munculnya batu sakti itu.


Wulan meringis rasa panas itu masih dia rasakan, bahkan tubuhnya terasa kaku, namun dia harus bersiap merasakan sakit yang lebih lagi, dia tak dapat membayangkannya, hanya bisa berharap saat ini Tuhan mengabulkan keinginannya, agar supaya dirinya bisa menyusul sang ayah.


Tangannya mencengkram kuat kain pengikat yang mengikat kedua tangannya, ranjang itu bergoyang hebat akibat Wulan yang memberontak.


Baru saja dia meratapi nasibnya, tiba-tiba tubuhnya merasakan sesuatu yang lain, dia mengalami sakit yang teramat sangat sekitar bagian punggung, ketidaknyamanan di perut bagian bawah, dan ada tekanan yang sangat besar pada panggul. Jika hanya sebuah batu sebesar bandul perhiasan, mengapa terasa sangat menyesakan rahimnya, pikir Wulan.


Wulan juga merasa jika tulang-tulang di tubuhnya terasa sakit dan patah, dia menjerit histeris meminta Sri menghentikan penderitaannya, namun Sri hanya diam bergeming, dia nampak sangat khusyuk membaca mantra-mantra.


Wulan semakin histeris, bercak kebiruan mulai muncul perlahan ke permukaan kulitnya, menandakan jika pembuluh darahnya banyak yang pecah. Serta urat-urat yang tersembunyi kini semakin jelas terlihat seperti menjunjukan keberadaannya yang nampak biru pekat.


Namun tak jadi masalah, saat batu itu keluar semua luka dan efek kengerian yang terlihat akan segera sembuh, bahkan bisa melebihi kondisi yang lebih baik dari semula.


Sangkin semangatnya meronta, pergelangan tangan dan kaki Wulan sudah luka dan mengeluarkan darah akibat gesekan yang di akibatkan tali yang mengikat.


Bahkan sudut matanya sudah tak mengalir air mata tapi kini berganti darah, pandangannya mulai merabun akibat darah yang menggenang menutupi bola matanya.


Wulan sudah tak merasakan tubuhnya.


Jangan tanyakan betapa sakit dan menyiksanya, benar apa kata Sri, rasa sakit yang dia rasakan saat akan mengeluarkan batu itu, benar-benar membuatnya kehabisan akal, lebih berharap mati dari pada harus tersiksa seperti ini.


Di tengah kegelapan yang menyakitkan itu, akhir dari segala kesakitan yang dia alami, perut yang dia rasakan seperti di injak-injak ribuan gajah, darah mengalir deras dari kedua lubang intinya, dia sudah pasrah, tanpa berharap kembali hidup.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2