
Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh Bu Sumarni, meski bukan hari yang di tunggu oleh keluarga kanjeng ibu.
Wulan akan menerima ajian Sudojiwo, dimana itu akan di turunkan kepadanya, setelah sudah sekian lama di pegang oleh kanjeng ibu.
Wulan adalah keturunan kedua dari pemegang batu itu sebab, nenek Wulan yakni Padmasari yang pertama memulai persekutuan itu bukanlah pemegang kuasa, dia harus menyerahkan kekuasaan itu kepada sang Putri yaitu kanjeng ibu, saat perjanjian itu di buat.
Nenek Wulan, Padmasari hanya di beri kalung oleh Tuan, yang nanti bertahtakan batu Sudojiwo yang tercipta dari darah sang keturunan penganut perjanjian dengannya.
.
.
Kanjeng ibu sekeluarga datang kembali ke kediaman Ki Brasta, tentunya dengan menempuh perjalanan melelahkan yang tak jauh beda dengan sebelumnya.
Saat kanjeng ibu pergi ke kamar Wulan, untuk melihat persiapan anak gadisnya itu, terlihat Wulan tengah duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong, kanjeng ibu mendekat.
"Wulan ... bagaimana kabarmu, Nak?" pertanyaan yang sebenarnya tak memerlukan jawaban, sebab kanjeng ibu sendiri bisa melihat, bagaimana keadaan sang putri yang terlihat menyedihkan itu.
Wulan menatap sang ibu, dan tersenyum sekilas, perasaannya hampa, rindu yang ingin ia tumpahkan mendadak lenyap tak tersisa, sebab asa yang ia rasakan sekarang, bahwa hari ini akan ada kejadian besar yang menimpanya, dan itu bukan sesuatu yang bagus, batinnya.
Kanjeng ibu yang tak mendapatkan respon, lantas mengusap bahu Wulan, dan memilih meninggalkan anaknya itu kembali.
Wulan acuh saat sang ibu pergi meninggalkannya, mungkin sang ibu kesal karena dia tak merespon kedatangannya.
.
.
.
Malam ini Wulan akan melakukan penyucian tubuh kembali, dia akan melakukan siraman namun bukan bersama kanjeng ibu, melainkan dengan Mita, Sri membantu mempersiapkan dirinya melakukan siraman itu, Wulan sudah tak banyak membantah, baginya percuma melawan sebab Wulan tau jika Sri dan Ki Brasta bukan manusia sembarangan.
Sedang Mita sebenarnya enggan ikut kembali kerumah Ki Brasta namun, dia sendiri tak berani menolaknya, se-kembalinya minggu lalu, tubuhnya masih merasa tak enak, entah kenapa kepalanya selalu terasa pusing.
__ADS_1
Saat setelah acara makan malam, Mita yang terkejut dengan perkataan Bu Sumarni yang akan mengikut sertakan dirinya di acara siraman lantas menolak, dia takut, firasat buruk terlintas di benaknya.
"Kenapa saya Bu? Saya takut," rengek Mita yang berusaha mengelak dari perintah Bu Sumarni itu. Dia merasa jika dia lah majikannya, namun entah bagaimana, dia seperti yang di atur oleh Bu Sumarni, bahkan bukan hanya dirinya. Setelah menjadi bagian keluarga kenjeng ibu dia bahkan menyadari satu hal, bahwa semua kegiatan keluarganya di atur oleh Bu Sumarni.
Dengan perasaan takut dan kesal dia tetap mengikuti keinginan Bu Sumarni, bahkan dia sudah membujuk sang suami bahwa dia enggan melakukan siraman dengan Wulan, namun Irwan sang suami malah menanggapi dingin rengekan istri keduanya itu, bahkan Mariska pun tak bisa berbuat apa-apa.
Malam merayap semakin larut mengikuti pergeseran bulan yang kini terlihat terang meski sebagian, Wulan sudah di posisi siraman, tentu saja sekarang dia bersebelahan dengan iparnya Mita.
Udara sangat dingin mencekam, berbalutkan kemben putih dan di mandikan malam hari, tentu saja membuat sekujur tubuh mereka kedinginan. Terlebih lagi Mita, keadaannya yang tak begitu sehat, dari semenjak meninggalkan kediaman Ki Brasta, Mita memang merasakan tubuhnya selalu dalam kondisi yang kurang Fit. Dan sekarang dirinya di paksa untuk mandi tengah malam, benar-benar membuat tubuhnya bergetar hebat karena kedinginan.
Mita melirik Wulan yang nampak tenang, namun Mita melihat jika tatapan mata Wulan selalu nampak kosong, dia tak tau apa yang terjadi dengan iparnya itu, bahkan mereka tak berbincang sekalipun, sebab Wulan masih di kurung di kamarnya. Tidak ada senyuman ceria dari Wulan, dia menatap keluarganya dengan pandangan datar.
Mariska menatap sendu adik iparnya, gadis ceria itu sudah tak ada lagi, Mariska merasa kasihan pasti sesuatu terjadi saat mereka meninggalkannya di sini, terlebih malam ini dia akan melihat Tuan yang menjadi sumber kekayaan keluarganya.
Setelah acara siraman itu selesai, mereka semua di antar kembali ke kamar, untuk berganti pakaian, dan sekali lagi hanya Wulan dan Mita yang memakai pakaian sama, mereka masih menggunakan kemben putih, namun hanya Wulan yang berias cantik, dengan bunga melati menutupi bahunya.
Wulan juga merasa aneh, dengan apa yang dia dan kakak iparnya Mita kenakan, sebab hanya mereka berdua yang di dandani mirip, sedang yang lain memakai kebaya putih seperti biasa.
Sekarang anggota keluarga kanjeng ibu sudah berkumpul lengkap, dan akan bersiap untuk memulai perjalanan lewat belakang rumah Ki Brasta yang akan menuju istana sang Tuan.
Mereka melewati jalan setapak di antara semak belukar serta deretan pohon. Wulan berjalan di belakang Sri, dia pun hanya mengikuti kemana pun mereka membawanya, sebab langkahnya seperti sudah di bimbing mengikuti mereka.
Sedang Mita merasa sangat ketakutan, ingin sekali dia menggandeng sang suami, namun dia tak berani menoleh ke belakang, dimana Irwan berjalan di belakangnya. Dia juga ingin menggandeng tangan Mariska yang berjalan di depannya, namun juga tak memungkinkan, sebab jalan itu hanya bisa di lalui untuk satu orang.
Mita merasa dia sama sekali tak kesulitan berjalan di tengah kegelapan yang hanya di sinari lampu petromaks yang di bawa Sri dan Bu Sumarni, namun Mita merasa jika malam ini sangat senyap, tanpa suara serangga dan hewan malam lainnya, bahkan suara daun yang biasa gemerisik di tiup anginpun seperti membisu, hanya langkah dan hembusan nafas mereka yang kini terdengar.
Perjalanan mereka di heningnya malam akhirnya terhenti di sebuah pohon yang terlihat paling besar dan tua, dimana itu adalah gerbang istana Tuan mereka.
Nyali Mita menciut, bahkan Mariska pun gemetar ketakutan, dia paham tempat apa itu, sungguh ingin sekali dia juga berlari dari situasi ini.
Ki Brasta berdiri di tengah, di apit oleh Sri dan Bu Sumarni, mereka merapalkan mantra untuk membuka pintu gerbang ghaib yang belum kasat mata.
Dengan perlahan dan proses di luar nalar, pohon besar dan juga berlumut itu berubah penampakannya menjadi dua buah daun pintu berwarna hitam yang menjulang menembus gelapnya langit malam, teksturnya seperti kayu yang membatu dengan relief mahluk-mahluk menyeramkan.
__ADS_1
Krekeeeet ... !!
Gerbang mulai terbuka ... dimana perpindahan dimensi di perbatasan itu akan di mulai dari alam nyata ke alam gaib.
Celahnya kini semakin melebar, gerbang yang bergeser perlahan kearah dalam, saat itu juga langkah Ki Brasta, Sri, dan bu Sumarni mengiringi masuk, dan yang lain mengikuti dari belakang tanpa perintah, seolah gerak tubuh, pikiran dan hati mereka sudah tidak singkron lagi di luar kendali kesadaran sendiri, kecuali Mita.
Mita yang baru pertama kali melihat hal mistis seperti itu, ingin sekali berteriak, dia sangat ketakutan, insting-nya mengatakan hal berbahaya akan terjadi, namun kakinya bahkan tak bisa ia gerakan, dia bahkan sudah terisak namun seperti tak ada yang memeperdulikannya, hingga Mariska mendekat kearahnya, dan menyeka air matanya.
"Aku tau kamu takut, tapi nasi sudah menjadi bubur, sebagai kakak, aku minta maaf," ucap Mariska, yang semakin membuat Mita ketakutan.
Belum sempat Mita menjawab, Bu Sumarni sudah mendatangi mereka, meminta mereka untuk segera masuk, sebab Tuan sudah menunggu mereka semua.
"Tuan? tuan apa? Ada apa ini? Perasaanku tak enak, pak ... bu, tolong aku," Mita terus saja berguman tanpa bisa mengeluarkan kata-kata, sangkin ketakutannya.
Akhirnya Mita berjalan masuk bersama Mariska dengan celingukan mengamati keadaan sekitar ....
Jeng-glienng ... !!
Suara gerbang gaib yang tertutup seketika, membuat Mita dan Mariska kaget bukan kepalang. Suaranya yang menggema menggetarkan tubuh mereka yang sejatinya sudah gemetar dari tadi. Merekapun mempercepat jalannya untuk menghampiri dan mengekor di belakang bu Sumarni.
Mereka semua kini sudah berada di alam gaib istana sang tuan, dimana tempat itu sangat megah selayaknya istana, dengan semerbak wangi bunga yang sangat memabukan. Menurut Mita harumnya terlalu berlebihan bahkan membuatnya mual.
Mita juga melihat banyak abdi disana, namun entah kenapa Mita merasa ngeri saat berusaha tersenyum menyapa mereka.
Tibalah di sebuah ruangan besar yang di depannya nampak gelap gulita, namun siluet gazebo itu nampak tak asing, hanya saja gazebo itu tertutupi oleh tirai merah, di sekelilingnya.
"Tempat apa ini? Kenapa gazebo ibu ada di sini juga? Kenapa di depan sana sangat mengerikan? Dimana Wulan?" Mita melontarkan beberapa pertanyaan dalam hati, dan mungkin akan ia dapatkan jawabannya sesaat lagi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....