Pesugihan

Pesugihan
Ide Gila


__ADS_3

Brakk!!! ....


Disa terhempas oleh mahluk yang mendorongnya hingga merusak pintu kamar yang di tempati Yanti dan Disa dahulu.


Mereka berguling hingga keluar kamar, dan mendarat di halaman belakang.


Wiwit menenangkan Putra yang bangun akibat suara kegaduhan tadi, mungkin kantuk masih di rasa, usapan pelan pada punggungnya membuat Putra kembali terlelap dalam tidurnya yang lebih pulas.


Mahluk itu sama menyeramkannya dengan sosok mahluk yang menyerang Disa dan Wiwit sebelumnya, hanya kali ini mahluk itu tak memiliki tanduk.


Yanti yang mendengar kegaduhan lantas segera menghampiri kamarnya, nampan yang berisi makanan yang ia bawa bergetar akibat pemandangan yang sangat mengerikan di hadapanya.


Dengan pintu kamar yang hancur, dan Disa seperti seseorang yang tengah kerasukan, sebab mata manusianya tak melihat sosok yang tengah bertarung dengan Disa. Dia hanya melihat Disa yang seakan berguling-guling di rumput itu.


Tia yang tadi bersama Disa dan Wiwit di kamar, masih diam mematung akibat terkejut, namun dia lantas mengerjap, memandang keadaan Disa di luar sana, dia hendak menghampiri Disa namun terhenti oleh ucapan Wiwit yang berdiri di ambang pintu bersama Yanti yang ikut diam seribu bahasa.


"Stop! kalian berdua ikut aku ke kamar Fatmah!" titah Wiwit menggiring keduanya ke tempat aman.


Mereka terkejut melihat Fatmah yang nampak sangat ketakuan, dia meringkuk di pojok tempat tidur dengan selimut tersampir di lututnya, dia menenggelamkan wajahnya.


Tia lantas mendekat, dia menebak jika Fatmah ketakutan sama seperti dirinya dan Yanti mendengar suara yang memekakan telinga akibat hancurnya pintu kamar Yanti.


"Tenang Mbak, ada kami," ucap Tia.


Wiwit lantas meletakan Putra secara perlahan, dia tak ingin anak majikannya itu bangun, dia harus melihat keadaan Disa di depan.


"Kalian tunggu di sini, aku akan ngecek keadaan Disa," Yanti dan Tia hanya mengangguk menjawab perintah Wiwit.


.


.


.


Di luar Disa masih bertarung dengan sang abdi Bu Sumarni, mereka masih berhadapan, bersiap untuk kembali saling menyerang, pergulatan sengit pun terjadi.


Disa terkejut manusia biasa sepertinya bisa melawan sosok mahluk seperti itu, walau dia sengaja menyerap ilmu yang tadi di ambilnya dari Wiwit, namun seperti di luar akal sehatnya.


Raut wajah buas mahluk itu seakan menahan sakit, Disa juga terluka akibat cengkraman mahluk itu di kedua sisi lengannya, namun gerakan gesit yang di miliki Wiwit saat ini benar-benar membantunya.


Dan mahluk itu kembali menyerang dengan suara geraman saat Disa tengah lengah menatap Wiwit yang muncul kembali, namun Disa bisa menghindar dan membuat mahluk itu tersungkur. Dengan cepat menaiki punggung mahluk itu, menahan tubuh sang mahluk ketanah, dan memelintir kepalanya.


"Aaaaaarghhh!" pekik Disa saat berhasil menarik lepas kepala mahluk itu.


"Krekk," suara terakhir yang Disa dengar, mahluk itu berubah menjadi percikan air, yang langsung hilang seperti kabut.


Wiwit mendekati Disa, niat hati ingin menolong ternyata Disa mampu melawannya sendiri.


"Hemmm ... mahluk penjaga Putra sejenis air," menilai mahluk tadi sambil menjelaskan kepada Disa yang kini mulai mereda, kembali kepada dirinya sendiri.


"Pantas ndoro Putra senang sekali bermain di kolam ikan itu—" tunjuk Disa dengan dagunya, "Aku seperti pernah melihatnya, dia mahluk yang selalu mengikuti ndoro Putra, sedari tadi aku melihatnya berada di sekitaran ndoro Putra, namun tak pernah menyerang."

__ADS_1


"Trus apa yang kamu lakuin hingga dia tiba-tiba menyerangmu Dis?"


"Sebelum aku melempar Ndoro Putra ke arahmu, aku menggerutu menengadah menatap atap, terus bilang jika aku akan membunuh Putra," jelasnya.


Wiwit memang sempat mendengar jika Disa bergumam pelan namun, indera pendengarannya tak terlalu fokus sebab dia hanya mendengar perkataan batin Disa yang memintanya untuk menangkap Putra.


Sontak Wiwit tertawa mendengar ucapan Disa, jelas mahluk itu akan menampakan dirinya, sebab keturunan abdi sang Tuan memang harus dia lindungi.


Saat mereka masih tertawa, Wiwit melihat sesosok mahluk penjaga yang lari dan menghilang di gazebo.


Dia pun lantas berlari mengejar, Disa mengikuti Wiwit yang tiba-tiba saja berlari dan berhenti di depan gazebo yang dulu membuatnya merinding, sebenarnya sekarang pun masih Disa rasakan, sebab aura di sekitar gazebo sangat hitam.


Wiwit diam mematung menatap gazebo, dia melihat jika ini adalah pintu penghubung antara rumah kanjeng ibu ke sarang sang Tuan, Disa tak bisa melihat pintu ghaib itu.


Tiba-tiba sebuah ide datang di benak Wiwit, dia sedang menimang resiko yang akan dirinya dan Disa hadapi.


Mencari keberadaan Bu Sumarni dengan raganya, sudah di pastikan tak mungkin, dengan keluar dari raganya dan hanya menggunakan sukmanya sudah tentu beresiko, sebab dia bisa terombang-ambing di alam yang tak tau ujungnya.


Meski tak di pungkiri ide yang tadi terbesit merupakan hal terakhir yang bisa dia lakukan, meski harus menanggung resikonya, sebab dia dan Disa sudah kehabisan waktu.


Saat mahluk tadi kembali ke sarangnya sudah di pastikan, dia akan mengadukan keadaan di kediaman kanjeng ibu yang telah di obrak-abrik.


Mau tak mau hanya ide gila ini yang akan dia lakukan, sebab menunggu mereka menyerang kesini akan sangat berisko, pikirnya.


"Dis," panggilnya menatap Disa ragu.


Disa hanya menatap Wiwit menunggu temannya itu melanjutkan ucapannya.


"Cara apa Wit—" ujar Disa penasaran.


"Apapun harus kita lakuin, kita ngga punya banyak waktu Wit," ucap Disa yakin.


"Walau mati menjadi resikonya?"


Ucapan Wiwit membuat Disa diam terpaku, namun mati memang resiko yang memang akan mereka hadapi, Disa paham itu, lantas dengan yakin dia menjawab "Iya!"


"Ayo," ajak Wiwit kembali ke kamar Fatmah, di perjalanan Wiwit akhirnya mengutarakan ide gilanya.


"Kita akan melewati pintu ghaib yang berada di gazebo, namun hanya menggunakan sukma kita," jelasnya.


Disa menelan kasar salivanya, dia paham apa yang di maksud Wiwit, dulu dia pernah meninggalkan raganya, berlari hanya dengan sukmanya, saat dia lepas kendali akibat kemarahan yang di rasakannya.


Namun ada satu hal yang Disa ingat dari perkataan Ki wiryo, bahwa dia tak boleh meninggalkan raganya terlalu lama, sebab itu juga sangat berbahaya.


Lantas pergi mencari Bu Sumarni hanya dengan sukma mereka apa bisa di lakukan secepat kilat? pikirnya.


Dulu saat dirinya melesat kembali dari gunung ke rumah kanjeng ibu, memang cepat namun sekarang dia akan mencari keberadaan Bu sumarni yang belum jelas dimana rimbanya, Disa hanya tertawa getir.


"Ini memang rencana gila!" gumam Disa, di balas senyuman miring oleh Wiwit yang mendengar gumamannya.


Setelah sampai di kamar Fatmah, keadaan Fatmah sudah nampak tenang, Disa dan Wiwit memakan makanan yang di siapkan oleh Yanti.

__ADS_1


Sedang Tia membantu membalut luka di kedua lengan Disa, saat selesai makan Disa lantas bercerita tentang kedatangannya bersama Tia dan Wiwit.


Disa meceritakan tentang siapa Bu Sumarni dan dia menjelaskan jika majikan mereka itu adalah seorang penganut pesugihan.


Dan mereka di mantrai oleh kertas kontrak kerja yang di buat oleh Bu sumarni untuk menumbalkan mereka untuk kekebalan ilmunya sendiri.


Yanti yang mendengarnya sungguh terkejut, walau nalurinya memang mengatakan jika ada yang tak beres dengan majikan mereka, namun dia berusaha mengenyahkan pikiran buruk sangkanya, dan saat ini dia hanya bisa terisak, jika ternyata nasibnya sedang berada di ujung tanduk.


Berbeda dengan Fatmah, yang terlihat semakin ketakutan, rasa takut yang ia rasakan sudah sampai puncaknya, bahkan dia menggeleng unyuk mengenyahkan nasib buruk yang tengah menantinya.


"Sabar Mbak, aku juga takut awalnya, kita di sini bersama-sama akan mengalahkan Bu Sumarni," ucap Tia memberi semangat.


Namun belum bisa meredakan rasa takut Fatmah, dia masih menangis sesenggukan.


"Selain pak Wahyu apa ada lagi pekerja yang akan datang?" tanya Wiwit.


"Pak jarwo sedang sakit, kalo Yuda lagi libur, soalnya keluarga kanjeng ibu pergi dengan satu mobil, dan tuan Irwan yang menyetir sendiri," jawab Yanti.


Wiwit lantas bangun dan pergi ke gerbang depan, mempengaruhi kembali pikiran Pak Wahyu untuk segera pulang kerumahnya, dan menghilangkan ingatannya tentang kejadian hari ini.


Setelah Pak Wahyu pulang, di tutupnya pintu gerbang dari dalam dan dia segera kembali ke kamar Fatmah, sebab dia dan Disa harus segera pergi ke sarang mereka.


Saat sudah berada di kamar Fatmah, Wiwit berbicara serius kepada Tia.


"Ya aku mohon jaga tubuh kami, apapun yang kamu dengar di luar pintu kamar jangan sekalipun kamu buka, JANJI!" ucap Wiwit tegas.


Tia terkejut dengan rencana mereka, pikirnya itu benar-benar sungguh berbahaya, dia sendiri pernah menjaga tubuh Disa, Ki Wiryo dan Asih, sungguh kejadian yang sangat mengerikan saat mereka meninggalkan tubuhnya.


Namun dia juga tak bisa membantah, sebab dunia ghaib, benar-benar tak bisa dimengerti olehnya.


"Aku janji, do'a kami menyertai kalian," ucapnya yakin.


Dia tau jika Wiwit, sedikit ragu terhadap dirinya, jadi ini lah waktunya untuk membuktikan diri bahwa dia juga bisa di andalkan.


Disa dan Wiwit duduk di depan almari, "Kami pamit, jaga diri kalian," ucap Disa lantas memejamkan mata.


"Mereka sedang apa, Ya?" tanya Yanti kepada Tia.


"Mereka meninggalkan tubuhnya untuk mencari Bu Sumarni hanya dengan sukma mereka," jelas Tia.


Dan Wushhhh!!! ....


Sukma Disa dan Wiwit melesat meninggalkan tubuh mereka, menembus tembok kamar dan berhenti di depan gazebo yang terdapat pintu ghaib di sana.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2