Pesugihan

Pesugihan
Lawan Dan Kawan


__ADS_3

Selepas kepergian Disa dan Wiwit, suasana di kamar Fatmah sangat mencekam, raga kosong memang benar-benar mengundang mahluk halus, ingin mengisinya.


Suara-suara aneh mulai mereka rasakan, namun berusaha Tia abaikan, sebab dia sudah tau hal seperti ini akan di alaminya.


Yanti juga merasa ketakutan, tiba-tiba suasana di rumah majikannya nampak sangat mencekam.


Untuk menghilangkan rasa takut, Yanti dan Tia memutuskan untuk berbincang di depan tubuh Disa dan Wiwit.


Mereka membenarkan posisi duduk Disa dan Wiwit, yang hampir terjatuh saat sukma mereka meninggalkannya.


"Ceritakan sama aku Ya, sebenarnya ada apa sih ini! aku sebenernya masih belum paham," tanya Yanti.


Tia akhirnya menjelaskan secara detail, siapa itu Bu Sumarni, dan kanjeng ibu, kejadian dirinya bersama Disa mencari Wiwit yang ternyata bersembunyi jauh di hutan.


"Tapi tenang Yan, aku pernah ngalamin situasi ini saat di lereng gunung," ucap Tia percaya diri, meski sebenarnya Wiwit yang berperan penting dalam situasi mencekam saat itu. "Ancaman ada di luar, dan nggak mungkin masuk, kita aman kalau kita tetap di sini, di kamar ini, mudah kan?"


Namun pandangan Tia teralihkan, saat tiba-tiba, Fatmah bangkit dari tempat tidur dan mendekati tubuh Disa dan Wiwit dengan mengacungkan sebilah pisau kecil di tangannya. Ancaman yang Tia sangka hanya berasal dari luar saja, sekarang malah berasal dari Fatmah yang berada di dalam bersamanya.


"MBAK!!" sergah Tia dengan insting pertahanan dirinya yang sudah mulai tajam lantas menubruk tubuh Fatmah hingga terjengkang ke tempat tidur, membangunkan Putra yang terkejut akibat guncangan yang terjadi di sebelahnya.


Yanti yang bingung segera mengangkat tubuh anak majikannya itu. Dia kaget dengan kondisi Fatmah yang mendadak berubah, rasa takut yang nampak di raut wajah Fatmah kini bercampur amarah.


Fatmah berhasil membalik keadaan dan mengendalikan situasi dengan tubuhnya yang kini berada di atas tubuh Tia, bersiap untuk menikam, dengan pisau yang di genggamnya, namun masih bisa di tahan oleh Tia.


Putra menangis histeris yang melihat perkelahian dua orang wanita disana. Yanti berusaha memalingkan wajah Putra dari situasi yang menurutnya bakal penuh dengan adegan kekerasan.


"Mbak sadar mbak, itu Tia!" ucap Yanti berusaha menyadarkan Fatmah, yang di pikirnya mungkin kemasukan mahluk halus.


"DIAMM!!"


"Kalian bodoh, berani menantang Bu Sumarni! kalian sudah pasti gagal dan di binasakan, apa yang kalian pikir, HAH!!" bentak Fatmah murka.


Dia masih mencekik Tia yang berada di bawahnya, "Kalian tak tau seberapa mengerikannya bu Sumarni, bukankah sudah aku ingatkan berulang kali, tidak usah ikut campur urusan majikan kita."


Tia mulai paham, ternyata Fatmah ketakutan bukan karena akan di habisi oleh Bu Sumarni karena kontrak ghaib itu, tetapi karena ternyata Fatmah adalah salah satu kaki tangan Bu Sumarni.


Dengan ilmu bela diri yang Tia pelajari dulu, tangannya yang dari tadi digunakan untuk menahan tikaman pisau Fatmah, dia belokan kesamping wajahnya, pisau pun hanya menusuk tempat tidur. Dia akhirnya melawan sekuat tenaga dan membalik tubuh Fatmah, mereka berguling hingga di ujung ranjang.


"Ternyata mbak Fatmah kaki tangan Bu Sumarni? Mbak sadar! Mbak hanya di bodohi, kami di sini berjuang untuk bisa bebas dari bu Sumarni," jelas Tia, berusaha menyadarkan Fatmah.


"Lucu sekali, kamu menggantungkan nasib pada Wiwit dan Disa? mereka jelas tak akan bisa semudah itu mengalahkan bu Sumarni, kalian harusnya diam dan menurut saja, kenapa kalian ini ngeyel sekali, sekarang kalian melibatkan aku."

__ADS_1


"Mbak!! kita memiliki Tuhan, berdo'a memohon supaya kita bisa terbebas, ingat mbak keluarga mbak di rumah menanti, mau sampai kapan mbak jadi budak bu Sumarni?" geram Tia.


"Kamu tak tau keadaanku, TUHAN!" ucap Fatmah sinis, "Dimana Dia saat keadaanku terpuruk, aku tak percaya pada-Nya, justru Bu Sumarni yang datang padaku memberi pertolongan!" jelas Fatmah.


"Yanti ... aku akan meminta pengampunan buatmu, asal kamu bantu aku nyingkirin mereka, aku yakin bu Sumarni pasti akan memaafkan kita," rayu Fatmah.


Yanti yang mendengar penjelasan Fatmah, yang berkata jika Fatmah sangat tahu seberapa mengerikan dan kuatnya bu Sumarni, lantas sedikit goyah, dia bingung, di ambang keraguan.


Putra menangis semakin histeris, mendengar teriakan para perempuan di kamar itu, meski wajahnya terus didekap membelakangi mereka yang sedang bertikai.


"Yanti!!" panggil Tia, yang melihat keragu-raguan pada pandangan Yanti. Tia benar-benar frustasi, dia tak ingin menyakiti Fatmah, dia tau Fatmah mungkin hanya tersesat, dia berharap masih bisa menyadarkan Fatmah tanpa harus menyakitinya.


"Jangan dengarkan dia, Disa dan Wiwit pasti berhasil, mereka sudah banyak berkorban untuk kita, fokus Yanti, FOKUS!!"


Geraman di plafond dan pintu, memekakan telinga, mahluk-mahluk ghaib itu menunjukan jati dirinya untuk bisa menerobos masuk.


Suara geraman tadi mengalihkan Tia, membuat tubuhnya yang berada di atas dapat di singkirkan oleh Fatmah.


Kini mereka sama-sama berdiri, Fatmah masih berusaha menyerang wajah Tia menggunakan pisau itu, namun Tia bisa menghindar, Yanti yang bingung akan percaya pada Tia atau mengikuti Fatmah, masih berdiri di belakang Tia, menghalangi tubuh Wiwit dan Disa.


Serangan membabi buta yang di lakukan Fatma, membuat Tia di atas angin, 'amarah sang lawan merupakan kelemahan' pikir Tia.


fraak! ....


Di lemparkannya senjata yang dapat dia raih dari genggaman Fatmah ke kolong ranjang. Padahal bisa saja Tia menggunakannya untuk melumpuhkan Fatmah dengan cara mematikan. Dia tidak sekejam itu, dan masih terus berusaha membujuk Fatmah.


Fatmah masih mempertahankan kepercayaannya pada bu Sumarni, dia meraih apa pun yang berada di dekatnya dan melemparnya.


Piring terbang.


Prang! ...


Tia menangkis, Yanti histeris, Putra menangis.


Nampan melayang.


Bruk! ....


Tia menghidar, Yanti gemetar, Putra pun di sembunyikan di tempat aman.


Bak! ... bik! ... buk! ....

__ADS_1


Benda apapun di jadikan senjata untuk menyerang Tia sebisanya, vas bunga, peralatan kosmetik, bantal, guling, dan apapun itu. Akhirnya, karena putus asa Fatmah memilih untuk berlari ke arah pintu hendak keluar.


Tia yang tau tujuan Fatmah lantas mencekalnya, sebab jika pintu itu sampai terbuka, matilah mereka semua di kamar ini.


Pertikaian kali ini seperti turun level, Perkelahian ala emak-emak pun mereka peragakan. Tia yang mencekal tangan Fatmah dengan kuat, membuat Fatmah menjambak rambut Tia, mereka terjatuh dengan posisi pintu akan terbuka namun Tia menahannya dan menekan tubuh Fatmah dengan kuncian.


Mahluk-mahluk dari luar pun bersiap masuk, seperti mengetahui bahwa pintu akan terbuka.


Saat pintu terbuka secelah atas paksaan yang di lakukan Fatmah melawan Tia yang bertahan, tangan mahluk-mahluk yang berkuku panjang mulai masuk namun seperti kesakitan saat tangannya menyentuh daun pintu yang mengandung mantra.


Yanti yang melihat kedua temannya yang bertikai saling kunci, saling jambak, dan tak bisa bergerak. mengambil tindakan untuk mengakhiri semuanya.


Yanti mendekati mereka dengan membawa laci kayu yang dia keluarkan dari tempatnya untuk menyerang salah satu dari mereka.


"Yanti! Pecahkan kepalanya," ucap Fatmah memerintah. "Mereka teman yang baru kamu kenal, percaya padaku!"


"Yanti aku cuma mau bilang," ucap Tia sambil menangis dan terus menahan pintu yang menampilkan wajah-wajah menyeramkan di celahnya yang kadang terbuka. "Yang nyata gunakan logika, perkara yang ghaib biarkan Tuhan yang menentukan dengan menggunakan hati nuranimu."


Praakk!! ....


Di hantamnya kepala temannya itu dan darah pun mengalir yang membuat korban tak sadarkan diri. Yanti shock, bibirnya bergetar, matanya terbelalak, tak percaya dengan apa yang dia lakukan dan pengaruh darah yang terlihat membuat pandangannya kabur dan gelap seketika dia pun terkulai lemas tak sadarkan diri.


Tia pun langsung menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya kembali.


Tia yang tak mau mengambil resiko, di ikatnya tangan Fatmah dengan kain ke kaki ranjang dan menidurkan Yanti yang tak sadarkan diri.


"Hah!" ucap Tia tak menyangka akan kejadian ini, namun dia panik menatap menyisir kamar. "PUTRAA!!"


Tia berusaha mencari di bawah ranjang namun tak dia temukan.


"Putra! ... Putra!"


Terdengar suara isakan di dalam lemari yang terdapat di pojok ruangan, Tia membukanya, dengan perasaan lega dia membopong anak majikannya, dia duduk di depan pintu, mengusap punggung Putra, menenangkan anak kecil itu, menerawang kedepan, berdo'a lebih khusyuk agar Disa dan Wiwit bisa berhasil.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2