Pesugihan

Pesugihan
Rencana Mariska


__ADS_3

Mariska sekarang di rawat oleh Yanti, saat akan makan siang Yanti mengetuk pintu kamarnya.


Yanti bertanya apa majikannya akan makan di sini atau makan di meja makan.


Dan Mariska memilih untuk makan di meja makan, sehingga meminta Yanti untuk membantu mengantarnya menggunakan kursi roda.


Saat mereka sudah sampai di meja makan, di sana sudah ada Hanubi dan Irwan yang sudah kembali dari toko.


Fatmah yang sekarang melayani di meja makan menggantikan Sumarni yang sedang menyembuhkan diri.


'Dimana wanita iblis itu?' pikir Mariska.


Kanjeng ibu belum memberi tahu keberadaan tangan kanannya itu saat akan makan, dan tak ada yang berani menayakan keberadaan ketua asisten di rumah mereka itu.


Tak ada obrolan saat mereka makan, hening, hanya ada suara denting sendok beradu saja.


Namun terkadang setelah selesai makan, Kanjeng Ibu atau Bu Sumarni akan mengatakan jika memang ada sesuatu yang akan mereka bicarakan.


Ritual berbincang yang pasti di lakukan adalah sesaat setelah ritual malam jum'at dimana paginya mereka pasti berbincang di gazebo.


Setelah makan, Kanjeng Ibu memberi tahu mereka bahwa Bu Sumarni sedang pulang kampung, entah berapa lama.


'Huh! Kenapa ngga dari kemarin-kemarin aja dia pergi, kenapa juga baru sekarang, pas Disa udah keluar dari rumah ini, apa emang itu rencananya— setelah Disa pergi dia baru akan pergi juga? dasar Iblis!!' rutuk Mariska dalam hati.


Yanti pun kembali mendorong kursi roda Mariska kembali ke kamar, saat dia akan pergi, Mariska mencekal tangannya.


Dia tau jika Yanti tidur bersama Disa, dia ingin mendengar cerita dari Yanti tentang Disa.


"Yan kamu temani aku dulu di sini, biasanya Disa yang nememin aku di sini sebelum tidur," pinta Mariska.


"Baik Nyonya." Yanti pun duduk di tempat biasa Disa duduk.


Sebenarnya ada rasa kasihan di benak Mariska terhadap para pekerja di rumahnya, mereka harus menjadi tumbal dari ketamakan Bu Sumarni, mereka akan di singkirkan jika sudah tak di inginkan, itu pun hanya dia yang tau, bahkan Kanjeng ibu pun baru mengetahuinya dari Amung.


Mereka sebenarnya orang-orang yang baik, sama seperti mereka, Mariska pun harus rela menjadi penangung akibat dari perjanjian yang keluarga mertuanya sepakati.


Oleh karena itu dia berusaha lepas dari jerat iblis ini, dan ingin keluar dari lingkarang setan ini.


"Disa selama kerja pernah cerita apa aja ke kamu?"


Yanti mengernyitkan dahi bingung. 'Memang Disa memiliki rahasia apa?'


Yanti yang tak mengerti maksud pertanyaan majikannya itu malah balik bertanya, "Maksudnya Nyonya?"

__ADS_1


Mariska yang melihat kebingungan Yanti lantas mengganti pertanyaannya. "Coba kamu ceritain Yan, tentang Disa selama kamu mengenalnya."


"Oh, dia gadis yang baik, lucu juga, tapi akhir-akhir ini sikapnya agak aneh Nyonya," ungkap Yanti, yang sedih mengingat kejadian aneh pada Disa sesaat sebelum meninggalkan rumah ini.


"Aneh bagaimana?" ucap Mariska penasaran.


"Dia seperti ketakutan akan sesuatu, awalnya saya kira dia di rep-rep karena lupa mengabari orang tuanya di kampung, tapi kejadian yang dia alami makin buruk, tapi dia ngga mau cerita apa-apa," ucap Yanti.


"Menghubungi bagaimana?"


"Dia kan punya hape Nyonya, dia lupa menelpon orang tuanya, jadi saya pikir saat dia mimpi buruk itu karena dia di ingatkan akan janjinya, begitu lah."


"Disa punya hape?" ucap Mariska sedikit terkejut dan heran, karena selama ini, Disa tak pernah bercerita padanya bahwa dia memiliki sebuah gawai.


"Punya nyonya, saya nyimpen nomernya."


"Ok, lanjut yang lain, apa dia pernah cerita ke kamu tentang hal-hal aneh yang dia alami?" lanjut Mariska dengan pertanyaan lainnya, dan seketika tubuhnya dingin, dia merasa jika pertanyaannya akan membuat Yanti curiga.


"Mmmm ... ngga sih Nyonya, cuma tingkahnya agak aneh emang."


Mariska bersyukur, sepertinya Yanti tak curiga dengan pertanyaannya, jika Yanti adalah Disa, sudah pasti raut wajah tanda tanya sudah tercetak jelas di wajahnya, menanyakan apa maksud perkataan dari dirinya.


"Kenapa emang?"


"Cerita aja ngga papa," pinta Mariska tenang. Dia siap mendengar hal aneh yang menimpa temannya itu, apa akan sama dengan mantan pembantunya dulu.


"Dia sering nyium bau bunga melati bercampur bau anyir. Anehnya pas dia bilang gitu ada Bu Sum lewat, atau mendatangi kita nyonya, malah dia sampe muntah-muntah kemarin.


Malemnya dia tidur, tapi mulutnya itu kaya komat-kamit, ngga jelas, aku bangunin dia ngga bangun, sampe ahirnya berenti sendiri, eh tau-tau dia bangun bahunya udah biru semua," ungkap Yanti menceritakan kejadian yang di alami Disa.


Deg ....


Apa Disa bisa mencium ilmu Bu Sum? Pantas saja wanita iblis itu ingin sekali menyingkirkan Disa.


Dari pergelangan tangan sampai ke bahu, Disa mengalami lebam di tubuhnya, lalu kepergian Bu Sum apa ada kaitannya dengan Disa, atau ini berkaitan dengan Amung, fikir Mariska.


"Paginya, kata Mbak Fatmah muka Disa pucet gitu keluar dari kamar mandi, entah kenapa dia Nyonya, padahal dia dulu ngga kaya gitu, kemarin kelakuan dia aneh banget emang."


'Sama seperti saat dia berada di kamar ini, dia berkata tak melihatku, hemmm ... bahkan dia seperti ketakutan, apa yang Disa lihat disini,' gumam Mariska dalam hati.


"Dia ngga cerita apa-apa kenapa bisa lebam gitu?" Mariska penasaran dengan luka yang Disa alami.


"Ngga, dia bilang udah biasa kaya gitu, pas udah ada, dia lupa tadi kenapa."

__ADS_1


'Kasihan Disa dia memang teman yang baik, dia bahkan tak menceritakan masalahnya, apa Disa tak ingin menakut-nakuti teman-temannya?'


"Apa ada lagi nyonya? sebaiknya nyonya istirahat, saya yakin Disa pasti bisa betah kerja di toko," pinta Yanti.


"Tunggu!" sergah Mariska.


"Kamu nanti aku kasih uang, buat beli hape, pegang hape itu, sama sekalian beli kartu perdana untuk aku sama buat kamu sendiri, aku bakal hubungi Disa pake hape kamu, setuju?"


"Tapi nyonya ...." ucap Yanti ragu-ragu.


"Kamu simpen aja, jangan bilang siapa-siapa, bawa ke kamar kalo aku suruh ya, aku mohon Yan," bujuk Mariska.


"Kalau pembantu yang lain tau, gimana Nyonya?" ucap Yanti was-was.


"Ya bilang aja kamu beli dari gaji kamu, tapi kamu bawa, kalo kamu mau ke kamarku, ya?"


"Baik Nyonya." Yanti hanya bisa pasrah mengikuti keinginan majikannya itu.


Mariska pun mengambil uang dari nakas samping tempat duduk Yanti. Dia memberi Yanti beberapa lembar uang untuk di belikan sebuah gawai.


Yanti pun menerima uang tersebut dan segera memasukanya ke saku celana.


Dan ia segera pamit dari kamar majikannya, agar sang majikan dapat istirahat.


'Tunggu kabar dariku Dis, aku sungguh berharap kau bisa menyelamatkan kami dari jerat iblis ini.' Mohon mariska dalam hati.


Yanti sebenarnya takut mengikuti keinginan Nyonya Mariska tapi ia tak memiliki pilihan lain, tapi saat tau majikannya itu akan berkomunikasi dengan Disa ia pun setuju, mungkin memang Nyonya Mariska dan Disa dulunya berteman baik.


Tapi kenapa Nyonya Mariska tak membeli untuk dirinya sendiri ya?


Apa orang sekelas Nyonya Mariska tidak boleh berteman dengan kami yang seorang pembantu?


Banyak pertanyaan yang mengusik fikiran Yanti, tapi ia berusaha enyahkan, toh dia hanya bekerja disini, apapun yang majikannya perintah jika ia sanggup maka akan ia laksanakan.


Tak ada ruginya, ia juga bisa menghubungi keluarganya di kampung, dengan hand phone itu.


Setelah meyakini dirinya sendiri, akhirnya Yanti memutuskan akan membelinya esok saat ke pasar. 'Di pasar juga banyak konter hape.' Begitulah pikirnya ....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2